Tajam, Elvan menatap Jihan seolah hendak menyantapnya untuk sarapan pagi ini. Detik ini dia lebih tertarik rasanya untuk melahap wanita di depannya. "Bukan urusanmu." Elvan menutup pintu sekeras mungkin hingga tubuh mungil Jihan berjingkat kaget. Jihan mengusap-usap dadanya tidak habis pikir dengan tingkah Elvan. "Aku tunggu di meja makan, kamu harus sarapan agar tidak sakit nantinya, Mas." Jihan berbalik berniat menunggu Elvan di meja makan saja, dia yakin jika lelakinya pasti akan bergabung dan mereka bisa menikmati sarapan bersama. Namun begitu, sepanjang jalan menuju ruang makan, Jihan terus saja menggerutu mengomentari sikap Elvan barusan. Pagi ini seolah dia menjadi penggibah tulen terhadap suaminya sendiri. "Dasar bucin, cowok tapi kayak perempuan saja. Baru ditinggal begitu sud

