Alger berdiri diujung bimbang
Seperti berjalan tanpa tujuan. Matanya menatap lurus, namun pikirannya kosong.
Setelah sekian lama baru dia menyadari bahwa jarak nya dengan Zara, tidak juga bertambah dekat walau hanya sejengkal.
Alger mendesah letih. "Kenapa kenyataan ini begitu pahit. Apa mungkin harapanku saja yang terlalu manis?. Biarlah waktu yang menghantarku pada sesuatu yang belum pernah kutuju," batin Alger, seakan ingin menjerit. Hatinya menangis, dan perasaan nya begitu hancur.
Dengan langkah berat dia berjalan menemui Ratu Anna.
"Yangmulia Ratu. Aku menerima permintaanmu," ucap Alger tegas, dengan wajah datar.
Ratu Anna tersenyum lembut mendengarnya. "Aku tahu kau akan dengan bijak memikirikannya," jawabnya.
"Tapi aku belum ingin mencari permaisuri. Biarlah aku hanya sekedar memimpin kerajaan Kenshington. Untuk mengabdikan hidupku disana. "Setidaknya hanya dengan cara ini aku masih bisa bersama dengan Zara," batinya melanjutkan ucapannya.
Ratu Anna tertegun mendengarnya. "Baiklah Alger, aku setuju dengan keputusanmu," saut Ratu Anna.
***
Zara berdiri dengan anggun di depan kaca besar yang menampilkan dirinya yang berbalut gaun putih dari segala sisi.
Ratu Anna mencoba merapikan ekor gaun Zara. Lalu kembali melihat puas putri kecilnya dulu yang begitu cantik memakai pakaian pengantin. Waktu berjalan begitu cepat, putri kecilnya yang sangat manja dulu kini telah memakai gaun pengantin yang begitu indah. Sayang sekali hal ini tidak bisa disaksikan oleh suaminya. Pikirnya.
"Apa aku terlihat cantik," ucap Zara membuyarkan lamunan Ratu Anna.
"Kau cantik sekali anakku," jawabnya lembut sembari memegang pipi Zara, dan memandangnya lekat.
Zara sedikit kaget saat melihat cairan bening mengalir dari sudut mata ibunya.
"Ibu kenapa kau menangis," ucap Zara cemas sembari menghapus pelan cairan bening itu.
"Ini bukan air mata kesedihan Zara. Ibu hanya terlalu bahagia melihatmu yang akan segera menikah."
Zara tersenyum lembut mendengarnya. Lalu memeluk hangat Ratu Anna dengan perasaan haru.
"Ayo, kita harus segera turun. Zach pastinya tidak sabar menunggumu."
Zara mengangguk cepat dan merangkul tangan ibunya untuk segera turun kebawah.
Zara menuruni anak tangga dengan perlahan dan anggun membuat semua mata terpana akan kecantikan yang ia pancarkan. Semua orang menatap kagum pada calon Ratu baru mereka.
Tidak terkecuali Zach, yang segera menghentikan kesibukannya merapikan kembali pakaian resmi kerajaannya dengan segala atribut lengkap. Zach sendiri begitu gagah, menggunakan pakaian hitam gelap itu, dengan atribut kerajaan yang berwarna emas begitu cocok dan membuatnya semakin terlihat tampan.
Perhatian Zach teralihkan saat melihat permaisurinya telah turun dengan penampilan yang begitu memukau.
Zach bahkan tidak berkedip saat memandangannya sampai Zara sudah berada dihadapannya. Zach tidak bisa menutupi kekagumannya. Dia seakan terhipnotis dengan keindahan yang ada didepan matanya itu. Gaun pengantin yang indah ditambah veil pengantin yang berwarna putih transparan menutupi rambut hingga wajahnya. Rambutnya sendiri ditata begitu sederhana, ditambah bunga-bunga jeruk yang disisipkan dirambutnya, yang menandakan arti kesucian.
Zach memandangnya seakan terkesima, tidak bisa memungkiri kecantikannya.
Semua orang berdatangan, tidak ada yang ingin melewatkan pernikahan calon Raja dan Ratu mereka.
"Yang Mulia Pangeran Zach Flourenc dan Yang Mulia Putri Zara Kenshington, saya nyatakan kalian berdua sebagai sepasang suami istri," ucap pemimpin upacara pernikahan mereka yang disambut tepuk tangan meriah yang sangat riuh di kerajaan itu. Zach menghembuskan nafas lega, begitupun dengan Zara. Mereka saling menatap haru dan saling bergenggaman.
Dijari manis mereka telah tersematkan cincin sebagai pengikat sekaligus pengingat janji suci yang baru saja mereka ucapkan.
Mereka menatap kesemua orang yang hadir. Yang ikut merayakan suka cita penyatuan mahkluk penghisap darah dan peri putih. Tawa bahagia hingga tangis haru terlihat disana.
Upacara pernikahan Zach dan Zara telah berjalan dengan lancar.
Acara selanjutnya adalah penobatan Zach sebagai Raja dari Flourenc.
Rebecca berjalan dengan tegas yang diiringi beberapa dewan kerajaan di sebelah kanan dan kirinya. Menuju pengantin baru itu.
Zach dan Zara segera berlutut didepan mereka. Rebecca menyerahkan mahkota Raja dan memasangkannya di kepala Zach. Zach bangkit secara perlahan saat mahkota itu telah berada dikepalanya. Dia menatap dengan mantap kearah Rebecca dan para dewan kerajaan. Rebecca menatap serius sekaligus bangga padanya, lalu dia menyerahkan tongkat kekuasaan dan tanda kepemimpinan kerajaan. Zach segera menerimanya. Dengan begitu artinya dia telah siap menerima tampuk kerajaan ditangannya.
Begitu juga Zara yang akan dipasangkan mahkota untuk penobatan sebagai Ratu dari Flourenc. Rebecca segera menyerahkan dan menyematkannya dikepala Zara. Terlihat sangat cocok dengan penampilannya sekarang.
Zach dan Zara pun berdiri secara bersamaan dengan perlahan. Saat penyerahan itu telah selesai, Rebecca segera memberikan pengumuman.
"BERI HORMAT PADA RAJA ZACH FLOURENCH DAN RATU ZARA FLOURENC," ucap Rebecca dengan suara lantang dan menggema.
Dengan hening dan serempak semua orang membungkuk memberi hormat pada pemimpin baru mereka.
Semua orang bersorak gembira dan berpesta pora.
Kecuali Alger.
Yang nampak murung dengan segala kekesalannya. Merasa murung karena meratapi nasibnya, dan merasa kesal karena takdir tidak mengijinkannya bersama dengan wanita yang dicintainya. Alger mengusap kasar wajahnya, dan memukul-mukul dadanya, seakan kesakitan yang ada dihatinya begitu terasa. Begitu nyeri, bahkan tenggorokannya tercekat seakan ada kerikil disana.
Namun kegusaran itu tidak bertahan lama, saat dia mencoba berbicara pada hati nuraninya sendiri, bahwa masih ada kesempatan untuk tetap bersama Zara, meski itu dengan cara lain.
Ratu Anna mendekat kearah Zara dengan langkah perlahan.
"Zara, Ibu sudah memilih pemimpin baru dalam kerajaan Kenshington," ucap Ratu Anna membuat Zara menatapnya dengan dipenuhi pertanyaan.
"Siapa?" tanya Zara menatap nanar.
"Alger," jawabnya mantap.
Zach yang berdiri tidak jauh dari Zara, ikut terkejut saat Ratu Anna mengucapkan nama itu.
"Kenapa harus dia Yang Mulia Ratu?" tanya Zach seakan mewakilkan juga pertanyaan Zara.
"Raja Robert sendiri yang telah merencanakannya saat dia masih hidup dulu. Dan sekarang dia telah tiada, bagaimana pun juga aku haris menjalankan amanahnya," jawab Ratu Anna memberi pengertian.
Zach tidak menjawab, dan juga tidak memprotes. Seolah ikut setuju dengan keputusan itu, meski masih ada sedikit keraguan disana.
Zara sendiri hanya mengangguk patuh saat ibunya menyebut nama ayah nya yang memberi perintah itu. Zara yakin ayah nya pasti tidak sembarangan dalam memilih. Dia pasti sudah memikirkan sebab akibat yang akan terjadi selanjutnya.
****
Senyuman manis sang bulan seakan menyapa Zara yang tengah berdiri didepan jendela kamarnya. Begitu indah dan semakin memekarkan suasana hatinya yang saat itu sedang berbunga-bunga.
Alger pun begitu sama memandang sang bulan dari sudut bumi yang lain. Berada diantara cahaya bulan lampu taman.
Alger terdiam termangu, memandang keindahan bulan yang satu itu seakan tak pernah jemu.
Berharap bahwa sang bulan akan membelai jiwanya, yang begitu tegang menjalani hari.
Berharap sang bulan mengusap asmara yang begitu sesakkan dadanya. Berharap Keringkan luka menganga dihati nya.
Dengan memandang bulan seakan membuatnya mengerti.
Bahwa keindahan tak harus selalu didekati..
Bahwa keindahan tak harus selalu dimiliki..
Namun hanya untuk sekedar di pandang dan dikagumi..
Alger segera beranjak dari sana saat melihat Zach yang datang mendekati Zara.
Cukup sudah ...
Dia tidak ingin terluka lagi.
Dia segera pergi karena tidak akan tahan melihat pemandangan yang tadinya indah berubah menjadi mengerikan.
****
Zach melingkarkan tangannya dipinggang Zara. Memberi kehangatan dari dinginnya hembusan angin malam, sembari mengendus lehernya yang harum memabukkan. Membuat Zara menggeliat geli.
"Indah sekali," ucap Zach pelan.
"Tentu saja, sejak kecil aku sangat senang memandang bulan saat malam hari." saut Zara menatap kagum sang bulan.
"Aku tidak sedang membicarakan bulan."
"Lalu," ucap Zara membalikan badanya menghadap Zach dengan bingung.
"Aku sedang bicara tentangmu. Bagiku kau sangat indah melebihi bulan purnama. Kau begitu berkilau melibihi sang bintang."
Zara tidak bisa menyembunyikan semburat merah yang mewarnai pipinya. Ucapan Zach begitu menyentuh hatinya sampai lidahnya terasa keluh untuk berkomentar.
Zach menatap Zara dalam. Memperhatikan wajahnya yang memerah semu. Lalu Zach menurunkan wajahnya kewajah Zara, membangunkan hasrat yang lama terpendam. Dalam sekejap bibir mereka telah menyatu, dengan nafas yang memburu. Zach melepaskan pertautan itu sejenak, membiarkan Zara mengumpulkan oksigen yang banyak.
Lalu mata mereka kembali beradu. Zach kembali melumat bibir Zara yang begitu terasa manis, seakan menjadi candu baginya. Menggendong Zara tanpa melepaskan pertautan nya dan meletakannya secara perlahan di kasur king size milik mereka yang telah ditaburi kelopak bunga mawar yang indah.
Mereka terus mengendap, mengejar bulan diujung telaga. Hingga diperbatasan hutan. Nafas mereka semakin kencang dan mengerang. Mereka kembali berlari menerobos hutan, menerjang lautan, mendaki puncak hingga keperbatasan.
Zach kembali mengerang, dan Zara terus melawan seakan tak pernah lelah dalam mendaki rasa. Diantara gemerisik selimut dan suara nafas yang memburu, mereka telah sampai pada puncaknya.
Lalu tubuh mereka terkulai tergolek lirih. Diantara bunga yang harum dan wangi. Buliran keringat membasahi tubuh mereka. Zach telah mengklaim istrinya. Menamkan benih didalam tubuh istrinya yang akan menjadi pewaris tahta.
Zara Tersenyum dalam kelembutan.
Matanya berbinar terang.
Wajahnya secerah rembulan. Mata mereka kembali beradu. Diikuti nafas yang kembali memburu. Mereka kembali terjatuh kedalam lembah biru. Dan kembali menuju puncak surga itu ....
***
Semua orang berkumpul di Aula kerajaan. Menghantar kepergian Ratu Anna dan Alger yang akan kembali memimpin kerajaan Kenshington.
Zara memeluk hangat ibunya sebelum meninggalkan istana.
"Jaga dirimu Zara, ibu akan selalu merindukanmu," ucap Ratu Anna dengan penuh kelembutan.
"Aku akan datang berkunjung menemuimu bu," jawab Zara tidak kuasa menahan air matanya yang sudah mengepul, dalam sekali kedip saja air mata itu akan jatuh tanpa bisa dibendung lagi.
Ratu Anna Melepaskan pelukannya dan memeluk Zach yang berada tidak jauh darinya.
"Jaga putriku baik-baik. Dia akan segera melahirkan penerus tahta kerajaanmu. Dan anak kalian akan segera mengatasi kegelapan yang melanda dimensi kita."
"Tentu Yang Mulia Ratu. Aku akan menjaganya segenap jiwa dan ragaku. Aku akan menjadikan dia prioritas utamaku. Aku sangat berterimakasih padamu karena telah melahirkan seorang putri yang begitu cantik," ucap Zach tersenyum tulus.
Alger berjalan mendekati Zach dan menatapnya datar.
"Aku percayakan Zara padamu. Jangan pernah kau coba untuk melepaskannya. Jika itu terjadi, maka aku tidak akan membiarkan dia kembali lagi padamu," ucap Alger segera membalik tubuhnya tanpa menunggu tanggapan dari Zach.
"Ratu Anna, jika terjadi sesuatu maka kirimkan sebuah pesan pada kami. Kami akan datang kesana membantu kalian," ucap Rebecca tegas.
"Baiklah Rebecca, Terimakasih," saut Ratu Anna.
Zara memperhatikan kepergian ibunya sampai tidak terlihat lagi dari balik gerbang kerajaan. Rasanya begitu singkat. Saat dia baru saja bertemu ibunya. Dan Sekarang dia harus dijauhkan lagi.
Zach memperhatikan raut wajah Zara yang berubah murung dan sangat tahu tentang perasaannya. Zach hanya membawa Zara kedalam dekapannya, mencoba untuk menenangkannya.
"Zach, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Ayo kita bicara didalam," ucap Rebecca dengan cepat melangkah masuk kembali kedalam kerajaan.
Zach dan Zara menyusul langkahnya yang berjalan lebar.
Saat mereka telah sampai diruangan pribadi Rebecca. Century dan Miki juga sudah berada disana menanti kehadiran mereka.
"Ada apa Becca? apa ada masalah serius?" tanya Zach bingung.
"Aku sendiri tidak tahu ini masalah serius atau tidak. Tapi yang jelas ada baiknya kita berhati-hati."
Zach semakin dibuat bingung olehnya. Namun sebelum Zach bertanya lagi Rebecca telah kembali menjelaskan.
"Kita sudah membunuh Naviel, bahkan Monster yang telah membuat teror pada kaum kita. Tapi kenyataannya para kaum kita masih saja merasa resah karena kehilangan anak-anak mereka. Kali ini penculikan kembali terjadi saat kita sibuk dengan urusan kita. Entah mahkluk seperti apa lagi yang membuat teror pada kerajaan kita," ucap Rebecca tegas dengan nada sedikit cemas.
"Sial ... b*****h apa lagi yang mengganggu ketentraman hidup kita. Apa yang diinginkannya sebenarnya," maki Zach kesal.
"Apa kita tidak bisa mengunci portal kerajaan ini agar para mahkluk asing tidak bisa masuk." ucap Zara sempat berfikir keras.
"Itu dia masalahnya ..." ucap Rebecca sembari menjentikan jarinya. "Aku sudah melakukannya sejak awal. Tapi entah mengapa mereka masih bisa masuk. Aku rasa musuh kita kali ini cukup kuat. Dan memiliki sihir yang hebat. Aku juga merasa kali ini bukan mahkluk biasa, sehingga dia bisa masuk kedalam portal kita seenaknya." tambahnya lagi.
"Kau benar Rebecca," saut Century itu mengangguk pelan.
"Mahkluk yang kau maksud mungkin adalah salah satu penyihir hitam. Meski kita jauh lebih hebat dari penyihir. Tapi kelicikan penyihir jangan dianggap remeh. Dia bisa memanipulasi siapa saja untuk dijadikannya umpan. Jika dia hanya menculik darah seorang perawan itu artinya dia juga ingin abadi. Tapi jika dia menculik anak-anak. Itu artinya dia ingin menjadi semakin kuat untuk membalaskan dendamnya," sambung Century itu sesuai pengamatannya.
"Dendam?"
"Ya, ada seorang penyihir yang ingin membalas dendam pada kalian."
"Tapi siapa? Bagaimana cara kita mengetahui keberadaan penyihir itu? Bahkan cerminku hanya menampilkan keburaman, sedangkan Miki, kita tidak bisa melacaknya jika tidak mengetahui namanya," ucap Rebecca kesal.
"Jika kita tidak bisa menemukannya, maka biarkan dia saja yang menemui kita .....