SADAR

1019 Kata
Sera membuka matanya secara perlahan. Sejenak, Sera merasa bingung dengan keberadaan nya. Mungkin itu disebabkan oleh kepalanya yang masih terasa nyeri dan berdenyut. Begitu pula dengan tubuhnya yang masih terasa kaku. Dengan mengumpulkan segala kesadarannya sembari memegang kepalanya. Sera menyadari bahwa diruangan itu bukan hanya ada dia sendiri. Melainkan Khazayn yang menatapnya dengan pandangan khawatir. Sementara diujung didekat pintu, ada Alexis yang juga sedang menatapnya. Membuat Sera semakin berkerut bingung. Sebab wajah Alexis nampak asing baginya. "Apa yang terjadi?" Lirihnya mencoba mengingat sesuatu. Namun sayangnya dia tidak bisa mengingat apapun. Hanya rasa sakit di kepalanya yang kian berdenyut. "Apa masih sakit?" ucap Khazayn memegang kepala Sera dan memijitnya perlahan. Mencoba mengalihkan Sera dari pertanyaan nya. Dan meredakan sedikit rasa sakit itu. "Sedikit," sautnya pelan. Alexis berdehem, sengaja membuat Khazayn sadar, bahwa disana bukan hanya ada mereka berdua, tapi juga dirinya. Alexis merasa diabaikan. Begitu canggung dan memuakkan saat dia melihat Khazayn yang kejam dan mengerikan. Bisa bersikap begitu lembut hanya karena seorang manusia. Mendengar hal itu membuat Khazayn memutar matanya. Kehadiran Alexis sangat mengganggunya. Padahal dia ingin berdua dengan Sera. Membuat wanita itu merasa nyaman dan aman. "Keluarlah ... Kau tidak dibutuhkan disini," ucap Khazayn ketus. Tanpa tahu terimakasih. Alexis berdecak. "Aku akan keluar sebentar. Setelah itu kita harus bicara, Khazayn." Khazayn tak menyahuti. Seolah ucapan Alexis hanyalah angin lalu yang tak begitu penting. Alexis keluar dari sana, namun baru saja dia ingin memegang knop pintu. Alexis merasakan adanya gelombang energi lain disana. Dan bukan hanya dia yang merasakan, namun juga Khazayn. Alexis dan Khazayn pun saling menatap kaget. "Siapa yang datang?" Gumam Khazayn menatap awas. Sementara Alexis sudah bersiap-siap, jika ada mahkluk jahat yang ingin menyerang mereka. Tidak berapa lama dari itu. Munculah sosok wanita berambut merah bergelombang tepat dihadapan Alexis. Sosok wanita dewasa dengan segala ketegasannya. Alexis terlihat kaget melihat wanita itu yang rupanya orang yang sangat dia kenal. "Bibi Rebecca?" "Kenapa? Kau kaget melihatku? Ayahmu memerintahkan kalian kedimensi ini untuk membawa Khazayn. Kenapa kalian belum juga kembali? Apa yang kalian lakukan disini, hah !!" Rebecca berkacak pinggang saat mengatakan hal itu. Lalu tangannya bergerak menoyor kepala Alexis bagaikan anak kecil yang nakal. Bukannya mahkluk penghisap darah yang telah berhasil memenangkan setiap pertarungan bengis. "Bibi, kenapa kau marah padaku? Salahkan saja keponakanmu itu ! Karena tidak mau diajak kembali ke dimensi kita," ucap Alexis menunjuk Khazayn yang menatap penuh kebingungan disana. "Keponakan? Siapa yang keponakan siapa?" saut Khazayn cetus. Rebecca mengalihkan perhatiannya pada Khazayn sekarang. Perlahan dia mendekat kearah keponakannya itu, lalu berdiri dengan angkuh sembari bersidekap. "Kau !!" Rebecca menunjuk Khazayn dengan nada sinis. "Kenapa kau tidak mau kembali ketempat asalmu Khazayn?" "Cih, memangnya kenapa aku harus kembali kesana?" Saut Khazayn sinis. Khazayn tidak tahu dia sedang berhadapan dengan siapa saat ini. Dengan lancangnya dia menyulut api kemarahan Rebecca, hingga wanita itu memukul kepalanya. PLETAKKK "Auww ... Hey apa yang kau lakukan !!" Ringis Khazayn memegang kepalanya yang terasa sakit. "Beraninya kau berkata seperti itu pada bibimu !! Apa kau tidak tahu, kalau aku bisa mengutukmu !" "Apa? Bibi? Hahahah .... Jangan bercanda ! Kau lebih pantas menjadi kakakku. Lihatlah wajahmu yang masih sangat muda itu?" Khazayn berucap dengan seringai mengejeknya. "Khazayn, dia memang bibimu. Rebecca Florence," ucap Century yang tiba-tiba hadir ditengah-tengah mereka. "Apa maksudnya Century? Sejak kapan aku punya bibi? Dan kalaupun benar, kenapa dia baru datang sekarang? Kemana saja dia selama ini?" "Kau tidak mengerti Khazayn. Kerajaan ayahmu telah diserang mahkluk jahat dulu. Dan kelahiranmu adalah vonis mati bagi mahluk itu. Sebab itulah banyak mahkluk aneh yang memburumu, itu semua atas perintah Erios." Century mencoba menjelaskan pada Khazayn. "Erios? Siapa lagi itu?" "Erios adalah mahluk kegelapan yang jahat. Dia ingin menjadi penguasa seluruh dimensi dan akan dia jadikan sebagai blood-filled dimension. Kita semua akan dia jadikan b***k atas segala kejahatannya. Sebab itulah ... Kau dikirim kesini sampai kau dewasa. Karena hanya dirimulah yang bisa melawan Erios." Khazayn hanya terperangah mendengar nya. Semua ucapan Century masih belum dia mengerti sepenuhnya. Masih banyak pertanyaan didalam dirinya. Kenapa harus dia? Apa mereka pikir dia adalah dewa kematian? Lalu pandangannya beralih ke Sera yang menatap mereka dengan bingung. Lalu dia menggeleng keras. "Tidak. Aku tidak bisa pergi kesana. Terserah apa yang akan terjadi, aku tetap akan berada disini." Jika saja tidak ada Sera disana. Mungkin dia mau saja ikut mereka pergi. Namun saat ini ... Khazayn merasa tidak bisa meninggalkan Sera sendirian, bagaimana jika ada mahkluk aneh yang mengincar darahnya. Darah Sera sendiri tidak bisa dipungkiri lagi kelezatannya. Sebab itulah banyak mahkluk penghisap darah yang mengincarnya. Tidak ada yang bisa melindungi Serafina selain dirinya. Bahkan Albert sekalipun. "Tidak salah lagi. Kau memang keturunan Zach yang egois dan juga si kepala batu." ucap Rebecca pelan. Namun penuh dengan hinaan. Rebecca menatap Century dengan pandangan yang sulit untuk Khazayn artikan. Century yang mengerti hal itu langsung mengangguk pelan. Perasaan Khazayn mulai tidak nyaman. Dikarenakan aura yang telah berbeda dari sebelumnya. Lalu dalam waktu sekejap, Rebecca menjentikan jarinya. Tiba-tiba saja waktu terhenti. Sebuah kemampuan khusus yang Rebecca pelajari dari keturunan nya. Selama menunggu Khazayn dewasa, Rebecca telah banyak mengambil beberapa ilmu dan keahlian sebagai senjata melawan Erios. Dan keahlian inilah salah satunya. Dimana ketika dia mengerahkan tenaga dalam bersamaan dengan titik fokusnya. Dia menghentikan perputaran waktu. Bukan hanya waktu yang berhenti, namun juga semua mahkluk hidup yang ada disana. Kecuali dirinya sendiri. Disaat semua orang telah kaku seperti patung. Rebecca langsung membawa Serafina kembali ke asalnya dengan memerintahkan anak buahnya. Namun sebelum itu. Rebecca menghapus segala ingatan tentang Khazayn, agar gadis itu melupakan Khazayn untuk sementara. Setelah itu ... Rebecca langsung membawa Khazayn, Century dan juga Alexis berpindah dimensi. Keberadaan Alden yang sedang disibukkan mengurus Chesa membuat Rebecca lupa akan dirinya. ("Terserahlah bagaimana nantinya sikap Khazayn. Yang terpenting aku harus membawa dulu Khazayn ketempat asalnya, meski aku tahu nanti dia akan mengamuk, karena menuruni sifat Zach yang brutal itu,") gumam Rebecca sembari membuka portal menuju dimensi mereka. Dalam waktu sepersekian detik. Sebuah lingkaran cahaya terbuka lebar. Sebuah akses yang biasa mereka gunakan untuk berpindah dimensi. Sebelum Rebecca membawa mereka kesana. Rebecca menjentikan kembali jarinya, perputaran waktu yang sempat terhenti, kini telah berjalan kembali seperti sedia kala. To be continued ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN