AUTHOR POV
Penyesalan tanpa sebuah tindakan hanya akan membuatmu akan lebih bertambah menyesal. Itulah yang menjadi motivasi Zach dalam mencari Zara saat ini. Baru saja Zach ingin melangkah, untuk melanjutkan pencarian nya. Zach melihat cahaya perak kebiruan yang berbentuk bulat. Seseorang sedang memasuki hutan dimana tempat nya berada.
"Becca!!" pekik Zach dengan mata berbinar, melihat kakaknya datang menemuinya yang diiringi Miki dan Sargha dibelakangnya.
"Zach, bagaimana keadaanmu? Apa kalian baik baik saja?" tanya Rebecca dengan raut wajah khawatir.
"Aku baik baik saja. Tapi ..." Zach menggantung ucapan nya. "Tapi apa? Dimana Zara?" sela Sargha yang menyadari ketiadaan Zara disana. Kebisuan Zach membuat Sargha bertambah cemas. "Katakan Zach dimana Zara?" bentak Sargha mulai tidak sabar.
"Zara pergi," ucap Zach pahit.
"Apa? Kenapa Zach? Apa yang membuat Zara pergi?" tanya Rebecca penasaran.
"Ada roh jahat yang memakai raga Silva untuk mengelabui kami, dia membuat tuduhan pada Zara agar aku tidak mempercayainya."
"Sial ... Itu artinya kita terlambat memberitahu mu bahwa itu bukanlah Silva. Navile sengaja menjebak mu, agar kalian terpisah dan Navile dengan mudah menangkap Zara," ucap Rebecca panik.
"Lalu kau lebih percaya pada roh jahat yang memakai raga mantan kekasih mu itu. Benar kan!!" celetuk Sargha yang sudah menyadari apa yang akan terjadi. "BERENGSEKK ... Aku membiarkan Zara bersamamu karena ku pikir kau benar benar mencintai nya, tetapi aku salah. Kau hanya menjadikan Zara sebagai pengisi kekosongan mu saja, saat mantan mu itu kembali, kau malah mensia sia kan Zara begitu saja. Kau memang Berengsek." murka Sargha, menarik kerah baju Zach dan melayang kan tinjunya ke wajah Zach. Sehingga membuat Zach terhuyung jatuh dan darah segar mengalir di sudut bibirnya. Entah mengapa saat ini Zach merasa lemah tidak melawan Sargha sama sekali. Padahal kemampuan Zach jauh lebih hebat dari pada Sargha. Mungkin karena semua ucapan Sargha semuanya benar.
"Sargha hentikan!!" ucap Rebecca menahan tangan Sargha, saat Sargha ingin melayangkan tinjunya lagi ke wajah Zach. " Ini bukan saatnya untuk menghakimi, kita harus segera mencari Zara sebelum Navile yang menemukan nya," sambung Becca yang membuat Sargha menghentikan aksinya. Tapi mata Sargha masih menatap tajam Zach dan nafasnya pun masih memburu.
"Becca. Apa yang terjadi? Kenapa Navile juga mengincar Zara?" tanya Zach semakin panik. "Dengar Zach, kami sudah berhasil membuat kaum kita dan para Assassin untuk berada di pihak kita. Aku menunjukan bukti kejahatan Navile pada mereka. Dan untungnya mereka percaya dan mau bergabung bersama kita untuk menghukum Navile. Sial nya saat itu Navile sudah mengetahui bahwa dia sudah menjadi buronan dan memilih kabur. Aku rasa Navile mengubah rencana nya dengan melibatkan Zara sebagai kelemahan kita. Dan aku juga yakin bahwa Navile sudah mengetahui bahwa Zara adalah pemilik darah abadi," ucap Rebecca menjelaskan pada Zach.
"Maafkan aku ... Aku memang bodoh Becca. Aku benar benar menyesal," ucap Zach memperlihat kan raut penyesalan nya.
"Sudah Zach, semuanya sudah terjadi. Setiap penyesalan adalah pengalaman dan pengalaman akan membawa kita pada kebijaksanaan. Penyesalan itu selalu datang di akhir biar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar. Jadi sekarang bangkitlah, simpan penyesalanmu untuk nanti. Yang terpenting saat ini kita harus segera mencari Zara," ucap Rebecca menepuk pundak adiknya itu, untuk menguatkan nya.
Zach mengangguk patuh, kehadiran Rebecca membuatnya merasa lebih baik. Rebecca pun tersenyum tipis. Menyadari perubahan besar didalam diri adiknya itu. Bahwa selama ini Zach tidak pernah merasa semenyesal ini saat melakukan kesalahan, baik yang di sengaja maupun tidak. Zach tidak pernah perduli karna sikap nya yang arogan. Tapi kali ini berbeda. Sepertinya Zach sangat mencintai Zara, batin Rebecca.
"Bagaimana cara kita mencari Zara Becca. Gelombang energi nya tidak terdeteksi," ucap Zach frustasi.
"Tenang saja, Miki akan membantu kita," ucap Rebecca menoleh ke arah Miki.
Miki segera membuka mulutnya memperlihat kan dimana Zara berada. Rebecca melebarkan matanya saat menyaksikan Zara bertarung dengan Navile. "Gawatt .... Kita harus menuju utara sekarang juga, Zara sedang bertarung melawan Navile," ucap Rebecca panik. Mendengar itupun membuat Zach dan Sargha menjadi gusar.
"Ini semua gara gara kau Zach, mulai sekarang aku tidak akan membiarkan Zara bersama mu lagi. Aku akan merebutnya darimu," ucap Sargha dingin dengan nada ancamannya yang kental.
"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Zara hanya milikku, sampai kapanpun akan seperti itu," ucap Zach yang mulai terpancing emosinya.
"Cihh ... Saat bertemu Silva, apa kau berfikir seperti itu," kata Sargha dengan sinis.
"HENTIKAN KALIAN BERDUA ... Tidak ada waktu untuk berdebat, kita harus menolong Zara sekarang juga," bentak Rebecca yang menyadarkan Zach dan Sargha bahwa saat ini Zara berada dalam bahaya besar.
Mereka segera membelah hutan menuju utara dimana tempat Zara bertarung dengan Navile. Mereka melaju dengan kecepatan penuh, sampai akhirnya mereka sampai di tempat itu. Mereka bisa merasakan gelombang energi Naviel, tapi tidak menemukan siapapun, hanya ada bercak darah yang berceceran di tanah. Lalu Miki mengarahkan tangan nya kesebuah pohon besar yang berada sekitar sepuluh kaki dari tempat mereka saat ini, dengan cepat Zach menuju pohon itu, dan betapa kagetnya dia melihat Navile yang bersiap ingin menghisap darah Zara.
"Dasar kau pengecut. Bukan dia lawanmu yang sebenarnya, tapi aku!!" maki Zach, menerjang tubuh Navile dengan kecepatan penuh. Navile yang belum siap dengan serangan itu, terpental jauh. Rebecca segera mendekati Zara untuk memeriksa kondisinya. Sementara Zach dan Sargha menyerang Navile tanpa henti.
"DASAR KAU PENGECUT, BISA BISANYA KAU MENYERANG SEORANG WANITA. KAU TIDAK PANTAS DISEBUT SEBAGAI LELAKI" maki Zach dengan memukuli Navile tanpa ampun. Namun disaat kondisi Navile yang sudah berlumuran darah dia masih saja sempat tertawa jahat.
"Hahaha ... Zach yang hebat rupanya sangat mencintai wanita itu. Aku sangat menyesal karena tidak mencicipinya dulu. kau pasti belum pernah melakukan itu dengan nya kan?" ucap Navile yang membuat Zach bertambah murka. di hutan itu tidak ada satupun yang bisa menggunakan sihir, namun kekuatan Zach tetap tidak tertandingi. Zach terus menghajar Naviel dengan brutal, Zach memelintir tangan Navile sampai dia berteriak kesakitan.
"BUNUH SAJA AKU ZACH!!" pekik Navile di sela rasa sakit yang dia rasakan.
"TENTU. Tanpa kau minta aku memang akan membunuhmu, dengan cara yang akan selalu kau ingat di alam baka sana," ucap Zach yang membuat siapapun bergidik ngeri mendengarnya. Segala macam amarahnya sudah sangat memuncak.
***