2 bulan berlalu begitu cepat. Baik Fiona dan Aksa sama-sama bersiap menghadapi perang terbesar mereka. Ujian Nasional. Bahkan mereka merelakan waktu jalan mereka untuk berdiam di rumah dan sibuk mengotak atik tugas. Sesekali Aksa mengajari Fiona menyelesaikan pelajaran Fisika, mata pelajaran yang paling lemah di pelajari Fiona.
Tapi berbeda hari ini, Fiona membantu Aksa menyusun berkas-berkas untuk SNMPTN pemuda itu. Aksa berencana mendaftar di dua universitas, UI dan UGM. Yang pastinya dengan jurusan politik. Walaupun belum mendapat izin dari ayahnya, Aksa ingin membuktikan dahulu bahwa dia bisa masuk ke jurusan impiannya.
Fiona menghembuskan nafasnya bosan, kakinya tak berhenti berayun menandakan ia sudah bosan. Teman-temannya pun juga masih sibuk akan urusan SNMPTN mereka. Ia memperhatikan ke lingkungan sekolahnya yang diramaikan oleh kehadiran murid kelas 12 di hari libur, rasanya hanya Fiona saja yang tak ikut repot seperti yang lain.
“Loh Fi.” Oji mendudukkan dirinya di samping Fiona. “Ngapain lo? Ikut SNMPTN juga?”
“Gila lo.” Fiona terkekeh pelan. “Gue walaupun gak keterima di ESMOD Paris tapi gue udah keterima di ESMOD Jakarta. Ya kali gue ikut SNMPTN juga.”
“Ya siapa tau kan.” Oji memindahkan tas hitamnya ke depan. “Nemenin Aksa lo ya?”
Fiona mengangguk. “Iya, lo sendiri? Udah daftar? Kemana?”
“ITB atau gak UNS.” Oji menatap adik kelasnya yang sedang bermain basket di depannya. “ Arsitektur, gak tau deh keterima atau gak. Nilai gue kan banyak hancur semester lalu.”
“Keterima.” Ucap Fiona begitu yakin. “Kalau lo udah jadi Arsitek, lo harus buatin gue rumah satu. Oke?”
Oji tertawa geli. “Enggak. Enak aja lo minta.” Dengan nada sedikit mendumel, Oji mengacak pelan rambut Fiona. “Lo tuh ya, gak berubah suka ngeledeknya.”
“Bisa gak lo gak usah nyentuh pacar gue?”
Seruan tajam itu, membuat Fiona dan Oji langsung berbalik. Aksa berjalan mendekat sembari menatap tak suka Oji, dia menarik tangan Fiona untuk berdiri dan memberi jarak keduanya. Oji hanya tersenyum ramah, tidak ada senyum meremehkan merekah di wajahnya.
“Tenang aja Sa.” Oji menepuk pundak Aksa beberapa kali, yang langsung ditepis Aksa kasar. “Gue sama Fiona cuman temenan kok. Gue minta maaf kalau soal waktu itu, gue kelepasan.”
Oji menoleh kearah Fiona yang berdiri di belakang Aksa. “Fi gue pulang ya.” Ia sedikit melirik Aksa. “Bilangin pacar lo, gue berharap banget kita bisa temenan lagi sebelum ada masalah cewek kayak gini.” Lanjutnya segera berbalik dan melangkah menjauh.
“Sa. Oji udah minta maaf, dan gue udah maafin dia.” Fiona menepuk pundak Aksa beberapa kali. “Udahlah.”
“Ayo pulang.”
Dan yang Fiona tak tau adalah, dari kejauhan Rasha memperhatikan kejadian tadi. Sebuah senyuman merekah di wajahnya. Bukan senyum bahagia tentunya.
******
Fiona menggaruk tengkuknya tak gatal. Di depannya Aksa asyik melahap ayam bakar madunya, pemuda itu sedari tadi tak mengucapkan satu patah kata pun. Bahkan ketika ditanya ingin menonton apa, ia hanya menjawab dengan dehaman atau anggukan saja. Di dalam studio pun, Aksa memilih diam tak ikut tertawa walaupun ada adegan lucu di film.
Terlalu asyik melamun, Fiona tak sadar malah memakan 4 buah cabe hijau yang berada di dalam acar nasi gorengnya. Rasa pedas yang menyengat tiba-tiba, membuat Fiona langsung panik. Menyadari apa yang terjadi, dengan cekatan Aksa memberikan teh manisnya yang langsung diteguk habis oleh Fiona.
“Huaa, pedes banget.” Fiona yang memang tak begitu tahan pedas, mengipasi mulutnya yang panas dengan kedua tangannya.
Aksa mengusap keringat di dahi Fiona. “Makanya kalau makan jangan ngelamun.”
Fiona mengambil alih tissue di tangan Aksa, mengelap sendiri keringatnya. “Lagian, diem aja dari tadi. Kalau marah tuh bilang jangan di pendem.”
“Siapa yang marah?” Aksa menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. “Gak marah, serius.”
“Iya gak marah tapi ngambek.” Balas Fiona tenang, tapi membuat Aksa mengangguk setuju.
“Kenapa gak bilang sih, kalau kamu sama Oji udah saling minta maaf?” Aksa menatap tak setuju akan keputusan Fiona. “Kamu kok mudah banget sih maafin dia?”
“Aksa.” Fiona memutar bola matanya, sedikit jengah akan sikap yang ditunjukkan Aksa. Ego lelaki, selalu tinggi bukan? “Masalah aku sama dia tempo lalu, sama-sama salah kita berdua. Bukan cuman salah Oji, dan aku juga gak bakal nolak kalau dia mau jadi temen lagi kan.”
“Oke.” Aksa menaruh sendoknya, tau kalau dia kalah dalam berargumen. “Tapi jangan terlalu dekat, okay?”
***
“Yah, aku ambil minum dulu ya.”
Ares mengangguk, kembali berbicara asyik dengan relasi kerjanya. Fiona mengambil tas kecilnya dan segera beranjak menjauh. Malam ini ia memang diajak ayahnya kedalam acara pembukaan sebuah rumah sakit milik perusahaan dimana ayahnya bekerja. Nuga yang melihat adiknya menjauh, menahan lengannya.
“Mau kemana?” Ucap Nuga dengan mulut yang penuh dengan daging. “Jangan kabur lo, acara Ayah nih.”
Fiona melepas tangan Nuga pelan, dan mendesah kesal. “Bosen Bang, lagian juga ada Bunda ini nemenin Ayah. Gue di lobby oke?”
Nuga menyerah untuk membujuk. “Oke, tapi lo harus balik pas acaranya dimulai. Apa kata orang kalau anak direktur kabur di tengah acara.” Ancamnya memperingatkan posisi Ares di perusahaan. Fiona mengangguk dan segera berlalu.
Fiona mendudukkan dirinya di sebuah sofa yang ada di lobby utama, gedung yang ia datangi. Terlihat resepsionis sibuk melayani tamu yang baru hadir. Bahkan beberapa pelayan mondar-mandir dengan troli besar memasukkan makanan dan minuman.
“Mas, minta air putih satu ya.” Pinta Fiona menahan seorang pelayan, dan mengambil gelas dari troli. Ia meletakkan gelasnya di atas meja. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecilnya, membuka beberapa sosmed yang ia miliki
○ APA GEK CLUB ○
Fiona: Bosen. Gak ada yang seger-seger.
Davina: Hmm, biasanya kalau acara kayak gitu banyak cogan bukannya?
Dena: Lo mah keledai kalau ada jambul, lo bilang cogan juga.
Zahra: 2.
Davina: Songong.
Wilsa: Fiona kan udah punya doi, makanya radar cogannya redup.
Wilsa: Coba lo ajak gue Fi, banyak dah cogan yang gue foto candid.
Yola: Bahas cogan mulu, hmm
Yola: Bahas masa depan aja yuk? Kayak masa depan gua ama dia :)
Davina: G
Yola: Si Anjink.
Fiona berusaha menahan tawanya agar tidak membahana di penjuru lobby. Ia beralih membuka kalendernya. Melihat-lihat event yang ia tandai, dan langsung terhenti di kalender bulan April. Di salah satu tanggal, tertera sebuah event. Event yang langsung membuat Fiona berdecak lidah.
Birthday Aksa bawel.
******
Fiona melirik Aksa yang sibuk nenyetir sembari melahap roti isinya. Merasa di perhatikan, Aksa menoleh dan menatap Fiona bingung. “Kenapa?”
“Enggak.” Fiona memberikan botol air minum ke arah Aksa. “Kalau gue ke Paris, gak ada yang nyediain lo sarapan lagi dong Sa.”
Aksa sedikit tersedak mendengar perkataan Fiona, yang dengan polosnya melahap rotinya. Pemuda itu mengetukkan jarinya di setir mobilnya. “Kenapa ngomong itu?”
“Hanya berandai.” Fiona tersenyum kecil. “Mungkin nanti yang lain yang gantiin.”
“Ngomong apa sih Fi?!” Aksa merengut. “Jangan suudzon dulu. Aku gak suka.”
Fiona tertawa terbahak-bahak melihat wajah Aksa yang merengut. “Kan bisa aja hati kamu diputar balikkan oleh si pemilik hati.” Ia mengacak pelan rambut Aksa, yang memberi efek besar pada pemuda itu. “Jangan beri janji kosong Aksa.”
Aksa menangkap tangan Fiona yang mengacak rambutnya pelan, ketika jalanan di depannya menghadapi kemacetan. Dengan wajah serius, pemuda itu menatap dalam mata teduh Fiona.
“Bagaimana bisa aku berbalik hati, kalau kamu berhasil buat aku jatuh semakin dalam ke kamu setiap harinya?”