DILEMA

1987 Kata
"Apa kau menghindariku, Lily?" Lily terkesikap. Dengan kehadiran Alger yang tiba-tiba muncul. Saat dia tengah asyik dengan imajinasinya sendiri sembari memandangi air terjun dan kicauan burung disana. Lily menggeleng, "Tidak." "Lalu kenapa kau menghilang seharian ini? Dan berada ditempat ini seorang diri." Alger mendekatinya secara perlahan. Lily segera berdiri, namun entah karena limbung, atau batu yang ia pijak licin. Lily hampir terjatuh, masuk kedalam sungai. Untungnya Alger dengan sigap meraih pinggangnya dan menarik Lily langsung kedalam pelukannya. Detak jantung Lily semakin berdegup kencang. Menatap Alger dalam jarak sedekat itu. ("Tidak. Aku tidak boleh hanyut kedalam tatapan itu.") Lily menggeleng keras dan melepaskan tangan Alger yang memeluknya. Tentu Alger memperhatikan hal itu sejak tadi. "Apa ada sesuatu yang sedang kau tahan?" "Tidak ada. Oh iya, aku lupa mengambil bahan racikan obat untuk Raja Flourenc dan Miki." Lily segera melangkah pergi terburu-buru. Namun lagi-lagi, Alger menariknya. Kini giliran baju Lily yang dia tarik dari belakang, hingga Lily menghentikan langkahnya. "Berhenti menghindar dariku Lily. Katakan ada apa sebenarnya?" Alger menatap nya tajam, sembari memegang erat kedua bahunya. Memaksa Lily menatap matanya. "Lepaskan aku Alger. Aku ... Belum sempat Lily menyelesaikan ucapannya, Alger telah membungkam bibirnya. Lily membesarkan matanya dengan serangan tiba-tiba itu. Alger mencecap dan memangutnya dengan liar. Hingga Lily kesulitan mengimbanginya. Lily yang mulai merasa sesak memukul-mukul d**a Alger dan menggigit bibirnya hingga berdarah. Alger melepaskan pertautan mereka. Bukan Karena gigitan Lily. Melainkan karena melihat Lily yang merasa sesak dan kesulitan bernafas. Alger menyapu sedikit darah yang mengalir dibibirnya menggunakan tangannya. Namun tangan yang satunya masih tetap menahan Lily, agar tidak kabur. Lily menghirup rakus udara dengan d**a Yang naik turu. Lalu matanya menatap kesal kearah Alger yang masih menahannya. " Lepaskan aku !! Biarkan aku pergi !!" ucap Lily memberontak kasar. "Tidak. Sebelum kau katakan ada apa sebenarnya? Aku tidak akan melepaskanmu, malah aku akan melakukan yang lebih dari ini." ujarnya dingin. "Dasar mahkluk c***l !! Meski kau tidak bisa melakukannya dengan wanita yang kau cintai, tapi kau juga tidak bisa melampiaskan nya padaku !!" pekik Lily kesal. "Wanita yang aku cintai? Siapa?" "Siapa lagi kalau bukan Zara. Bahkan saat dia telah bersuami, kau masih saja menyukainya. Kau gila .... Alger diam sejenak, mencerna setiap ucapan Lily. Lily yang sadar akan ucapannya pun menunduk malu dan merutuki mulutnya yang tak berfilter itu. (" Bodoh !!") gumamnya sembari memukul pelan kepalanya. Lily bahkan tidak berani menatap kearah Alger. "Jadi karena itu kau menghindar dariku?" tanya Alger melipatkan tangannya didada dan menaikan sebelah alisnya menatap Lily. Lily yang dipandang seperti itu merasa kikuk. Ditambah lagi pertanyaan Alger yang tepat pada sasarannya. Membuat Lily semakin merasa gugup. Alger menyadari itu dan mendekatinya. Meraih tangan Lily dan menggenggamnya penuh kelembutan. "Dengar !! Dulu aku pikir aku memang menyukainya. Namun sejak kehadiranmu, membuatku sadar bahwa aku tidak menyukainya. Ternyata perasaanku hanya sebatas hutang budi dan rasa ingin membalas kebaikannya yang tinggi. Kehilangannya, membuatku sedih. Karena merasa gagal membalas kebaikannya dan juga ayahnya." Lily diam saja. Membiarkan Alger menjelaskan semuanya. "Aku tidak menyukainya lagi Lily. Saat ini sudah ada orang lain yang memiliki ruang khusus dihatiku." Alger menarik dagu Lily memaksa agar menatap matanya. "Kaulah pemilik ruang khusus dihatiku saat ini. Aku menyukaimu, entah sejak kapan cinta ini berawal. Yang jelas, aku tidak suka kau pergi dariku. Aku tidak suka kau mengabaikanku. Aku hanya ingin kau selalu bersamaku, menemaniku dimasa tua. Hanya kau ... Lily." Lily menatap matanya nanar. Merasa ada kebahagiaan yang meluap-luap. Namun dia bingung bagaimana cara mengapresiasikan nya. Lily terlalu bahagia hingga lidahnya terasa keluh untuk menanggapi ucapan Alger. "A-apa kita bisa tua?" tanya Lily dengan wajah polosnya. Alger berdecak. Dan menyentil dahi Lily. "Bodoh !! Itu hanya sebuah umpama. Tentu saja kita tidak akan bisa tua. Wujud kita akan tetap seperti ini sampai menuju kematian. Dasar Kau perusak suasana !!" Lily terkikik melihat wajah Alger yang nampak kesal. Wajah seriusnya tadi berubah merah padam. *~* CALIFORNIA Sudah beberapa minggu mereka berada di California. Mereka memilih tempat itu karena penduduknya yang banyak. Dan mahkluk kegelapan akan kesulitan menemukan gelombang energi karena tertutupi oleh bau darah manusia yang menyeruak diudara. Namun bukan berarti tempat itu tidak berbahaya. Jika anak Zara memiliki kebiasaan yang sama dengan ayahnya, maka Khazayn akan kesulitan mengendalikan dirinya ditempat yang ramai penduduk itu. Dan itulah tugas Century nanti. Menjaga dan mengingatkan Khazayn pada batasannya, agar tetap menutupi keberadaan kaum mereka ditempat itu. Dan saat berada disana, membuat Zara semakin kalut memikirkan suaminya. Setiap harinya Zara hanya merenung kapan saat yang tepat untuk mencari sang Raja. Sementara saat ini bayi Khazayn masih sangat membutuhkannya. Zara khawatir dia akan terlambat menolong suaminya jika menunggu terlalu lama. "Century, apa yang harus aku lakukan? Suamiku ... Aku harus menolongnya. Aku yakin dia masih hidup saat ini, dan aku pikir keadaannya tidak sedang baik-baik saja." lirih Zara dengan kecemasan yang selalu menyelimutinya. "Bersabarlah sebentar lagi Zara. Keadaan saat ini masih belum stabil. Erios pasti sedang mencari keberadaan kalian didimensi kita. Dia sedang kalang kabut saat ini. Dan aku tidak akan membiarkanmu tertangkap olehnya." "Tapi aku tidak bisa terus seperti ini Century !! Suamiku ... Dia membutuhkanku." Zara kembali terisak. "Zara ... Pikirkan putramu, dia juga membutuhkanmu disini. Setidaknya jika kau ingin meninggal kan Khazayn. Biarkan dia selesai menyusu denganmu. Air susumu akan menambah kekuatannya dimasa yang akan datang, semua kekuatan mu ada disana." Zara menoleh kearah Khazayn yang tertidur pulas di keranjang bayinya. Air matanya semakin mengalir. "Kau benar Century ... Khazayn masih sangat membutuhkanku." Zara menyentuh lembut pipi anaknya. "Bersabarlah sedikit lagi Zara. Setelah ini, kau bisa pergi mencari Raja Zach. Dan mempercayakan Khazayn padaku." ucapnya mantap. Zara mengangguk lemah. Meski keinginannya begitu kuat untuk mencari sang suami. Namun Zara juga harus bijak memikirkan bayinya yang masih bergantung padanya. Zara menguatkan dirinya Untuk lebih bersabar sampai waktu yang tepat telah tiba. Dan saat itu tiba. Dia akan kembali kedimensi kegelapan mencari sang Raja Flourenc. **** "Bagaimana keadaannya?" lagi-lagi pertanyaan itu keluar dari mulut Alger yang mengkhawatirkan Zach. Tabib itu menggeleng lemah. Wajahnya menunjukan keprihatinan yang dalam. "Jika saja Zara ada disini, dia pasti sudah menyembuhkannya." ucap Alger pahit. Lily menepuk pelan pundak Alger, mencoba untuk menguatkan pria itu. Pandangan penuh cinta yang Lily pancarkan untuknya. Membuat Alger menghangat dan tersenyum tipis padanya. Lalu perhatian mereka beralih pada gelombang energi yang tiba-tiba muncul. Semua orang yang ada disana bisa merasakannya. Lalu dalam sekejap sosok wanita berambut merah bergelombang muncul. Alger membulatkan matanya melihat wanita itu. Mulutnya terbuka, dia segera mendekat untuk memastikan penglihatannnya, apakah benar atau hanya halusinasinya saja. Becca? "Ya, Alger." "Ba-bagaimana bisa? Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku bahwa kau sudah meninggal. Gelombang energimu bahkan lenyap waktu itu." "Lalu kau pikir yang berdiri dihadapanmu ini siapa? Hantu?" Alger menggeleng bingung. "Tidak mungkin !!" "Baiklah, akan kujelaskan sedikit cerita padamu. Kau pasti takjub mendengarnya." Rebecca menarik nafasnya sebelum menjelaskan. "Aku sebenarnya belum mati. Erios memang menyerangku dengan brutal waktu itu, dia bahkan menikamku. Namun setelah itu aku hanya berpura-pura mati." Alger melongo kaget mendengarnya. "Kau tahu? Selama ini aku sengaja menyembunyikan kemampuan khususku. Tidak ada yang mengetahuinya termasuk Zach sendiri. Aku bisa berpura-pura mati dan melenyapkan semua tanda-tanda vitalku untuk Sementara. Karena itulah Erios menyangka aku sudah mati dan membuangku kedimensi lain. Hutan ilusi. Aku mengobati lukaku sendiri disana. Dan berkat keberuntungan ku, aku sembuh dengan begitu cepat, dan langsung kemari mencari kalian." jelasnya santai, namun masih terlihat jelas dendam dimatanya. "Baik ... Aku mengerti sekarang." Alger mengangguk paham. Merasa tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Rebecca langsung melewatinya dan mendekati Zach dan Miki yang terbaring lemah. "Apa Zach baik-baik saja? Bagaimana keadaannya?" tanya Rebecca Khawatir. "Dia tidak baik-baik saja. Lukanya teramat serius. Tidak ada yang sanggup mengobatinya. Aku khawatir kondisinya akan semakin memburuk." ucap Ratu Anna pahit. "Hanya ada satu cara. Aku harus membawa Zara kembali." ucap Rebecca tegas. Sontak semua orang menatapnya dengan pandangan bertanya. "Kau tahu dimana Zara saat ini?" tanya sang Ratu. "Ya, kami sengaja menyembunyikan Zara dan putranya. Agar tidak bisa dijangkau oleh mahkluk kegelapan lainnya. " Putra? Maksudmu, cucuku sudah lahir?" "Benar Ratu. Keturunan Flourenc telah lahir, malaikat maut Erios telah tiba dan saat dia dewasa nanti. Khazayn akan menghancurkan kekuasaan Erios." Ratu Anna tidak bisa menutupi kegembiraannya. Putrinya ternyata masih hidup. Dan cucunya telah lahir. "Dimana mereka sekarang? Kita harus menemuinya." "Tidak !!" Becca langsung menyela Alger yang nampak antusias. "Biar aku saja yang menjemput Zara. Akan sangat berbahaya jika kalian semua ikut. Bisa-bisa anak buah Erios akan menemukan keberadaan nya. Saat ini bukan hanya Zara yang menjadi incaran Erios, tapi juga Khazayn." Mereka semua mengangguk mengerti. Bagaimana pun juga, ucapan Rebecca benar adanya. Mereka tidak boleh bertindak ceroboh, bisa-bisa Erios akan dengan mudah mendapatkan Khazayn. Dan jika itu sampai terjadi. Sama saja seperti kiamat bagi dimensi mereka. "Baiklah Rebecca, kami percayakan padamu. Pergilah temui Zara." Rebecca mengangguk setuju. "Baik Ratu !!" Rebecca mencari celah untuk masuk kedimensi manusi. dalam sekejap cahaya itu muncul dengan membentuk sebuah pusaran. Rebecca berjalan masuk kedalamnya. Perlahan, tubuh Rebecca menghilang seakan berbaur dengan udara, seiring dengan hilangnya pula cahaya itu. *~* Tiga tahun telah berlalu. Kehidupan Zara dan anaknya berjalan normal mengikuti layaknya manusia biasa. Namun meski begitu, naluri Khazayn yang menginginkan darah dan berkelahi tidak bisa dihilangkan. Hal itu sudah menurun dari ayahnya Zach. Meski umur Khazayn masih kecil, namun dia sering sekali memperlihatkan naluri haus darahnya dengan menggigit temannya. Hingga berdarah dan menjilatnya dengan rakus. Hal itu kerap kali membuatnya Zara dalam masalah, hingga dengan sangat terpaksa Zara mengurung Khazayn dirumah saja. Itu lebih baik, dari pada dia menyerang dan menghisap darah teman-teman nya. Orang-orang akan mencurigai nya, dan akan memburu mereka nanti. Malam yang larut serta dinginnya udara. Membuat suasana malam itu sedikit berbeda dari sebelumnya. Zara merasa adanya aura mencekam yang mendekati kediaman mereka. Bahkan Century pun bisa merasakannya. Dalam waktu beberapa detik kemudian Century dikejutkan dengan adanya gelombang energi yang tidak asing baginya. Gelombang energi ini cukup samar namun masih terasa. "Sepertinya ada yang datang !!" ucap Century waspada. Zara segera menuju Khazayn yang tertidur pulas, mencoba melindungi anaknya, jika ada mahkluk kegelapan yang datang mendekati mereka. Namun dugaannya salah, bukan mahkluk jahat yang datang. Melainkan wanita berambut merah bergelombang. Siapa lagi kalau bukan Rebecca ... Becca ... Ucap mereka bersamaan. "Bagaimana keadaan kalian disini? Apa masih aman?" tanya Rebecca sembari menatap keponakannya yang tertidur pulas. "Sejauh ini masih baik-baik saja. Khazayn tumbuh layaknya manusia biasa pada umumnya. Hanya saja ... " Hanya saja apa?" "Hanya saja naluri haus darah Khazayn tidak bisa dihilangkan. Aku takut keberadaan kami akan terungkap. Dan manusia-manusia akan memburu kami, pastinya hal itu akan memancing kedatangan anak buah Erios." ucap Zara melanjutkan ucapan Century yang terhenti. Rebecca mengerti kecemasan Zara. "Tenanglah Zara. Semuanya akan baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu, Khazayn akan terbiasa menjadi manusi normal. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus kita atasi saat ini !!" "Apa?" "Zach !! dan Miki." "Zach? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Rebecca menggeleng. "Zach dan Miki sangat membutuhkanmu saat ini. Kita harus kembali kedimensi kita Zara." "Tapi ... Bagaimana dengan Khazayn? Kita tidak mungkin membawanya kesana !!" ucap Zara khawatir, raut wajahnya nampak kalut dan resah. "Century akan menjaganya." ucap Rebecca melirik kearah Century. Century yang mengerti hal itu mengangguk setuju pada mereka. "Benar Zara !! pergilah. Percayakan Khazayn padaku, aku akan menjaganya dengan baik. Disana Zach lebih membutuhkanmu, keselamatannya ada padamu sekarang. Pergi dan temui dia." Zara mengangguk. Meski sangat berat hatinya meninggalkan Khazayn yang masih sangat kecil. Namun dia tidak punya pilihan. Dia harus pergi menyelamatkan suaminya dan Miki. Zara berjalan mendekati Khazayn untuk melakukan salam perpisahan. Zara mencium kening Khazayn dengan begitu lama seakan menyimpan ingatan tentang anaknya, jika nanti dia merindukan Khazayn, dia akan memutar kembali ingatan itu didalam memorinya. "Selamat tinggal Pangeran kecilku. Maafkan ibu yang meninggalkanmu. Ini hanya Sementara, nanti kita pasti akan bertemu lagi. Jaga dirimu sayang, jadilah anak baik dan dengarkan ucapan pamanmu Century." ucap Zara pada Khazayn yang masih lelap dalam tidurnya. "Century, aku percayakan Khazayn padamu." "Tentu Zara," Merekapun berbalik dan pergi menuju dimensi mereka. Meninggalkan Khazayn bersama Century ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN