Tak lama akhirnya kami sampai juga ke tempat yang di maksud oleh Mas Elvan. Nampak beberapa pedagang pinggir jalan menggunakan tenda seadanya serta kursi dan meja bagi pengunjungnya. Tidak banyak hanya ada tiga pedagang dengan beda menu dagangan.
Mas Elvan membawaku ke salah satunya dimana tertulis di spanduknya ‘nasi goreng cak Man’. Aku sedikit kagum karena meski larut malam, nasi goreng tersebut masih banyak pembelinya.
“Rame sekali ya, Mas. Pasti makanannya enak sehingga banyak yang suka,” ucapku kagum.
Bak seperti bicara sama batu, orang itu justru tidak menjawabku dan terus melangkah sampai berdiri tepat sebelah kiri pedagang. “Pak, nasi goreng special dua, ya! Teh hangatnya dua.”
“Baik, Mas. Silahkan duduk dulu, maaf kalau nanti agak lama karena sedang banyak pengunjung,” ucap si pedagang merasa bersalah, mungkin karena lama pelayanannya.
“Iya, Pak. Tidak masalah.” Mas Elvan kembali padaku lalu menyuruhku duduk di salah satu trotoar saking penuhnya tenda. Kebanyakan di isi oleh pasangan muda, aku tebak mereka masih tahap pacaran dan belum menikah.
Kuputari sekelilingku menggunakan kepala, mengamati mereka dengan beragam kegiatan bersama pasangan. Ada yang cuek, ada pula yang tidak malu-malu menunjukkan keromantisannya di depan umum dengan si cowok menyuapi si cewek. Melihat adegan dari penglihatan terakhirku, aku menunduk sembari menghela nafas dalam.
Sebagai wanita, pastinya aku juga ingin diperlakukan sama seperti orang di depan sana. Namun aku sadar diri jika itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Tanpa aku sadari, ternyata sedari tadi ada sepasang mata memandangku lekat dan aku tak bisa menebak isi hatinya sekarang. Entah apa yang dia pikirkan saat ini.
“Apa yang kamu lihat?” Ku tolehkan kepala ke arah pria yang berada di sisi kiriku.
“Ah, tidak. Aku hanya melihat-lihat suasana saja. Apa Mas sering ke sini?” Mas Elvan mengalihkan kepalanya menghadap ke depan lalu mengangguk kecil.
“Huft, sudah pasti sering ke sini. Untuk apa di tanya lagi atau, jangan-jangan dia kemari bersama wanita itu?” batinku menebak yakin. Segera kugelengkan kepala cepat, aku tidak mau apa yang barusan aku pikirkan tentang Mas Elvan dan Cristal memang benar adanya.
“Kenapa?” Aku terhenyak oleh pertanyaan Mas Elvan, kenapa pula pria itu bisa tahu setiap pergerakanku?
Meski dulu ingin sekali di perhatikan olehnya seperti saat ini, tapi tidak dengan sekarang, justru hatiku resah dan ada rasa tidak nyaman kala Mas Elvan terus memperhatikan serta bersikap hangat walau masih dengan nada datarnya. “Tidak ada,” jawabku singkat.
“Dasar aneh,” gerutu Mas Elvan tidak habis pikir akan tingkahku. Ku angkat kedua bahuku acuh tak acuh.
“Ehm, Mas ke sini sama siapa?” Pada akhirnya tak bisa lagi kutahan rasa penasaranku. Semoga saja apa yang tadi aku pikirkan salah.
“Apa itu penting?” Bukannya menjawab, dia malah balas bertanya sarkas.
Menggeleng. “Tidak,” jawabku singkat.
“Dengan Cristal,” aku Mas Elvan selanjutnya.
“Nah kan, benar firasatmu barusan, Jihan,” gumamku dalam hati.
“Kau bahkan tidak pernah mengajakku pergi sekalipun sebelum malam ini tapi, dengan wanita lain yang bukan istrimu malah sering kamu ajak keluar meski hanya jajan di pinggir jalan. Bukankah itu terlihat sangat kejam bagiku sebagai seorang istri?” protesku tak terima.
“Kamu tahu mengapa aku melakukan itu.” Diam, aku memilih diam dan sibuk meremas jemari-jemariku sendiri demi mengurangi rasa sakit di hati.
Masih beberapa menit lagi, nasi goreng pesanan Mas Elvan baru datang. Karena memang cukup rame, Aku bersama lelaki bergelar suami memilih makan di atas trotoar. “Pak!” panggilku ketika sang pemilik warung hendak berbalik kembali ke tempatnya mengolah bahan masakan.
“Iya, Nona? Anda butuh sesuatu, lagi?” Bapak berkumis tipis itu menanyakan apa yang aku butuhkan setelah kembali berhadapan denganku.
“Ehm, apa Bapak punya jeruk limau?” Sejenak Bapak itu tampak berpikir untuk mengingat adakah stok di dalam rumah jeruk limau?
“Ah, ada Nona. Maaf, tapi buat apa Nona?”
“Saya ingin air putih di beri perasaan limau dan sedikit garam, apakah bisa?” Kini dua orang pria beda usia saling melirik dan merasa aneh atas permintaanku.
“Maaf…?” Si Bapak berkumis sekali lagi bertanya memastikan pendengarannya tidak salah.
Dimana-mana orang akan mencari jeruk lemon untuk ditambahkan ke dalam teh hangat maupun panas, tentu saja campurannya adalah gula, bukan malah garam. Bukan cuma mereka berdua yang bingung dengan permintaanku, aku pun dibuat linglung atas mauku yang aneh. Mereka berdua masih terbengong di tempat.
“Hem, aneh ya, Pak? Tapi saya sedang pengen minum itu. Tolong ya, Pak,” mohonku sungguh-sungguh.
Mas Elvan mengerutkan keningnya tidak mengerti. Tapi berbeda dengan si penjual nasi goreng yang langsung tersenyum manis menanggapi permintaan tak masuk akal ini. “Apa Nona sedang hamil muda?” tebak si Bapak.
Aku dan Mas Elvan pun terhenyak atas pertanyaan si Bapak, bagaimana bisa lelaki asing itu tahu? Aku mengangguk sebagai jawaban, dibalas senyum si Bapak yang semakin lebar. “Tunggu sebentar ya, Non. Bapak buatkan untuk calon dedek bayinya.” Si Bapak pergi meninggalkan tanda tanya untuk Mas Elvan dan juga aku.
“Untuk calon dedek bayi?” lirihku sangat kecil, aku memang masih bingung namun, sejurus kemudian aku paham maksud dari Bapak tadi. Ya, bisa jadi ini yang dinamakan nyidam, pengen sesuatu yang terkadang diluar nalar.
Mas Elvan mengalihkan perhatiannya kembali ke piring dalam tangannya, dia mencoba abai tak mau ambil pusing akan perkataan si Bapak berkumis tadi. Tak berselang lama, pria berkumis kembali dengan membawa segelas air putih dimana sudah diberi garam dan juga jeruk limau.
“Ini, Nona. Nona jangan bingung. Wanita hamil muda memang sering meminta yang aneh-aneh, itu namanya nyidam, Non,” jelas si Bapak, lalu berganti memandang Mas Elvan. “Tuan, dijaga ya istrinya, yang sabar saat menghadapi orang hamil. Selain permintaan yang nyeleneh, kadang juga bikin kesel. Tapi tahan diri saja supaya jangan sampai menggunakan emosi, karena wanita hamil itu hormonnya sering berubah ubah dan lebih senisitif. Selamat ya….” Setelah mengucapkan kata panjang lebar, Bapak itu pergi sebelum Mas Elvan maupun aku membalas kata-katanya.
Aku yang merasa kikuk memilih melanjutkan makannya dengan tergesa-gesa, hal itu membuatku tersedak dan langsung menyambar gelas berisi air garam serta limau. “Huek….” Mulutku langsung mengeluarkan kembali apa yang barus saja aku minum begitu air putih tadi mengenai lidah.
Sontak saja Mas Elvan langsung memegangi tengkuk leherku yang terutup jilbab segitiga. “Makanya tidak usah sok-sokan pesen minuman aneh,” omelnya sembari masih memijat tengkukku.
“Maaf,” lirihku karena merasakan mual dalam perut yang mulai tak terkendali.
Aku pamit pergi mencari kamar kecil agar bisa memuntahkan semua isi dalam perut. Setelah merasa mulai membaik dan tidak mual lagi, Aku kembali dimana Mas Elvan duduk tadi. Kuhentikan langkah sejenak melihat orang berjarak beberapa meter nampak mesra.
Dari tempat aku berdiri sekarang, bisa kulihat sikap lembut Mas Elvan terhadap Cristal. Bisa aku tebak, Mas Elvan sedang merayu wanitanya yang tengah merajuk entah karena apa. Mengatur nafas berkali-kali guna menetralisir rasa sakit di hati, aku berjalan mendekat.
“Mas!” panggil Jihan.
Dua anak manusia itu pun menoleh bersamaan. Wajah Mas Elvan terlihat sedikit kacau dengan mata memerah, sedangkan Cristal, dia langsung menunduk mendapati istri dari kekasihnya datang. Aku masih diam menunggu dua makhluk di depan ini bicara.
“Kamu pulang saja, dulu. Aku mau mengantar Cristal pulang,” ujar Mas Elvan tanpa memikirkanku yang tengah hamil muda.
“Pergilah, aku yang akan mengantar Jihan, pulang.” Semua orang memutar kepala menghadap sosok yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di sampingku.
“Kau….”