“Aku akan membujuk kedua orang tuaku dan juga Jihan. Aku pastikan mereka akan segera merestui hubungan kita berdua. Jika Jihan tetap bersikeras menolak pernikahan kita, maka aku tidak segan-segan untuk langsung menceraikannya.” Tanpa perasaan dan pikiran yang matang, Elvan lantang bicara demikian.
Cristal menatap nyalang pria di sampingnya usai mendengar penuturan menyakitkan di telinga. Dia tahu seperti apa rasanya bila semua perkataan Elvan tadi sampai terdengar di telinga Jihan, sudah tentu perempuan itu akan semakin hancur perasaannya.
Berkali-kali Cristal menggeleng tidak percaya akan apa yang barusan masuk ke gendang telinganya. Sepanjang dia mengenal Elvan, pria itu selalu berperingai baik dengan attitude yang tidak perlu di ragukan lagi. Bahkan Cristal sangat mengetahui jika Elvan merupakan seorang tekun beribadah, sungguh Cristal tidak menyangka sama ucapan pria tercintanya. Semua benar-benar di luar dugaannya.
Cristal menghargai perjuangan Elvan untuk tetap bersama dirinya tanpa memikirkan orang lain, jika ini semua terjadi pada wanita lain, pasti akan puas dan senang karena telah dipilih oleh lelaki yang sudah berhasil direbut. Akan tetapi, dirinya berbeda dengan kebanyakan wanita atau bisa disebut pelakor pada umumnya. Cristal merasa tidak rela pria itu menyakiti hati Jihan sebegitunya.
“Kamu tega bicara seperti itu untuk wanita yang sudah rela mengandung anak darimu? Apa kamu tidak merasakan perasaan sayang terhadap calon buah hatimu?” tanya Cristal menggebu-gebu dengan sorot mata tajam.
Elvan meraup wajahnya kasar, dia akui kekasihnya ini memang memiliki hati yang lembut dan mudah simpati terhadap orang lain. Sungguh, melihat kekasihnya seperti ini malah membuat cintanya untuk Cristal semakin kuat dan terpupuk oleh semen serta bebatuan yang akan sulit dirobohkan.
“Kenapa kamu memikirkan dia? Dia saja tidak memikirkan kamu. Aku tidak peduli, hubungan kita tidak boleh berakhir dan harus berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Ketahuilah, aku tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan cinta pertamaku. Aku tidak ingin kehilanganmu, apapun yang terjadi, badai sekuat apapun pasti bisa aku lewati demi bisa mencapai keinginanku menikahimu.”
Ada rasa haru dalam hati Cristal menerima untaian kata indah yang keluar dari mulut Elvan untuknya hingga membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi untuk mencoba memberi pengertian lebih pada sang kekasih. Kepalanya tertunduk antara sedih memikirkan nasib Jihan juga ada kesanjungan dalam dirinya, betapa dia begitu berarti bagi Elvan.
“Kamu egois.” Dua kata keluar lirih dari mulut mungil Cristal tanpa kembali mendongakkan kepala menatap Elvan.
Diraihnya jemari putih nan lentik gadis pemilik hati Elvan saat ini. Dikecupnya berkali-kali demi menyalurkan cinta teramat besar di hatinya. “Aku melakukan semua ini demi kebaikan kita bersama. Tolong bantu aku, bantu dengan tidak meninggalkanku dan bertahan hingga kita bisa bersama atas ijin juga restu dari mereka,” mohon Elvan sepenuh hati.
Ingin sekali Cristal menolak namun, melihat wajah Elvan penuh permohonan begitu membuat Cristal mengurungkan kata-kata penolakan yang akan terucap dari bibirnya. Akhirnya Cristal cuma bisa mengangguk walau dalam hati berperang dengan pikirannya sekarang. Hari semakin larut dan Cristal lelah untuk berdebat lebih panjang dengan pria keras kepala seperti Elvan.
Satu hal yang juga baru Cristal ketahui selama menjadi kekasihnya, yaitu sifat Elvan yang keras kepala dan tidak mau memahami orang sekitar. Sungguh sangat berbeda jauh dengan Elvan yang dia kenal sebelum hari ini.
“Baiklah, aku antar kamu pulang.” Lagi, Cristal cukup menganggukan kepala saja.
Elvan melepaskan tangan kecil dalam genggaman beralih kepada kepala stir untuk menjalankan kembali roda empatnya menuju kediaman Cristal.
Jihan mulai membasuh kaki, tangan serta wajahnya. Tak lupa menggosok gigi dan bersiap tidur. Sebelum memejamkan mata, Jihan sempatkan untuk melirik benda melingkar di dinding kamar. “Apa yang kamu lakukan, Mas? Kenapa sudah selarut ini kamu belum juga pulang?”
Niatan untuk tidur berganti menjadi penjaga rumah. Jihan bangun lalu keluar kamar, dia memilih ruang tengah untuk menunggu suaminya pulang. Telivisi pun menyala demi menemani si pemilik rumah, setidaknya adanya suara dari televisi itu bisa mengurangi rasa takutnya sendirian di luar kamar. Meski Jihan tidak sendiri karena ada dua asisten rumah tangga yang bertugas membantu pekerjaan rumah juga satu satpam di pos jaga.
Tak berselang lama, suara deru mobil terdengar memasuki gerbang rumah. Bisa Jihan tebak bahwa suaminya telah kembali. Niatnya untuk berdiri urung karena suaminya sudah lebih dulu masuk melalui pintu samping rumah dimana pintu tersebut sebagai penyambung antara garasi rumah dengan ruang tengah.
Jihan kembali duduk berharap Elvan menghampiri dirinya namun, tidak seperti perkiraannya, Elvan justru melenggang menuju ruang kerja. “Mas Elvan!” panggil Jihan menghentikan langkah Elvan.
Tanpa suara, Elvan segera membalikkan badan menatap Jihan penuh tanya. Jihan berdiri mendekati Elvan. “Bisa kita bicara?” tanya Jihan hati-hati.
Elvan mengangguk detik berikutnya sudah lebih dulu berjalan menuju sofa bekas tempat duduk Jihan tadi. Jihan menghela nafas mencoba bersabar menghadapi sikap dingin Elvan yang semakin menjadi. Jihan akan tetap mencoba mempertahankan pernikahannya tanpa ada orang ketiga. Maka dari itu, sejak di perjalanan pulang tadi Jihan terus memikirkan cara supaya Elvan mau melepaskan Cristal.
Jihan harus bisa mengambil kembali apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya, bicara dari hati ke hati menjadi jalan pilihan Jihan saat ini. “Huft, semoga Mas Elvan bisa sedikit menggunakan nuraninya dan mau menuruti permintaanku,” doa Jihan sebelum menyusul sang suami.
Jihan memilih duduk tepat di samping Elvan, terlihat jelas jika pria itu seperti terganggu dengan kedekatan tubuh mereka. Elvan memalingkan wajah usai menggeser sedikit tubuhnya hingga menempel pada sandaran tangan sofa tersebut.
“Mas,” lirih Jihan untuk memulai perbincangan. Dia berusaha menekan suara agar tidak mengeluarkan nada keras sehingga dalam pembicaraan malam ini tidak akan ada perdebatan yang melelahkan.
“Apa? Kau ingin membahas Cristal? Kau ingin protes karena aku lebih memilih mengantar Cristal pulang dari pada mengantarmu?” tanya Elvan beruntun yang semuanya salah.
Jihan menggeleng mantap. “Tidak, ada hal lain yang lebih penting dari itu. Bisakah kita bicara dari hati ke hati tanpa melibatkan logika dan emosi, Mas Elvan? Aku cuma ingin, Mas menggunakan sedikit saja perasaan ketika bicara padaku. Karena aku di sini sebagai manusia biasa yang bisa terluka bila selalu dituangi serpihan kaca tanpa henti. Jangan buat hatiku menjadi mati rasa, Mas. Untuk itu, aku harap Mas bisa lebih bijak dalam menentukan dengan mempertimbangkan hati semua orang terdekatmu tanpa memikirkan satu orang saja.” Tegas, ucapan Jihan terkesan tidak ingin dibantah.
“Apa maksudmu sebenarnya? Jangan bertele-tele karena aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu.”
“Cristal.”