"Tuan Putri Rebecca. Dewan kerajaan ingin meminta anda untuk menghadiri rapat penting. Perihal semakin banyaknya, kaum kita yang hilang. Terutama nya seorang wanita muda," ucap salah satu pengawal kerajaan, yang membuat mereka semua heran.
"Bukankah Navile telah mati? Lalu kenapa masalah pada kerajaan belum tuntas," ucap Zach menggerutu kesal.
"Navile memang sudah mati. Tapi Erios masih hidup, tentu ini semua pasti ulahnya. Sebelum Erios mati maka masalah pada kerajaan Flourenc masih bertambah. Bahkan bisa lebih parah dari ini. Obsesi nya yang ingin menjadi penguasa immortals, sangatlah kuat," ucap Rebecca tegas.
"Aku akan menghadiri rapat dewan sekarang," sambungnya. Rebecca segera pergi dari sana dengan wajah seriusnya. Rapat yang akan diadakan sangatlah penting, karena menyangkut banyaknya kaum yang dirugikan. Meski seorang wanita, namun Rebecca sangatlah cocok untuk menjadi pemimpin kerajaan itu. Dikarnakan sikapnya yang tegas serta bijaksana dalam bertindak, sangat berbeda dengan Zach yang lebih suka menyelesaikan masalah dengan cara bertarung dan langsung menyerang tanpa ampun. Itulah sebabnya para dewan tidak ingin melibatkan Zach dalam rapat, untungnya Zach tidak pernah memperdulikan hal itu.
"Sebaiknya kalian berdua juga keluar, Zara harus beristirahat," ucap Zach dingin. Miki menyetujui ucapan Zach dan segera keluar, tapi tidak dengan Sargha. Sargha masih bergeming di tempatnya menatap tajam Zach, mereka seakan sedang bertarung lewat sebuah tatapan yang mengerikan.
" Zara ... Jika mahkluk ini melakukan hal yang tidak kau sukai maka panggil saja aku, akan kubuat dia menyesali setiap perbuatan nya," ucap Sargha datar namun penuh ancaman. Lalu segera meninggal kan mereka berdua. Zach hanya mendengus menanggapi ucapan Sargha. Tatapan kebencian darinta tak juga hilang. Kehadiran Sargha membuat emosinya sering naik turun.
"Kau juga keluar." seru Zara dengan wajah dingin nya. Bahkan tidak menatap Zach sama sekali saat mengatakannya.
"Tidak, aku akan menemani mu disini Zara." ucap Zach menggeleng kuat.
"Aku tidak butuh ditemani, keluarlah." sela Zara.
"Zara ... Sampai kapan kau akan bersikap dingin padaku seperti ini." ucap Zach mulai kesal dengan sikap Zara yang dingin padanya. Zara bahkan tidak memperdulikan keluhan Zach padanya.
"Apa maumu Zach? Bukankah kau sudah menentukan sendiri pilihan mu? Dan dimana wanita itu sekarang?" ucap Zara dengan wajah datarnya. "Wanita itu bukanlah Silva, melainkan roh jahat yang memakai raganya." ucap Zach mencoba menjelaskan yang sebenarnya.
"Oh begitu, lalu dimana Silva?"
"Dia sudah mati." ucap Zach dengan raut kesedihan yang tidak bisa disembunyikan. "Zara ... Aku tau aku salah, aku sudah menyakitimu, aku bahkan tidak bisa menyembuh kan luka yang telah kubuat. Tapi kumohon jangan menyiksaku seperti ini. Jika kau marah maka pukul saja aku, atau jika perlu kau boleh membunuhku dengan tanganmu sendiri."
Tanpa di duga Zara malah memeluknya, "Kau memang jahat Zach, kau telah menyakitiku. Tapi bodohnya aku kenapa masih mencintai mu." ucap Zara memukul pelan d**a Zach.
"Aku juga sangat mencintai mu Zara. Itulah sebab nya aku tidak bisa jika sebentar saja kau mendiamkan ku, apalagi meninggalkan ku." balasnya.
"Jika kau memang mencintai ku, lalu kenapa kau tidak percaya padaku? Dan jika wanita itu benar-benar Silva, apa kau tetap akan ada disini saat ini bersama ku?" ucap Zara melampiaskan semua amarah nya.
"Saat itu sakaw darahku kambuh, aku tidak bisa berfikir jernih. Tapi percayalah aku benar-benar ingin mengejarmu waktu itu. Tapi roh jahat itu malah pingsan yang membuat ku jadi bingung, aku yang masih menganggap itu Silva, tidak mungkin meninggal kan nya begitu saja." ucap Zach jujur.
Zara menghembuskan nafas panjang. "Sudahlah ... Apa yang telah terjadi biarlah terjadi. Kita tidak bisa mengubahnya lagi."
"Jadi ... Apa kau sudah memaafkan ku?" ucap Zach menahan senyum nya.
"Tidak semudah itu. Jika kesalahan bisa teratasi hanya dengan meminta maaf, lalu untuk apa adanya penjara dan hukuman?"
"Jadi kau ingin menghukum ku begitu?" ucap Zach sambil bersidekap.
"Ya." jawab nya singkat.
"Kalau begitu katakan, hukuman apa yang ingin kau berikan padaku?"
Belum sempat Zara menjawab, pintu telah terbuka paksa. Menampilkan sosok Rebecca dengan raut kecemasan nya. "Becca ada apa?" ucap Zach dengan nada sedikit kesal karena mengganggu suasana nya bersama Zara. Sargha dan Miki pun muncul dengan raut wajah yang tidak kalah cemas.
"Heii ... Ada apa ini, kenapa wajah kalian terlihat aneh."
"Zach. Kita harus segera kekastil Erios untuk menyelamatkan Ratu Anna, ibunya Zara. Selama ini Erios bisa mengendalikan pikiran semua orang melalui energi Ratu Anna. Jika kita berhasil menyelamatkan nya, maka Erios bisa kita kalahkan," ucap Rebecca tegas.
"Bagaimana cara kita kesana Becca, jika itu mudah, pasti sudah kulakukan sejak dulu," ucap Zach bingung. Banyak sihir yang sulit ditembus. Dan penjagaan Erios sangatlah ketat. Alih-alih ingin menyeranh, Bisa-bisa mereka duluan yang mati karena serangan tak kasat mata.
"Kak Zach benar, Kastil Erios sangat sulit di tembus karna di dalam nya seperti sebuah Labirin jika sudah masuk maka akan sangat sulit untuk keluar," ucap Miki menjelaskan, karena dia pernah masuk kesana saat diculik oleh anak buah Erios.
"Kita juga harus berhati hati di dalam kastil itu banyak ilusi yang di ciptakan Erios untuk mengelabui musuh," sambung Sargha.
"Kita harus mengatur strategi sebaik mungkin, kita tidak bisa langsung menyerang nya dengan membawa pasukan. Erios akan lebih mudah mengalahkan kita. Pasukan akan menyerang saat kita telah berhasil menyelamatkan Ratu Anna." ucap Rebecca dengan rencana yang telah di siapkan nya dengan matang.
"Kita juga tidak mungkin langsung datang secara bersama an," sela Sargha mengingat kan bahwa kemampuan Eriso tidak bisa ditebak. Erios adalah iblis yang sangat berbahaya.
"Baiklah kalau begitu kita harus berpencar, Zara, kau harus ikut Zach dan Sargha mereka akan melindungi mu karna Erios sangat mengincar darah mu. Zach memiliki kecepatan yang hebat dalam berkelahi dan juga bisa membaca pikirkan, sedangkan Sargha memiliki prediksi yang kuat. Aku akan bersama Miki untuk mengalihkan perhatian anak buah Erios. Saat kami di kepung nanti Miki akan memanggil monster hewan nya yang mematikan," ucap Rebecca tegas.
"Aku juga akan mengumpulkan assassin untuk membantu misi kita. Bagaimana pun caranya misi ini harus berhasil. Kita tidak bisa menunda nya lagi, semakin kita menunda maka semakin banyak pula korban berjatuhan. Dan itu akan membuat Erios semakin tak terkalah kan," sambungnya dengan raut wajah yang sangat serius. Peran Rebecca bahkan melebihi Raja dari Flourenc sendiri dengan Sikapnya yang seperti seorang pemimpin sejati.
***