Kerajaan Kenshington.
Keadaan Raja Florence masih tidak ada perkembangan dari waktu ke waktu. Zara sendiri bingung, segala cara telah dia lakukan. Namun Zach masih saja tidak mau membuka matanya.
"Alger, apa sudah ada kabar tentang putramu yang membawa Khazayn kembali?" Tanya Zara dengan wajah sedihnya.
Alger menggeleng lemah.
"Bagaimana ini ...
Keadaan dimensi kita semakin memburuk. Kenapa Alexis dan Alden belum juga kembali. Apa mereka belum menemukan keberadaan Khazayn? Tapi tidak mungkin. Gelombang energi Khazayn begitu kuat. Pasti dengan mudah mereka bisa menemukan nya." Lirih Lily tidak kalah khawatir. Sementara Ratu Anna juga ikut menenangkan Zara. Namun pikiran nya juga melayang, memikirkan kondisi dimensi yang semakin memburuk.
Penculikan anak gadis semakin menjadi. Para anak perawan diculik oleh sekumpulan anak buah Erios untuk dijadikan tumbal, agar mereka semakin kuat dan tak terkalahkan.
Lalu kesusahan mereka semakin bertambah saat melihat beberapa prajurit berlarian menemui mereka dengan nafas yang tersengal serta ketakutan yang nampak jelas.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat panik?" Tanya Alger pada kedua prajurit itu.
"Yang Mulia. Kami mendengar bahwa Erios mengirim anaknya yang bernama Typon untuk memburu Khazayn. Erios menjanjikan kekuasaan dan keabadian untuk Typon jika berhasil membawa kepala Khazayn dihadapan Erios."
"Apaaaaa .... !! Gawat, rupanya mereka telah melangkah lebih dulu." Alger mengumpat kesal. Sementara Zara semakin menampilkan kecemasan pada putranya.
"Typon? Bukankah dia mahkluk menyeramkan yang telah banyak meminum darah perawan. b*****h licik itu kini sedang memburu Khazayn. Kalau begitu aku harus pergi kedimensi Manusia untuk memperingati nya." Zara segera berdiri untuk menemui Khazayn. Namun tangan Alger mencegah nya.
"Tidak Zara. Jangan lakukan itu ... Zach masih sangat membutuhkan mu disini. Biar aku yang pergi untuk mencari Khazayn beserta kedua putraku." Ucap Alger tegas.
"Kau tidak boleh pergi Alger !"
Suara Rebecca membuat mereka menoleh.
"Jika kau pergi, bagaimana dengan kerajaan ini? Siapa yang akan melindungi kerajaan ini dari serangan Erios dan anak buahnya?"
Ucapan Rebecca ada benarnya. Keadaan mereka saat ini benar-benar genting. Jika Alger pergi, maka Erios akan dengan mudah memasuki kerajaan itu, dan menyerang mereka dengan brutal. Tidak ada yang bisa menjamin dinding sihir itu tetap bertahan. Sewaktu-waktu pasti akan berhasil ditembus.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika Typon berhasil menemukan nya."
"Biar aku yang pergi kesana. Aku akan datang menjemput Khazayn kembali kesini dan melawan Erios. Lagi pula ... Aku rasa ini sudah waktunya. Khazayn harus segera membunuh Erios untuk menentramkan kembali dimensi kita."
Rebecca berucap tegas. Kemuakkan atas kepemimpinan Erios yang menjadikan dimensi mereka penuh dengan kubangan darah mahkluk yang tak berdosa, membuatnya jengah. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain melawan. Erios dan anak buahnya telah meresahkan kerajaan dimana-mana. Bahkan tumbuhan pun tidak ada yang bertahan hidup dibawah kepemimpinan nya. Semuanya mati, seolah tidak adanya kehidupan disana.
Mereka ingin menjadikan seluruh dimensi itu, menjadi tempatnya para iblis. Dan Rebecca tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Bagaimana pun Erios harus mati.
"Baiklah Rebecca. Kami serahkan padamu. Berhati-hati lah disana. Jaga dirimu dengan baik," ucap Ratu Anna dengan lembut.
"Baiklah Yang Mulia Ratu. Aku akan membawa Khazayn kesini secepatnya."
*******
"k*****t busuk !! Bersiaplah untuk mati. Akan kubuat kematian yang sangat menyakitkan untukmu. Sehingga kau bisa mengingatnya saat di neraka nanti !"
Ucapan tajam Khazayn tidak membuat Typon takut sedikitpun. Dengan angkuhnya dia malah mengejek Khazayn yang masih bisa bangkit dari ajal yang hampir menjemputnya.
"Ha-ha-ha, ternyata benar kau sipemilik darah abadi itu. Sekarang, aku tidak akan membuat tubuhmu bisa menyemburkan kesembuhan lagi. Akan kucabut jantung beserta kepalamu, dan akan kuberikan pada ayahku," ucap Typon dengan sombongnya.
"Hanya dalam mimpimu. b*****h !!" Maki Khazayn langsung merengsek maju untuk menyerang. Typon sendiri sudah siap untuk serangan Khazayn. Sementara Alden yang ingin ikut andil, langsung ditahan oleh Alexis.
"Biarkan Khazayn menggantikan kita sejenak."
Alden mengangguk patuh dan menjadi penonton saat pertarungan sengit dimulai.
Typon mengeluarkan gada berpaku yang cukup besar dan mengerikan. Jika saja Khazayn terkena pukulan gada itu, maka sudah bisa dipastikan bahwa tubuhnya akan langsung hancur tak berbentuk lagi. Namun dengan gesitnya Khazayn menekuk perutnya kedalam sehingga serangan gada itu bisa dengan mudah dia hindari.
Tak ingin membiarkan Typon selalu menyerangnya, kini Khazayn mengeluarkan tombak es untuk menghunuskan ketubuh Typon. Tombak besar dan juga panjang itu membuat lemparan yang melesat cepat, hingga berhasil mendarat dengan sempurna dibahu Typon sehingga menghasilkan lubang besar yang menganga. Typon mengerang kesakitan. Lalu mencabut paksa tombak itu dan mematahkannya.
Dengan murka dan amuknya, Typon membalas serangan itu dengan menyemburkan kembali api hitam pada Khazayn. Namun dengan kehebatannya, Khazayn kembali mengeluarkan cahaya perisai yang baru saja dia temukan. Sebuah kemampuan khususnya yang selama ini tidak pernah dia gunakan, karena dia sendiri tidak tahu jika bisa melakukan hal itu.
Khazayn ingat. Saat bangun dari pingsannya. Dia langsung bangkit dan melihat Alexis, Alden dan Chesa yang ingin dibakar hidup-hidup dengan api hitam Typon. Lalu tangan dan pikirannya secara reflex ingin menahan api itu, lalu keluarlah sebuah cahaya biru yang menyerupai perisai itu. Khazayn menemukannya dengan cara yang tidak disengaja.
Sontak hal itu membuat Typon kaget. Tidak ada yang bisa selamat dari semburan api mematikan dari para naga yang ada ditangannya. Namun Khazayn dengan bakatnya dia menangkis serangan itu.
"Kau !!"
"Sekarang giliran mu ..."
Khazayn berucap sembari mengeluarkan bola api yang kecil, lalu semakin membesar saat terkena udara, lalu Langsung dia lemparkan pada Typon, tidak ingin tubuhnya terbakar dan menjadi abu. Typon pun menghindar. Lalu Khazayn mengeluarkan lagi tombak es yang akan dia hunuskan ditubuh Typon. Kali ini Typon terlambat untuk menghindar sehingga tombak itu kembali melesat, mengenai tubuhnya.
Lagi-lagi Typon mengerang kesakitan. Tombak itu tidak menancap, namun menggores tubuh Typon hingga menghasilkan luka sobekan yang cukup lebar. Kini kecepatan Typon telah menurun sedikit demi sedikit. Sementara prediksi serta kecepatan Khazayn semakin meningkat pesat. Serangan Typon kini mulai terkesan asal-asalan. Setiap serangan yang dia kerahkan membuat Khazayn dengan mudah menghindar dan membalas nya berkali-kali lipat.
"Cih, bahkan untuk menyerang saja kau tidak bisa. Bagaimana kau akan membunuhku !!" Sarkas Khazayn sembari menancapkan kuku tajamnya ditubuh Typon dan mencabutnya dengan brutal sehingga Typon kembali berteriak kesakitan. Mata Typon kembali mengeluarkan api kemarahan sementara tubuhnya sudah terlihat menyedihkan dengan luka yang menganga lebar dimana-mana akibat serangan Khazayn yang brutal.
******
To be continued.