“Tadi itu siapa?” tanya Juna dengan wajah kesal. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada seorang suami lebih memilih mengantar perempuan lain pulang sedangkan istri sendiri tidak. Juna tidak terima atas sikap Elvan barusan. Menurutnya, Elvan tidak mencerminkan suami yang baik bagi Jihan.
“Bukan siapa-siapa,” jawab Jihan gamang.
“Bukan siapa-siapa tapi lelakimu malah memilih perempuan lain di banding mengantarkanmu yang istrinya? Suamimu benar-benar tidak punya hati,” umpat Juna marah.
“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Toh aku baik-baik saja, kok.” Jihan berusaha tersenyum meski wajahnya tidak bisa menutupi kesedihan itu sendiri.
“Gaya banget kamu bilang baik-baik saja. Lihat saja itu matamu,” tunjuk Juna. “Merah di sini dan ini. Apa seperti itu namanya baik-baik saja? Sebenarnya, apa yang terjadi? Jangan menutupinya dariku, bukankah kita sudah seperti saudara? Tolong beri tahu aku kalau kamu ada masalah. Meski tidak bisa membantu, siapa tahu bisa sedikit mengurangi beban pikiranmu.” Jihan menggeleng pelan bersamaan satu tetes cairan bening keluar dari kelopak matanya.
“Kenapa? Apa kamu tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi? Cepat ceritakan masalahmu, biar aku tahu langkah apa yang harus aku ambil untuk menghiburmu,” desak Juna tak sabar ingin tahu masalah Jihan.
“Tidak, Jun. Tidak ada apa-apa, aku hanya rindu saja dengan kedua orang tuaku. Wanita tadi itu sepupunya dan karena sudah malam, dia tidak tega untuk membiarkan sepupunya pulang sendiri. Rumahnya cukup jauh dari sini,” dusta Jihan belum ingin terbuka dengan temannya.
Bagi Jihan, permasalahan rumah tangganya tidak perlu di sebar luaskan kepada orang lain. Selama dia bisa, dia akan berusaha menutupi perkara yang ada. Biarlah dia sendiri menanggung semua itu, dia tidak ingin para sahabatnya turut mengetahui keinginan suaminya.
Selama ini, semua orang memuja Elvan dan menjadikan contoh sebagai suami terbaik. Dia pun bahkan tidak menyangka bisa berada di titik ini. Titik balik kehidupan paling pahit yang pernah dia rasakan, sangat bertolak belakang dari kebahagiaan dimana merasa sempurna menjadi paling tidak berharga di mata suami sendiri.
“Dan membiarkanmu pulang sendiri begitu di tengah malam begini? Dimana otak suamimu itu? Bukankah bisa mengantar pulang sepupu tanpa meninggalkanmu sendirian. Coba kalau aku tidak ada, pasti kamu bakal celingak celinguk kayak orang hilang di jalan sepi ini. Emangnya kamu tidak takut kalau sampai kamu disamperin kuntilanak cowok?” Juna geleng-geleng kepala, dia yakin telah terjadi sesuatu dalam rumah tangga sahabatnya itu.
Meski tidak sopan dan terkesan kurang ajar, Juna berniat akan mencari masalah yang tengah dihadapi sang sahabat. Selain suami serta mertua, Jihan hanya memiliki beberapa sahabat saja termasuk dirinya. Yang paling dekat pun cuma dia beserta satu cewek lagi bernama Elsa.
Jihan terkenal dengan pribadi tertutup, tidak mudah bagi Jihan menceritakan semua pengalaman pribadinya termasuk masalah rumah tangga. Jihan sadar jika apa pun hiruk biduk dalam pernikahannya, tidak boleh diumbar begitu saja kepada orang lain karena baik buruk suatu keluarga adalah privasi yang tidak perlu diumumkan ke halayak termasuk itu sahabat atau keluarga sendiri.
Apa lagi dengan keadaan sekarang, bagi Jihan kelakuan Elvan merupakan aib untuknya. Biarlah dia sendiri yang tanggung. Masalah hati telah tersakiti, dia sendiri pula yang akan memperbaiki. Entah dengan memenangkan Elvan atau malah sebaliknya.
“Sudahlah, jangan berisik. Lebih baik kamu segera antarkan aku pulang dari pada ngoceh berkepanjangan. Aku pusing dengarnya.” Jihan berjalan lebih cepat mendahului Juna.
Lelaki manis bertubuh atletis itu hanya mendesah berat, dia berjanji akan memberi pelajaran pada Elvan jika sesuatu terjadi pada sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri. Juna menyusul, mengimbangi langkah Jihan.
Di lain tempat, berbeda dengan Jihan dan Juna, keadaan dalam mobil begitu hening. Tidak ada percakapan pada dua anak manusia lawan jenis dalam ruangan sempit tersebut. Antara Elvan dan Cristal, sama-sama memilih diam karena enggan menimbulkan perdebatan yang pasti mereka tahu tidak akan menemukan titik temu.
“Kenapa kamu meninggalkanku di sana?” tanya Elvan mengawali percakapan setelah beberapa menit sunyi. Sengaja Elvan tidak menyalakan musik agar pikiran keduanya bisa lebih jernih sebelum saling mengungkapkan isi hati masing-masing.
“Memangnya apa yang harus aku lakukan? Apa kamu ingin aku tetap berada dalam lingkaran panas antara kamu, orang tuamu dan istrimu?” Elvan menghela nafas dalam guna mengurangi sesak di d**a.
Cristal benar. Dalam situasi seperti tadi siang, memang sudah tepat kalau Cristal menghindar lebih dulu agar tidak menambah buruk keadaan meski terlambat, karena nyatanya mereka berdualah penyebab keadaan tidak kondusif dalam keluarga lelaki itu.
“Aku minta maaf atas sikap keluargaku padamu.”
“Lupakan.” Elvan mengernyit atas jawaban ambigu dari Cristal.
“Lupakan semuanya.” Kali ini Elvan menepikan kendaraan roda empatnya. Suasana sangat sepi, hanya satu dua mobil dan motor berlalu lalang.
Elvan menatap lekat wajah Cristal dari samping. “Apa maksudmu? Apa maksudmu dengan lupakan semuanya? Kamu ingin mengakhiri hubungan kita, begitu?” tegas Elvan serius. Ada perasaan was-was takut jika gadis di hadapannya akan memutuskan hubungan mereka.
“Iya, kenapa tidak? Hubungan kita bukanlah hubungan yang baik menurut pandangan beberapa orang. Kita berdua telah salah karena menyakiti hati wanita lain. Kamu pikir, semua orang bisa menerima apa yang kita berdua lakukan? Kita sudah menyakiti hati istri juga orang tuamu, apa kamu tidak ingin memperbaiki pernikahan kalian berdua setelah tahu ada benih tertanam dalam rahim istrimu? Dia, sosok yang akan menjadi penghubung paling kuat antara kamu dan Jihan.” Cristal membenarkan posisi duduknya setelah sebelumnya setengah badan menghadap ke arah Elvan.
“Aku gak mau menjadi perebut seorang Ayah dari anak. Aku sudah merasa sangat buruk karena telah merebut hati suami wanita lain. Bisa aku bayangkan seperti apa sakit dan kecewanya Jihan terhadapmu. Seharusnya, kamu mengantar dia pulang mengingat wanita itu sedang mengandung anakmu. Teganya kamu malah meminta Jihan untuk pulang tanpa teman, untung tadi kenalannya datang, bagaimana jika tidak? Apa kamu tidak ada sedikit rasa khawatir untuknya?” Cristal memang mencintai Elvan, akan tetapi hatinya ikut perih saat melihat langsung seperti apa Jihan menangis tadi siang.
Cristal tidak tega melihat penderitaan di mata wanita ayu itu, maka oleh sebab itu, Cristal mencoba memperbaiki semuanya. Pilihan untuk meninggalkan Elvan dirasa sangat tepat untuk saat ini, cukup sudah dia menjadi perempuan jahat dengan menikmati segala keindahan dari hubungan terlarang mereka berdua. Ada hati yang harus dia jaga tetap utuh.
Mungkin suatu saat, apabila Jihan dan kedua orang tua Elvan merestui, tidak menutup kemungkinan dia mengiyakan persatuan antara dirinya dan Elvan sebab cintanya yang begitu besar terhadap pria berstatus suami orang tersebut. Dia tahu dia salah, namun cinta bukan menjadi penyebab segala mula terjadinya hubungan terlarang tersebut. Di sisi lain pemikiran Cristal, cinta tidak salah. Hanya orangnya yang salah karena kurang bisa menahan diri untuk memiliki orang yang dia cintai.