‘Rega’
Bus yang aku tumpangi baru saja keluar dari tol dan akan menuju daerah Bandung. Tujuanku nanti adalah terminal bus di sebuah kota di Jawa Tengah. Karena kota itu yang memiliki akses paling dekat dengan desa tujuanku. Sebenarnya ada banyak jalan menuju ke sana. Tapi aku tidak terlalu paham. Lagi pula aku naik angkutan umum. Jadi aku mengambil jalan yang mudah saja. Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku telah menelepon pemandu wisata yang diberitahu Kayla. Dan seperti itulah rute jalan yang akan aku lewati nanti. Jujur ini pertama kalinya aku pergi jauh menggunakan angkutan umum selain pesawat. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku naik bus. Aku sering menaiki kendaraan itu ketika masih tinggal di North Carolina. Dan beberapa kali kunjungan keluar negeri, aku selalu menggunakan transportasi tersebut untuk berkeliling kota. Tentu saja fasilitas dan kenyamanan bus di Amerika dengan Indonesia berbeda jauh. Sehingga aku bisa mengatakan ini pertama kali untukku. Dan menurutku rasanya jauh lebih menyenangkan. Kita bisa melihat sekeliling. Aktivitas manusia diluar sana yang sungguh berbanding terbalik dengan keseharianku. Pemandangan sawah di sepanjang jalan juga tak luput dari pandanganku. Aku benar-benar merasa puas dengan keadaan ini. Dan dalam hati aku menyesal karena tidak melakukan kegiatan ini dulu. Ketika menelepon pemandu wisata yang bernama Silvia tadi, dia mengatakan bahwa bukan dirinya yang menjemput di terminal. Tapi orang lain yang masih satu profesi dengannya. Selama waktu liburanku menyenangkan dan sesuai rencana itu tak masalah.
Aku sampai di terminal bus sekitar pukul lima sore lewat lima menit. Ternyata melelahkan juga duduk di bus selama kurang lebih dua belas jam. Ponselku sudah aku matikan sejak menaiki bus. Aku rasa keluargaku cukup tahu untuk tidak menghubungiku. Berhubung teleponku tidak aktif, aku jadi tidak berniat untuk menelepon Slivia dan menanyakan kedatangan orang yang akan menjemputku. Akhirnya aku melihat sekeliling mencari orang yang sekiranya tengah menungguku. Pembicaraan terakhir yaitu Silvia mengatakan kalau nanti yang menjemput diriku adalah seorang perempuan. Well, setidaknya aku punya petunjuk untuk mencari orang itu. Meski tidak mudah untuk mencari di tempat seluas ini. Sambil berjalan aku melihat sekeliling terminal yang cukup ramai, sampai akhirnya mataku menangkap seorang perempuan yang tengah berdiri di terminal kedatangan. Seperti sedang menunggu sesuatu. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghampirinya. Ketika telah sampai di depannya, wanita ini mendongak. Aku sedikit tertegun saat pertama kali melihatnya. Dia mempunyai wajah yang manis, mata cokelat yang teduh, hidung mancung, bibir tipis berwarna merah muda dan juga rambut panjang yang tergerai terlihat begitu lembut juga cocok untuknya. Bibir wanita itu sepertinya sangat manis bila aku bisa merasakannya. Astaga, apa yang aku pikirkan? Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini aku memikirkan untuk mencium wanita yang baru pertama kutemui. Kegilaan Dimas sepertinya telah menular ke dalam tubuhku. Aku menggeleng pelan untuk mengusir pikiran buruk dan mulai fokus terhadap wanita ini. Aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya, karena sungguh kali ini ekspresinya sangat lucu.
"Hello, Nona."
Dia tersadar dan tersenyum malu padaku. Terlihat sekali ia bingung bagaimana harus menanggapi sapaanku.
“Apakah kamu sedang menunggu turis yang datang dari Jakarta? Kalau iya, kebetulan sekali. Aku juga sedang mencari orang yang akan menjemputku di sini.”
Aku langsung bertanya pada intinya karena tidak ingin membuang waktu jika wanita ini bukan orang yang aku cari.
“Apakah anda orang yang bernama Rega Sebastian?”
Tanyanya untuk memastikan dan aku mengangguk sebagai jawaban. Aku menahan senyum melihatnya sebab wanita ini terlihat canggung untuk berhadapan denganku. Bahkan dia tidak mau repot untuk memperkenalkan diri. Wanita yang unik. Entah dia lupa atau gugup, yang pasti sikapnya ini membuatku gemas. Kemudian ia memintaku untuk mengikutinya ke arah parkiran.
***
‘Devina’
Aku tidak mengerti kenapa bisa sesial ini. Bagaimana tidak? Aku kaget saat turis ini bilang kalau dia kecopetan di bus. Dan lagi dia tidak menyadarinya. Oh, apakah dia korban kejahatan dengan modus pembiusan yang biasa terjadi di angkutan umum? Akhirnya untuk memperjelas, aku bertanya dengan detail kejadian padanya. Biar nanti aku bisa mengambil keputusan apa yang harus dilakukan.
"Kenapa bisa kecopetan? Apa kamu tidak antipasi dulu sehingga lalai. Atau kamu diberi minum orang yang tak dikenal?"
Aku menunggu ia menjelaskan situasi dengan sabar. Dia nampak berpikir keras seperti tidak memercayai masalah ini bisa menimpanya.
"Sebenarnya di bus tadi ada yang duduk di sampingku. Seorang pria juga. Dia juga memberiku minuman. Aku tidak tahu itu diberi obat bius atau apa. Karena kami mengobrol panjang lebar seperti teman lama yang bertemu kembali. Tapi saat aku bangun tadi, dia sudah tidak ada. Jadi aku pikir dia udah turun duluan dan tidak bilang padaku."
"Dan kamu menerima minuman yang diberi orang itu?"
Ia hanya mengangguk dengan polos tak menyadari keadaan yang berbahaya.
"Ya ampun, kamu kenapa bisa ceroboh banget, sih? Lihat kan dia membiusmu dan kamu kehilangan semua barang milikmu."
Aku berdecak. Merasa gemas sendiri sebab tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki ini. Orang ini lalai kok parah amat, ya. Di berita-berita banyak banget yang memberi tips biar tidak jadi korban pencurian di tempat umum.
“I’m sorry, but... this is the first time for me.”
“Pertama kali ngapain? Kecopetan?”
“Well, ini pertama kalinya aku naik angkutan umum di Indonesia.”
Ia memegang belakang leher, nampaknya ia sedikit malu. Terlihat dari raut wajahnya yang mendadak berubah warna menjadi merah.
"Tunggu, jadi maksudnya kamu belum lama tinggal di Indonesia dan baru kembali sekarang?"
"Hmm, tidak juga. Aku sudah empat tahun di Jakarta sejak kembali dari Amerika."
“Dan kenapa kamu bilang ini baru pertama kali? Kamu tidak pernah naik angkutan umum seumur hidupmu?”
Aku tidak akan heran jika pria ini mengatakan iya untuk pertanyaanku. Aku bisa melihat dari pakaiannya yang terlihat mahal ini. Dia pasti dari kalangan atas di ibu kota.
“Tidak di Indonesia. Waktu diluar negeri aku sering menggunakan transportasi umum. Tapi sekarang kurang waspada aja.”
"Walaupun begitu seharusnya kamu sudah bisa curiga ketika ada orang tak dikenal memberi sesuatu padamu. Setidaknya untuk menghindar dari kejahatan seperti itu."
"I’m so excited with this traveling. Hingga lupa sama keadanku sendiri."
"Terus bagaimana bisa kamu menerima minuman orang itu? Kamu tahu namanya?"
"Sayangnya aku tidak tahu namanya, karena terlalu asyik berbincang aku sampai lupa menanyakan nama dia. Kebetulan aku sangat haus dan lupa tidak membawa minuman. Jadi saat dia menawarkannya, aku terima saja. Tapi setelah itu aku terserang rasa kantuk yang hebat dan tertidur kemudian aku lupa semuanya."
"Itu kamu saja yang ceroboh. Lain kali kalau ada orang yang begitu, tolak dengan halus. Terus kamu kehilangan apa saja?"
"Seluruh uangku, ponsel, dan kamera."
"Kamu cuma membawa itu? Nggak ada yang lain? Dompetmu?"
"Tidak. Semua bajuku masih utuh. Hanya itu yang hilang. Dompetku masih ada, cuma isinya yang hilang. Yah, setidaknya si pencuri berbaik hati untuk tidak mengambil KTP dan SIM punyaku."
Aneh kenapa dia terlihat santai begini, sih. Tidak sedih begitu, dia kan telah kehilangan hartanya.
"Kenapa kamu santai saja? Tidak berniat lapor polisi?" tanyaku penasaran dengan sikapnya.
Ia hanya mengangkat bahu, "Aku bisa membeli lagi."
"Memang kamu punya uang? Kan seluruh uangmu raib diambil pencuri itu."
Sombong banget dia, mentang-mentang kaya.
"Ditabunganku masih banyak."
"Memangnya membawa tabungan?"
"Tidak. Makanya aku berpikir untuk meminjam uangmu. Agar aku bisa kembali ke Jakarta. Dan mengembalikan seluruh kerugianmu."
"Apa? Dengar ya tuan, saya tidak akan meminjamkan apa pun kepada anda. Terserah bagaimana caranya kamu harus mengganti rugi." kataku dengan menekan kalimatku.
"Dengar, aku juga sekarang tidak punya uang sepeserpun. Dan juga aku tidak membawa kartu debit maupun kredit milikku, kalau dibawa mungkin akan ikut raib juga. Tidak ada cara lain. Kecuali kalau kamu mau meminjamkanku uang atau ponsel punya kamu agar aku bisa menelepon keluargaku."
"Tidak akan."
"Terus bagaimana aku bisa mengganti semua ini?"
Aku berpikir sejenak sambil mengamati kondisinya. Pria ini mengalami kecelakaan juga sepertiku dan sebenarnya aku merasa kasihan juga dengannya. Tapi apa aku bisa memercayainya? Nanti kalau dia membawa kabur uangku bagaimana? Kan zaman sekarang penampilan itu bisa menipu. Aku berpikir sangat keras, kira-kira apa yang akan ku lakukan untuk mengatasi kekacauan ini?
Sampai akhirnya terbesit ide di kepalaku untuk memecahkan masalah ini dan juga sebagai ajang membalas sifat sombong lelaki yang sepertinya kaya. Baiklah, semoga ini akan berhasil. Aku menoleh padanya setelah mantap dengan keputusanku. Dia masih menatapku dengan pandangan bingung.
"Begini...” aku memulai, ia menegakkan punggung bersiap menerima solusi yang akan aku lontarkan.
“Aku tahu bagaimana caranya untuk mengatasi masalah ini."
Ia terlihat antusias, “Bagaimana?”
Aku ternyum penuh arti dan dia semakin penasaran. Aku jadi tidak sabar untuk melihat bagaimana reaksinya jika aku mengucapkan rencanaku ini. Bisa dibilang rencana cerdik juga jahat. Sepertinya dia akan melawanku.
"Kamu harus mau menjadi guru pengganti sementara di tempatku mengajar dan juga membantu ayahku di ladang."
Rencana ini tidak jahat-jahat banget menurutku. Malah terlihat manusiawi, tapi tetap saja dia terkejut bukan main. Persis seperti dugaanku.
"What?” ia menjerit kaget sampai berdiri dari kursi yang didudukinya.
"Iya, kalau kamu mau ganti semua kerugianku. Caranya seperti itu."
"Nggak. Gue nggak mau. Sini gue pinjem HP lo, gue bakal nelpon keluarga gue. Dan urusan kita selesai."
"Nggak akan. Pokoknya kamu harus mengganti rugi dengan cara seperti ini. Atau aku akan membiarkanmu lontang-lantung di jalan biar kayak orang gila."
"Pokoknya gue nggak mau. Sini HP lo!"
Dia mencoba mengambil tas milikku yang terletak di atas nakas. Dan aku dengan sigap melindungi benda itu. Kami terus bergulat. Saling berebut tas seperti anak kecil yang sedang rebutan mainan. Hingga aku menjerit kesakitan sambil memegang kepala. Kali ini aku merasakan sakit yang hebat di kepalaku. Aku tak memperhatikan sekelilingku lagi, semua terasa berputar. Terakhir yang ku dengar adalah suara teriakan seseorang memanggil dokter.
***