"Sial ... Sepertinya mereka telah lebih dulu berpindah antar dimensi !" Rutuk Alden saat merasakan udara yang lembab disana. Percikan api serta tidak adanya gelombang energi siapapun disana. Lalu pandangan nya beralih ke Chesa dengan pandangan mencemooh.
"Kenapa kau melihatku seperti itu!" Chesa mendelik kearahnya.
"Semua ini gara-gara kamu !!" Alden menunjuk Chesa, sembari memasang wajah kesalnya.
"Aku !!" ucap Chesa menunjuk dirinya sendiri. Dengan raut wajah bingungnya.
"Ya. Dasar wanita, mahkluk merepotkan ! Jika saja kau tidak pingsan, ini tidak akan terjadi. Mereka tidak akan meninggalkan aku seperti ini," Alden membentak dengan suara cukup tinggi kali ini. Meluapkan segala macam kekesalannya.
Dengan bentakan seperti itu. Chesa pun mulai geram dengan pria yang satu ini. "Kau menyalahkan orang seenaknya. Jika saja kau tidak membawaku ketempat sialan itu, mungkin aku tidak akan syok karena melihat hal mengerikan yang membuatku sampai pingsan. Lagi pula ... Kenapa tidak kau susul saja mereka. Dari pada merongrong seperti anj*ng. Menyalahkan orang lain atas tindakkanmu sendiri."
Sesaat, Alden semakin kesal dengan ucapan Chesa. Namun ada benarnya juga. Kenapa dia tidak menyusul saja sejak tadi, malah bertengkar dengan gadis ini.
Alden menatap tajam Chesa yang bersikap menantang dengan mengangkat wajahnya. Sikap permusuhan diwajahnya terlihat jelas. Dan entah mengapa, Alden tidak tertarik sama sekali untuk membunuh wanita ini. Padahal Chesa dulu berniat untuk menghabisinya. Setelah semua yang mereka lalui, kini tidak ada lagi keinginan Alden untuk membunuh Chesa.
"Baiklah, aku akan meninggalkan dimensi ini sekarang juga. Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi, sudah cukup kau merepotkanku dan membuat masalah dalam hidupku."
Tanpa menunggu lama. Alden langsung berkonsentrasi, membuka portal untuk berpindah dimensi. Tanpa sebuah salam perpisahan, Alden langsung pergi meninggalkan Chesa yang masih bergeming disana.
"Cih, memangnya dia pikir siapa juga yang ingin bertemu lagi dengannya. Sudah cukup kesialan menimpaku sejak bertemu dengan mahkluk seperti mereka." rutuk Chesa melihat cahaya itu perlahan menghilang, seiring dengan hilangnya pula Alden dibalik cahaya itu.
********
Setelah perpindahan antar dimensi. Barulah Khazayn menyadari bahwa dia telah dibawa secara paksa oleh wanita yang mengaku sebagai bibinya itu.
Sesuai dugaan Rebecca sebelumnya. Khazayn bukan hanya mengamuk dan merongrong. Semua properti yang ada disana dia hancurkan saat mengetahui apa yang dilakukan Rebecca pada Serafina.
Brakkkkkk
"Khazayn. Cukup, hentikan !!" Bentak Rebecca dengan suara tegasnya. Namun Khazayn tidak kunjung berhenti, bagaikan anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya. Hal itu membuat Rebecca memutar matanya. Sementara Century dan Alexis hanya menonton dengan sikap santai mereka, seolah itu adalah hal biasa.
Lalu Khazayn mencoba membuka portal untuk kembali kedimensi manusia. Namun sayangnya portal itu telah ditutup oleh Rebecca sehingga Khazayn tidak bisa masuk kesana sebelum misi mereka selesai.
"Aarggghhhhhh
Sial ... Apa yang kalian lakukan padaku !! Cepat buka portalnya, jika tidak maka akan aku hancurkan semua ini !!" Amuk Khazayn. Nafasnya terdengar keras, sesekali Khazayn meninju tembok yang ada disana, sehingga terdengar suara retakkan tembok tersebut akibat ulahnya.
"Khazayn."
Suara lembut yang terdengar dibelakanngya, membuat Khazayn menghentikan aksinya dan menoleh kesumber suara. Matanya mendapati sosok wanita cantik dengan mata yang mirip dengannya. Sejenak, Khazayn terpaku dengan wanita itu. Wajahnya terasa begitu familiar bagi Khazayn, tapi dia tidak bisa mengingatnya.
"Siapa kau?" Tanya Khazayn yang ingin menuntaskan rasa penasarannya sejak tadi.
"Aku ibumu."
Sontak Khazayn terkejut mendengarnya. Rasa tidak percaya kembali menyelimutinya.
Khazayn menggeleng sembari tertawa hambar. "Lelucon apa lagi ini? Ibu? Apa kau menikahi ayahku saat masih balita? Lihatlah wajahmu, yang bahkan lebih pantas menjadi kekasihku," ucap Khazayn dengan mendelik.
Rebecca mulai geram dengan sikap Khazayn yang tidak ada sopan santunnya sama sekali.
"Dengar Khazayn. Kita ini mahkluk kegelapan. Makhluk seperti kita tidak ada yang tua. Jika waktunya sudah tiba, maka satu persatu diantara kita akan mati. Kecuali bagi kalian si pemilik darah abadi. Kalian tidak akan mati !!" ucap Rebecca menjelaskan. "Dan sebab itulah ... Erios menginginkan darah kalian, untuk menguasai dimensi ini. Energi serta darah kalian akan diserap habis olehnya, lalu dengan mudahnya dia akan menjadi penguasa kegelapan yang bukan hanya akan mengancam dimensi kita. Tapi juga dimensi manusia. Serafina mu juga akan dalam bahaya besar, jika kita tidak menghentikan Erios."
Khazayn terdiam mendengar penjelasan Rebecca. Dan mulai mencerna setiap ucapannya. Lalu pandangannya beralih pada sosok Alger yang tengah berjalan dengan gagahnya kearah mereka. Diikuti oleh istrinya dan juga Ratu Anna dibelakang nya. Mereka semua berkumpul menyambut kedatangan Khazayn.
"Apa mereka adikku?" Terdengar sebuah ejekan dari nadanya bicara.
"Yang memakai mahkota itu, adalah Ratu Kenshington, Nenekmu. Sedangkan mereka berdua adalah paman dan bibimu," saut Rebecca.
Alger mendekat kearah Khazayn dengan wajah dinginnya. Lalu berhenti saat telah berdiri dihadapannya.
"Lihatlah kedalam mataku, Khazayn De Florence. Kau akan terkejut saat mengetahui semuanya," ucap Alger datar. Mau tidak mau Khazayn menatap kedalam mata Alger. Saat Khazayn mulai berkonsentrasi. Dia mulai terjerat seakan masuk kedalam penglihatan Alger.
Khazayn memasuki dimensi yang berbeda. Dia melihat semua kejadian yang pernah dilihat oleh Alger, bahkan sebelum kelahirannya. Disana Khazayn melihat sosok mahkluk mengerikan yang tengah membantai suatu kaum, yang Khazayn sendiri yakini bahwa itu kaumnya. Lalu matanya beralih pada sosok wanita yang tadi mengaku sebagai ibunya. Zara ... Terlihat sedang melawan mahkluk mengerikan itu. Lalu datang lagi sosok pria yang sangat mirip dengannya. Tidak, bukan hanya mirip. Tapi memang sebuah duplikat dari sosoknya sendiri. Tapi Khazayn tidak pernah merasa berurusan dengan mahkluk itu.
Hal itu membuat Khazayn bingung. Dia ingin menyentuh, tapi tidak bisa. Tubuhnya terasa seperti melayang-layang diudara. Tidak bisa bicara dan juga menyentuh apapun. Hanya bisa menonton dengan jelas disana. Rupanya yang masuk kedalam sana adalah roh nya.
Semua yang ada disana nampak jelas. Tidak ada yang terlewat sedikitpun. Sampai akhirnya dia melihat Zara melahirkan dan meninggalkan kan bayinya dimensi manusia. Sosok mungil itu telah berada ditangan Century. Lalu perlahan bayi kecil itu membesar seiring pertumbuhan usianya. Wajahnya, sikapnya. Khazayn sangat tahu dengan semua itu.
Sekarang Khazayn paham siapa bocah itu. Anak kecil yang sedang bersama Century itu adalah dirinya. Namun belum sempat dia melihat lebih lanjut, tubuhnya langsung tersentak. Senyar aneh dikepalanya perlahan menghilang. Pandangannya berkabut dan seakan berputar-putar.
Perlahan namun pasti, dia kini telah kembali kedunia nyatanya. Alger telah membuatnya keluar dari penglihatannya.
To be continued ....