BRUAKK ...
Air yang bercampur lumpur itu menyembur keluar mengenai tubuh Zach yang berada di sekitar tempat itu.
Monster itu melompat keluar dan langsung menyerang siapa saja yang berada disana. Rebecca mengambil ancang-ancang untuk menyerang monster itu. Baru saja dia ingin menyerang, namun monster Itu melemparnya sampai terpental jauh. Alger segera mengubah dirinya menjadi monster hijau dengan ukuran jauh lebih kecil dari monster yang dihadapinya ini. Tapi meski begitu kekuatan Alger juga bisa dikatakan sebanding dengan monster hitam itu.
Alger menyerang dengan mengeluarkan kuku tajamnya untuk mencakar monster itu. Sementara Zach menyerang dengan mengeluarkan serpihan es dan melemparkannya pada monster itu secara bertubi-tubi.
Sayangnya serangan Zach bukanlah apa-apa bagi monster itu. Tubuh monster itu seolah kebal dengan semua serangannya. Lalu Zach memutar otaknya, mencari cara lain untuk menghabisi monster itu. Dengan mengeluarkan bola api nya, yang langsung mengenai monster itu secara telak.
Monster itu mulai limbung. Karena merasa terancam monster itupun berniat ingin kabur kedalam hutan. Sayangnya, belum sempat dia melakukannya, serangan Rebecca membuatnya terhuyung.
Miki tidak tinggal diam, dia juga ikut menyerang dengan cara yang telah diajarkan Rebecca. Sejak Miki berada di kerajaan Flourenc dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Rebecca untuk belajar bela diri. Rebecca cukup salut dengan Miki yang dengan mudahnya menghapal setiap gerakan yang diajarkan oleh Rebecca dan yang lainnya.
"Miki .. AWASS,"
Teriak Rebecca memperingati Miki yang menjadi sasaran monster itu. Untungnya Miki dengan sigap menghadapinya.
"MONSTER KE**RAT, BERSIAPLAH UNTUK MATI." seru Zach menancapkan tombak es tepat di tubuh monster itu.
Meski telah dihujam tombak berkali-kali, tubuh monster itu seolah kebal dan tidak juga mati. Monster itu memuntahkan cairan hitam yang diyakini sebagai racunnya disaat dia merasa terancam.
Zach sangat tidak menduga akan serangan itu membuatnya terkena muntahan monster itu, tepat di tubuhnya. Meski Zach tidak merasakan apapun. Namun lama kelamaan dia mulai merasakan dampak dari semburan racun itu yang membuatnya tersungkur dan tidak sadarkan diri.
"ZACH ....."
Pekik Rebecca melihat Zach yang tidak sadarkan diri, tubuhnya seketika membiru akibat ledakan racun itu. Dan segera menyuruh pengawal kerajaan membawanya kembali keistana untuk di obati.
Setelah menghadapi serangan bertubi-tubi dari Alger dan juga Miki. Akhirnya monster itu terkapar. Rebecca segera mengambil tindakan untuk menjerat monster itu menggunakan tali sihir yang dia buat, sehingga monster itu tidak bisa bergerak, apalagi meloloskan diri.
"Kalian. Cepat bawa monster ini ke sel kerajaan." perintah Rebecca pada anak buahnya.
***
Zara berlari dengan raut wajah khawatir saat mendengar kabar bahwa Zach terkena semburan racun.
"Zara, kau harus cepat mengobati Zach. Jika tidak, racunnya akan menyebar dengan cepat kebagian dalam tubuhnya." ucap Rebecca panik. Zara mengangguk cepat dan mengambil posisi disebelah Zach.
Zara mengarahkan kedua telapak tangannya kebagian tubuh Zach yang terkena racun itu, dengan penuh konsentrasi. Semburat api keluar secara perlahan dari tangannya, lalu api itu berkobar keseluruh tubuh Zach yang terkena racun itu. Tubuh Zach yang tadinya membiru telah kembali seperti semula. Tapi Zach masih belum membuka matanya.
"Apa yang terjadi, kenapa Zach masih belum juga sadar?" tanya Zara heran. Rebecca menggeleng lemah, seolah memberi isyarat bahwa dia juga tidak tahu.
Zara mencobanya sekali lagi, sampai energinya hampir habis. Namun Zach masih tetap saja tidak membuka matanya. Zara mendesah letih. "Apa yang harus kita lakukan sekarang !!" ucap Zara merasa frustasi.
"Tenanglah Zara, kita tunggu saja sebentar lagi." ucap Rebecca menenagkan. Namun hal itu justru membuat Zara semakin khawatir.
Alger hanya menatap Zara dari kejauhan. Ekspresi Zara yang begitu mengkhawatirkan Zach, Membuatnya tersenyum kecut. Alger melangkah perlahan mendekati Zara dan menepuk pundaknya.
"Tenanglah Zara. Rasa sakit yang dialami Zach tidak sebanding dengan luka yang aku terima saat beberapa monster menancapkan kuku tajam mereka ketubuhku dulu. Dan kuku itu sangat beracun sampai aku tersiksa merasakan sakit yang teramat sangat." ucap Alger pelan, terlihat raut kesedihan diwajahnya.
Zara sedikit terperangah mendengarnya. "Apa? Bagaimana bisa?" ucapnya menatap nanar mata Alger.
Alger menarik nafas sebelum menjelaskan kejadian kelam yang menimpanya dulu. "
Saat itu aku dikeroyok oleh beberapa monster. Tentu saja aku kesulitan untuk melawan mereka karena jumlah mereka yang banyak. Untungnya ada penyihir yang menolongku, meski pertolongannya itu sedikit terlambat. Setidaknya aku masih bisa bertahan hidup. Tancapan kuku beracun itu membuatku sampai mati rasa karena kesakitan yang luar biasa. Tapi aku mencoba bertahan, aku belum ingin mati sebelum menemukanmu." ucapnya memandang Zara dengan lekat.
"Kau jangan merisaukan dia. Racun itu tidak akan membunuhnya. Dia hanya terkena dampak kecil dari racun itu, sebentar lagi dia akan pulih." sambung Alger tersenyum tipis menatap Zara.
"Alger benar Zara. Zach akan baik-baik saja dia akan segera sembuh. Sekarang kau beristirahat lah." ucap Ratu Anna dengan lembut.
"Baiklah ibu, kalian semua juga beristirahat lah. Biar aku yang menjaga Zach disini." jawabnya.
Mereka semua pergi membiarkan Zara menjaga Zach Seorang diri. Zara mendekati Zach dan duduk disebelahnya. Tangannya menggengam erat tangan Zach dan sesekali menempelkan di pipinya. Zara mengerutkan keningnya saat menyadari telapak tangan Zach yang begitu dingin. Lalu dia memeriksa kebagian tubuh Zach yang lain, yang juga terasa sangat dingin.
Zara semakin khawatir, lalu mengambil selimut tebal untuk membuatnya sedikit hangat. Tapi sepertinya tidak juga berhasil. Karena Zara melihat tubuh Zach dan bibirnya yang bergetar menggigil.
("Astaga !! Apa yang harus kulakukan?'") gumam Zara, sembari mondar-mandir merasa sangat cemas.
Zara berfikir keras sampai menemukan cara yang pernah diajarkan ibunya dulu saat dia merasa kedinginan. Yaitu dengan cara saling bersentuhan antara kulit kekulit, tubuhnya yang hangat akan meringankan kedinginan yang Zach rasakan. Ya, sepertinya tidak ada cara lain.
Meaki sedikit ragu tapi Zara segera melakukannya, setidaknya dia harus mencobanya dulu. Zara melucuti semua pakaiannya sampai tak menyisahkan sehelai benangpun. lalu melepaskan pakaian Zach, lalu segera ikut masuk kedalam selimut tebal itu, dan memeluknya erat.
Sesuai dugaannya tubuh Zach tidak lagi menggigil. Kehangatan yang dipancarkan dari tubuh Zara membuatnya nyaman dalam dekapan penuh kehangatan. Melihat Zach yang mulai tenang membuat Zara ikut memejamkan matanya sampai ikut hanyut dalam mimpinya.
***
Zach mulai membuka matanya secara perlahan. Saat merasakan tubuhnya yang mulai banjir dengan keringat dan juga sesuatu yang menempel ditubuhnya. Zach mengedarkan pandangannya dan mendapati Zara yang memeluknya erat dengan tubuh tanpa busana dibalik selimut. Mata Zara yang tertutup rapat, sampai tidak menyadari bahwa Zach telah sadar dan memperhatikannya dengan seksama. Zach bahkan bisa merasakan hembusan nafas Zara yang lembut dan begitu teratur.
Zara menggeliat dan mengangkat wajahnya. Matanya mengerjap mendapati Zach yang menatapnya bingung. Lalu Zara membesarkan matanya, sadar akan posisinya saat ini.
"Zach .. Sejak kapan kau bangun?" ucap Zara langsung duduk dengan salah tingkah, menahan selimutnya agar tidak merosot. Namun hal itu justru membuat punggungnya yang polos terlihat jelas dihadapan Zach.
Bukannya menjawab pertanyaan Zara, Zach malah bertanya balik padanya.
"Apa yang kau lakukan padaku Zara?"
"Aku hanya ...,"
"Kenapa kau melucuti semua pakaian mu," ucap Zach, mengalihkan pandangannya ke pakaian yang berserakan.
"Zach .. Dengar! Semalam tubuhmu menggigil kedinginan. Aku bingung harus melakukan apa. Jadi aku melakukan tekhnik yang pernah diajarkan oleh ibuku, yaitu melakukan skin to skin." ucap Zara menjelaskan. Tapi Zach malah menatapnya misterius.
"Sudahlah Zach, jangan berfikir yang tidak-tidak aku akan memakai pakaianku, sebelum semua orang datang dan mereka pasti akan salah paham." ucap Zara memungut pakainnya sembari tetap menahan selimutnya.
Belum sempat Zara mengenakan pakaiannya, Zach telah menariknya kembali sampai tubuh mereka bertubrukan. "Apa yang kau lakukan Zach?" ucap Zara sedikit terpekik kaget.
"Kau harus bertanggung jawab Zara !!" ucapnya dengan mata yang berkilat dipenuhi nafsu menatap Zara.
"Tidak Zach! Kau ..." belum sempat Zara menyelesaikan ucapan nya, Zach sudah membungkam mulut Zara dengan bibirnya. Mencecap dan menyapu keseluruh ruangan yang ada didalam mulutnya. Zara sempat memberontak sebelumnya, sampai akhirnya dia ikut terhanyut dalam buaian kenikmatan sentuhan yang Zach berikan padanya. Nafsu dan gejolak yang panas kian membara menyeruak didalam tubuh mereka seolah meminta pelampiasan. Namun hal itu tidak terwujud saat mendengar sebuah ketukan pintu yang cukup keras. Dan hal itu cukup membuat Zara tersadar dan membesarkan matanya.
Zara melepaskan pertautan itu dan mendorong Zach agar berhenti. Zara memakai pakaiannya dengan terburu-buru. Raut wajahnya begitu cemas memikirkan siapa yang mengetuk pintu. "Zach, cepat pakai pakaianmu !" ucap Zara sedikit membentak.
Zach berdecak sebal, tapi dia tetap mengikuti ucapan Zara, meski dia memakainya dengan malas. Raut wajah Zach begitu kesal, sampai ingin menghajar siapa saja yang telah mengganggu kesenangannya.
Zara menarik nafas panjang sebelum membuka pintu dan mendapati Rebecca yang telah menunggu mereka begitu lama sembari berkacak pinggang. Rebecca menyipitkan matanya menatap Zara yang terlihat gugup. Lalu beralih menatap Zach yang terlihat kesal, namun terkesan santai.
"Apa yang terjadi? Kenapa lama sekali kalian membuka pintu, Apa Zach melakukan sesuatu padamu Zara?" tanya Rebecca curiga. Meski dia mengerti dan paham akan situasi itu.
"Pertanyaan macam apa itu ! Seharusnya kau bertanya bagaimana keadaanku." ucap Zach dengan nada memprotes.
"Aku sudah melihat sendiri bahwa kau baik-baik saja Zach. Justru aku khawatir dengan Zara yang menjagamu," ucap Rebecca sinis.
"Aku baik-baik saja Becca, jangan khawatir." ucap Zara tersenyum kikuk.
"Sudahlah tidak perlu dibahas. Aku datang kesini untuk mengajak kalian mengikuti rapat para dewan kerajaan sebentar lagi. Dan kau Zach, jangan bertindak macam-macam pada Zara sebelum pernikahan kalian, atau aku sendiri yang akan mengutukmu." ucap Rebecca tegas dengan raut wajah yang menyebalkan menurut Zach.
"Ck, kakak macam apa kau ini !! Bisakah aku meminta kakak yang lain saja." ucap Zach memaki kesal. Zara hanya terkekeh geli melihatnya.
***
Rebecca mengadakan rapat terbuka di luar istana yang juga dihadiri oleh kaum Flourenc. Monster yang sempat menggegerkan kerajaan itu telah berada dihadapan kaum Flourenc dengan tubuh terikat oleh tali yang telah disihir. Monster itu dibakar dihadapan semua orang.
Setelah pembakaran itu selesai, barulah Rebecca mengumumkan pernikahan Zach yang akan diadakan satu minggu lagi. Dan juga penobatannya sebagai Raja dari kerajaan Flourenc. Semua orang bersorak gembira, kecuali Alger yang nampak kusut.
Seseorang menepuk pundak Alger, "Berhentilah menyulitkan dirimu sendiri dengan memikirkan sesuatu yang tidak akan menjadi milikmu. Kau hanya akan terluka." ucap Century yang menyadari perubahan raut wajah Alger.
"Jangan menasehatiku Century. Biarkan aku yang menentukan jalanku sendiri." jawab Alger dingin. Lalu melangkah pergi dengan perasaan kalut.
"Kuperingatkan sekali lagi padamu Alger, kau tidak akan bisa bersamanya, kalian berdua sangat jauh berbeda." ucap Century itu dengan sedikit berteriak, menghentikan langkah Alger.
Alger tidak menanggapi ucapannya, dan segera melanjutkan langkahnya.
"Yangmulia Ratu." ucap Alger menyapa dan memberi hormat pada Ratu Anna yang tidak sengaja bertemu dengannya.
"Alger. Ikut aku sebentar."
Alger mengangguk dan mengikuti langkah Ratu Anna yang mengajaknya kesuatu tempat.
"Alger. Kerajaan Kenshington telah lama ditinggalkan. Sampai saat ini kerajaan itu hanya diurus oleh beberapa dewan. Aku dengar rakyat disana begitu kacaw karena kehilangan seorang pemimpin. Dikarenakan kematian sang Raja. Ditambah lagi serangan Erios yang banyak memakan korban jiwa dulu.
Alger, maukah kau membantuku, untuk memimpinnya. Kondisiku yang lemah membuatku tidak bisa untuk mengurusnya." ucap Ratu Anna lembut dengan raut wajah memohon.
"Kenapa harus aku yangmulia Ratu!" tanya Alger nampak bingung.
"Karena aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Alger, rakyat Kenshington sedang membutuhkan pemimpin saat ini. Dan aku memilihmu nak, aku yakin kau bisa menjadi penerus kerajaan Kenshington." jelasnya.
Alger terdiam nampak menimbang-nimbang keputusan itu. Saat ini fikirannya kacau karena pernikahan Zara yang akan diadakan sebentar lagi. Ditambah lagi permintaan Ratu Anna yang membuatnya bingung. Dia tidak bisa mengambil keputusan saat ini.
"Aku akan memikirkan nya dulu yangmulia Ratu, tolong beri aku waktu." ucap Alger sopan, yang di angguki pelan oleh sang Ratu.
"Baiklah Alger, aku harap kau mempertimbangkan nya dengan baik. Aku memilihmu juga karena Raja Robert sendiri yang pernah mengatakannya dulu, seolah dia telah meramalkan bahwa kau akan datang pada kami. Dan ternyata ucapannya benar." ucap Ratu Anna lembut, dan segera melangkah pergi. Membuat Alger sendiri terkejut dengan ucapannya.
("Raja Robert memintaku memimpin kerajaan!! tapi kenapa?') batin Alger nampak berfikir keras.