JERITAN KEMATIAN

1022 Kata
Aarrgghh........" Teriakan Navile menggema di hutan itu, jeritan kesakitan yang dia rasakan begitu menyiksa nya sampai dia terus memohon agar Zach segera menyudahi penderitaan nya. Namun Zach tetap lah Zach yang kejam, sisi iblis nya muncul tidak memperdulikan teriakan Navile yang membuat siapa saja yang mendengar nya ngeri dan ketakutan. Seperti orang kesetanan Zach terus menyiksa nya tanpa henti, membalaskan dendam atas semua kejahatan Navile pada keluarga dan orang yang di cintainya. Semua amarah dan dendam langsung menyeruak membuat diri Zach layaknya iblis tak punya hati. Bughh Zach menghantam Navile dengan gada milik Sargha dengan bengis. Hingga darah hitam mengucur dari kepalanya. Rasa pening sekaligus nyeri bercampur aduk menjadi satu. Naviel tidak punya kesempatan untuk melawan ataupun melarikan diri. "Ini untuk ibuku..." Bughh "Ini untuk ayahku, dan semua kekacauan yang kau buat di kerajaan Flourenc." Bugh "Ini untuk Silva." Bughhh "Dan ini untuk Zara." Sargha hanya menjadi penonton saat Zach menghajar Navile sampai mati menggenaskan. Tempat itu berubah menjadi penuh dengan genangan darah Navile, sampai tubuh Zach pun ikut terkena percikan darah Navile. "Sudah cukup, dia sudah mati " ucap Sargha menahan tangan Zach. "Zara." gumam Zach segera berlari dan melepaskan gada milik Sargha dari genggaman nya, lalu menemui Zara yang telah di evakuasi oleh Rebecca. "Becca, bagaimana keadaan nya?" tanya Zach yang khawatir melihat Zara yang memejamkan matanya dengan rapat. "Luka nya sangat parah Zach. Aku rasa dia bukan hanya mengalami luka luar, namun juga luka dalam yang cukup serius," ucap Rebecca menjelaskan dan memperlihat kan beberapa luka yang menganga di tubuh Zara. Becca juga merasa bersalah dengan dirinya sendiri, dia merasa gagal dalam melindungi Zara. Padahal Rebecca sudah berjanji akan membantu dan melindungi keluarga kenshington. "Bukankah dia pemilik darah abadi, dia akan baik baik saja kan?" Siapapun bisa melihat betapa Zach sangat mencemaskan Zara. "Ya, Zach dia akan baik baik saja. Tenanglah." "Kita harus membawa Zara ke kerajaan Flourenc, untuk segera di tangani," ucap Rebecca yang di angguki oleh mereka semua. Mereka pun keluar dari hutan ilusi menuju kerajaan Flourenc. Tanpa mereka sadari ada mahkluk penghisap darah lainnya yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Mahkluk itu di perintah kan untuk mengintai gerak gerik Zach untuk mencari kelemahan nya. Zach sangat di takuti oleh semua mahkluk di dimensi itu karena sangat kuat dan hebat, sehingga sangat sulit untuk melumpuhkan nya. Belum lagi kekuatan sihirnya yang luar biasa, karena menghisap darah dengan jumlah di atas rata rata, membuat mahkluk lain merasa terancam. *** Zach menatap pilu wajah Zara yang masih menutup matanya dengan rapat. Meski luka robekan luar yang menganga kini telah tertutup rapat, namun luka dalam Zara yang cukup seriuslah yang membuatnya masih memejamkan matanya. Zach menggenggam erat dan sesekali mengusap tangan Zara. "Zara. Kumohon sadarlah, bukalah mata mu Zara. Bagaimana kau akan memarahi ku, jika kau masih menutup matamu. Aku bisa menerima hukuman apapun darimu Zara, tapi kumohon jangan hukum aku dengan pergi meninggalkan ku, karena aku tidak akan sanggup," lirih Zach dengan suara serak. Matanya berkaca kaca, dengan sekali kedip saja air matanya akan mengalir, namun Zach tetap menahan nya. "Sudah Zach biarkan Zara beristirahat. Dia akan baik baik saja," ucap Rebecca menepuk pundak adiknya itu. "Tidak. Aku akan tetap disini menemani nya. Kalian istirahat lah, biar aku yang menjaga Zara," jawab Zach tegas. Rebecca menghela nafas, dan memberi isyarat pada Sargha dan Miki untuk keluar, meninggal kan Zach dan Zara. Miki mengangguk patuh, sedangkan Sargha meski enggan, namun dia selalu bersikap bijak sana, tidak mengutamakan emosi. Meski saat itu dia sangat ingin sekali menghajar Zach. Mereka pun beranjak dari kamar dimana Zara beristirahat. Dan tersisa Zach sendirian yang menemani Zara. Seketika suasana di tempat itu terasa sunyi. Zach meletakkan tangan Zara di pipinya, matanya tidak berpaling sedikitpun dari Zara. Meski dia tahu bahwa Zara akan baik baik saja, namun Zach merasa belum lega jika mata Zara belum juga terbuka. Zach memejamkan matanya. Baginya, tidur bukanlah sekadar melepas lelah, melainkan sebuah pelarian. *** "I-bu ... " lirih Zara yang mulai sadar, perlahan dia membuka matanya. Zach yang mendengar suara Zara langsung mengangkat wajahnya, yang juga ikut tertidur sebelum nya. "Zara ..." ucap Zach sumringah. Zara mengedarkan pandangan nya dan menatap Zach dingin. "Zara ...kau baik-baik saja?" ucap Zach memastikan tubuh Zara yang sudah sembuh total, wajah nya sudah terlihat segar seperti biasanya. "Dimana aku? Kenapa kau disini?" ucap Zara bingung, namun hatinya masih terasa sakit ketika melihat Zach dihadapan nya saat ini. Zara ingat Bagaimana Zach membela Silva dari pada mempercayai nya. "Kau di kerajaan Flourenc Zara, apa kau butuh sesuatu, air, atau apa?" "Jangan bersikap seolah kau perduli padaku Zach, karena aku tidak butuh itu. Bukan hal yang mudah melepaskan atau mempertahankan apa yang semula baik tiba-tiba berubah drastis menjadi amat buruk,” ucap Zara dengan wajah dingin nya. "Zara ... Maafkan aku, aku tau aku salah," ucap Zach mencoba memegang tangan Zara, namun belum sempat itu terjadi Zara lebih dulu menepisnya. "Zara ... Kau sudah sadar? Bagaimana keadaan mu?" ucap Rebecca yang berjalan cepat memasuki kamar Zara, diikuti oleh Sargha dan Miki dibelakang nya. "Ya. Aku baik-baik saja, jangan khawatir," ucap Zara tersenyum ramah, menunjukan bahwa dia memang baik-baik saja. Tanpa bicara apapun Sargha langsung memeluk erat Zara. Zara pun membalas pelukan hangat itu. Zach memalingkan wajahnya. Tidak tahan baginya melihat adegan itu. "Kakak ... Aku juga ingin memeluk mu." ucap Miki sedikit ragu melihat tatapan tajam Zach, mengerti akan situasi Miki, Zara pun memeluk Miki dan mencium puncak kepala nya. "Aku merindukan mu Miki." "Dasar setan kecil. setelah Zara memaafkan ku, tidak akan ku biarkan siapapun lagi bisa memeluk nya," batin Zach yang menggerutu kesal. "Kami sangat mengkhawatirkan mu Zara, terutamanya Zach. Dialah yang selalu menemani mu disini sampai kau sadar. Syukurlah sekarang kau sudah sembuh." ucap Rebecca sedikit melirik Zach untuk mengharumkan namanya di hadapan Zara. Tapi tidak sesuai dengan dugaan Rebecca, Zara malah tidak terlalu peduli saat mengetahui tentang Zach yang menemani nya. Baginya Zach melakukan itu mungkin karena merasa bersalah atas perbuatan nya. "Terimakasih, dan maaf sudah membuat kalian semua khawatir," ucap Zara tersenyum tulus, tidak berniat melirik kearah Zach sedikit pun. Tentu saja karena masih sakit hati mengingat bagaimana sikap pria itu. Mungkin dengan mendiamkannya bisa membuat sedikit pelajaran bagi pria itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN