“Sungguh keterlaluan kamu, Jihan! Aku tidak menyangka bahwa wanita yang aku nikahi memiliki sifat sebusuk ini. Bisa-bisanya kamu mengancam Cristal dengan kesehatan Ibunya? Tidakkah kamu punya empati sedikit saja sebagai sesama wanita?” pekik Elvan dengan kemarahan memuncak sebab mendengar semua ucapan Jihan untuk kekasihnya itu.
Elvan tidak peduli akan luka di pipi istrinya akibat tamparan yang dia layangkan pada Jihan. Meski terpampang jelas ada darah keluar dari sudut bibir Jihan namun, Elvan seolah menutup mata akan kesakitan yang dirasa oleh Jihan. Baginya yang terpenting tetap Cristal, dia akan melindungi sebisa mungkin supaya wanita tercintanya tidak terluka baik fisik maupun mental tanpa peduli akan luka fisik dan mental istri sendiri
Mendengar perkataan nyaring Elvan tentang empati membuat Jihan tertawa miris. Tangan dimana memegang sebelah pipi yang terkena tamparan bergerak menghapus air mata yang keluar secara kasar. Dia tidak mau terlihat lemah, dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan Cristal.
“Empati? Empati seperti apa maksudmu, Mas? Ah… andai dia bukan pelakor dalam rumah tangga kita, mungkin aku akan menaruh empati dan simpati untuk dia juga Ibunya. Akan tetapi, karena dia dalang dari masalah rumah tangga kita, untuk apa aku harus berempati dengan wanita perusak seperti dia?” tunjuk Jihan tepat di depan wajah Cristal membuat Elvan semakin geram dibuatnya.
“Turunkan tanganmu dari hadapannya,” tekan Elvan menampakkan raut muka dingin nan tajam.
“Kamu mati-matian membela dirinya? Tidakkah kamu lupa bahwa semalam kita pun menghabiskan malam panjang yang indah? Kenapa kamu bisa berubah secepat ini?” Sengaja, Jihan ingin kembali membuat Cristal cemburu dan beranggapan bahwa hubungan suami istri antara dirinya dengan Elvan baik-baik saja. Jihan ingin memperlihatkan pada Cristal kalau wanita itu hanyalah sebagai pelampiasan.
“Jangan bicara omong kosong,” sanggah Elvan tidak habis pikir akan kata-kata Jihan barusan.
“Tidak perlu malu untuk mengakui, toh memang hubungan kita baik-baik saja selama ini. Mas hanya menjadikannya sebagai hiburan semata disaat aku tidak berada di dekatmu, bukan?” pancing Jihan terus menerus. Dia tahu lelaki yang berdiri tepat di depannya ini sudah berada pada puncak kemarahan, namun begitu, Jihan harus tetap menjaga wibawanya sendiri agar tidak tidak dipandang rendah oleh rivalnya.
Cristal menatap nyalang pada kekasihnya. Apakah benar sesuai pendengarannya, manakah yang harus dia percaya, Jihan? Atau Elvan? Sosok pria yang sudah mengisi hari-harinya tapi, di sini memang dirinyalah yang bersalah. Sah-sah saja andai Elvan masih menginginkan Jihan, toh mereka pasangan yang sah dan memiliki ikatan resmi. Berbeda dengan dirinya, dimana dia sebagai perebut laki orang.
Tidak, dia bukan perebut lelaki orang. Selama ini justru Elvan yang lebih dulu mengejarnya meski dari pertama bertemu memang dia lebih dulu mendekati dengan alasan pekerjaan. Akan tetapi setelah semua terungkap tentang status Elvan, dia memilih mundur. Ternyata tidak semudah itu, cinta yang tumbuh besar membuatnya gelap mata dan buta akan kenyataan bahwa hubungan yang mereka jalani tidaklah benar. Ingin sekali marah, hanya saja Cristal sadar sekarang bukanlah waktu yang pas untuk menyanggah semua perkataan atau membalas ucapan Jihan.
“Sayang, kamu jangan pernah terpengaruh olehnya. Apa yang dia sampaikan sama sekali tidak benar. Dia hanya ingin membuatmu cemburu saja.” Elvan menggenggam tangan Cristal erat walau pandangan matanya masih tertuju pada Jihan. Tatapan membunuh terlihat jelas dari netranya.
“Hei Mbak Cristal yang terhormat. Saya minta, mulai sekarang tinggalkan suamiku dan pergi sejauh mungkin dari hidupnya. Aku tidak akan pernah segan-segan untuk mewujudkan semua ucapanku tadi menjadi kenyataan bila kamu tetap saja bersikukuh tetap bersama suamiku. Jangan pernah lupakan juga mertuaku yang jelas-jelas menolak hubungan terlarang kalian berdua. Akan jauh lebih baik kamu segera pergi dari sekarang dan dari kehidupan kami semua sehingga kamu tidak akan menanggung malu lebih besar dari ini,” usir Jihan agar wanita itu segera pergi dari keramaian resto karena beberapa orang tengah menyimak pertikaian mereka.
Cristal menahan sesak di d**a, ingin sekali dia memberi tamparan seperti Elvan kepada wanita itu. Urung, dia tidak ingin mencari masalah lebih dari ini, tidak lucu jika nantinya justru membuat keduanya terlibat perkelahian. Memahami situasi dan rasa malu yang begitu besar, Cristal memang harus pergi sekarang juga tanpa mau menundanya lagi.
Tanpa kata, Cristal mengambil tas di atas meja dan hendak pergi namun segera di tahan oleh Elvan. “Kita pergi bersama.” Elvan pergi meninggalkan Jihan bersama Cristal dalam pelukan pria itu.
Salah satu pengunjung di Resto itupun langsung mengumpat serta menyoraki pasangan tersebut. “Huh dasar pelakor. Perempuan perusak jaman sekarang memang tidak punya urat malu, masih mau-maunya di gandeng setelah dilabrak sama istri sah.” Jihan melirik sumber suara, ternyata seorang gadis muda yang Jihan perkirakan masih berusia tujuh belas tahun.
Atensiny kembali pada pasangan yang tak menghiraukan hinaan dari salah satu tamu di sana. Mereka berdua tetap keluar dengan penuh percaya diri. Air mata Jihan semakin deras melihat pemandangan tersebut, hingga seorang wanita dewasa menghampiri Jihan.
“Mbak sebaiknya duduk dulu. Tenangkan diri Mbak dulu,” ucap perempuan itu sembari menuntun Jihan duduk pada kursi yang Jihan tempati tadi. Minuman pesanan Jihan tadi pun disodorkan oleh perempuan yang tak dikenalnya.
Meski rasanya tenggorokan tidak bisa menelan, Jihan tetap memaksakan air itu masuk demi bisa menghilangkan kekalutan hatinya. Hingga beberapa saat kemudian, setelah dirasa mulai tenang Jihan berpamitan kepada Ibu-Ibu tadi serta mengabaikan tatapan iba dari beberapa orang di sana.
Di dalam mobil, Elvan dan Cristal tidak terlibat perbincangan sama sekali. Keduanya memilih diam, sengaja Elvan memberi waktu pada Cristal untuk menenangkan diri. Elvan paham, perasaan Cristal tidak baik-baik saja setelah kejadian di Restoran hari ini. Elvan tidak menyangka jika Jihan akan nekat mendatangi Cristal dan mengatakan beberapa kata tak pantas untuk Cristal.
Elvan tahu, Jihan bukanlah wanita yang suka mengancam atau menggunakan kalimat kasar pada orang lain. Meski cuek, Elvan tahu betul sikap dan kebiasaan Jihan seperti hari ini. Elvan kini semakin yakin akan kebenciannya terhadap Jihan. Ketidak sukaannya pada wanita itu menjadi berlipat ganda karena sudah berani mengusik kekasihnya.
“Maafkan aku karena aku tidak bisa mendidik Jihan dengan baik sehingga bersikap seperti tadi. Tolong jangan dengarkan ucapannya, kita pasti bisa melalui semua ini dengan baik dan aku pastikan kita bisa akan segera mendapatkan restu dari kedua orang tuaku. Aku tidak butuh persetujuan dari perempuan itu karena aku memilih untuk menceraikannya saja.” Elvan memulai pembicaraan lebih dulu.
"Mas... semua yang dikatakan oleh istrimu itu memang benar. Hubungan terlarang kita memang tidak boleh diteruskan. Aku bukannya takut masuk penjara karena mencintaimu tapi, aku hanya takut jika sampai Ibuku tahu semuanya, Ibuku pun tidak akan setuju dengan hubungan kita. Jadi… aku ingin kita berakhir sampai di sini saja.”