BRAK
Sebuah energi dahsyat menggagalkan aksi Erios dan menghilangkan sihirnya yang mengendalikan pikiran Zach. Semua mahkluk yang ada disana terpental akibat gelombang energi dahsyat tersebut. Kepala mereka terasa pening dan mual.
"SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN INI," teriak Erios murka.
Zach mengambil kesempatan itu untuk membuka ikatan Zara. Dan menyelamatkan Ratu Anna.
Krakk
Erios menoleh kesumber suara, mendapati monster mengerikan bertubuh gempal. Erios yakin bahwa mahkluk inilah yang merusak semua rencananya tadi. Erios menyerang monster itu dengan mengeluarkan tombak es dari tangannya. Namun tidak ada satupun yang mengenai monster itu. Monster itu menyerang balik dengan mencabik dan mencakar tubuh Erios tanpa ampun, membuat Erios terkesan asal-asalan dalam mengimbangi perlawanannya.
Sargha tidak tinggal diam, meski tubuhnya belum begitu pulih namun dia harus membantu monster itu untuk membunuh Erios. Jika dia ikut menyerang Erios, maka kesempatan mereka untuk menang akan lebih besar.
Sargha mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengeluarkan serpihan es dan segera dia lemparkan pada Erios secara bertubi-tubi. Erios mengeluarkan perisainya untuk mematahkan serangan Sargha.
Meski serangan Sargha terus dipatahkan oleh Erios, namun serangan itu cukup membuat Erios terfokuskan pada Sargha hingga lengah dari monster yang juga menyerangnya, sampai Erios terluka parah akibat cabikan monster itu.
Serangan Erios mulai asal-asalan, akurasi kecepatannya menurun drastis. Hanya dalam waktu dekat Erios akan kalah telak. Namun meski begitu Erios tidak menyerah, dia mengeluarkan tombak es dan melemparkannya ke Sargha. Tombak es itu melesat begitu cepat hanya dalam waktu sepersekian detik tombak itu menancap sempurna mengenai d**a sebelah kiri Sargha, tepat dijantungnya.
SARGHA
Teriak Zara histeris melihat Sargha yang limbung dan terhuyung jatuh. Dia bahkan tampak seperti tenggelam di kolam darah. Sudah terlambat baginya untuk menyadari, sudah terlambat baginya untuk menghindar. Saat tombak es itu menembus dadanya, Sargha tidak begitu merasakan sakit. Hanya panas sebentar dan kemudian berhenti seiring dengan mata Sargha yang menutup rapat. Sebuah kematian yang nyaman dan tidak menyakitkan.
Zara berlari mendekati Sargha yang berlumuran darah. "Sargha, bangun ... Ayo bangunlah, kau tidak boleh mati." teriak Zara mengguncang tubuh Sargha, berharap dia masih hidup. Namun Sargha telah pergi, dia telah mati. Bahkan Sargha tidak sempat mengucapkan sepatah katapun didetik terakhirnya. Zara menangis sejadi-jadinya.
Zach tidak tega melihat Zara yang begitu terpukul, namun juga tidak bisa berbuat apapun selain membalaskan dendamnya dengan segera membunuh Erios. Zach membalikan tubuhnya menatap murka pada Erios. "Tidak ada maaf baginya, aku tidak akan berhenti hingga dia mati, aku akan mengambil sesuatu yang sangat berharga baginya, yaitu nyawanya." batin Zach segera menerjang tubuh Erios dengan kekuatan penuh.
Meski banyak luka pada tubuh monster yang menyerang Erios, namun monster itu masih sangat kuat. Bahkan tidak merasa sakit sedikitpun. Sedangkan Erios sendiri sudah carut marut. Sadar bahwa dia tidak akan menang, Erios memilih kabur. Namun belum sempat itu terjadi Rebecca dan Miki sudah berdiri menghadangnya dengan menyunggingkan senyuman sinisnya. Erios berbalik ingin kabur mengambil celah lain namun para assasin sudah mengepungnya hingga tidak ada celah sedikitpun untuk dia kabur.
"Cih, ternyata kau masih saja pengecut! Menyerahlah, kau tidak akan bisa kemana-mana," ujar Zach dengan kemarahannya. Tangannya tidak henti mengeluarkan kobaran api yang kini berubah semakin hitam, siapapun yang mengenai api itu pastinya akan hangus tanpa sisa.
Zach menggerakan tangannya kearah Erios untuk membakarnya hidup-hidup. Namun hal itu tidak terjadi mendengar suara Rebecca yang mencoba menghentikan nya.
"HENTIKAN ZACH, KAU TIDAK BOLEH MEMBUNUHNYA SEKARANG," teriak Rebecca yang membuat Zach menatapnya heran. Dia berhenti namun melayangkan tatapan tajam pada Rebecca.
"Apa maksudmu Becca? Iblis ini telah
Membunuh Sargha, dan telah banyak melakukan kekacauan. Aku tidak akan mengampuninya," ujar Zach tegas. Dan amarah yang masih meluap-luap. Dia ingin menuntaskan segala macam iblis yang mengganggu dimensi mereka.
"TAPI DIA BUKAN ERIOS!" ucap Rebecca tegas, lalu memberi sebuah isyarat pada para assasin untuk meringkusnya.
"Apa maksudmu dia bukan Erios?" tanya Zach bingung.
"Zach, Erios telah melarikan diri sejak tadi setelah dia membunuh Sargha. Erios sudah memprediksikan bahwa dia akan kalah jika tetap berada disini. Dia membuat ilusi agar kalian mengira bahwa anak buah Erios itu adalah dia. Kalian lihat lah dari cermin, bahwa yang kalian hadapi sedari tadi bukanlah Erios melainkan anak buahnya."
Zach dan monster itupun menoleh ke cermin yang ada disana, matanya terbelalak kaget bahwa semua yang dikatakan Rebecca ternyata benar adanya. "SIAL!!" maki Zach kesal. Bisa-bisanya dia tertipu oleh ilusi yang dibuat oleh Erios.
"Tapi kenapa dia tidak membawa Ratu Anna." ucap Zach merasa heran. "Apa itu juga bukan Ratu Anna? " sambungnya.
"Itu memang Ratu Anna!! Aku rasa Erios tidak punya banyak waktu untuk menculiknya lagi, mungkin karena Erios lebih sayang pada nyawanya," ujar Rebecca dengan prediksinya.
Lalu Rebecca mendekati Zara yang masih berada di dekat Sargha, dan menepuk pelan pundaknya.
"Becca, Sargha dia ...!!"
Suara Zara tercekat bagai ada sebuah kerikil yang menyangkut ditenggorokan nya. Rebecca mengerti perasaan Zara dan langsung memeluknya.
"Aku tau Zara. Kau harus ikhlas, biarkan dia pergi dengan tenang," ucap Rebecca lembut dengan menggosok punggung Zara pelan.
"Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan nya?" tanya Zara menatap serius Rebecca, namun Rebecca hanya menggeleng lemah.
"Kau hanya bisa menyembuhkan Zara, tapi tidak bisa membangkitkan orang yang sudah mati," ucapnya memberi pengertian dan kembali merangkul pundak Zara, untuk menguatkannya. "Terimalah takdir ini Zara! Biarkan dia tenang."
Meski sulit namun Zara mengangguk lemah, menyetujui setiap ucapan Rebecca. "Bagaimana dengan ibuku?" tanyanya lagi.
"Ibumu baik-baik saja, pengawal kerajaan telah membawanya ke Flourenc untuk segera ditangani." ucap Rebecca yang membuat Zara menghela nafas lega.
Lalu mata Zara menangkap sosok Zach yang menatapnya sendu sejak tadi. Zach berjalan perlahan kearah Zara lalu memeluknya erat. "Maafkan aku telah gagal membunuh Erios untukmu!" ucap Zach dengan rasa bersalahnya.
"Tidak apa!! Kita bisa membunuhnya lain kali, yang penting ibukku selamat," ucap Zara lembut.
"Meski ada nyawa yang melayang dalam misi ini," sambungnya dengan nada pahit. Mengingat lagi bagaimana pengorbanan Sharga selama ini padanya. Zara meneteskan air matanya. Dia masih belum siap menerima kepergian Sargah guardian.
"Zara..."
Suara berat seseorang membuat Zara dan juga Zach menoleh kesumber suara. Mendapati monster yang membantunya tadi telah berubah ke wujud aslinya menjadi seorang pemuda yang begitu tampan.
"Siapa kau ? Kenapa kau membantu kami ?" tanya Zara mencoba mengatasi rasa penasaran yang melandanya sejak kemunculan monster ini.