BAB 6

1620 Kata
‘Rega’  "So, Tempat apa yang paling asyik untuk didatangi? Kamu bilang punya rekomendasinya ‘kan?" tanyaku menatap Galang yang duduk di depanku.      Kami sedang berkumpul untuk makan malam bersama. Ini adalah usulan dari Dimas yang telah bikin kekacauan kemarin. Katanya sebagai permintaan maaf. Tapi aku rasa dia melakukan ini untuk menarik perhatian orangtuaku. Mengingat hari ini mereka baru pulang dari Jerman dan berniat menjemput kedua adikku. Kali ini aku menyetujui usulannya. Jarang-jarang kami bisa berkumpul bersama. "Tempat apa, nih?" tanya Dimas melihatku dan Galang bergantian. "Tempat buat buang hajat, Dim." celetuk Raka. "Kalau tempat itu ngapain nanya sama Galang. Di samping dapur ini ada toilet." jawab Dimas dengan tampang yan dibuat polos. Aku memukul kepala Dimas yang memang duduk di sebelahku. "Aduh, sakit bego!" serunya sambil mengusap kepala yang tadi aku pukul. "Elo yang bego. Kata-kata Raka dipercaya." aku menatapnya sengit. "Loh, gue bener ‘kan? Kalau mau buang hajat ya sono ke toilet. Ngapain tanya Galang." "Bukan itu maksud gue. Bego." "Lah, terus apa?" Mata Dimas melebar ketika terpikirkan sesuatu, ia tersenyum jail padaku karena mungkin menemukan hal yang tepat untuk mengerjaiku. "Jangan-jangan lo nanya tempat lokalisasi, ya? Bego. Kalau mau tanya tempat seperti itu jangan tanya Galang tapi sama gue. Dia masih dibawah umur." Kali ini sungguh aku kehabisan kesabaran. Tanpa pikir panjang aku langsung memiting kepalanya. Dan terjadilah pergulatan kecil diantara kami. "Lo kalau nggak tau apa-apa diem aja, deh. Daripada ngomong malah bikin darah tinggi." Aku terus memiting kepalanya tanpa peduli teriakan dia yang histeris minta dilepaskan. "Adouuww... Tante tolongin saya. Anak tante yang satu ini hobi banget nyiksa saya." Katanya meringis yang masih dibawah pitinganku. Yang lain tertawa melihat perkelahian kami. "Rega." Papa menegurku. "Bentar, Pa. Ini anak mesti dikasih pelajaran biar ngomongnya nggak ngelantur mulu." "Om, tolong saya om. Calon mantu om ini gantengnya bisa ilang karena disiksa terus sama kakak ipar." Kayla yang mendengar ucapan Dimas tersebut seketika menghentikan tawanya. Lalu berucap dengan sadis karena jengkel perlakuan Dimas. "Pukul terus Kak, ayo. Kalau perlu bunuh sekalian. Eneg juga lihat muka dia terus-terusan. Semangat!" "Oh, babe. Kamu kenapa begitu dengan calon suamimu?" Jengah dengan tingkahnya, aku bungkam juga mulutnya dan melanjutkan pitingan tadi. Sampai Dimas diam tidak berkutik. Dan semua yang ada di ruangan ini terbahak melihat aksi kami. "Rega sudah. Lepaskan. Lanjutkan makanmu." Mama melerai. Aku melepaskan pitinganku dan menjitak sekali lagi kepalanya. "Aduhh.. Dasar kakak ipar durhaka." aku hanya mendengus. "Sudah, sudah. Kalian jangan seperti anak kecil begitu. Malu sama umur." ucap Mama sekenanya. "Ahh... Tante kenapa harus ngingetin kita sama umur, sih? Nggak kasihan apa sama kita yang masih jolakus." timpal Raka. "Apa itu jolakus?" tanya Valerio. "Jomblo ditolak terus. Hahaha." Raka tertawa sendiri karena lelucon yang dibuatnya. Dimas dan Valerio melotot padanya karena tidak terima disindir seperti itu. "Elo nyindir?" tanya mereka berdua. "Yang ditolak terus kalian berdua. Gue enggak." timpalku. "Iyalah. Elo nggak bisa move on." jawab Dimas. Aku hanya mendengus lalu mengambil air minum di meja. Mama dan Papa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kami. Setelah semuanya tenang, barulah Papa berbicara. "Kamu nanyain tempat apa memang?" tanyanya padaku. Dimas yang sudah membuka mulut untuk menjawab langsung dipelototi oleh Kayla. Hal itu membuatnya bungkam tidak bersuara. Aku menahan senyum melihat itu. Aku menoleh ke arah Papa kemudian menjawab tanya itu. "Aku sebenarnya nanyain tempat yang bagus buat liburan. Galang bilang dia punya beberapa rekomendasi." "Kamu mau liburan?" tanya Mamaku penasaran. Aku menatap Mamaku, "Iya, Ma. Aku butuh sedikit refreshing dari pekerjaan." "Bilang aja buat melarikan diri dari bayang-bayang masa lalu." timpal Valerio, Raka, dan Dimas bersamaan. "Terserah." "Ini beberapa tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi." Galang menyerahkan ponselnya padaku. Menunjukkan foto-foto pariwisata hasil dari mencari di internet. Aku mengernyit heran melihat beberapa tempat yang disarankannya. "Semuanya ada di Indonesia?" "Hmm." Dia hanya mengangguk sebagai jawaban. "Tapi..." "Indonesia itu eksotis. Indah. Kakak mainnya keluar negeri mulu, sih. Sekalinya di dalam negeri cuma di Bali doang." "Ya, abis mau gimana lagi. Abangmu ini lebih suka mendekam di Amrik. Maklum, korban perasaan." lagi Raka menimpali. "Justru itu. Gue nyuruh Kak Rega nyari destinasi lain. Supaya pikirannya nggak stuck di satu kota saja." jawabnya dengan ekspresi datar. "Lo ternyata adek yang perhatian.” Ujar Raka sambil berdecak. “By the way, ada rekomen nggak buat gue?" lanjutnya. "Ada. Gue saranin Kak Raka pergi ke Nusakambangan sana. Dan kalau perlu nggak usah balik lagi." "Anjrit. Lo pikir gue bang napi?" "Tapi emang pantes, kok, lo jadi penghuni sana. Lo udah punya tampang kriminal soalnya." Dimas ikut memanas-manasi. "Sial." Dia mengumpat karena kesal dicela. Dan semuanya tertawa. "Jadi, Kak Re mau pergi kemana?" Galang menatapku lagi. "Can you explain it? Gue rada males baca artikelnya." "Lihat sekilas gambarnya aja. Adek kamu ini ‘kan orangnya irit bicara.” Kalimat ini datang dari Mama yang sepertinya juga tak langsung menyindir Papa. Sesuai saran dari Mama aku melihat sekilas gambar-gambar tersebut dan sesekali bertanya gambar itu berada di daerah mana. Dimas yang juga ikut melihat lebih sering menjawab pertanyaanku. Yang lain hanya menimpali sekadarnya. "Itu Raja Ampat, Papua." kata Dimas. Aku mengangguk dan menunjuk satu gambar lagi, "Ini?" "Pulau Komodo. NTB" "Terus kalau semua ini?" aku menggeser layar lagi dan menampilkan beberapa gambar. "Ini di Lombok. Kalau ini di Kepulauan Seribu, Anyer dan yang ini di Malang. Dan yang ini namanya pink beach." "Pink beach keren, tuh. Tempatnya ‘kan romantis gitu." kata Kayla. "Tenang sayang. Nanti kalau kita honeymoon. Aku ajak kamu kesana." Dimas mengedipkan sebelah mata dan mengeluarkan senyum menggoda pada adikku yang hanya ditanggapi dengan ekspresi jijik dari Kayla. Aku memutar bola mata, merasa heran karena temanku satu ini yang sepertinya sudah tidak punya urat malu. Apalagi ada kedua orangtuaku juga. "Terus ini dimana?" kataku lagi mengalihkan perhatian sambil menunjukkan gambar yang berupa bangunan. "Itu Lawang Sewu, Semarang. Kalau ini Museum Kereta Api, Ambarawa. Ini Monas. Jangan bilang lo nggak tau Monas." "Gue tau." "Terus Museum Fatahilah, tau nggak?" "Gue belum pernah kesana." "What the f**k. Berapa tahun lo tinggal di Jakarta, man? Bukan baru seminggu ‘kan?" Aku hanya meringis merasa malu. "Makanya keliling Indonesia. Biar tau. Yang diinget kota North Carolina mulu, sih. Jadi gagal move up deh." Valerio menambahi. "Terserah kata elo,deh." "Sudah. Jadi intinya kamu mau kemana, nak?" Mama kembali bertanya. "Nggak tau juga. Aku bingung. Abisnya bagus semua. Aku cuma mengambil waktu cuti tujuh hari." "Bukannya bos di restoran, ya? ‘Kan bisa libur sesuka elo." tanya Valerio. "Gue nggak bisa ninggalin restoran gue lama-lama, Val." "Dasar workaholic lo." cibirnya. "Atau gini aja. Kamu berlibur ke tempat yang kemarin jadi tujuan study tour-nya Kayla saja gimana? Kebetulan bulan lalu sebelum ke Amsterdam. Papa sempat berkunjung ke sana. Dan tempatnya memang bagus. Banyak wisatawan juga yang datang." Papa memberi saran. "Bener kata Papa. Kak Re berkunjung ke sana aja kalau waktunya mepet. Bahkan tiga hari cukup untuk berkeliling sepuasnya di sana." Kayla menimpali. "Kemana?" tanyaku penasaran. Papa dan Kayla saling pandang, lalu keduanya secara bersama menyebut sebuah desa yang menjadi tempat kunjunganku untuk berlibur kali ini.   ***        Sesuai saran Papa dan Kayla. Akhirnya aku memutuskan untuk liburan di desa yang dulu menjadi tujuan wisata sekolah Kayla. Galang juga menjelaskan sedikit tempat ini, "Jadi di sana banyak tempat yang harus Kakak kunjungi. Yang pasti Kakak harus bawa jaket. Di sana dingin banget. Ya walaupun nggak sedingin di Belanda. Tapi buat jaga-jaga aja." "Elo kok bisa tau? Pernah kesana? Atau pas study tour kemarin elo juga ikut?" "nggak. Tapi gue pernah pergi ke sana." "Kapan?" "Waktu sedang liburan keluarga." "Maksudnya sama Mama, Papa, dan Kayla?" "Hmm..." "Kok gue nggak tau. Terus kenapa gue nggak diajak?" "Waktu itu Kak Re masih di Amerika. Jadi nggak mungkin diajak." Galang mendengus. "Okay then." jawabku pasrah. "Kita boleh ikut?" Ketiga sobatku menerobos masuk kamar saat aku sedang packing. Aku menatap mereka bertiga dengan sengit. "No!" ucapku tegas menolak usulan mereka. "Yahh... Just one more." "No!" "Pelit." "Bodo." Aku yang teringat akan sesuatu langsung memberi pesan pada mereka, "Pokoknya selama gue liburan, nggak ada yang boleh menghubungi gue. Baik lewat telepon, sosmed atau apa pun itu. Paham!" "Kenapa memangnya?" Mama yang baru saja masuk bertanya. Aku menoleh padanya. "Nggak. I just need a quality time for my self." Mama mengangguk mengerti keinginanku. "Fine, kalau di sana ada apa-apa, kamu hubungi kami semua, ya." "Yes, Mom." kataku mengacungkan jempol.      Keesokan paginya kami berangkat menuju terminal bus. Kali ini aku ingin melakukan perjalanan dengan sedikit berbeda. Menggunakan bus. Karena aku ingin menikmati suasana di jalanan. Kalau naik pesawat yang dilihat hanya langit doang, jadi bosen. "Kak Re, kemarin aku udah booking tour guide. Katanya dia akan menjemput Kakak di terminal." Kayla memberitahu tentang informasi itu. "Baiklah. Siapa namanya?" "Namanya Silvia. Nanti Kak Re telepon sendiri aja biar jelas. Aku kasih nomernya, nih.” Kayla menyodorkan sebuah kertas berisi nomor telepon padaku. "Kamu dapat ini darimana?" tanyaku sambil menerima kertas itu. "Ya ampun, Kak. Masa harus dijelasin lagi." Aku tertawa kecil, "Nggak usah. Kakak cuma bercanda." Kemudian aku menoleh pada semua yang ikut mengantarku hari ini. Aku heran kenapa semua pada ngotot ingin mengantarku ke terminal. Padahal aku hanya akan berlibur bukan untuk merantau ke negeri seberang sana. "Busnya udah datang, tuh." Mama menunjuk ke arah bus yang akan kutumpangi. Aku melihatnya sekilas lalu berbalik menghadap keluarga dan teman-temanku untuk berpamitan. "Gue berangkat dulu, ya." "Oke, babe. Titi dj. Jangan lupa oleh-olehnya, ya." Dimas melambaikan tangan padaku tak lupa disertai dengan kiss bye darinya. Astaga, pengen gue tendang nih orang. Sekali lagi aku melambai pada semua sebelum masuk bus. Dan setelah mendapat tempat duduk, aku menyuarakan suara hatiku dalam pikiran ketika bus melaju. 'Let's go for a new adventure.'  Aku menoleh pada mereka yang masih berdiri di sana dan siluetnya semakin kecil lalu menghilang saat bus terus berjalan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN