Di sinilah Dominic sekarang berada—di rumah sakit, duduk di salah satu bangku panjang di luar ruang periksa. Tangannya terlipat di d**a, namun jemarinya bergerak gelisah, menggambarkan isi pikirannya yang penuh tanda tanya dan kecemasan yang tak biasa. Bukan karena dia pria yang peduli pada semua orang. Bukan. Tapi wanita itu… wanita bernama Sani, telah membuat semuanya menjadi rumit sejak malam itu. Dan kini, setelah empat minggu mencoba mengubur semua bayangan yang muncul tanpa diundang—takdir kembali mempertemukan mereka. Dengan cara yang jauh lebih aneh. Dominic menatap jam tangannya. Sudah lebih dari tiga puluh menit sejak dokter membawa Sani masuk ke ruang periksa, namun belum ada kabar sedikit pun. Biasanya, dia bukan orang yang sabar menunggu. Tapi kali ini, dia tidak bisa pergi.

