PATAH

1028 Kata
BRAKK Pintu tertutup rapat hanya dengan tatapan tajam Alger. Lalu tatapan itu mengarah ke Lily yang tersentak kaget karena tertangkap basah sedang mengawasinya. Dengan kecepatan yang melesat, Alger sudah berada dihadapan Lily. "Apa kau masih belum puas mengintipku!" ucap Alger dingin. Lily bisa merasakan adanya aura yang tidak mengenakan disana. "Aku hanya tidak sengaja lewat ..." "Dan berhenti saat melihatku, begitu? Kau ingin tahu kenapa aku mengawasi Zara? Akan kuberi tahu." Alger setengah menyeretnya. Mendorong hingga tubuh Lily terhempas ditembok. Lily tidak berkomentar kali ini, bahkan untuk menyela saja dia tidak ingin. Mungkin karena Lily memang ingin mengetahuinya. "Aku mencintai nya. Aku menyukai saat-saat bersamanya. Aku bahkan tidak bisa melupakan kenangan indah itu. Dia wanita yang baik, dan juga tangguh. Dia selalu membantu mahkluk lemah sepertiku dulu. Padahal dia sendiri dulu tidak kalah lemahnya. Tapi dia berani, Zara memiliki keberanian yang tinggi. Hingga para musuh menjadi sedikit takut padanya." Alger tersenyum tulus saat mengingat kenangan bersama Zara. Lalu dia mengubah kembali ekspresi wajahnya menjadi dingin. "Sayangnya aku tidak bisa bersamanya. Takdir tidak mengizinkan kami bersama." tambahnya lagi dengan nada pahit. "Kau tidak mencintainya," saut Lily menatapnya datar. Alger menoleh kearahnya dengan berkerut. "Ya, kau tidak mencintainya, kau hanya mengaguminya. Ada banyak perbedaan antara mencintai dan mengagumi. Cinta adalah kondisi ketika kita benar-benar merasa menyayangi dengan perasaan tulus dan dalam. Dan dengan perasaan itulah kita mampu mengikhlaskan seseorang yang kita cintai agar dia bahagia dengan pilihannya. Sedangkan kagum, biasanya hanya berupa kelebihan yang orang tersebut miliki. Seperti yang kau katakan tadi tentang Zara. Jadi menurutku, kau hanya mengaguminya." Alger terdiam sejenak mencerna setiap ucapan Lily barusan. Alger merasa Lily mungkin ada benarnya, namun dia juga enggan untuk berkomentar. Lily merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan, diapun membalikan badanya untuk melangkah keluar. Namun sayangnya pintu itu telah dikunci Alger menggunakan sihirnya. "Kau tidak akan bisa keluar begitu saja setelah masuk kekamarku seenaknya," ucap Alger sinis. Lily menatapnya kesal. "Apa mau mu Alger! Cepat buka pintunya ..." ucap Lily dengan nada sedikit tinggi. Alger melangkah perlahan mendekati Lily dengan tatapan yang sulit diartikan. Lily sampai mundur perlahan melihat sikapnya itu, sampai pada akhirnya Lily tidak bisa lagi kemana-mana karena Alger telah mengurungnya dengan kedua tangan Alger yang menempel di tembok. Alger mendesaknya sampai jarak diantara mereka begitu dekat. Alger bisa melihat kegugupan diwajah Lily. Bahkan detak jantung Lily yang berdegup kencang seakan dapat didengar olehnya. Lily memejamkan matanya saat wajah Alger perlahan mendekatinya. KLAK Pintu kamar itu terbuka oleh tangan Alger sendiri. Lily membuka matanya dan sedikit salah tingkah. Tanpa berkata apapun lagi, Lily segera pergi dari sana dengan jantung yang berdegup kencang. Alger menarik sedikit sudut bibirnya melihat tingkah Lily yang nampak konyol baginya. Meski begitu, dia tetap memikirkan apa yang sempat Lily katakan. Tidak semuanya benar, namun dia juga memungkirinya. **** Saat itu dua mahkluk sedang melepas rindu dengan tidak henti-hentinya saling menghangatkan satu sama lain. Dimalam yang terasa syahdu. Langit seakan mendukung mereka dengan memperlihatkan keindahan nya memalui paparan keindahan bintang dan rembulan ketika saling bersanding berpasangan memantulkan cahaya pada langit malam yang cerah. Zach merebahkan tubuhnya disebelah Zara yang tertelungkup lemas dengan berbalutkan sebuah kain. "Aku sangat merindukanmu Zara. Maaf telah membuatmu cemburu." ucap Zach dengan suara serak dan sedikit berat. "Aku tahu bahwa itu semua hanya sandiwaramu Zach, hanya saja aku tidak tahu apa tujuanmu saat itu." gumam Zara yang masih terdengar oleh suaminya. "Dari mana kau tahu? Aku pikir setelah melihatmu pergi dari kastil Raina, aku tidak akan bisa menemukanmu lagi." Zara membalikan tubuhnya menjadi telentang. Menatap keatas seakan tertarik dengan langit kamar itu. "Aku memang pergi waktu itu dan sempat berfikir bahwa kau memang tidak meninginkanku lagi. Namun aku mendengar suara runtuhan yang membuatku khawatir pada Rebecca dan yang lainnya. Jadi, aku kembali ..." Zara tidak sempat menyelesaikan ucapannya, karena merasa ada sesuatu didalam perutnya yang ingin berlonjak keluar. Zara segera bangkit untuk memuntahkannya diluar. Zach ikut bangkit melihat Zara yang nampak pucat. "Ada apa Zara? Kau baik-baik saja?" tanya Zach panik. Melihat Zara yang tidak hentinya memuntahkan cairan. Dalam waktu sekejap Zara lunglai tak sadarkan diri. Zach semakin panik dan kalang kabut. Seakan otaknya berhenti berfikir pada saat itu. BECCA ... Pekik Zach, mencoba mengirim telepati pada kakaknya, karena tidak bisa meninggalkan Zara sendirian. Dengan melesat cepat Becca dan yang lainnya menuju kamar Zach untuk menemui Zara. Mereka semua datang dengan kepanikan yang luar biasa, saat melihat Zach nyaris histeris. Ditambah lagi melihat kondisi Zara yang nampak pucat seperti mayat hidup. Mereka segera memanggil tabib istana. "Apa yang terjadi?" tanya Alger yang baru saja datang dengan raut wajah tidak kalah khawatir dari yang lainnya. Tabib itupun membuka suara setelah selesai memeriksa keadaan Zara. "Yang mulia Ratu sedang mengandung. Selamat untukmu Yang mulia Raja, penerus kerajaan Flourenc akan segera hadir." Mereka semua terperangah kaget, mendengar ucapan tabib istana. Rebecca sempat berfikir bahwa akan ada masalah baru lagi yang menimpa mereka. Namun ternyata dia salah. Rebecca tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya. Rebecca tersenyum sumringah menatap takjub, sementara Zach sendiri ikut tersenyum senang, namun belum begitu ia tunjukan sementara Zara masih menutup matanya. Berbeda dengan Alger ... Dia hanya terdiam membeku. Seakan seluruh dunia hancur menimpa kelapanya. Dan hal itu tidak luput dari perhatian Lily yang mengamati raut wajahnya sejak tadi. Alger membalikan badannya dan pergi dari sana dengan melesat cepat. Lily menatap kepergian Alger dengan rasa penasaran hingga mengikutinya dari belakang. Alger pergi cukup jauh, hingga berada atas bukit besar. Lily berfikir bahwa Alger ingin mengakhiri hidupnya, namun ternyata dia salah. "Berhenti disana!" ucap Alger datar dan dingin. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Lily sedikit takut melihat Alger yang nampak kosong. Namun meski begitu dia cukup penasaran. "Tidak ada. Aku hanya ingin berada disini. Mencoba menerima kenyataan bahwa Yang kau ucapkan sebelumnya benar," sautnya dengan menatap lurus kedepan. Entah apa yang dia pikirkan. "Apa tujuanmu selanjutnya?" "Kembali ke kerajaan Kenshington. Ratu Anna membutuhkanku disana. Aku harus pulang." Entah mengapa hal itu membuat Lily seakan tidak senang. Entah karena dia tidak akan bertemu dengan Alger lagi, atau apa? yang jelas Lily merasa bahwa Alger tidak membutuhkan kehadiran nya. Lily ikut memandang lurus kedepan, melihat pemandangan dari atas bukit. Ditambah sinar rembulan yang nampak indah menerangi malam mereka. Dua mahkluk yang nampak sedang patah hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN