MENYAMBUT LAHIRNYA PENGUASA

1964 Kata
Mari kita mulai .... Alger maju duluan dengan menerjang monster hijau keluar. Sementara Zach menarik pedang dari punggungnya dan langsung menebas leher mahkluk penghisap darah yang haus darah. Mahkluk kegelapan itu tidak mudah untuk ditahklukan. Serangannya sebenarnya biasa-biasa saja, namun kecepatan merekalah yang membuatnya sedemikian mematikan. Prediksi dari Zach tidak bisa digunakan untuk menyerang balik. Karena dia sudah kerepotan duluan menghindari banyaknya mahkluk yang berdatangan. Menyerang mereka secara langsung membuatnya begitu kesulitan. Namun hanya menghindar seperti itu, tidak juga bisa merubah apapun. Sebelum Zach sempat memikirkan cara terbaik untuk melawan mereka. Salah satu mahkluk itu telah menerjang Zach duluan, hingga menancapkan kukunya dipunggung Zach. Butuh waktu sepersekian detik baginya untuk menarik kembali kuku tajam miliknya itu. Namun Zach segera mengambil kesempatan itu untuk mencengkram tangannya, kuku nya yang tajam berlumuran darah Zach. Dengan mengerahkan sisa-sisa kekuatannya Zach memuntir tangan mahkluk itu dengan keras, lalu mematahkannya. Suara teriakan mahkluk itu menggema merasakan sakitnya. Lalu dengan secepat kilat, Zach mematahkan leher mahkluk kegelapan itu. Belum habis disitu. Masih banyak lagi yang harus di hadapi. Sementara tubuh Zach sudah carut marut. Namun dia tetap berdiri dan melawan mahkluk lainnya. Sementara Miki sudah sangat kelelahan karena telah banyak mengeluarkan mahkluk seperti ulat gemuk untuk menyemburkan racun pada musuh. Namun dengan mudahnya musuh menghabisi mahkluk itu dengan sekali tebasan. Kegaduhan dikerajaan itu semakin sengit. Meski mahkluk kegelapan telah banyak mati. Namun masih ada saja mahkluk lainnya yang menguras tenaga mereka. "Zach ... Cepat tutup portalnya." pekik Alger sembari menghadapi musuhnya. Zach mengangguk cepat dan langsung maju, dan mengeluarkan sihir penutup portal. Namun sihir itu tidak dapat digunakan. Berkali-kali Zach mencobanya namun masih saja tidak bisa. Dia menatap bingung. "Apa yang terjadi? Kenapa sihirnya tidak berfungsi?" Seiring dengan itu, kabut hitam tebal dan pekat seolah menjadi pertanda akan adanya cuaca buruk dikerajaan mereka. Suara gemuruh dan petir menggelegar. Kabut itu bergumpal menyelimuti kerajaan itu. Mereka semua bergidik ngeri merasakan aura yang mencekam dan mengerikan. "SEMUANYA ... MUNDUR !!" Zach memperingati. Dengan tatapan waspada. Lalu dia merasakan gelombanh energi yang sangat pekat dan begitu tajam, siapa lagi pemiliknya jika bukan Erios. "Ini buruk ... Erios datang disaat yang tidak tepat !! Gawatt," batin Century. Zach sendiri mundur beberapa langkah sembari memperhatikan kabut hitam itu yang semakin menebal. Sementara Alger sendiri masih mengambil kesempatan untuk membunuh mahkluk yang masih tersisa disana. "Tidak akan aku biarkan Erios mendapatkan keturunanku." lirih Zach begitu tajam. *~* "Century? Apa yang terjadi?" tanya Rebecca khawatir. "Becca, nampaknya Erios akan segera tiba di kerajaan kita. Kabut hitam telah menyelimuti kerajaan ini." ujar Century dengan nafas yang masih tersengal. Rebecca nampak syok dengan berita itu. Begitu juga dengan Zara. Rasa khawatir yang melandanya, membuat perutnya merasakan nyeri dan mengencang. Awalnya hanya sakit biasa, namun lama lelamaan sakit itu mulai teratur dan semakin menjadi. Zara memegangi perutnya sembari meringis kesakitan. "Zara? Ada apa?" Rebecca menahan tubuh Zara yang hampir jatuh. "Becca, perutku sakit sekali. Rasanya nyeri. Apa aku akan segera melahirkan?" lirihnya. "Gawatt ... Kenapa semuanya terjadis secara bersamaan !! Tidak bisakah aku menarik nafas dulu sejenak." Rebecca memijit keningnya merasa frustasi. "Apa yang harus kita lakukan Sekarang !!" "Becca, sepertinya karena inilah Erios datang. Dia mengetahui anak ini akan segera lahir. Mungkin dia akan segera mengambilnya." ujar Century. Zara menggeleng keras disela kesakitannya. "Tidak. Tidak akan kubiarkan dia Mengambil anakku." seru Zara panik. "Apa yang harus kita lakukan !!" Sebelum Century menjawab pertanyaan Rebecca. Zara telah mengeluarkan darah yang dicampur air. Seolah anaknya itu ingin ikut andil dalam peperangan. "Zara ... " Century langsung berlari memanggil tabib istana untuk membantu persalinan Zara. Sedangkan Rebecca mencoba untuk menenangkan nya. Zara mengerang, merasakan sakit yang teramat sangat. Seolah bayi yang ada didalam perutnya meronta-ronta ingin segera keluar. Tabib istana segera datang dan langsung membantu proses persalinan nya di tempat persembunyian mereka itu. Suara teriakan Zara dan dentingan pedang diluar saling bersautan. Keringat deras mengalir disekujur tubuh Zara. Semua uratnya terasa putus dan tubuhnya merasakan seperti terkoyak tak beraturan. Rasa sakit yang luar biasa, hingga dia nyaris tak sanggup lagi menahannya. Zara mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan keturunan Flourenc yang akan menghancurkan mahkluk serakah yang akan menguasai dimensi mereka. Zara terus berjuang dengan sekuat tenaganya sampai akhirnya bayi itu lahir dengan selamat. Kini ruangan itu menggema dengan suara tangisan bayi yang kencang. Seorang pangeran yang sangat tampan dan memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Takdir kematian Erios telah muncul dalam bentuk seorang pria yang nampak sempurna. Garis keturunan Flourenc dan penyelamatan dimensi mereka telah lahir. Zara tersenyum lembut melihat putranya telah lahir dengan selamat dan begitu sehat. Wajahnya merupakan duplikat dari ayahnya. Matanya yang kelabu, rambutnya yang hitam serta garis wajahnya. Sosok Zach benar-benar hadir dalam bentuk bayi mungil yang tampan. "Dia sangat tampan." ujar Rebecca, menatap keponakan nya itu dengan haru. Namun Century justru memampilkan raut prihatin. "Ada apa Century? Apa yang kau pikirkan?" "Tidak ada." Century menggeleng cepat dan langsung memalingkan wajahnya. Rebecca memperhatikan hal itu dan sadar bahwa Century sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka. Tapi apa? Pikirnya. "Siapa nama pangeran tampan ini?" "Khazayn. Namanya Khazayn De Flourenc. Nama itu pemberian dari Zach." ujar Zara mantap. Rebecca mengambil alih keponakannya dari gendongan Zara. Dan membawanya kedalam gendongannya. "Khazayn De Flourenc. Sang penguasa telah lahir. Seorang yang yang akan menghancurkan keserakahan dan pengaruh kejahatan sihir Erios. Penguasa hebat yang akan menyelamatkan dimensi kita dari para mahkluk haus darah dan penguasa kegelapan. Namanya Khazayn De Flourenc. Keturunan pemilik darah abadi sekaligus kekuatan hebat dari ayahnya dan kakek buyutnya. Penguasa dimensi yang tak terkalahkan. Siapapun yang melawannya akan mati terbunuh. Dialah Khazayn De Flourenc." seru Rebecca mengangkat tubuh mungil itu keatas sembari mengumumkannya kepada semua mahkluk yang ada disana. Mereka semua bersorak gembira atas kelahiran putra mahkota kerajaan Flourenc dan calon Penguasa dimensi itu. Bayi mungil itu nampak menggeliat seolah merespon tanggapan mereka semua yang ada disana. Seolah sedang menyapa semua anggota keluarganya. Semua orang nampak gembira. Terkecuali Century. Dia nampak prihatin dan was-was. Entah apa yang dipikirkannya, Rebecca tidak henti memperhatikannya sejak tadi. **** "Century, apa yang kau sembunyikan sebenarnya? Apa ada masalah penting." Rebecca tidak tahan lagi bertanya padanya. Belum sempat Century menjawab. Salah satu dewan kerajaan berlari menuju kearah mereka dengan nafas yang tersengal. "Yang Mulia Ratu ... " "Ada apa?" tanyanya panik. "Raja memerintahkan untukmu agar segera pergi. Keadaan kerajaan sangat buruk. Erios, Dia .... Dewan itu menghentikan ucapannya untuk memberi jeda agar bisa menarik nafasnya. "Katakan dengan benar, ada apa?" Rebecca berteriak kesal. "Yang Mulia Raja memerintahkan agar Ratu disembunyikan ditempat yang aman. Erios telah datang dan menyerbu kerajaan hingga Raja terluka akibat serangannya yang brutal. Dan saat ini ... Erios sedang mencari keberadaan Ratu dan anaknya. Erios bisa merasakan kehadiran anak itu." ucapnya dengan sekali tarikan nafas. Ucapan Dewan itu berhenti seiring dengan munculnya gelombang energi yang sangat mengerikan. Mereka semua menyadarinya dan langsung siaga. "Gawat !! Kita tidak punya banyak waktu, dimana kita harus menyembunyikan Khazayn dan Zara. Sementara diluar dan seluruh Tempat dikerajaan ini sudah dikepung." ucap Rebecca panik. Rebecca mondar-mandir Karena panik dicampur kebingungan. "Hanya ada satu jalan." Century berucap dengan menatap lurus kedepan. Lalu matanya beralih menatap Rebecca. Mereka menatap serius Century yang berucap barusan. "Apa? Dimana?" tanya Rebecca tidak sabar dan menuntut. "Khazayn harus disembunyikan disuatu dimensi yang tidak akan bisa ditemukan oleh Erios. Dan dia akan aman disana. Di dimensi manusia .... Mereka menoleh menatap nanar pada Century. "Apa disana Khazayn akan terlepas dari bahaya?" tanya Zara mulai membuka suaranya yang masih lemah. "Aku yakin dia aman disana. Setidaknya tidak akan ada mahkluk kegelapan yang mau berada ditempat yang ramai dan panas matahari yang begitu terik dari pada dimensi ini. Kita akan melindungi Khazayn dan membuat identitasnya sebagai manusia biasa disana, dia akan bersikap layaknya manusia normal. Hanya saja ... kita tidak bisa mencegahnya untuk meminum darah manusia. Tapi kita akan mengurus itu nanti. Untuk saat ini, akan lebih baik mengungsikannya terlebih dahulu. " jelas Century dengan tegas. "Century benar Zara. Kau harus pergi kesana Sekarang juga, selamatkan Khazayn sebelum Erios datang untuk mengambilnya." Zara menatap serius kearah Zara. "Tapi ... Bagaimana dengan Zach. Aku tidak mungkin meninggalkannya !" ucapnya pahit. "Zach akan menemukan kalian, dia akan baik-baik saja. Untuk saat ini, pergilah kesana. Century akan menjaga kalian disana." Zara tidak punya pilihan lain. Apa yang dikatakan Rebecca dan Century benar. Dia harus pergi untuk menyelamatkan putranya dari jangkauan Erios. Zara mengangguk lemah. "Baiklah," Rebecca segera mencari celah untuk membuka portal kedimensi manusia. Kali ini cukup sulit untuk menemukan celah menuju dimensi itu. Karena mereka tidak pernah sama sekali pergi kesana. Hingga celah itu sangat samar, mereka nyaris Tidak menemukannya. Sampai akhirnya Rebecca berhasil membuka portal itu. Cahayanya sangat berbeda dari biasanya. Cahaya portal itu berwarna biru seperti air laut. Serta dilapisi benang perak dipinggirnya. Mereka semua menatap takjub melihat pusaran yang berbentuk bulat sedikit panjang itu. "Cepatlah Ratu , kita tidak punya banyak waktu." Century menatap panik saat ada kabut hitam menyelimuti ruangan itu. Zara mengangguk dan memeluk singkat pada Rebecca. "Katakan pada Zach. Bahwa dia harus segera menyusul kami." ucap Zara singkat dan