Kami telah sampai di depan gerbang kastil Erios. Bangunan yang terlihat menjulang tinggi dan kokoh, namun udaranya terasa dingin sunyi. Kami belum melihat tanda tanda anak buahnya disana. Gerbangnya pun sangat mudah untuk dibuka, seakan kedatangan kami memang disambut oleh Erios sendiri. Dan aku yakin hal ini pasti Rebecca dan Miki yang telah melakukan nya.
Aku, Sargha dan Zara. Kami bertiga telah memasuki kastil Erios. Sedangkan Becca dan Miki telah duluan sampai didalam, membuat jalan pada kami, dan mengalihkan perhatian para anak buah Erios. Suasana di dalam kastil itu terasa dingin dan mencekam. Membuat siapapun merasa sedang berada di dalam rumah hantu. Tapi sayang nya ini jauh lebih mengerikan dari pada rumah hantu. Lebih tepatnya kami sedang mendatangi rumah iblis yang mengerikan.
Sargha berjalan lebih dulu, memimpin kami. Sementara aku berada di samping Zara untuk siap siaga menjaga nya. Baik dari serangan musuh maupun sihir.
Kami berjalan menyelusuri koridor di dalam kastil itu yang seperti sebuah labirin. jika kami lengah sedikit saja, maka kami akan terpisah. Temboknya sangat kokoh dengan warna yang sudah buram.
Bugh
Sesuatu yang ambruk, tepat di depan kami, membuat kami kaget. Aku yakin dia pasti anak buah Erios yang mati karena serangan Rebecca dan Miki. Tubuh nya yang terkoyak serta darah berlumuran di lantai, bagiku hal seperti ini sudah biasa. Tapi Bagaimana dengan Zara! Aku melirik ke arahnya, sesuai dugaanku, dia terlihat mual ingin muntah karena belum terbiasa melihat hal seperti ini. Zara menoleh kearahku, aku memberi sebuah isyarat padanya seolah mengatakan, tenanglah semua akan baik-baik saja. Aku rasa Zara mengerti, lalu kami melanjutkan perjalanan kami. Zara menyembunyikan wajahnya di punggungku, tidak berniat melihat ke arah si mayat lagi.
Dari kejauhan kami melihat Becca yang bertarung dengan segerombolan anak buah Erios yang bewujud manusia berkepala hewan, dan memiliki tanduk yang luncip. Dan tidak jauh dari sana ada Miki yang sedang berusaha memanggil ulat gemuk berwarna hijau. Tadinya ulat itu begitu kecil, namun saat terkena udara, ulat itu berubah menjadi semakin besar, dan menjijikan. Ulat itu mengeluarkan lendir dari mulutnya dan langsung menyemburkan ke arah musuh yang membuat musuh jadi mati seketika. Aku sangat takjub melihatnya, aku rasa lendir yang dikeluarkan ulat itu memiliki racun yang mematikan.
Meski Rebecca cukup Tangguh namun dia bisa kewalahan juga saat segerombolan anak buah Erios berdatangan untuk menyerbu. Dan kali ini yang datang bukan iblis, melainkan mahkluk penghisap darah. Sargha yang melihat itu segera mengambil alih, menggantikan posisi Rebecca.
"Zach, Bukan saat nya untuk menonton," ucap Rebecca menuju ke arah kami. Aku mengangguk patuh dan segera membantu Sargha, menghabisi para iblis itu. Sedangkan Zara bergegas mengobati luka pada tubuh Rebecca. Tanpa melihat lagi kearah gadis itu, aku langsung saja pada tujuanku.
Aku langsung menerjang tubuh vampire yang mencoba menyerang Miki. Tendangan maut yang aku layangkan mampu membuatnya merasakan dorongan energi dari tenaga dalamku.
Vampir itupun terlental jauh. Aku yakin tubuhnya pasti remuk didalam.
"Dasar Kau pengecut, beraninya dengan anak kecil!" aku memaki, bersiap-siap mengeluarkan rantai api untuk membantai semua anak buah Erios. Aku melihat Sargha dengan gesit mematahkan leher para vampire yang menyerangnya. Benar kata Becca, kemampuan prediksi Sargha memang patut di acungi jempol. Tapi biarpun begitu, aku juga tidak kalah hebatnya dari dia. Hanya saja cara kami membunuh sangat jauh berbeda. Sargha lebih suka menghabisi musuh dengan cara yang cepat, dan tidak bertele-tele. Sedangkan aku lebih suka mendengar jeritan musuhku dulu sebelum menghabisi nya.
Aku menjerat leher vampire itu tanpa ampun. Tidak memperdulikan teriakannya sama sekali. Sedangkan Sargha sepertinya mengeluarkan bongkahan es yang berbentuk kristal, dan melemparkan pada iblis yang menyerang kami secara brutal.
Iblis serta mahkluk penghisap darah datang lagi. Tiada henti, aku melihat Sargha yang terluka parah akibat kuku tajam mahkluk itu yang sekeras baja. "Sargha ... Menyingkirlah, aku akan menggantikan posisi mu," ucap Rebecca yang kembali
Masuk ke arena pertempuran, dengan kondisi seperti semula. Bahkan tenaganya lebih kuat berkali-kali lipat setelah di obati Zara.
"Tidak Becca. Aku masih bisa ...!" saut Sargha tegas, tapi siapapun bisa melihat bahwa dia sedang berusaha menahan sakit yang luar biasa, lalu memuntahkan cairan kental berwarna merah gelap. Serta darah yang mengucur deras dari punggungnya yang terkoyak. Benar-benar terlihat miris. Aku yakin dia tidak akan bisa bertahan jauh lebih lama.
"Jangan membantah Sargha. Cepat pergilah, obati lukamu dulu," ucap Rebecca dengan nada tinggi kali ini. Merasa tidak ada alasan untuk membantah lagi, Sargha segera menyingkir dan menuju Zara. Dengan sigap Zara langsung menyambutnya, dan mengeluarkan api penyembuh dari tangan nya.
Aku mengeluarkan dan melempar bola api dari tanganku secara brutal pada iblis itu. Yang membuat beberapa dari mereka terbakar. Sedangkan Miki, aku melihatnya masih berusaha mengeluarkan mahkluk yang menjijikan lainnya. Tanpa diduga salah satu vampire itu mengeluarkan serpihan es yang mematahkan serangan ku mentah-mentah. Serpihan es itu menoreh-noreh ku tanpa ampun, yang membuatku kehilangan banyak tenaga akibat luka-luka yang aku rasakan. Kecepatan ku menurun drastis serta akurasi penyerangan ku pun mulai di pertanyakan. Puncaknya, aku nyaris tidak sanggup menghindar saat vampire itu mengeluarkan lagi serpihan tajam es yang hampir mengenai jantungku. Serpihan tajam itu memang tidak mengenai jantung ku, namun bersarang dengan sukses di perutku.
"Zach, Mundur!" Sargha berteriak memperingatkanku. Melihat kondisiku yang mempriahatinkan, Aku yang tadinya merasa segar bugar, berubah drastis menjadi seratus delapan puluh derajat. Aku mematuhinya dan menuju Zara dengan berjalan limbung. Kepalaku terasa sangat pening, dan aku yakin sebentar lagi akan memuntahkan cairan kental.
"Zach, Kau tidak apa-apa?" tanya Zara dengan kekhawatiran nya.
"Masih hidup, setidaknya," jawabku lemah sambil mencabut serpihan es di perutku dengan kasar. Lukaku jauh lebih parah dari Sargha tadi, sepertinya Zara memerlukan banyak energi kali ini untuk menyembuh kan ku. "Apa kau bisa?" tanyaku melihat wajah Zara yang mulai pucat, membuatku malah lebih khawatir padanya. "Pasti bisa." jawabnya sambil berkonsentrasi untuk menahan apinya agar tidak redup. Api yang dia keluarkan kali ini terlihat lebih hitam, yang membuat rasa sakitku seketika hilang, dan luka yang menganga di tubuhku menutup dengan sempurna.
Setelah api itu redup, aku melihat wajahnya semakin pucat. Tapi dia menutupi nya dengan senyuman hangat. "Pergilah Zach ... Mereka membutuh kan mu." ucap Zara lemah. Aku menggeleng kuat.
"Bagaimana denganmu?" aku bertanya padanya karena aku tahu saat ini dia tidak sedang baik-baik saja.