Elvan menoleh tanpa suara memandang tajam sosok sang istri ketika nama kekasih hati disebut oleh Jihan. Bukannya takut, Jihan justru tertawa miris akan sikap Elvan padanya. Segitunya Elvan yang berstatus sebagai suaminya malah bersikap seolah-olah dirinya ini orang luar dan Cristal istri sah lelaki itu.
Dengan mata berkaca-kaca, Jihan balas menatap Elvan melalui pandangan buramnya akibat air mata yang hampir menetes meluncur bebas ke pipi. “Segitunya kamu seakan takut aku hendak mengatakan hal buruk tentang kekasihmu itu, Mas?”
Elvan mengernyit, masih bergeming menunggu kelanjutan perkataan Jihan. Saat ini Elvan memang tidak bisa menebak apa yang ada dalam isi pikiran Jihan. Lebih baik menunggu wanita itu melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan padanya.
“Bukankah seharusnya aku yang mendapatkan keprotektifan dan kasih sayang itu dari pada dia?” Jihan menghela nafas dalam mengatur oksigen yang mungkin saat ini sudah berganti karbon monoksida karena Jihan merasa ingin mati saking sesaknya di d**a.
“Mas aku hanya ingin minta sekali lagi, tolong tinggalkan wanita itu dan kita benahi rumah tangga kita yang sedang tidak baik-baik saja ini. Kita ulang semua agar tertata dan menjadi keluarga Sakinah seperti keluarga lain pada umumnya. Apa yang kamu tidak suka dari aku maka aku akan memperbaiki sikap dan perilaku ku supaya kamu bisa menerimaku. Aku sedang hamil, anak kita, buah cinta kita. Bisakah kita memikirkan nasib anak kita kelak?” Air mata pun tak bisa lagi terbendung.
Siapa yang tidak hancur ketika memikirkan rumah tangganya telah dimasuki orang ketiga? Siapa yang tidak sedih membayangkan seorang anak harus kehilangan sosok ayah karena lebih memilih orang baru dari pada buah hatinya? Jelas Jihan yakin jika Elvan pasti akan menolak keinginannya tersebut dan kekeh mempertahankan hubungan terlarang itu sampai ke jenjang lebih serius. Sebagai istri, tidak salah bukan dirinya mempertahankan dan mencoba mempengaruhi si suami untuk lebih memilih dirinya dari pada perempuan lain?
“Jangan bermimpi dan meminta sesuatu yang jelas aku tolak,” ujar Elvan sarkas tidak suka atas bahan pembicaraan malam ini.
Elvan berdiri tidak ingin lagi mendengar satu patah kata yang semakin membuat dirinya emosi. Sebelum dia kelepasan akibat amarah pada wanita di depannya, lebih baik dia pergi agar terhindar dari pertengkaran.
“Kalau begitu aku sendiri yang akan mendatangi Cristal untuk memintanya menjauhimu. Sebagai seorang istri, aku sangat berhak menentang cinta terlarang kalian apalagi sampai naik ke pelaminan. Selamanya aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua. Mas masih ingat ancamanku, bukan? Jika sampai kalian melangsungkan pernikahan tanpa ijin dariku, maka aku akan menuntut kalian berdua atas dasar perzinahan dan perselingkuhan. Kau tahu jelas bahwa perselingkuhan ada undang-undangnya. Kau tidak akan bisa mengelak lagi andai Mas tetap bersikukuh bersamanya,” ancam Jihan geram sudah.
Ingin bicara dari hati ke hati namun, nyatanya Elvan tidak bisa diajak berunding menggunakan kepala dingin. Elvan maju beberapa langkah hingga wajahnya nyaris menempel pada wajah Jihan.
“Aku tidak menyangka, selain manja kamu memang tidak tahu diri. Malam ini kamu telah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya, maka tidak salah jika sampai sejauh ini, hatiku tidak bisa menerimamu untuk menjadi bagian dari diriku.” Elvan langsung pergi begitu saja usai mengatakan kalimat tajam syarat akan kekecewaan.
Tulang Jihan serasa lepas dari tubuhnya, dia lemas hingga tidak bisa membawa dirinya kembali. Tubuh lelahnya bersandar pada sandaran sofa, air mata terus menerus menghujani wajah ayunya tanpa mau berhenti.
Setelah beberapa menit puas menumpahkan tangis di ruangan tersebut, Jihan bangkit. Dirinya memilih untuk mengadu kepada Sang Pencipta agar lebih tenang. Hanya kepada Tuhan dia bisa mengadu mencurahkan semua keluh serta rasa sakit yang dirasa.
“Ya Allah, aku berpasrah diri hanya pada-Mu. Ku yakini bahwa semua yang terjadi merupakan ketetapan takdir dari-Mu untukku. Tapi Tuhan, aku mohon bantu aku untuk bisa menghadapi semua ujian ini dengan baik. Beri aku petunjukmu cara untuk bisa tetap mempertahankan suamiku dari orang ketiga. Maafkan aku bila aku tidak mampu jika harus dimadu, aku tidak memiliki kekuatan sebesar itu menerima wanita lain berbagi tubuh suamiku. Hiks.
Aku sakit ya Allah, sebenarnya aku tidak kuat menghadapi kebencian suamiku sendiri. Ku mohon, bantu aku untuk meluluhkan hati suamiku seperti dulu lagi sebelum masalah ini melanda rumah tanggaku. Ya Tuhan maha membolak balikkan hati, tolong berilah cinta di hati suamiku untukku.”
Khusyuk, Jihan meminta pertolongan Tuhan. Dia tetap pada pendiriannya tidak ingin ada orang ketiga dalam rumah tangganya. Besar harapan Jihan agar tumbuh cinta di hati Elvan untuknya, Jihan yakin Allah pasti akan mengabulkan doanya, bukankah doa orang tersakiti akan cepat dihijabah?
Puas mengadukan nasibnya sekarang, Jihan melipat rapi kembali perlengkapan ibadahnya. Tidak nyaman dengan pakaian yang Ia kenakan saat ini, Jihan membuka lemari berniat mengambil piyama. Betapa kagetnya dirinya ketika mendapati bagian isi lemari dimana biasanya Elvan meletakkan semua pakaiannya di sana. Namun sekarang? Tidak ada satu helai pun tertinggal, kosong. Hanya itu yang Jihan dapati.
Dadanya semakin sesak kala Elvan sudah mengambil langkah pisah ranjang. Betapa dahsyatnya cinta Cristal hingga mampu mengubah sikap Elvan dalam sekejap. Meski Elvan selalu memanjakan dirinya, namun itu sebatas kebebasan dan materi. Kesehariannya hanya diisi oleh sikap Elvan yang datar dan penolakan apabila Jihan menginginkan sesuatu.
Walau begitu, Elvan tak sekalipun pernah berbuat kasar ataupun sampai meminta pisah ranjang seperti ini. Ah… dia lupa bahwa Elvan sudah terang-terangan mengakui perasaannya dan enggan berdekatan dengannya. Harus selalu dia ingat mulai sekarang kalau Elvan tidak pernah mencintainya agar dirinya sadar sesadar-sadarnya jika hati Elvan bukan miliknya.
“Ini tidak bisa dibiarkan, Mas Elvan harus kembali pada keluarga sebenarnya. Cristal hanya ujian cinta Mas Elvan. Yah, Allah menghadirkan Cristal untuk menguji seberapa kuat aku mampu memperjuangkan rumah tanggaku. Baiklah Cristal, aku akan memberimu sedikit pelajaran. Kamu harus menyerah karena Mas Elvan bukan untukmu, kamu hanya benalu bagi keutuhan keluargaku. Aku akan menemuimu besok.”
Apabila Elvan tidak bisa disadarkan, maka Jihan memang harus mengambil sikap terhadap Cristal. Jihan meneruskan niatnya mengambil piyama dan bersih-bersih bersiap untuk tidur, tidak sabar rasanya mendatangi wanita perusak rumah tangganya.
Sebelum mata terpejam, Jihan teringat teman yang baru saja mengantarnya pulang. Sebuah nama diketik di layar gawai ‘Juna’. “Tolong selidiki wanita yang diantar pulang oleh Mas Elvan. Aku butuh biodata dirinya serta nomor ponsel lengkap.”
Tidak sulit bagi Jihan untuk menemukan seseorang karena dia memiliki teman seperti Juna. Juna adalah seorang hacker handal dan tak perlu diragukan lagi cara kerjanya. Jihan meletakkan kembali gawai di atas nakas dengan senyum smirk.