VERONICA

1006 Kata
ZARA POV Aku berhasil menyembuhkan Zach dari luka nya yang terlihat mengerikan. Tapi hal itu sangat menguras energiku sampai aku lemas dan kepalaku sangat sakit. Tapi aku berusaha bersikap baik-baik saja agar Zach tidak khawatir padaku dan melanjutkan pertarungannya. "Aku baik-baik saja Zach... Cepatlah bantu mereka. Aku hanya sedikit lelah," ucapku mencoba meyakinkan Zach. Zach mengangguk lemah. Aku tahu bahwa aku tidak bisa membohongi Zach, sudah pasti karena dia bisa membaca pikiranku. Tapi aku rasa Zach juga tidak punya pilihan lain. Dia harus membantu Rebecca dan yang lainnya, agar misi ini cepat selesai. Aku melihat Zach Dengan berat hati membalikan tubuhnya dan masuk lagi ke arena pertempuran. Aku merasa sebuah cairan kental dan tekstur nya yang lengket keluar dari hidungku. Sial ... sepertinya hidungku berdarah. Untungnya Zach belum sempat melihat ini. Aku segera mengelap nya agar tidak ada yang khawatir padaku. Aku melihat ke arah Miki yang mulai kelelahan, mungkin karena dia belum terbiasa menggunakan kekuatan nya. Energi nya juga terkuras karena memanggil ulat gemuk yang begitu banyak. Ulat ulat itu menyemburkan lendir mematikan nya pada setiap musuh yang berada di dekatnya. Tapi biarpun begitu para vampier maupun iblis sudah banyak berkurang jumlah nya. Apalagi saat Zach mulai mengeluarkan bola apinya, mematahkan serangan vampir itu mentah-mentah. membuat vampir maupun iblis itu limbung, mati seketika dan menjadi abu. Disisi lain aku melihat Rebecca yang luar biasa lincah. Dia tidak terluka sedikitpun. Kecepatan nya dalam bertarung juga masih sangat stabil. Zara Aku mendengar suara yang seperti memanggil namaku, tapi siapa? Apa mungkin aku berhalusinasi. Zara Zara Suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Tidak, aku yakin aku tidak sedang berhalusinasi. Aku mendengar dengan jelas suara itu. Aku mengedarkan pandangan ku sampai pada satu titik melihat seseorang yang sangat familiar bagiku. Sedang berdiri di ujung koridor, meski aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa wanita itu. Tapi aku yakin dari postur tubuhnya yang sangat mirip dengan ibuku. Apa itu ibu?. Aku segera berjalan ke arahnya. Mencoba mendekatinya, tapi semakin aku mendekat maka dia semakin menjauh. Aku pun melangkah lebih lebar sampai berlari karena takut kehilangan jejak nya. Jika benar itu ibuku kenapa dia berlari. Aku terus berlari mencari sosok ibuku yang hilang entah kemana, sampai aku tidak sadar bahwa aku sudah berada di tempat yang mengerikan. Banyak kelalawar yang bergantungan di sini. Serta aura yang tidak mengenakan. Aku menelan salivaku dengan susah payah. "Zara Kenshington," ucap seorang wanita yang berdiri tepat di belakangku. Aku segera menoleh dan melihat bahwa dia adalah wanita yang tadi memanggilku. Dan Ternyata dia memang ibuku. Tapi ada yang aneh dengan raut wajahnya. Ibuku biasanya hangat dan ceria, serta senyuman manisnya yang tulus saat bersama ku. Tapi kali ini berbeda, aku tidak melihat kehangatan dari pancaran matanya. Raut wajahnya datar dan sedikit pucat. Dan lagi, ibuku tidak pernah memanggil namaku dengan lengkap seperti itu. Tanpa berfikir panjang aku langsung memeluknya membuang semua kecurigaan ku. Melampiaskan semua kerinduan yang selama ini kurasakan. "Ibu ... Apa yang terjadi padamu, apa ibu baik-baik saja? Kenapa ibu terlihat sangat pucat?" ucapku melepaskan pelukan dan menatap nya nanar. "Zara, teman-teman mu itu, mereka bukan mahkluk yang baik. Mereka jahat Zara, mereka ingin menghancurkan mu," aku mengerutkan keningku mendengar nya. "Tidak mungkin bu, merekalah yang membantuku sampai sejauh ini. Mana mungkin mereka jahat," ucapku sesuai dengan perasaanku. mencoba membuat ibu yakin dengan ucapanku. Karena memang rasanya tidak mungkin jika mereka seperti itu. Meski aku baru mengenal mereka semua, namun aku juga tidak sedikitpun memiliki rasa curiga. "Jangan mempercayai mereka Zara, mereka menginginkan darah mu. Mereka membantumu karena mereka ingin membunuh mu. Mereka semua licik, mereka hanyalah lintah b*****h yang ingin memanfaatkan mu untuk kepentingan mereka sendiri." aku kaget mendengar nya, dan semakin membuatku curiga. Jangan-jangan ... Sial. Aku telah ditipu. Aku menghentikan ucapanku dan menatap lurus kearah nya, mencerna setiap ucapan nya. Lalu mengarahkan ujung pedangku kelehernya. "Siapa kau sebenarnya?" ucapku menatap nya tajam. Ternyata wanita ini bukan ibuku, aku sangat yakin karena ibuku tidak pernah sekalipun memaki seseorang. Wanita ini pasti iblis yang menyerupai ibuku. Kurang ajar, sepertinya iblis ini sengaja menjebak ku agar aku terpisah dan mereka dengan mudah mengalahkan kami. Benar-benar licik. "Cepat katakan, siapa kau sebenarnya? Dan dimana ibuku di tahan Erios? Jika kau tidak mau memberi tahuku, maka pedang beracunku ini akan menembus lehermu dan menciptakan sensasi yang tidak menyenangkan," ucapku mencoba mengancamnya. Dia terkesikap, ternyata penyamarannya tidak bisa mengelabui ku. Tanpa ku duga ancamanku malah membuatnya tertawa jahat. Seolah saat ini aku sedang membuat lelucon yang sangat lucu. "Hahahah ... Putrinya Robert Kenshington memang lah cerdas. Tidak mudah untuk di tipu," ucapnya segera mengubah wujud aslinya sebagai iblis. "Aku adalah Victoria ... Yang artinya kemenangan. Akulah sang Ratu iblis yang tidak pernah terkalah kan," ucapnya membanggakan diri, Dengan tertawa jahatnya. Namun aku merasa muak melihatnya. Aku tidak sabar menebas lehernya dan membuatnya menderita. "Cih, kalau begitu kali ini kau akan kalah. Iblis pengecut, kau bahkan lebih rendah dari para lintah yang menjijikan," ucapku dengan nada halus namun terkesan mengejek. Mengucapkan setiap penghinaan seolah-olah ingin meminta segera dibunuh olehnya. Aku bisa melihat api kemarahan dari matanya, Aku memperhatikan kuku tajam yang aku yakin pasti sekeras baja itu bermunculan dan bersiap ingin menyerangku, untung nya aku sudah siap dan langsung menghindar dengan cepat. Aku mengangkat pedangku untuk melawannya. Namun Victoria merapalkan mantranya mengeluarkan sebuah perisai untuk mematahkan seranganku mentah-mentah dan membuatku sedikit terpental. Lalu dia tertawa mengejekku. "Hahah... Jadi hanya seperti ini kemampuan mu. Aku dengar kau sangat hebat, mana kehebatan mu itu cepat keluarkan," ucapnya menantangku. "Bisa-bisa nya Erios ber urusan dengan mahkluk lemah seperti mu," sambungnya. Dengan cara merendahkanku. Menganggap aku adalah mahkluk lemah yang mudah dibantai. Namun dia salah. Dia tidak tahu siapa aku sebenarnya. Aku segera bangkit dan mencoba menyerangnya lagi. Sama seperti tadi seranganku tidak berarti apa-apa baginya. Malah membuatku terpental, aku bahkan tidak bisa menyentuhnya. Kalau begitu, bagaimana caraku akan mengalahkan nya. Jika iblis seperti Victoria saja sehebat ini, bagaimana dengan Erios nantinya. Aku memutar otakku mencari letak kelemahan nya. Namun belum sempat aku berfikir jauh dia sudah mengeluarkan sihirnya yang membuatku limbung dan terhuyung jatuh. Serta kesadaranku yang menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN