HAUS DARAH

1052 Kata
Kehamilan Zara sempat menggemparkan seluruh kaum di kerajaan Flourenc. Namun Century langsung mengarahkan beberapa anak buahnya untuk melenyapkan desas desus agar tidak sampai ketangan Erios dan mahkluk kegelapan lainnya. Jika sampai itu terjadi maka bukan hanya janin itu yang dalam bahaya, tapi juga Zara. Tentu mereka tidak ingin hal itu sampai terjadi. Sejak kehamilannya. Tubuh Zara semakin pucat dan kurus bak mayat hidup. Segala jenis makanan tidak ada yang mau masuk kedalam perutnya. Meski sudah berapa kali dipaksakan, namun tetap saja semuanya berakhir di muntah kan kembali. Zach dan Rebecca sampai kewalahan karena hal itu. "Bagaimana Zara akan melahirkan anaknya, jika kondisinya lemah seperti ini." ujar Rebecca menatap Zara yang terbaring lemah dengan sendu. Zach sendiri tidak pernah meninggalkan Zara sendirian dalam keadaan seperti itu. "Itu karena janin yang ada didalam sana terlalu kuat." saut Century mantap. Hausss Lirih Zara membuat mereka semua mendekati Zara pelan-pelan. Sedikit takut terjadi sesuatu padanya. Sementara Zach mengambil air yang ada diatas nakas. "Ini minumlah," ujar Zach membantu Zara setengah duduk untuk minum. Namun baru satu kali tegukkan, Zara sudah enggan untuk meminumnya lagi. Tenggorokannya terasa panas, air yang ia teguk bukannya meredakan dahaga melainkan semakin membuatnya merasa haus. Bahkan tubuhnya semakin menggigil dan banjir dengan keringat. "Zara jika masih haus kenapa tidak kau habisnya airnya." ujar Rebecca merasa ada yang aneh. Sementara Century menyipitkan matanya memperhatikan sikap Zara yang nampak aneh. "Aku rasa bukan air yang diinginkannya." Mereka semua menoleh menatap penuh pertanyaan pada Century. "Apa maksudmu Century? Jika tidak butuh air lalu apa?" tanya Zach menuntut. "Darah." Zach semakin terperangah mendengar sautan dari Rebecca. Namun kekagetannya bertambah saat melihat Zara yang bersusah payah merintih membuka suaranya. "Zach ... Tolong aku, ada yang menyalakan api ditenggorokanku. Rasanya panas sekali ... Dan kepalaku. Kurasa kepalaku akan meledak dalam hitungan detik. Rasanya sakit sekali." Zara nyaris memelas diantara lirihnya. "Tunggu dulu. Kau ... Haus? Tanya Zach berhati-hati. Tenggorokan panas Seperti terbakar ... Kepala luar biasa sakit sampai-sampai terasa seperti akan meledak. Badan yang menggigil tak terkendali ... Aku tahu sensasi itu. Aku mengenalnya dengan baik. Sensasi yang menjadi bagian dari sakaw-darahku. Sensasi yang melandaku setiap hari, sejak aku diperintahkan Rebecca untuk berhenti meminun darah manusia lagi. Sensasi itu wajar bagiku, namun tidak bagi Zara." "Kau benar Zach. Itu sangat mustahil bagi seorang peri sepertinya yang tidak pernah menyentuh darah sedikitpun. Apa itu karena janin didalamnya?" ujar Rebecca menatap bingung. "Sudah kukatakan itu semua karena anak Zach yang masih berada didalam perutnya. Janin Itu mewarisi keturuan Zach hampir sembilan puluh persen. Dan sepuluh persennya hanya mewarisi darah abadi dari ibunya." saut Century itu dengan ilmunya. "Aku masih haus Zach ... Namun aku rasa aku tidak menginginkan air. Aku tidak tahu, Zach ... Aku benar-benar haus ..." lirihnya lagi. "Gawatt, jadi maksudmu Zara bukannya haus air. Melainkan haus darah?" "Benar." "Century benar Zach. Kau harus mencari darah untuh Zara secepatnya. Jika tidak, tidak maka kondisinya akan semakin memburuk." "Itu menurutmu Becca ! Bagaimana jika dengan meminum darah, dampaknya akan semakin buruk. Kita tahu apa dampak dari darah baginya, apa itu akan menjadi obat atau malah racun." "Jangan khawatir Zach. Percayakan padaku bahwa itu akan membantunya." saut Century itu mantap. Zach mengangguk setuju. "Tunggulah disini, Zara. Aku akan mencarikanmu darah secepatnya." ujar Zach segera pergi untuk mencari darah segar untuk Zara. Zach akan membawa siapa saja mahkluk malang yang berhasil dia tangkap untuk dihisap darahnya oleh Zara. **** ~ Brussshhhh Alger menarik tubuh Lily menyamping untuk menghindari sebuah busur yang terdapat api diujungnya. Busur itu menancap dipohon dan langsung membakarnya. "k*****t ... Siapa yang melakukan ini?" maki Alger menggeram marah. Lily yang tersentak kagetpun bingung menatap kesekeliling tempat itu. Tidak ada apapun disana, tapi siapa yang mencoba memanah mereka?" pikir Lily. Belum sempat Lily berpikir lebih jauh. Sebuah busur yang sama kembali melesat kearah mereka, untungnya Alger lebih sigap dan menangkap busur itu dengan tangannya. "Keluar kau mahkluk pengecut." pekik Alger menajamkan mata dan pendengarannya. Namun tidak ada jawaban, hanya sunyi sepi dan gelap. Alger hanya merasakan gelombang energi Yang begitu samar dan nyaris tak terdeteksi. Lagi dan lagi, sebuah anak panah kembali melesat. Kali ini bukan hanya satu, namun begitu banyak sehingga Alger kesulitan menghindarinya, ditambah lagi harus melindungi Lily. Alger menghindar dengan secepat kilat sembari merangkul sebagai tameng bagi Lily. Lily hanya menatapnya heran, kenapa Alger melindunginya? Bukankah Alger sangat tidak menyukainya? Batin Lily sembari menatap wajah Alger yang berjarak begitu dekat dengannya. Namun lamunannya segera terbuyarkan saat mendengar suara kekehan seseorang yang mengerikan dari balik semak belukar. "Keluarlah kau k*****t ... Jika berani hadapi aku !" Kekehan itu semakin terdengar jelas seiring dengan terasanya gelombang energi dan kabut yang bergumapal tebal. Dibalik itu munculah sosok mahkluk mengerikan dengan taring yang panjang serta banyaknya bulu ditubuhnya. Mahkluk itu memegang busur yang tadi digunakannya untuk memanah Alger dan Lily. "Dasar mahkluk terkutuk ... Beraninya kau menyerangku secara sembunyi-sembunyi. Apa kau begitu pengecut hingga tidak bisa melawanku secara terang-terangan!" ucap Alger dengan nada pelan, namun siapapun bisa mendeteksi sebuah penghinaan dalam nada suaranya. Sementara Lily bergidik takut melihat mahkluk yang berada dihadapannya itu. Ditambah lagi ucapan Alger yang seakan meminta untuk segera dibunuh. Lily sempat berfikir untuk melarikan diri dari situasi genting itu. Namun dia tidak bisa meninggalkan Alger dengan begitu pengecut. Dengan keberanian Lily memilih untuk tetap berada disana bersama Alger meski bahaya besar sedang mendatangi mereka. Tanpa aba-aba, mahkluk itupun kembali mengarahkan panahnya pada Alger. Namun kali ini Alger sudah bisa mendeteksi lawannya, sehinga dengan mudahnya Alger menghindar dan menyerang balik dengan menerjang mahkluk itu, dengan kecepatan dan kekuatan penuh. Mahkluk itu terpental hingga tersungkur jauh. Sementara Alger menepuk tangannya seakan baru saja membersihkan sampah yang mengganggu. Alger pikir mahkluk itu akan lari terbirit-b***t setelah mendapat serangan telak darinya. Namun ternyata dia salah, mahkluk itu mengambil busurnya dan kembali mengarahkan padanya. Sebuah anak panah kembali melesat dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya sehingga Alger kesulitan untuk menghindar, namun ternyata anak panah itu tidak menganainya, melainkan Lily. "LILY," Untungnya Lily sempat menghindar dengan memiringkan tubuhnya, meski begitu anak panah itu sempat menggores bahu Lily, hingga membuat luka yang cukup besar dibahunya. Darah segar menetes disana tanpa henti. Lily meringis menahan sakit dibahunya dengan tangannya, berharap darah itu akan berhenti mengalir. Sementara mahkluk yang tadi menyerang mereka telah kabur untuk menyelamatkan diri. Alger bahkan sudah tidak memperdulikan mahkluk itu lagi. Yang ada dipikirkannya sekarang hanyalah Lily yang sedang terluka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN