RASA KHAWATIR

1002 Kata
Malam yang dingin, hembusan angin yang menyejukan. Namun tidak bisa mendinginkan suasana hangat yang menerpa kedua mahkluk yang tengah dimabuk asmara. Saling menautkan bibir satu sama lain. Mengeksplor keseluruh permukaan dan membelitkan lidah disana. Deru nafas yang terasa berat serta sentuhan tangan yang menggerayang kemana-mana, menambah gairah yang meluap-luap seakan tak terbendung Lagi. Lily memejamkan matanya seakan menikmati setiap sentuhan yang menghanyutkan membuatnya seakan lupa diri. Namun hal itu tidak berlangsung cukup lama. Alger seolah mengingat sesuatu sebelum mereka melangkah lebih jauh. Alger segera melepaskan pertautan itu, membuat Lily membuka matanya dan memperlihatkan pancaran kekecewaan. "Aku tidak bisa melakukan ini Lily." ucap Alger dengan suara beratnya. Kilatan nafsu yang tadinya terlihat jelas dimata Alger kita menghilang dalam sekejap saja. Lily menatap kecewa. Kali ini bukan karena Alger menghentikan sentuhannya. Melainkan ada sesuatu lain yang mengganggu pikiran Lily. "Apa karena Zara?" pikirnya. Lily sempat merasa berkecil hati. Jika memang benar hanya ada Zara, seharusnya dia sadar sejak awal. Namun Alger segera menyadari perubahan raut wajah Lily yang pastinya salah paham. Alger menangkup kedua pipinya dan menatapnya dalam. "Tidak Lily. Bukan hal itu yang membuatku tidak bisa melakukannya. Tapi ada hal lain." "Apa?" tanya Lily menuntut. "Lily. Nenek moyang kami dulu terkena kutukan. Dan hal itu berlaku sampai turun temurun. Kondisi tubuhku dulu tidak seperti ini. Dulu tulang punggungku bengkok. Serta ada seperti sebuah gelembung dipipi kami. Kami sangat cacat dalam segi fisik." ucap Alger Membuat Lily menatap bingung. "Lalu, bagaimana kau bisa menjadi seperti ini?" "Ada penyihir yang menjadikan aku sebagai bahan percobaannya. Dia melakukan sebuah sihir yang sangat menyakitkan untukku. Aku tidak bisa menjelaskannya, karena kau pasti tidak sanggup mendengarnya. Aku tidak ingin anakku kelak merasakan hal yang sama. Dia pasti akan malu dan dibuang dihutan ilusi. Itu akan membuatnya merasa terpuruk seumur hidup. Dan kau, kau pasti malu mendapatkan keturunan cacat dariku." ucapnya pedih. Tanpa diduga Lily memeluknya erat dan penuh kasih sayang. "Alger, kenapa kau berfikir seperti itu? Tidak perduli bagaimana bentuk anak kita, dia tetap keturunan kita. Aku akan menyayanginya dengan sepenuh hatiku. Dan akan mengajarinya untuk menerima keadaan. Kita bisa mengurusnya nanti. Lagi pula itu hanya kemungkinan darimu. Siapa tahu dengan perpaduan gen elf sepertiku, anak kita akan menjadi cantik atau tampan. Siapa yang tahu?" ucap Lily menenangkan nya. Namun Alger masih menunduk sedih. "Maafkan aku Lily. Aku tidak berani mengambil resiko. Aku tidak ingin kau malu." Alger menggeleng lemah. "Cobalah menerima takdirmu Alger. Kau membutuhkan sosok penerus keturunanmu." Alger menatap Lily dengan pandangan penuh arti. "Apa kau yakin, akan menerima bagaimana pun bentuk keturunan ku nanti?" Lily mengangguk dan tersenyum hangat. Matanya memancarkan perasaan yang begitu dalam. Senyuman Lily membuat Alger sedikit tenang. Dalam detik itu juga dia memeluk tubuh kecil Lily masuk kedalam dekapannya. Dan sesekali mengecup puncak kepalanya. Lily menghirup wangi tubuh Alger yang seolah menjadi candu baginya. Terlalu sering bersama pria itu, membuatnya tidak bisa jauh terlalu lama. Aroma tubuh Lily, kembali membangkitkan gairah yang sempat dia tahan sebelumnya. Perlahan tapi pasti, Alger membaringkan tubuh Lily keranjang secara perlahan. Matanya menatap penuh nafsu yang bergejolak segera ingin dituntaskan. Heningnya malam itu, kini berubah menjadi alunan melody indah yang bersuarakan desahan serta erangan kedua mahkluk yang sedang menuju surga bersama-sama. Pergulatan yang dilakukan dibawah selimut, membuat dinginnya malam berubah menjadi hangat dan menyenangkan. Sampai akhirnya mereka meraih kenikmatan yang tiada tara. Menciptakan generasi baru yang akan ikut serta dalam melawan kebatilan di dimensi itu. *~* Zara menatap fokus pada tubuh suaminya yang dipenuhi lebam dan bercak aneh yang membuat Zach tidak sadarkan diri. Tangan Zara mengarah dan menyelusuri setiap luka itu. Semburan api yang keluar dari tangannya menyapu habis setiap noda yang ada ditubuh Zach. Dalam waktu yang cukup lama noda dan beberapa lebam ditubuh suaminya hilang. Namun mata Zach tidak kunjung terbuka, bahkan Zara sudah melakukan lebih dari puluhan kali. Keringat dingin membanjiri tubuh Zara. Namun dia masih tidak mau menyerah, meski tenaganya hampir diujung batas. Zach tidak kunjung membuka matanya. Sampai pada akhirnya Zara ambruk karena kelelahan. Brukk "Zara ...!!" Rebecca mendekatinya dan memberikan air padanya. "Sudah kukatakan kau harus istirahat dulu. Kau tidak boleh memaksakan tubuhmu yang sudah tak mampu lagi mengeluarkan semburan api penyembuh. Kau harus ingat batasanmu Zara." Rebecca berucap lemah sembari membantu Zara berbaring diranjang yang ada disebelah Zach. "Tidak bisa Becca. Aku harus terus berusaha agar suamiku sembuh. Dia tidak boleh seperti ini. Aku takut luka yang ada didalam tubuhnya bersarang dan merusak organ yang lain. Kita tidak tahu sihir apa yang digunakan Erios waktu menyerangnya." "Tapi kau harus memulihkan tubuhmu dulu Zara. Setelah itu, kau bisa mencobanya lagi." Zara tidak membantah. Kali ini dia menuruti keinginan Rebecca. Namun matanya menatap sedih kearah Zach yang terlihat lemah tak berdaya. Wajah Zach nampak semakin pucat kebiruan. Entah apa yang telah Erios perbuat padanya, hingga Zara kesulitan menyembuhkan nya. Sementara Miki hanya dengan sekali semburan lukanya segera hilang dan matanya terbuka lebar. Sangat berbanding balik dengan Zach. Meski saat ini Miki masih dalam kondisi lemah. Namun setidaknya dia sudah sadarkan diri. Ratu Anna menatap prihatin pada putrinya yang nampak kalut. Sang Ratu memeluknya penuh cinta dan menguatkannya. Sesekali mengusap lembut rambut Zara. "Tenanglah nak, suamimu akan baik-baik saja. Mungkin dia butuh banyak istirahat untuk memulihkan tubuhnya." "Tapi bu, dia ..." "Sudah, benar kata Rebecca. Kau pulihkan tubuhmu dulu, setelah itu baru coba lagi untuk menyembuhkan nya." Zara mengangguk lesu. Matanya menatap pilu. Ditambah lagi Khazayn yang dia tinggalkan dalam usia yang masih sangat kecil. Zara semakin gusar. Bagaimana keadaan putranya? Apakah Khazayn tidak membuat masalah lagi. Zara takut keberadaan anaknya diketahui oleh mahkluk kegelapan. Belum lagi manusi yang akan menyadari siapa Khazayn sebenarnya. Hal itu akan membuat semua orang mengincar nyawanya. Khazayn masih terlalu kecil untuk melawan manusia yang berniat jahat padanya. Zara tidak bisa berhenti memikirkan hal itu. Sampai akhirnya matanya terpejam karena terlalu telah, setelah mengeluarkan begitu banyak energi. Dalam bawah sadarnya. Dia berharap semuanya akan baik-baik saja. Baik Suami maupun putranya. Mereka harus selamat. Jangan sampai ada mahkluk yang menyakiti mereka. Zara sendiri tidak bisa membayangkan hal itu jika sampai terjadi. Entah bagaimana jadinya dirinya tanpa mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN