Bughhh
Satu pukulan menghantam wajah Alger. Merasa tidak siap dengan pukulan itu membuatnya jatuh terhuyung dan mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya. Alger segera menyekanya. Berharap darah itu tidak keluar terlalu banyak.
"Apa yang kau lakukan!" bentak Alger menggeram marah, karena Zach memukulnya secara tiba-tiba.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa kau meneror dan meresahkan kerajaanku? k*****t," maki Zach menarik baju Alger dan menghempaskannya lagi. Melampiaskan segala amarah dan kekesalannya. Zach terus saja merongrong membabi buta tanpa memikirkan bagaimana Alger bersusah payah menghindar. Bahkan belum tentu pria itu yang melakukannya.
"Kau sudah salah paham Zach. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Bukan aku yang membunuh pria ini," ucap Alger mencoba membela dirinya. Namun pembelaannya sangat bertentangan dengan bukti yang terlihat didepan mata Zach.
"Kau masih ingin menyangkalnya! Lalu bagaimana dengan pria yang kau bawa ini? Kau harus ikut aku kepengadilan istana sekarang juga," ucap Zach segera menyeret Alger untuk mengikuti langkahnya. Alger yang merasa tidak bersalah, tidak keberatan untuk ikut bersama Zach.
"Kau akan menyesal karena telah menuduhku Zach!" ucap Alger pelan namun masih bisa terdengar jelas di telinga Zach.
Mereka telah sampai ditengah pengadilan untuk menghakimi Alger. Rebecca dan semua dewan yang ada disana kaget melihat Zach yang datang dengan menyeret Alger bersamanya. "Zach, ada apa ini. Alger kenapa tubuhnya banyak bercak darah?" tanya Rebecca dengan kekhawatirannya.
"Becca. Aku sudah menemukan mahkluk misterius yang meneror kerajaan kita. Orang itu tepat berada di depan kalian saat ini, monster itu adalah Alger," ucap Zach tegas.
"Apa?"
"Tidak Rebecca, apa yang dikatakan Zach tidak benar. Dia hanya salah paham terhadapku," sela Alger membela dirinya.
"Kurang ajar, bisa-bisanya kau masih menyangkalnya. Lihatlah Becca bercak darah yang begitu banyak ditubuhnya. Dan juga salah satu kaum kita yang baru saja menjadi korbannya tergeletak tak berdaya,"
Karena terlalu kaget dengan apa yang terjadi membuat Rebecca bingung hingga menatap keduanya secara bergantian.
"Becca, aku akan menjelaskannya!" ucap Alger lagi, namun langsung di sangkal oleh Zach.
"Menjelaskan apa lagi? Semua ini sudah cukup untuk dijadikan bukti tindakan busukmu."
"Cukup Zach. Biarkan Alger memberikan penjelasannya dulu," ucap Rebecca dengan nada tinggi agar Zach tidak bertindak ceroboh. Zach mendengus sebal mendengarnya.
"Jelaskan Alger," sambungnya lagi. Yang di angguki oleh Alger. Kini sikapnya sudah mulai tenang. Meski masih ada rasa tidak percaya. Namun dia mencoba mengendalikan dirinya agar tidak dikuasai emosi yang meledak-ledak.
"Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang monster itu. tadinya aku hanya berjalan-jalan keluar, lalu tidak sengaja bertemu dengan monster yang menyerupai laba-laba yang sangat besar. Monster itu hendak memakan korbannya, lalu aku mencoba untuk menyelamatkan pria malang itu dengan merebutnya dari monster itu. Merasa terganggu dengan kehadiranku disana monster itu malah menyerangku, dan darah yang ada ditubuhku ini bukanlah darah pria yang kutolong, melainkan darah monster itu yang kabur saat aku menancap kan tombak es padanya. Lihatlah, darah ini bahkan terlihat sedikit kehijauan. Mana ada vampir yang memiliki darah seperti ini," ucap Alger dengan penjelasannya yang sebenarnya.
Rebecca nampak berfikir sejenak mempertimbangkan ucapan Alger. Apa yang dikatakannya ada benarnya juga. Bercak darah itu terlihat kehijauan. Becca mengangguk pelan seolah menyetujui ucapan Alger.
"Ada apa ini?" ucap Zara yang tiba-tiba hadir disana saat mendengar suara keributan.
"Alger, apa yang terjadi padamu?"
"Zara. Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan monster yang membuat keresahaan di kerajaan ini. Aku juga sempat berkelahi dengannya tadi. Tapi Zach malah menuduh bahwa akulah monster yang meneror kerajaan ini."
"Zach, dimana kemampuanmu yang bisa membaca pikiran itu. Kenapa tidak kau gunakan?" tanya Zara datar, merasa kesal karena Zach bertindak semaunya. "Alger kau baik-baik saja?" ucap Zara kembali menatap Alger.
"Aku baik-baik saja! Tapi tidak dengan pria yang sempat kuselamatkan tadi, dia sepertinya sedang sekarat," jawab Alger menunduk lesu.
"Kalau begitu aku akan mengobatinya," ucap Zara segera menuju pria malang itu untuk mengobatinya.
"Alger. Dimana kau melihat monster itu melarikan diri?" tanya Rebecca padanya.
"Aku melihat dia lari masuk kedalam hutan," jawabnya.
"Kalau begitu kita harus bersiap untuk memburunya, dan kau Alger sebagai penunjuk jalannya," ucap Rebecca tegas yang disetujui oleh mereka semua.
Alger meninggalkan tempat itu melangkah pergi, namun langkahnya terhenti saat melihat Zach yang masih bergeming disana. "Aku tahu kau membenciku, tapi jangan kau jadikan kebencianmu itu sebagai alasan untuk merusak nama baikku. Karena tujuan kita disini sama,
sama-sama ingin membunuh Erios. Dan sama-sama menyukai Zara," ucap Alger tegas seolah memberi peringatan pada Zach agar jangan mengusiknya. Lalu ia melangkah pergi.
"Lebih baik kau buang jauh-jauh perasaan mu itu pada Zara. Karena sebentar lagi dia akan menjadi istriku, kau tidak akan bisa bersamanya. Perasaanmu hanya akan menyakiti dirimu sendiri," ucap Zach sengaja menekankan ucapannya agar Alger sadar akan posisinya. Membuat pria itu kembali mengingat bahwa memang diantara mereka tidak ada apa-apa.
Alger menghentikan langkahnya, "Jangan pernah menyuruhku berhenti untuk mencintainya, karena aku tidak akan pernah melakukannya. Meski aku tidak bisa memiliki nya namun aku akan tetap mencintainya dengan caraku sendiri." ucap Alger datar dan terdengar pahit. Lalu ia segera melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Zach menipiskan bibirnya dan mendesah pelan. Kekeras kepalaan Alger menimbulkan beban tersendiri baginya. Bagaimana jika Alger melakukan segala cara untuk mendapatkan Zara. Batinnya.
***
Zach dan Rebecca membawa beberapa pasukannya untuk ikut dalam pencariannya. Beberapa dari mereka memiliki kemampuan memanah jitu, dengan racun diujung panah mereka. Dan ada juga yang membawa gada berpaku.
Mereka memulai pencarian dengan memasuki hutan, perjalanan mereka sudah begitu jauh namun belum juga melihat tanda-tanda kehadiran monster mengerikan itu.
"Alger, apa kau yakin disini tempatnya?" ucap Rebecca sembari menatap kesekeliling tempat itu, suasana yang begitu mencekam serta udara yang terasa lembab.
"Aku yakin Becca, aku melihat sendiri monster itu berlari ke arah sini," jawab Alger dengan penuh keyakinannya. Sayang sekali monster itu tidak bisa dilacak bahkan sangat sulit untuk mendeteksi gelombang energinya. Rebecca sudah mencoba melacaknya dengan cermin yang biasa dia gunakan, namun hasilnya nihil. Monster itu sangat pandai dalam menyembunyikan dirinya.
"Hanya ada satu cara," gumam Rebecca pelan. "Miki ...," ucap Rebecca yang langsung dipahami oleh mereka semua. Miki memiliki kemampuan bisa memanggil hewan dan juga mahkluk berupa monster dengan caranya sendiri. Miki mengangguk dan langsung memulainya.
Miki merapalkan mantranya dengan sangat fokus, membuat suasana disana menjadi semakin sunyi, lalu tidak berapa lama angin mulai berhembus perlahan namun begitu terasa hangat dikulit. Samar-samar mereka mulai mendengar suara gemuruh namun masih belum menemukan dimana sumber suara itu. Sampai akhirnya Zach mendekati sebuah kolam yang begitu keruh seperti sebuah kubangan.
Terlihat berwarna gelap dan menjijikan. Beraroma busuk disertai gelembung aneh. Gerakan yang secara perlahan dan membuat mereka semua merasa waspada. Siap siaga jika ada serangan secara tiba-tiba. Mereka memegang erat pedang masing-masing.
Zach mendekati kubangan itu dan merasakan gelombang energi yang juga begitu samar. Tidak begitu pekat dan nyaris tak terdeteksi. Secara bersamaan terdengar suara geraman aneh dan kubangan itu semakin bergerak-gerak. Lalu tiba-tiba...
BRUAKKKK .........