CRAAASSSSSS
ARGHHH
Khazayn menebaskan pedangnya ditubuh Typon, hingga membuat luka menganga di punggungnya. Sebelum Typon merengsek maju untuk membalas serangan. Khazayn sudah melemparkan serpihan es yang begitu tajam. Seripihan itu melambung diudara seperti lembing, namun akurasi kecepatan nya tidak terduga, hingga Typon tidak bisa mengelak dan lagi-lagi mengenai tubuhnya secara beruntun.
Merasa tidak ada peluang untuk menang. Kini Typon mengambil cara licik untuk mengalahkan Khazayn. Typon mengarahkan tangannya untuk meraih Serafina yang terbaring lemah tak berdaya itu. Sebuah cahaya merah membuat tubuh Sera terangkat dan melayang diudara dan mendekati Typon dengan melesat cepat. Sampai akhirnya Sera kini berada digenggaman Typon.
"k*****t ! Pengecut !!
Kembalikan Sera !!" Teriak Khazayn dengan murkanya. Urat-urat di lehernya terlihat jelas. Matanya menghitam sementara tangannya sudah mengeluarkan kuku tajam sekeras baja.
Sementara Typon tertawa keras sembari menutupi rasa sakit disekujur tubuhnya. Menatap Khazayn dengan pandangan mengejek.
"Jika kau ingin gadis ini selamat. Maka menyerahlah dan tunduk dihadapanku," ucap Typon dengan nada arogan. Khazayn berdecak jijik, melihat mahkluk seperti Typon yang begitu pengecut dengan memanfaatkan kelemahan hanya untuk menang dari pertarungan.
"Apa kau sebegitu pengecutnya, hingga tidak bisa melawanku seorang diri, Typon?" Ada nada mengejek yang terdengar dari suara Khazayn. Namun tatapan amarahnya masih nampak jelas.
"Terserah apa katamu !
Yang jelas sekarang kelemahanmu ada padaku. Hahahah."
Kesenangan Typon langsung berakhir saat Alden dengan kelincahannya menjerat tubuh Sera menggunakan rantainya dan menariknya kembali pada mereka. Sehingga tubuh Sera terombang ambing diudara. Chesa langsung dengan sigap menangkap tubuh Sera yang akan mendarat dihadapan mereka.
"Kau!! Kurang ajar ..."
Typon terkejut melihat aksi Alden yang diluar dugaannya. Kini tidak ada jalan lagi baginya untuk melawan Khazayn. Kekuasaan Khazayn sangat jauh diatasnya. Sementara tubuhnya sudah carut marut tak berbentuk lagi. Hanya ada satu cara untuknya menyelamatkan diri dari murka Khazayn. Yaitu kabur dari sana, dan menyusun rencana baru.
Namun baru saja dia melangkah untuk melarikan diri. Alexis telah lebih dulu menghadangnya dengan seringai iblisnya. "Mau kemana kau iblis pengecut!"
Typon terjingkat kaget. Lalu mundur kebelakang untuk mencari jalan lain, namun mahkluk yang lebih mengerikan telah menunggunya dengan tatapan seperti predator lapar yang menemukan mangsanya. Dengan tangan yang terkepal kuat. Sementara mata yang berkilat marah. Membuat Typon yang tadinya begitu percaya diri untuk mengalahkan Khazayn. Kini nyalinya menciut. Ketakutan didalam dirinya semakin menjadi. Hingga tubuhnya refleks bergetar.
"Pengecut sepertimu tidak pantas hidup."
Khazayn berucap pelan. Namun mengandung ancaman yang kental. Tubuh Typon bergetar karena ketakutan melihat sisi iblis Khazayn yang nampak jelas.
Seolah tak sabar. Khazayn langsung merengsek maju dan menendang serta mencabik tubuh Typon dengan kuku-kuku nya yang sekeras baja. Meski Khazayn hanya seorang diri, namun Khazayn memiliki apapun yang dia butuhkan. Ketika Typon hendak menyerangnya menggunakan semburan api hitamnya, Khazayn menciptakan sebuah tameng kristal yang tidak tertembus, mematahkan mentah-mentah serangan Typon. Kini Typon ingin menyerangnya menggunakan kukunya yang tidak kalah tajam untuk mencabik tubuh Khazayn. Namun Khazayn langsung membalasnya dengan mengeluarkan serpihan es yang menoreh-noreh tubuh Typon tanpa ampun.
Sementara Alden dan Alexis hanya menonton pertarungan sengit itu. Mereka bisa menyaksikan dengan jelas, bahwa Typon sudah hampir putus asa karena kehilangan banyak tenaga akibat luka-luka yang Typon derita. Kecepatan Typon menurun drastis, beserta akurasi serangannya kini mulai dipertanyakan.
"Cih, lihatlah iblis itu. Tak bisa berkutik dengan serangan Khazayn."
Alexis terkekeh mendengarnya. "Dia terlalu percaya diri sebelumnya. Aku yakin Khazayn tidak akan berbaik hati dengan membiarkannya mati dengan mudah."
Puncaknya, Typon nyaris tak sanggup menghindar ketika Khazayn mengarahkan bongkahan tajam es kejantungnya. Typon hanya bisa memiringkan tubuhnya kesamping, gerakkan yang tak membuatnya luput dari serangan Khazayn sepenuhnya. Bongkahan es itu memang tidak mengenai jantungnya, namun bersarang dengan sukses diperutnya.
Kini Typon semakin tak terkendali. Erangan kesakitan yang dia rasakan membuatnya menyemburkan hujan bola api. Yang semuanya terarah lurus pada Khazayn. Namun hal itu tidak berpengaruh apapun pada Khazayn, karena api penyembuh didalam dirinya sudah memperbaiki kerusakan fisik apapun yang terjadi pada Khazayn sebelum berakibat fatal.
"Kau tidak akan bisa menang, Typon ! Akan kukirim kepalamu pada ayahmu !" Seru Khazayn dengan matanya yang berkilat penuh amarah.
Lalu Khazayn mengeluarkan pedangnya dan melemparkannya pada Typon telak-telak. Pedang itu meluncur seperti lembing, berputar-putar cepat diudara dan menancap dengan sempurna didada kirinya, didaerah jantung. Typon tak menyangka serangan Khazayn akan mengenainya. Dengan mata terbelalak, dia memandang lukanya dengan kaget.
"Matilah kau!" ucap Khazayn mengeluarkan tombak es berukuran panjang dan tajam. Tombak itu langsung dia lemparkan kearah yang sama dengan melesat cepat menuju titik yang akan menjadi serangan final baginya.
Dalam waktu sepersekian detik. Tubuh Typon ambruk. Darah hitamnya mengucur deras. Tubuhnya terlihat begitu menyedihkan dengan luka torehan dimana-mana. Typon sekarat dengan mata terbelalak beserta tubuh bergetar. Suaranya tercekat akibat darahnya sendiri yang memenuhi rongga mulutnya.
Seakan belum cukup memberi penderitaan pada Typon. Khazayn mencabut pedangnya dan menebas kepala Typon dengan ganas. Sehingga darah segar memuncrat mengenai tubuhnya. Alden yang berada tidak jauh dari sana. Langsung mengangkat tangannya, agar semburan darah itu tidak mengenai wajahnya.
Typon mati dengan tragis.
Sementara Chesa yang tadinya terbelalak kaget, dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Tanpa diduga, langsung ambruk tak sadarkan diri. Membuat Alden mendesah letih, karena lagi-lagi Chesa akan menyusahkannya.
"Dasar wanita ! Selalu saja merepotkan !" Alden merutuk kesal. Tentu saja bagian seperti ini akan ditugaskan Alexis padanya. Dan Khazayn ... Dia pasti disibukan oleh kekasihnya itu, batin Alden.
"Sera ..." Lirih Khazayn yang entah sejak kapan sudah berada didekat Sera. Tangannya bergerak menyentuh wajah Sera yang pucat. Khazayn menipiskan bibirnya.
Maafkan aku... aku terlambat. Aku harap kau baik-baik saja.
"Khazayn, kita harus segera pergi dari sini. Jika salah satu dewan memergoki kita, akan sangat berbahaya. Ditambah lagi kedatangan para assassin, pasti mereka akan berambisi membunuhmu jika menemukanmu disini." Alexis berucap serius.
Khazayn tidak membantah. Apa yang dikatakan Alexis benar. Dia tidak ingin mengambil resiko dengan membahayakan Sera lagi. Khazayn mengangguk dan langsung meraup tubuh Sera. Memasukkan gadis itu kedalam gendongannya dan melesat keluar dari tempat itu. Disusul oleh Alexis dibelakangnya.
Sementara Alden. Dengan sangat malas dia membawa tubuh Chesa kedalam gendongannya. Membawa gadis malang itu dibahunya seperti memikul karung beras. Lalu melesat menyusul Khazayn dan juga Alexis yang telah meninggalkannya.
.
To be continued ....