Lily mondar-mandir di aula kerajaan. Sudah beberapa hari sejak kepergian nya Alger tak kunjung kembali. Entah mengapa membuat Lily begitu cemas. Ditambah lagi bahwa berita tentang Erios yang telah mengambil alih kerajaan Flourenc. Lily semakin khawatir. Namun dia tidak bisa melakukan apapun. Ratu Anna sudah memberi peringatan keras agar dia tidak melakukan tindakan ceroboh untuk menyusul Alger.
Dan disinilah Lily sekarang. Hanya menunggu dan terus menunggu kabar tentang Alger.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana keadaannya? Jika aku kabur. Apa Ratu Anna akan marah?" Lily membatin dan berbicara pada dirinya sendiri. Merasa kesal karena tidak bisa melakukan apapun.
Lily mendesah letih. Lalu dia beranjak untuk bertekad menyusul Alger, bagaimana pun caranya. Dia harus mencari keberadaan Alger, meski bahaya mengancam diluar sana. Namun baru beberapa langkah Lily menangkap sosok pria yang selama ini ia rindukan dan yang selalu dia pikirkan.
"Alger ...!!"
Lily menatap panik kearah Alger yang nampak carut marut. Kondisinya begitu memprihatinkan. Tubuhnya yang terkoyak dimana-mana. Namun yang menjadi pusat perhatiannya bukan hanya itu saja. Tapi pada seseorang yang dia bawa dalam keadaan yang lebih parah. Bahkan orang itu tidak sadarkan diri. Sementara yang satunya lagi tidak kalah kacau. Namun masih dalam keadaan stengah sadar. Miki...
Yang Mulia Raja.
Lily mendekat kearah mereka dan menatap prihatin keduanya. "Alger ... Apa yang terjadi?"
Alger tidak menjawab, dia melewati Lily begitu saja dan membaringkan Zach. Kondisi Zach sangat memprihatinkan. Luka yang ada ditubuhnya begitu banyak dan nampak menganga lebar. Bajunya sudah basah karena dipenuhi darah.
Para pengawal memanggil beberapa tabib istana untuk mengobati luka Mereka. Lily yang dilanda kepanikan langsung sadar dan mengambil beberapa bahan untuk mengobati luka Alger.
Lily menarik tangan Alger agar mengikutinya. "Ayo ikut aku ..."
Alger tidak menolak. Meski perasaannya sedang cemas dan kalut karena kegagalan dalam melawan Erios dan pasukannya. Dan yang lebih ia sesali, dia tidak tahu keberadaan Zara sekarang.
"Aku akan mengobati lukamu!!" Alger diam saja Sementara Lily mengobati lukannya. Tatapannya kosong. Pikitannya melayang entah kemana, bahkan dia tidak mendengarkan setiap yang Lily ucapkan.
"Alger? Kau tidak mendengarkan aku?"
Alger langsung menatapnya dalam. Matanya seakan menyalurkan luka yang mendalam. Lily memegang lembut wajahnya. Dan membalas tatapan itu.
"Aku tidak tahu bagaimana caraku mengungkapkan nya. Tapi ... Intinya, aku sangat senang kau telah kembali dalam keadaan selamat." Lily membiarkan kata demi kata tumpah dari mulutnya.
Dan dengan kata sederhana itu Alger tersenyum lembut dan menyentuh pipinya. Alger memajukan wajahnya membuat mereka tidak berjarak dan menyentuh bibir Lily serta menyesapnya dengan penuh kelembutan. Alger menumpahkan semua perasaannya disana. Hanya bibir yang saling menempel, namun mereka meresapi dan menikmati nya. Lily bahkan memejamkan matanya menerima tanpa adanya penolakan.
Alger menarik tubuhnya, memberi jarak diantara mereka berdua lalu langsung memeluk Lily dengan erat. Lily merasa pelukan Alger membuat segala kecemasan dan kegundahannya hilang. Karena begitu nyaman baginya. Lily tersenyum dan membalas pelukan itu.
"Dimana kau sebenarnya Zara !!"
Gumaman Alger yang menyebut nama Zara, membuat senyuman Lily hilang seketika. Digantikan dengan sesuatu yang begitu menyesakkan dadanya. Bahkan tenggorokannya merasa tercekat, seakan ada batu kerikil yang menyumbat disana. Tubuh Lily menegang. Usapan tangannya pun terhenti. Digantikan dengan getaran semu. Untuk sesaat, dia merasa lupa caranya untuk bernafas. Sampai akhirnya dia membuang rasa sesak itu keudara.
Kalimat yang tidak Lily kira. Membuatnya termenung, seakan menyadarkan dimana posisinya berada.
Karena itulah dia melepaskan pelukan Alger. Perlahan dia memberi jarak antara mereka. Namun wajahnya masih menatap Alger dengan menipiskan bibirnya. Lalu Lily membuang wajahnya, agar Alger tidak melihat kesakitan yang ia rasakan disana.
Lily menarik nafasnya untuk menetralkan perasaannya. "Apa yang terjadi?"
Lily memberanikan dirinya untuk bertanya tentang Zara. Meski membuatnya sedikit sesak, Tapi bagaimana pun juga dia ikut prihatin tentang kerajaan mereka yang hancur.
"Zara menghilang. Aku tidak tahu dia dimana? Apa dia masih hidup, atau tidak. Aku merasa tidak berguna dan telah gagal melindunginya." ucapnya pahit. Alger menunduk lesu, seakan dialah yang menyebabkan kehancuran kerajaan Flourenc.
Lily kembali menyentuh pundaknya. "Jangan salahkan dirimu. Kau sudah berusaha keras membantu mereka. Aku yakin Zara baik-baik saja. Kita akan segera menemukannya nanti." ucap Lily memaksakan senyuman nya.
"Bagaimana dengan Rebecca?"
Alger kembali terpuruk. Dia menggeleng lemah dan wajahnya penuh dengan penyesalan. "Dia sudah tiada. Aku melihatnya tergeletak, gelombang energinya lenyap. Tidak ada kemungkinan lain selain dia telah meninggal. Aku juga terlambat menolongnya."
"Aku turut berduka."
Lily memperhatikan wajah Alger yang begitu murung. Nampak begitu kecewa pada dirinya sendiri. Sebegitu kosongnya dia. Apa mungkin karena hilangnya Zara? pikirnya.
Lily tersenyum pedih pada dirinya sendiri. "Ayolah Lily, kau harus sadar dimana posisi mu," batinnya sembari memejamkan matanya untuk menggalau semua perasaan pahitnya. Mencoba mengingat kembali dimana posisinya. Bahwa dia bukanlah apa-apa. Tidak ada yang memiliki perasaan seperti itu padanya.
Lily beranjak ingin meninggalkan Alger, karena dia rasa dia tidak bisa terus disana. Lily takut, dia tidak bisa mengontrol emosinya. Semua orang sedang berduka saat ini dan dia
mencoba memaklumi hal itu. Namun baru satu langkah Alger menahan tangannya.
"Kau mau kemana?"
Lily menoleh dan tergagap, bingung untuk mencari alasan apa. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia ingin menyendiri dulu untuk menghilangkan perasaan nya. Alger mungkin akan bingung karenanya, Pikirnya.
"Em, aku ingin melihat Yang Mulia Raja Zach. Siapa tahu ada yang bisa kau bantu."
Alger menyipitkan matanya menatap wajah Lily yang terlihat gugup. Tanpa menunggu persetujuannya. Lily langsung menepis tangan Alger dan pergi dari sana.
Lily berjalan dengan langkah cepat, agar Alger tidak mengejarnya. Untungnya dia segera sampai ditempat pengobatan itu. Ratu Anna sendiri sudah ada disana dengan tatapan sedih kearah menantunya.
Lily mendekat dan menggosok lembut bahunya. Seolah memberi ketenangan.
"Yang Mulia Ratu, bagaimana keadaannya."
Ratu Anna menggeleng lemah. "Dia tidak baik-baik saja Lily. Lukanya teramat parah, bukan hanya luka luarnya saja. Tapi juga luka dalamnya cukup serius. Sangat kecil kemungkinan baginya, untuk bisa bertahan hidup." ucapnya pahit.
"Dan Zara ... Dia menghilang entah kemana !! Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya." Ratu Anna terisak pilu dan memeluk Lily dengan erat. Lily bisa merasakan tubuh sang Ratu bergetar karena isakkannya.
"Tenanglah Yang Mulia Ratu. Zara itu sangat kuat. Aku yakin dia baik-baik saja saat ini. Kita akan segera menemukannya." Lily berucap dengan sangat lembut dan sesekali mengusap punggung sang Ratu. Mencoba memberi ketenangan meski rasanya percuma saja. Seorang ibu pasti akan cemas pada anaknya. Bahkan dia juga pernah merasakannya.
"Aku harap seperti itu," ucap sang Ratu dengan miris. Tatapannya sendu dan terlihat jelas raut kesedihannya. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Memikirkan semua masalah yang datang tiada henti membuatnya hatinya cukup terguncang hebat. Masalah datang seakan Tiada henti.
Lily mengalihkan tatapannya pada Miki. Luka ditubuhnya memang tidak sebanyak yang dimiliki Zach. Namun luka dalam yang membiru itu, dia sangat yakin itulah yang membuat Miki tak sadarkan diri.
Lily menipiskan bibirnya. Kekejaman Erios membuat resah seluruh kaum kerajaan baik FLOURENC maupun Kenshington atau yang lainnya. Kemenangan Erios membuat teror pada semua pemimpin kerajaan. Mereka semua juga akan merasakan apa yang dirasakan kerajaan Flourenc. Hanya tinggal menunggu kapan giliran mereka akan tiba.
Mengingat hal itu, cukup membuatnya merasa khawatir dan cemas. Bagaimana cara mereka menghadapi para iblis yang mencoba menyerang dan menguasai kegelapan. Kekejaman mereka sulit dikendalikan. Tanpa pikir panjang mereka membantai habis mahkuk sesama mereka. Tidak peduli bahwa mereka sedang menciptakan kiamat sendiri bagi mereka.