berbalik untuk masuk kedalam pusaran itu. Rebecca tersenyum sedikit dan mengangguk menanggapinya. Pusaran itu mulai tertutup dan perlahan menghilang menyatu dengan angin yang berhembus. Seiring dengan hadirnya sosok menakutkan dihadapan Rebecca saat ini. "Erios ..." "Dimana anak sialan itu?" Erios berucap dengan nada dingin dan aura yang mengerikan. Rebecca mentapnya penuh kebencian sembari mengepalkan tangannya. "Kau tidak akan pernah mendapatkan mereka. Kau mahkluk menjijikan. Kau hanyalah sampah tak terbeguna." maki Rebecca meluapkan segala amarahnya. Memancing emosi Erios yang meluap-luap dan dipenuhi ketakutan karena kehilangan calon malaikat mautnya "Kau harus mati !!" ucap Erios mengeluarkan sihir hanya menggunakan pandangan tajamnya. Tubuh Rebecca terpental kebelakang. Kepalanya membentur tembok dengan begitu keras. Rebecca mencoba bangkit untuk meraih pedangnya. Namun Erios menggerakkan tangannya untuk membuat tubuh Rebecca bangkit dan melayang keatas dengan posisi mendongak seakan tercekik. Rebecca memegangi Lehernya yang terasa terlilit, membuatnya kesulitan bernafas. Namun Rebecca masih terus memberontak dari sihir itu dengan mencoba mengeluarkan sihirnya. Sayangnya Rebecca sudah tak memiliki cukup tenaga untuk itu hingga kesadarannya hilang matanya terpejam seiring dengan terhempasnya tubuh Rebecca kelantai. Rebecca tergeletak tak berdaya. Erios merasakan gelombang energi Rebecca yang sudah lenyap. Hanya satu kemungkinan. Rebecca sudah tiada. Meski begitu. Kemurkaan Erios masih belum lenyap karena anak dari Zach telah menghilang entah kemana. Tekanan gelombang energinya yang tadi sempat ia rasakan kini telah lenyap bagai ditelan bumi. Erios mengerang murka dengan menghancurkan semua benda yang ada disana. Suara gemuruh semakin besar serta aura menyeramkan kembali menyertai kerajaan itu. Para kaum Flourenc berada dibawah kekuasaan Erios yang kejam. Seketika awan yang ada dikerajaan itu berubah menjadi hitam kelam dan mencekam. Hanya ada sedikit sekali cahaya yang dihasilkan. Untuk menerangi penglihatan mereka. Sementara jiwa mereka telah dibawa keluar dari raganya. Mereka hanya menatap kosong dan hampa namun masih bisa bekerja sesuai perintah Erios. Semua tumbuhanpun ikut mati dan berubah menjadi hitam. Dalam sekejap kerajaan itu berubah menjadi tempatnya para iblis dan mahkluk kegelapan yang mengerikan. Mereka berpesta pora merayakan kemenangan mereka. Erios mengambil alih singgah sana kerajaan. Meski begitu, perasaan Erios masih tidak bisa tenang selama keturunan Flourenc masih hidup. Hidupnya terasa terancam dan diambang kematian dihantui oleh rasa takut akan kematian dan kehancuran. "Kalian harus mencari keberadaan keturunan Flourenc beserta wanita pemilik darah abadi itu. Seret mereka dan bawa kehadapanku. Cari sampai ketemu, jika tidak ketemu ... Maka aku akan memenggal kepala kalian semua." ucap Erios dengan nada pengancaman yang kental. Para anak buah Erios bergidik ngeri mendengarnya, mereka tidak bisa menyembunyikan ketakutan yang luar biasa menghadapi pemimpin Mereka yang begitu kejam, meski sudah lama mereka mengabdi. "Ba-ik Tuanku," ucap para anak buah Erios menunduk ketakutan. "Sekarang pergilah !! Cari malaikat mautku sampai dapat." perintahnya yang membuat semua anak buah Erios kocar kacir Karena takut terkena amukannya. Erios kembali duduk disinggah sananya dengan raut wajah iblis yang menyeramkan. Rahangnya terkatup rapat dengan gigi menggeretak karena amarah yang tertahan. ("Kemana mereka menyembunyikan anak itu. Bodoh !!" )
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN