Sesuai kesepakatan, hari ini Jihan mendatangi tempat dimana sudah menjadi pilihan Jihan untuk bertemu dengan Cristal. Dari luar terlihat Cristal sudah duduk manis pada salah satu meja yang sudah Jihan booking untuk pertemuan mereka.
Tentu saja pertemuan ini tidak melibatkan Elvan, akan Jihan urus wanita itu. Mungkin sedikit ancaman bisa membuat wanita itu jera. Tidak masalah jika nanti Jihan terkesan jahat, bukankah Elvan sudah memberinya cap sebagai wanita egois? Maka sekaranglah waktu untuk membuktikan semua ucapan Elvan.
“Maaf terlambat.” Jihan dengan penampilan anggun dan berkelas langsung duduk pada kursi kosong depan Cristal.
“Ah tidak masalah, aku juga baru saja sampai.”
Jihan melirik pada gelas milik Cristal, sebuah jus alpukat sudah nyaris habis tinggal seperempat lagi. Jihan tersenyum sinis atas perkataan wanita di depannya, dia yakin jika Cristal sudah lama menunggu kehadirannya.
Cristal menunduk menyadari kalau Jihan pasti tahu dirinya cukup lama menunggu kedatangan istri dari kekasihnya itu. Jujur saja, dari beberapa menit yang lalu, Cristal berusaha mengatur degup jantungnya. Ada rasa takut dan bersalah secara bersamaan namun, sekuat tenaga dirinya mencoba bersikap seolah tidak ada apa-apa. Tentunya akan malu bila sampai Jihan mengetahui kegugupannya.
Sebelum memulai pembicaraan yang pasti akan menguras sedikit tenaga nantinya, Jihan memesan minuman yang sama seperti Cristal. “Kenapa kamu memesan juice alpukat?” tanya Jihan membuat Cristal mengerutkan keningnya.
Bukankah umum seseorang memesan sesuatu sesuai kemauannya? Kenapa hal begini saja turut jadi pertanyaan dari wanita itu? “Kenapa?” tanya balik Cristal tidak langsung menjawab.
“Aku tahu bahwa kamu tidak suka alpukat? Apa karena Mas Elvan sehingga hal yang tidak kamu suka menjadi suka?” tebak Jihan tepat membuat Cristal semakin waspada terhadap Jihan.
“Apa dia menyelidikiku?” batin Cristal.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Cristal penuh selidik.
“Sorry aku memesan minuman sama sepertimu, aku hanya ingin kamu tahu bahwa minuman ini adalah minuman kesukaanku. Awalnya Mas Elvan tidak suka sama buah Alpukat, namun karena melihatku minum maupun makan alpukat membuatnya menjadi suka. Bahkan sekarang buah ini menjadi buah paling favorit buat Mas Elvan. Di rumah, setiap pagi aku selalu membuatkan juice alpukat untuknya sarapan bersama omlete,” terang Jihan memanasi Cristal.
Wajah Cristal memerah terlihat mulai tidak nyaman. Jihan tersenyum manis, betapa senangnya dia bisa membuat rivalnya cemburu. Bagi Jihan, ini seperti hiburan bisa membuat lawan bicaranya marah. Paling tidak, Jihan bisa membuat wanita itu merasakan apa yang dia rasakan meski belum sebesar rasa sakit dan cemburu dihatinya.
“Kamu berbohong,” sangkal Cristal tidak ingin mempercayai kalimat yang terlontar dari mulut Jihan.
Jihan mengangkat sebelah alisnya. Dia berbohong? Apa mungkin Elvan sudah menceritakan semua keburukannya pada wanita ini? Tidak, andai itu terjadi maka Jihan akan benar-benar marah pada Elvan.
“Apa yang sudah lelaki itu ceritakan padamu tentangku? Dia mengatakan hal buruk? Apa kamu tidak paham jika seorang lelaki pasti akan menceritakan keburukan pasangannya ketika berselingkuh hanya demi bisa mendapatkan simpati dari perempuan incarannya?”
Wajah Cristal semakin memanas, namun beruntung, Cristal sosok wanita dewasa dan bisa mengendalikan emosi sehingga dia bisa menahan diri untuk tidak terpancing akan kata-kata Jihan. Tidak semudah itu Cristal terprovokasi dengan semua ucapan Jihan.
Sedangkan Jihan justru menunggu tanggapan Cristal yang Ia yakini sudah memanas, dia tunggu kemarahan Cristal. Sebisa mungkin, Jihan akan terus saja memprovokasi perempuan itu agar dia bisa mempermalukan sosok cantik pencuri hati Elvan.
“Mas Elvan tidak pernah bercerita apa pun tentangmu. Dia tidak seburuk itu sebagai suami, walau dia memang tidak bisa mencintaimu tapi dia bukanlah pria pengecut dengan mengumbar aib istri sendiri.” Kalah telak, Jihan pun tak bisa berkata apa-apa setelah mendapat jawaban.
“Baguslah, setidaknya dia sadar bahwa aib istri adalah aib dirinya sendiri.” Sudah cukup basa basinya, Jihan mencondongkan tubuh sedikit maju hingga d**a menempel pada meja.
“Aku tidak ingin berbasa-basi lagi, kamu pasti tahu niat aku mengajakmu bertemu di sini.” Cristal mengangguk, dia mengerti maksud dari istri sang kekasih meminta bertemu dengannya.
“Tanpa Anda beritahu sekalipun, saya sudah tahu maksud dari tujuan Anda mengajak saya bertemu hari ini. Tapi, apakah Anda sudah meminta ijin terlebih dahulu pada Mas Elvan untuk menemui saya?” Jihan bergeming.
“Jadi dengan diamnya Anda, saya pastikan bahwa Mas Elvan tidak tahu tentang rencana Anda hari ini.”
“Jika kamu sudah tahu, maka aku tidak perlu lagi bicara panjang lebar. Cukup sebagai sesama perempuan kamu pasti paham betul bagaimana sakitnya saya sebagai istri sah dikhianati oleh pasangan. Apakah Anda bangga menjadi seorang selingkuhan? Karena sudah jelas sampai kapan pun saya tidak akan pernah mau di madu maupun dicerai. Ada anak yang menjadi pengikat hubungan kami berdua.”
Jihan menghentikan pembicaraannya kala seorang waitress datang membawa pesanannya. “Terima kasih,” ujar Jihan sopan.
“Aku ingin, kamu pergi meninggalkan suamiku. Dia suamiku, mau dibawa kemana pun tetap kamu yang akan kalah.”
“Aku sudah memintanya untuk meninggalkan saya namun, ternyata itu tidak mudah. Cinta yang sudah mengakar kuat di hati kami masing-masing, tak lantas membuat kami mudah untuk berpisah.” Cristal mulai bisa menguasai diri dan menghilangkan rasa bersalah dari dirinya.
“Apa kamu tega membuat seorang anak kehilangan sosok Ayah sejak dini? Begitukah caramu mencari kehidupan yang lebih baik dengan melemparkan diri terhadap pria beristri? Aku tahu jika kamu terlahir dari kalangan menengah. Ibumu membutuhkan biaya cukup banyak untuk pengobatan ginjal stadium 3. Aku akan menawarkan sebuah keuntungan bagimu, tolong tinggalkan suamiku dan aku akan memberikan apa yang kamu mau.” Sedikit pongah Jihan menahan diri tetap berada dalam mode tegas dan jahat. Dia ingin lawannya takut akan dirinya.
“Kamu pikir cintaku bisa kamu beli dengan uang? Sungguh picik sekali cara berpikirmu itu.” Jihan tertawa sinis menanggapi sanggahan dari Cristal. Jihan tahu bahwa Cristal memanglah bukan wanita matre yang menjatuhkan diri kepada pria kaya demi materi, Jihan memahami dengan baik tentang cinta antara Elvan dan Cristal sehingga membuatnya melakukan segala cara untuk memisahkan keduanya.
“Jadi? Kamu tidak mau meninggalkan suamiku? Kamu bangga dengan sebutan pelakor?” Cristal bergeming menatap tajam Jihan.
“Baiklah, teruskan niat kalian. Tapi jangan pernah salahkan aku jika nanti aku akan menjebloskan kalian berdua ke dalam penjara. Kamu tahu konsekuensi dari penjara, bukan? Kamu akan mendapat gelar baru yaitu narapidana. Dengan kondisi Kesehatan Ibumu yang seperti itu, pastinya akan berakhir tidak baik pula untuk nyawa Ibumu. Oleh sebab itu….”
“Keterlaluan….”
Sebuah teriakan beserta tamparan terdengar nyaring membuat seluruh area resto mendadak hening seketika.