"Zach Flourenc memiliki kekuatan yang luar biasa dalam bertarung, kecepatan, akurasinya bahkan instingnya tidak perlu diragukan lagi. Ditambah lagi sihirnya yang kuat, Zach adalah mahkluk penghisap darah yang mematikan," ucap Century itu menghentikan ucapannya, dan beralih menatap Zara.
"Zara Kenshington, Pemilik darah abadi. Dan juga memiliki kekuatan elemen dari ayahnya. Jika Zara dan Zach disatukan maka anak dari mereka akan menjadi mahkluk yang memiliki ancaman besar bagi Erios. Anak dari Zach dan juga Zara akan menjadi penguasa dimensi ini. Penguasa yang tak terkalahkan. Bahkan ilusi Erios tidak akan berlaku padanya. Anak dari Zach dan Zara bukan hanya akan menuruni darah abadi, tapi juga kekuatan hebat dari ayah serta kakek buyutnya," ucap Century itu lagi dengan tatapan seolah menerawang kearah masa depan.
"Jadi maksudmu, hanya anak dari Zach dan Zara lah yang bisa membunuh Erios, begitu?" tanya Rebecca mencoba menarik kesimpulan. Wanita itu merasa penuturan Century tidaklah salah. Jika mereka berdua dipadukan, sudah pasti keturunan mereka akan mewarisi kekuatan hebat. Mereka akan membuat penerus dengan kekuatan yang sempurna.
"Tepat sekali." jawabnya dengan anggukan mantap.
"Kenapa kau mengatakan hal ini? Kenapa kau mau membantu kami?" tanya Zach menatapnya datar. Tentu saja sikap Zach yang tidak mudah percaya pada mahkluk mana pun menaruh curiga terhadapnya. Apalagi dia adalah mahkluk yang baru mereka temui.
"Karena aku lelah harus menjadi b***k Erios. Aku lelah terus dikendalikan olehnya, aku ingin bebas dan bertemu keluargaku terutama anakku. Dan yang terpenting dimensi kita harus aman, kaum kita tidak boleh berada dalam kecemasan terus menerus," ucap Century itu tegas.
"Kalau begitu bekerja samalah Dengan kami. Kami akan membantumu untuk bebas, dan kau membantu kami mencapai tujuan kami," ucap Rebecca dengan penawarannya. Century itu mengangguk menyetujui ucapan Rebecca. Mereka akan saling membutuhkan dan menguntungkan. Tidak ada salahnya mencoba. Toh, musuh mereka pun juga sama.
***
Zara berdiri di depan jendela kamarnya. Menikmati hembusan angin malam dan menatap kearah sinar rembulan yang begitu indah. Perasaannya sedang berkecamuk saat ini. Entah dia harus senang atau apa, yang pasti cepat atau lambat dia akan menikah dengan Zach yang telah di takdirkan untuknya.
Lamunannya seketika buyar, saat menyadari sesuatu yang hangat yang memeluknya dari belakang. Zara melihat tangan kekar yang melingkar dipinggangnya dengan erat. Siapa lagi kalau bukan Zach, yang berani melakukan ini padanya. Zara tidak menolaknya, karena pelukan itu juga membuatnya sedikit tenang dan merasa hangat.
"Tidak perlu memikirkan tentang pernikahan kita Zara, jika kau belum siap aku tidak akan memaksa," ucap Zach dengan suara beratnya. Membuat Zara menoleh kearahnya, menatap wajahnya yang membuat jarak mereka begitu dekat, bahkan Zach bisa merasakan hembusan nafas Zara yang begitu lembut.
"Aku bukannya tidak siap Zach. Hanya saja aku masih ingin menunggu ibuku sadar, baru aku akan setuju menikah denganmu. Bagaimana pun juga kita harus meminta restu darinya," ucap Zara lembut.
Zach menanggapinya dengan sebuah senyuman yang mengembang. "Kau benar, aku akan meminta restu darinya dulu sebelum menikahimu," ucap Zach membuat dirinya lebih dekat dengan Zara, dan memangut bibirnya dengan lembut. Zara memejamkan matanya merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya, saling menyesap dengan kelembutan, membangkitkan gelora hangat didalam tubuh mereka. Sentuhan lembut yang berubah menjadi hangat dan liar, membuat Zara terengah-engah saat Zach melepaskan pangutannya. Membiarkan Zara menghirup oksigen dengan rakus.
"Cukup Zach," ucap Zara menahan Zach yang mulai terbakar oleh nafsunya. Zara bisa melihat mata Zach yang berkabut oleh nafsu serta deru nafasnya yang memburu seolah ingin segera melampiaskan hasratnya. Namun hal itu segera dicegah oleh Zara, agar Zach tidak bertindak lebih jauh.
"Kita tidak boleh melanggar peraturan Zach, jika kita melakukannya diluar pernikahan maka kita berdua akan terkena kutukan, jangan melupakan hal itu. Bersabarlah sebentar lagi," ucap Zara mencoba membuat Zach sadar.
Meski sulit, namun yang dikatakan Zara benar adanya. Jika mereka sampai melakukannya, mereka akan terkena kutukan, dan akan dilempar ke hutan ilusi untuk mengasingkan diri. Zach menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya kasar. Menghilangkan rasa panas yang membakar didalam dirinya.
"Kau benar Zara! Kalau begitu aku akan kembali kekamarku. Kau juga harus beristirahat," ucap Zach lembut dengan mengecup pelan kening Zara dan segera pergi dari sana.
Zara menatap punggung Zach yang mulai menghilang dari balik pintu dengan tersenyum lembut. Lalu menuju tempat tidurnya untuk beristirahat.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata tajam yang mengawasi mereka dari jarak yang cukup jauh, namun dia memiliki kemampuan penglihatan yang tajam sehingga melihat dengan jelas sesuatu yang membuat hatinya sakit. Pria itu adalah Alger.
Kelembutan dan kecantikan Zara dimasa lalu Alger membuat pria itu jatuh hati sampai rela merubah wujud yang tadinya buruk rupa menjadi pria yang begitu tampan dan rupawan. Berharap Zara akan menyukainya, namun hal itu ternyata sia-sia.
Alger sudah berdiri disana sebelum kedatangan Zach. Alger menikmati pemandangan yang begitu indah. Sosok Zara yang begitu cantik yang disinari cahaya rembulan membuat Alger tidak bisa mengalihkan pandangannya. Namun pemandangan indah itu hancur digantikan pemandangan yang mengiris hatinya. Saat wanita yang dipujanya bersentuhan dengan pria lain. Meski Alger tahu Zara akan menikah dengan Zach. Namun dia masih sulit untuk menerimanya.
Alger mengetatkan rahangnya dan mengepal kuat. Tatapan iri serta kemuakkan terpancar dimatanya, menatap Zach dengan penuh kebencian. "Mahkluk parasit itu tidaklah pantas bersamamu Zara. Akulah yang seharusnya memilikimu, bukan dia." gumam Alger dengan menggeram marah.
"Aku akan mencari cara lain untuk mencegah pernikahan mereka. pernikahan sialan itu tidak boleh terjadi. Bagaimana pun juga Zara hanya akan menjadi milikku," batin Alger.
Alger segera pergi dari sana untuk menemui Century yang telah dibebaskan oleh Rebecca. Alger berjalan dengan langkah lebar seolah tidak sabar mendengar tanggapan Century itu tentang usulannya untuk mencarj ide lain selain membuat Zach dan Zara menikah.
"Apa yang membuatmu datang untuk menemuiku Alger," ucap Century itu yang menyadari kedatangan Alger.
"Aku hanya ingin bertanya, apa tidak ada cara lain untuk membunuh Erios selain menikahkan Zara dan mahkluk penghisap darah itu," ucap Alger langsung ke intinya, tanpa membuang-buang waktu.
Century itu menyipitkan matanya menatap Alger yang terlihat kalut. "Kau menyukai wanita itu?" tanya Century menebak isi hati Alger dari raut wajahnya.
"Benar." ucap Alger tidak membantah Century itu. menjawabnya tanpa merasa ragu sedikitpun, namun hal itu membuat Century itu merutuki kebodohan Alger yang tidak bijak dalam mengatasi perasaannya.
"BODOH ....!!"