“Semangat Bang, UN hari terakhir nih!”
“Semangat Bang!”
Aksa terkekeh melihat kedua adiknya yang menyemangatinya dengan penuh keceriaan. Kalau kalian berharap kedua orangtuanya akan memberi ucapan penuh semangat pula, kalian salah. Sejak pagi buta, kedua orangtuanya sudah berangkat kerja meninggalkan mereka dengan sarapan yang sudah dingin.
“Abang berangkat dulu ya.” Aksa mengacak rambut Gibran sesaat, dan segera menghampiri motor jaman SMP nya yang entah kenapa di pakainya hari ini.
“Loh Bang?” Tari menatap Aksa tak mengerti. “Gak bawa mobil?”
Aksa menggeleng seraya, memakai helmnya. Membunyikan klakson beberapa kali sebelum membawa motornya membelah kemacetan Jakarta. Yang Tari ataupun Gibran tak sadari adalah, kakaknya itu sudah membawa beberapa baju di dalam tas sandangnya.
******
“Gak, gak gak.”
Oji menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak ide bodoh yang baru saja di jelaskan Fiona. Gila aja, dia disuruh berdandan seperti banci untuk menghibur Aksa. Walaupun ini adalah hari ulang tahun pemuda itu, tetap saja ia menolak. Ia tidak cukup dekat, hingga mengorbankan harga dirinya untuk di permalukan.
“Aksa belakangan ini pendiem tau gak.” Fiona memutar badannya hingga menghadap sempurna ke arah Oji yang duduk di belakangnya. “Gue gak tau apa yang ia pikirin sekarang.”
“Emang biasanya gimana?” Oji melahap potongan terakhir rotinya dan menatap Fiona malas. “Dia emang gitu kali.”
“Kalau sama kalian dia emang pendiem gitu.” Respon Fiona tak mau kalah. “Dia sama gue orangnya terbuka.”
Oji menatap kesal Fiona. “Yaudah kenapa curhat sama gue?!” Ia segera berdiri sembari membawa bekas bungkus rotinya. “Pokoknya gue gak mau.”
“Padahal gue mau kita jadi temenan lagi, makanya gue cerita.”
Sebuah gumaman yang berhasil membuat Oji membelakkan mata, sedikit merasa bersalah. Yah, Fiona nampaknya masih berdampak besar untuk tindakannya.
*****
“Loh bukannya Aksa udah ke kelas lo duluan?”
Adit mengernyit dalam, mendapati Fiona berdiri di depan ruang ujiannya. Tadi ketika bel sudah dibunyikan, pemuda itu bergegas mengambil tasnya dan beranjak dari ruangan. Menjadi orang pertama yang keluar, tanpa memeriksa sekilas jawaban mereka.
Fiona menatap Davina yang ikut mengernyit bingung. “Tapi dia gak ke kelas loh.” Gumam Davina mewakili rasa penasaran Fiona. “Serius lo, dia pulang duluan?”
Adit mengangguk yakin. “Yaelah, gue serius.” Pemuda itu juga terlihat bingung. Hafi yang baru keluar dari ruangan yang sama dengan Fiona menghampiri mereka dengan pandangan bertanya. “Kenapa?”
“Yaudahlah Fi, hadiahnya lo kasih aja ntar.” Davina menepuk pundak sahabatnya seolah menenangkan, mengabaikan Hafi yang bertanya-tanya. “Mungkin dia lagi ada urusan, lagian kita mau kasih kejutan kerumahnya juga kan?”
Fiona mengangguk, mengeratkan pegangannya pada kotak kado yang dipegangnya. Ia sedikit mendesah pelan, dan menatap kedua sahabat Aksa serius. “Jangan lupa, kalian datang juga ya.”
Hafi mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju. “Selama ada makanan gratis, ikut lah gue.” Serunya jenaka, berbeda dengan Adit yang hanya tersenyum sembari mengangguk. Bukan hal aneh, karena Adit tidak terlalu luwes untuk menunjukkan pikirannya.
“Fi.” Adit mencengkram pundak Hafi cukup keras, saat Fiona dan Davina sudah berbelok di ujung koridor. Mata cowok berbadan gempal itu membulat sempurna. “Si Aksa bukan kabur kan?”
“Hah?!”Hafi menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi, tak paham akan perkataan sahabatnya itu. “Kabur? Gak mungkin lah, bolos aja dia masih mikir dua kali.” Lanjutnya sembari tertawa tak percaya.
Adit berdecak, dan menatap serius Hafi. “Lo gak tau, apa yang gue liat di tasnya tadi.” Ujarnya serius, dari sudut matanya ia bisa melihat Radi yang menghampiri mereka dengan raut penasaran.
“Dia bawa banyak baju, di dalam tasnya. Dan dia gak bilang mau nginep di rumah kita bertiga, sebelumnya.”
*****
“Sumpah mesti gue banget apa?!”
Oji menatap penampilannya dengan perasaan malu yang sudah memuncak. Berusaha menutupi wajahnya saat Rizky dan Juan sudah memotret penampilannya saat ini, bahkan Raka memvideonya dan menguploadnya ke i********: storynya. Sementara yang lain sudah tertawa ngakak, dengan suara yang sedikit dipelankan agar Aksa tidak keluar dari dalam rumah dan merusak setiap rencananya.
“Wah,Ji.” Alex mengacungkan jempolnya, disela-sela tawa lebarnya. “Gue gak tau lo bisa secantik dan... uh seksi gini. Ariel tatum lewat.”
Oji mendesah frustasi. “Fi...” Ia melirik Fiona yang sedang membuka kotak kue, di dalam mobil. “Mesti banget gini ya?”
“Yaiyalah, nanti lo duluan yang ketuk pintu.” Fiona menancapkan beberapa lilin keatas kue coklat, dibantu Dena yang telaten menyusun kue hasil buatannya itu. “Baru nanti dari belakang, gue sama yang lain muncul.”
Oji berdecak, menatap penampilannya yang sangat-sangat ‘cantik’ ini. Wajah full make up, berkat kepiawaian Wilsa. Serta dress putih selutut yang melekat di badannya. Dia benar-benar terlihat seperti banci Taman Lawang yang salah shift.
“Masuk Ji.” Aurel mendorong pemuda itu menuju rumah bertingkat 2 itu. Dia tersenyum geli, “Jangan lupa tingkah centilnya ya Neng...”
Oji berdecak, dengan setengah hati berjalan menuju pintu rumah Aksa. Ia melirik teman-temannya yang dengan tak tau diri, bersembunyi dibalik dinding yang membatasi rumah Aksa dengan rumah lain. Setelah menghembuskan nafas sesaat, ia mulai membunyikan bel. Sabodo teuing lah, kalau yang buka ibunya Aksa.
Drt Drt Drt
Fiona merasakan ponselnya bergetar, dia menyerahkan sebentar kue yang dipegangnya ke Yola dan mulai membuka email yang baru saja masuk ke inbox nya.
From: contact@esmod.com
Subject: Welcome To ESMOD
Content:
Félicitations
We from Esmod Paris are proud to announce. A female student from Indonesia, named Fiona Gerdania Sastra. With the design and the results of her work through the judging process by us, we congratulate her.
Name: Fiona Gerdania Sastra
From: SMA Bhakti Negara
Country:Indonesia
ACCEPTED
In addition, as a participant with the best value. We decided to give it 2 choices. First, continue the fashion education at ESMOD Jakarta for 2 years and get a vacancy as a designer in famous brand Paris. Secondly, continuing fashion education at ESMOD Paris on time can solve it with our living expenses
3 weeks after this letter is received, Fiona is expected to confirm her choice so that we can take care of all administrative needs. So many notices from us, welcome to big family ESMOD.
Rendez-vous à Esmod
Fiona menutup mulutnya, menahan teriakan bahagianya. Davina yang mengintip dari samping, ikut membulatkan mata dan tersenyum lebar penuh kesenangan. Namun senyum itu langsung surut, saat suara cempreng Tari yang baru membuka pintu terdengar.
“Kak tau dimana Bang Aksa?”Ujar Tari panik, tak memperdulikan penampilan janggal pemuda di depannya. Dengan nafas terburu, Tari mengepal surat yang ia temukan di dalam kamar Kakaknya tadi. Oji mulai mencium bau tak beres sekarang.
“Dia kabur dari rumah.”