BENANG HITAM

1006 Kata
ZACH POV Kami berhasil memenangkan pertarungan melawan anak buah Erios. Aku tersenyum puas menyaksikan mahkluk-mahkluk itu tewas menggenaskan di tanganku. Aku memutar tubuhku mencari keberadaan Zara, namun tidakku temukan dia di tempatnya. Dimana dia? "Becca, dimana Zara?" Bukannya menjawab pertanyaanku, Rebecca justru bertanya balik padaku. "Memangnya dimana dia? Bukankah dia terakhir kali bersamamu!" "Ahh.. Sial," aku memaki frustasi. "Kita harus segera mencarinya, jangan sampai dia berada di tangan Erios," ucap Sargha segera berlari tanpa menunggu persetujuan dari kami. Bahkan Sargha bisa berfikir lebih jernih dariku. Tentu saja karena dia hanya menganggap Zara hanya temannya. Sedangkan aku, aku sangat kekhawatiran wanita itu. Aku berlari mencarinya ke setiap sudut. Namun tidak juga menemukannya. Sial ... Aku benar-benar merasa frustasi. "Becca, apa tidak ada cara untuk melacaknya?" Rebecca sepertinya memikirkan pertanyaan yang terlontar dari mulutku. Dan aku yakin akan menemukan titik terang. "Ada," ucapnya, lalu menoleh ke arah Miki. Ya, benar ... Miki bisa melacak lewat mulutnya. Kami langsung mendekati Miki dan melacak ke beradaan Zara. Betapa kagetnya kami saat mengetahui bahwa Zara di bawa oleh anak buah Erios. Kami melihat Zara tidak sadarkan diri. "Sial .. Apa yang terjadi padanya?" Aku menarik kasar rambutku dan bergegas menemui nya tanpa memperdulikan Rebecca yang berteriak memanggil namaku. Disituasi seperti ini aku tidak bisa berfikir lebih lama. Aku harus cepat sebelum Erios menyerap habis energinya. Segala jenis makian sudah tekumpul semua di ujung lidahku. Lintah k*****t itu sungguh membuatku geram. Iblis pengecut yang sangat licik. Membuat kami sibuk dengan anak buahnya, lalu dia dengan mudahnya menculik Zara dari kami. Aku tidak akan membiarkan nya hidup lebih lama lagi. "Zach berhenti! dengarkan aku dulu." "Tidak Becca! Kita harus segera sampai disana. Zara dalam bahaya besar saat ini." "HENTIKAN ZACH, KAU TIDAK AKAN BISA MASUK KESANA ...." Teriakan Rebecca Membuat ku seketika menghentikan langkahku. "Apa maksudmu aku tidak bisa masuk kesana?" "Tempat itu telah di sihir oleh Erios dengan benang hitam. Jika kau menginjaknya, maka kau akan dengan mudah dikendalikan olehnya," ucap Rebecca tegas, dan hal itu membuatku semakin kesal. "Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyaku mengusap kasar wajahku serta menghembuskan nafas keras-keras karena begitu frustasi. "Satu-satunya cara, kita harus mengirim telepati pada Zara, agar dia memutuskan benang hitam itu dengan cara membakar sumbernya dari dalam," saut Sargha, yang di setujui oleh Rebecca. "Sargha benar! Kalian lakukanlah apa yang harus dilakukan. Sementara aku dan Miki akan memberi petunjuk pada para assasin untuk menyerbu mereka," ucap Rebecca tegas, tanpa membuang-buang waktu dia langsung mengajak Miki pergi. Aku segera berkonsentrasi untuk mengirim telepati pada Zara. Tidak ada respon darinya, mungkin dikarenakan dia tidak sadarkan diri saat ini. Aku mencobanya lagi meski aku begitu muak dengan sensasi sialan yang membuat kepalaku berputar-putar. Ku mohon Zara ... Sadarlah, ku mohon. Aku terus mengucapkan kalimat itu seolah menjadi mantra untukku. Dan seperinya aku berhasil, Zara merespon panggilanku. "Zara, ini aku Zach.. Zara ... " Aku bisa merasakan Zara masih mengumpulkan nyawanya untuk sadar. Dan akhirnya dia menyauti panggilanku. "Dengar Zara, kami tidak bisa masuk kesana karena Erios menyihir pintu sialan itu dengan benang hitam, kau harus membuka sumbernya dari dalam. Hanya dengan cara itu kami bisa menyelamatkanmu. Dan berhati-hatilah," ucapku langsung pada intinya. Dan aku yakin Zara mengerti ucapanku, aku nyaris mengerang ketika memutus telepati diantara kami, yang rasanya tidak kalah menyakitkan. *** AUTHOR POV Zara mengerjapkan matanya ketika merasakan sensasi yang membuat kepalanya sakit. Dengan samar dia mendengar suara Zach yang memanggil namanya. Zara mengerti dengan semua yang dikatakan Zach. Dia harus segera memutus sihir benang hitam itu agar mereka bisa masuk. Tapi Zara masih bingung bagaimana cara melakukan nya. Zara mengedarkan pandangannya sampai pada satu titik melihat ibunya yang melayang di atas udara dengan keadaan telentang tidak sadarkan diri. Di atas tubuh ibunya terdapat sebuah pusaran berwarna perak. Zara segera berlari mendekati ibunya dan ingin meraihnya, namun dia terpental. Di sekeliling ibunya Zara sudah di sihir sehingga tidak bisa ditembus oleh siapapun. Zara tidak kuasa menahan tangisnya, melihat kondisi ibunya yang tidak berdaya. Tiba-tiba muncul sosok wanita yang sempat berkelahi dengannya tadi bersama dengan mahkluk mengerikan dengan wajah iblisnya. Zara bahkan bisa merasakan gelombang energi yang begitu kuat dan mencolok bahkan berkali lipat lebih pekat dari milik Zach. Serta jubah yang melekat pas yang menjadi kebanggaan nya. Zara meyakini bahwa dialah yang bernama Erios itu. Iblis jahat yang ingin menguasai dimensi mereka dan sangat terobsesi ingin menjadi abadi. "Tuanku, apa yang ingin kau lakukan pada mahkluk lemah ini," ucap Victoria yang bergelayut manja padanya, seolah mengejek Zara. "Kau lihat saja nanti Victoria," ucapnya dengan tertawa jahat. Zara memutar otaknya untuk membakar sihir benang hitam yang menjadi penghalang Zach untuk masuk. Lalu pikiran Zara jatuh pada seekor naga yang berada di belakang Erios seperti seorang pengawal baginya. "Dasar Iblis sinting! Bisa-bisanya kau berfikir ingin menjadi abadi. Kau akan lihat bagaimana aku akan menghancurkan kalian sampai berkeping-keping," ucap Zara mencoba memancing kemarahan Erios, namun hal itu justru membuat Erios tertawa keras. "Dasar mahkluk rendahan, beraninya kau menghina Tuanku .." maki Victoria, lalu menendang Zara sampai terpental membentur tembok bangunan itu. Zara meringis kesakitan, dan mencoba untuk bangkit. Lalu bersiap ingin menyerang balik Victoria, namun belum sempat itu terjadi Victoria telah menggerakan tangannya, mengeluarkan sihirnya yang membuat Zara terpental bahkan tidak bisa menyentuhnya. "HENTIKAN VICTORIA ..." Suara bariton yang terdengar menggelegar itu, menghentikan Victoria yang mungkin akan menghajar Zara habis-habisan. Zara terbatuk-batuk menahan sakit ditubuhnya. "Kau tidak boleh menyiksanya sekarang. Aku sangat membutuhkan energinya saat ini untuk menyelesaikan tujuanku. Kalian cepat seret dia dan bawa ketempat yang telah di sediakan," perintah Erios pada anak buahnya. "Gawatt, jika aku ditahan. Bagaimana caranya pintu itu terbuka." batin Zara semakin gelisah saat anak buah Erios mulai mendekatinya. Tanpa pikir panjang Zara melayangkan pedangnya ke arah naga yang ada di belakang Erios, beruntung pedang itu tepat sasaran dan mengenai tubuh naga itu, yang membuatnya memberontak kesakitan akibat racun yang ada di ujung pedangnya. Naga itu terus memberontak kesakitan sampai menyemburkan apinya kemana-mana, dan langsung membakar sihir benang hitam Erios. Tidak butuh waktu lama, Zach dan Sargha pun muncul menembus pintu itu. Seiring dengan kematian naga yang menggenaskan. "Berhasil," gumam Zara tersenyum puas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN