Banyak Bicara

1082 Kata
Pov Jihan Aku merenungi semua nasibku. Entah apa dosa yang sudah aku lakukan sehingga semua ini terjadi padaku. Berjam-jam aku bertahan di balkon meresapi kesialanku berulang kali, sampai aku lupa sejak sore belum terisi makanan sedikit pun masuk menutrisi tubuhku. Ketika aku mulai berbaring di ranjang, perutku berbunyi. Malas sekali rasanya harus turun makan tapi, ada bayi yang harus aku pikirkan selain kesedihanku sendiri. Ku usap perutku berulang kali mengucapkan maaf pada janinku karena sudah melupakannya seharian ini. “Maafkan, Mama sayang. Mama tidak bermaksud menyakitimu, Mama hanya sedang terlena oleh luka yang di tanam Papamu. Kamu pasti lapar, ya? Kita pergi makan, yuk! Bantu Mama untuk melupakan sejenak permasalahan Mama saat ini. Apapun yang terjadi, kamu jangan pernah khawatir ya… kita bisa bahagia, dengan atau tanpa Papa. Mama akan berusaha sekuat mungkin untuk bisa melindungi dan membahagiakanmu, selalu. Kamulah penyemangat Mama sekarang, kita akan selalu bersama dan tidak terpisahkan kecuali kamu sudah besar dan menikah. Temani Mama ya, sayang. Mama cinta kamu.” Aku tersenyum sambal terus mengusap perutku. Bisakah kamu mendengarku di dalam sana? Semoga saja, kata orang, ikatan ibu dan anak sangatlah erat. Walaupun masih berada di dalam kandungan, tapi janin sudah bisa merasakan apa yang di rasakan sang Ibu. Jika benar begitu, seharusnya aku tidak egois dengan terus menerus menyelami luka hingga membuat anakku di dalam sana ikut merasakan. Aku harus bangkit dan mengatur strategi merebut hati suamiku lagi. Iya, harusnya memang begitu. “Semangat Jihan, kamu pasti bisa menang mengalahkan hati suamimu dari wanita itu.” Aku mulai keluar dan menuruni tangga menuju ruang makan. Sesampainya di sana, ternyata meja terlihat kosong. Ku hembuskan nafas kesal sebelum melirik jam bulat di atas kulkas samping kananku. “Apa Bibi yang membereskan semua makanan di sini, ya? Tapi aku kan belum makan.” Baru ku lihat jam di dinding, ternyata sudah hamper tengah malam, pantas saja makanan di meja sudah disimpan semua. Aku kembali ke kamar, malam-malam seperti ini lebih enak makan nasi goreng. Entah mengapa, tiba-tiba ingin sekali makan menu itu. Aku mengambil uang di kamar kemudian menunggu tukang nasi goreng keliling. Malam ini begitu cerah, bulan terlihat bulat hingga sinarnya begitu terang menerangi Sebagian bumi. Bintang pun bertaburan di langit menambah keindahannya. Sayang sekali, hatiku dalam kondisi tak seterang malam ini. Kruk… kruk… “Astaga, lapar sekali. Kemana sih nih si Mamang, tumben banget jam segini belum nyampai? Biasanya juga dari sepuluh menit lalu sudah nyaring aja suaranya sampai kamar. Giliran dibutuhin malah lelet banget.” Aku terus saja menggerutu. Jelas saja, aku sudah sangat kelaparan sekali, tapi yang ku tunggu-tunggu tidak juga segera datang. Kesal karena sudah kelaparan sedang tukang nasi goreng belum juga muncul. “Lebih baik aku buat sendiri saja nasi goreng special, malah lebih enak juga.” Aku berniat kembali masuk, saat berbalik, betapa terkejutnya aku melihat sosok pria bersedekap d**a memandangku intens. Aku mendongak ke atas demi menatap matanya. “Ngapain malam-malam di situ sendirian sambal ngoceh-ngoceh sendiri?” Tanyanya. Aku mengerutkan keningku heran. Bagaimana tidak? Selama ini, dia tidak pernah peduli dengan apa pun yang aku lakukan. Lalu tiba-tiba dia datang dan memberondong kata-kata dimana seingatku beberapa detik lalu merupakan kalimat terpanjang yang dia katakan padaku setelah peristiwa seharian ini. Aku kembali memasang wajah semanis mungkin seolah tidak terjadi apapun di antara kami. “Aku lapar, makanya aku duduk di sini menunggu nasi goreng keliling biasanya. Tapi, sepertinya Mamang tidak jualan, jadi aku akan masuk sekarang.” Dia hanya diam, tidak lagi menanggapi ucapanku. “Bisa beri aku jalan? Maaf, Mas. Aku ingin lewat.” Sepersekian detik dia masih mematung, tak lama dia memiringkan tubuhnya tanda mempersilahkan aku masuk. “Terima kasih,” ucapku lalu meninggalkannya sendiri di ruang tamu. Aku langsung pergi ke dapur dan membuka kulkas. Ku ambil semua bahan yang ada dan mulai meraciknya, tak lupa aku tambah udang sebagai pelengkapnya. “Kamu mau masak malam-malam begini?” tanya seseorang di belakangku tiba-tiba. “Iya, aku lapar.” “Kenapa tidak menghangatkan sayur yang ada saja, supaya tidak terlalu repot?” ucapnya lagi. “Aku sedang ingin makan nasi goreng.” Aku jawab tanpa mengalihkan pandanganku dari bumbu di tanganku. Selesai mengupas lalu mencuci dan mengulek semua bumbunya, kunyalakan kompor lalu meletakkan wajan di atas tungku kompor tak lupa ku beri sedikit minyak goreng. Dan ketika aku membuka penanak nasi dimana aku tidak menyadari jika ternyata penanak itu sudah dicabut kabelnya. Ku lihat ternyata kosong melompong, tidak ada nasi sedikit pun di dalam sana. Sejenak aku bergeming, oh Tuhan, sesulit inikah mencari sesuap makanan untuk dimakan malam ini? Aku masih termenung hingga suara pematik kompor terdengar, barulah aku sadar sudah melamun. “Kalau mau jadi patung, setidaknya kompor dimatikan dulu biar gak membahayakan orang lain,” seru Mas Elvan sudah berdiri bersisihan denganku. “Hehehe, maaf.” Aku langsung menutup pintu penanak nasi yang sempat di lirik oleh Mas Elvan. Aku memilih membereskan semuanya dan hendak kembali ke kamar saja. Selera makanku mendadak hilang, aku hanya ingin makan nasi goreng tidak mau lainnya. “Kamu mau kemana?” ucap Mas Elvan menahan lenganku. “Mau ke kamar, mas. Kenapa?” “Kamu tidak jadi makan?” Aku menggelengkan kepala. “Kenapa?” “Tidak jadi lapar. Aku sudah ngantuk, ingin tidur.” Tidak kunyana, Mas Elvan malah menarikku keluar rumah. “Mas, apa yang kamu lakukan?” tanyaku tidak mengerti. “Bukankah kamu bilang tadi mau makan nasi goreng? Kita cari nasi goreng, aku tahu tempat yang masih menjual nasi goreng di dekat sini." "Tapi...." Aku mencoba untuk menolak. "Sudahlah, ikut saja jangan banyak protes,” potongnya membuatku mau tidak mau terdiam seketika. “Masuk,” perintahnya padaku setelah berdiri di samping mobil. Aku sedikit bimbang untuk memasukinya, pasalnya, selama kami menikah, belum pernah sekalipun dia mengajakku menaiki mobilnya. Miris bukan? Tapi itulah kenyataannya, bahkan kami belum pernah pergi bersama, dia selalu menyuruhku pergi bersama teman-temanku tanpa dirinya. Alasan kerja menjadi kunci utama menolak permintaanku untuk sekedar jalan berdua. “Untuk apa lagi masih berdiam diri seperti itu, cepat masuk!” serunya lagi. “Ehm, aku….” “Cepat, kamu ingin semakin malam sampainya? Aku juga lapar dan tidak punya waktu untuk meladeni kebimbanganmu itu. Masuk sekarang!” Aku mengangguk lalu memasuki mobil bagian penumpang. Mas Elvan pun menyusul duduk di balik kemudi. Tak lama, mesin mobil menyala dan mulai berjalan. Ku lihat pak Ihsan segera membuka gerbang tinggi sebagai pagar rumah kami. Sepanjang perjalanan, aku mencuri pandang pria itu dengan tatapan kagum, seolah lupa jika pria itu juga yang sudah membuat luka terhebat di hatiku hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN