WARNING !
*HARAP BIJAK DALAM MEMILIH KONTEN. BAB INI MENGANDUNG 18+, JIKA BELUM CUKUP UMUR ATAU JOMBLO MENDING GAK USAH BACA DEH. NANTI BAPER BERKEPANJANGAN HEHEH ... MAAFIN AUTHOR YA KALAU MASIH BANYAK TYPO ATAU SALAH DALAM PEMILIHAN KATA.
HAPPY READING
"Terimakasih."
"Untuk Apa?" saut Alger sembari membalut bahu Lily yang terluka.
"Karena telah melindungiku dari mahkluk tadi."
"Aku tidak melindungmu."
Lily berdecak sebal mendengarnya. "Jika tidak melindungi lalu apa? Dasar pria arogan," makinya dalam hati tentunya. Meski Alger tak menunjukkan bahwa dia peduli. Setidaknya sikap pria itu sudah cukup membuktikan. Namun meski begitu, Lily masih kesal karena Alger tak pernah mau mengakuinya. Menjunjung tinggi sebuah harga dirinya.
"Sudah," ujar Alger setelah membalut luka itu.
Sikapnya terlalu dingin dan datar jika berhadapan dengan wanita lain. Berbeda dengan Zara.
Lily menarik sudut bibirnya dan tersenyum penuh arti. Tanpa diduga Lily memajukan wajahnya dengan gerakan secepat kilat.
CUP
Alger membeku ditempatnya. Menatap kearah wanita yang telah berani menyentuhnya. Tanpa rasa malu sedikitpun.
Satu kecupan singkat mendarat dibibir Alger. Lily terkikik melihat ekspresi wajahnya yang kaget Seperti orang t***l. Segala sesuatu tentang Lily seketika membuat otak Alger terasa lumpuh.
"Tenanglah nak, satu kecupan tidak akan membuat Alger yang hebat menjadi gugup, bukan?" ujar Lily menepuk-nepuk lengan Alger sambil menyeringai.
"Tidak. Tentu saja tidak," Gerutu Alger, berusaha untuk menetralkan dirinya yang sempat gugup.
Lily mengangguk pelan masih dengan seringainya. "Lagi pula itu hanya sebuah ungkapan terimakasih untukmu karena telah mengobati lukaku."
"Apa harus seperti itu caramu berterimakasih!" gerutu Alger kesal. Lily hanya menaikan bahunya seolah tak perduli.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Pulang," jawab Alger singkat, seolah malas untuk berbicara dengan Lily lebih panjang.
Lily memutar bola matanya. "Baiklah ..."
***
Zach telah kembali membawa darah yang cukup untuk diberikan pada Zara. Sesuai dugaan Century, dengan meminum darah itu Zara menjadi sehat dan segar seperti semula. Hanya saja wajahnya masih terlalu pucat untuk ukuran peri. Namun kekuatannya bertambah. Zara merasa dirinya memiliki kekuatan untuk bertempur dua kali lipat. Warna mata Zarapun berubah menjadi kemerahan, serta kukunya yang indah berubah menjadi panjang dan menakutkan.
Rebecca terperangah melihat perubahan wujud Zara yang begitu drastis. Zara sangat mirip dengan mahkluk penghisap darah lainnya. Hanya saja dia terlalu cantik untuk ukuran itu.
"Zara, lebih baik kau tidak usah kemana-mana selama kehamilanmu. Itu sangat berbahaya bagi janin dan juga dirimu sendiri."
"Tidak perlu khawatir Becca, aku akan melawan mereka." saut Zara santai.
"Jangan keras kepala Zara. Turuti saja ucapan Becca!"
"Huh, baik-baik aku tidak akan kemana-mana."
"Baiklah, aku rasa sepertinya kau sudah lebih baik. Jadi aku tidak ingin mengganggu kalian. Zach, jaga Zara baik-baik, jika butuh sesuatu panggil saja aku."
Zach mengangguk pelan mematuhi perintah kakaknya. Sementara Zara menatap Zach dengan tatapan penuh minat. Zach yang merasa dipandang seperti itu, menaikan sebelah alisnya. Tidak pernah Zara melihatnya dengan tatapan nakal seperti itu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Zach sengaja berbisik disebelah telinga Zara dengan nada sensual. Dan sesekali meniupnya. Sampai tubuh Zara seolah tergelitik.
"Ya, aku menginginkanmu." Zach terperangah kaget melihat Zara yang meminta hal itu duluan. Padahal selama ini selalu dialah yang antusias ingin melakukan hal itu. Tapi kali ini ....
Zara mendorong keras tubuh Zach hingga terjatuh diatas ranjang mereka dengan posisi tubuh telentang. Lalu dengan sigap Zara berada diatas tubuh Zach, seolah dialah yang akan memimpin permainan kali ini seperti sedang menunggangi kuda.
Tatapan Zara menyiratkan sebuah hasrat yang menyala-nyala. Hingga Zach sendiri ikut terbawa arus suasana. Zara telah memulai aksinya dengan menyentuh beberapa area sensitif yang membuat tubuh Zach mengerang merasakan sentuhan lembut dari tangan istrinya.
Zara ....
Desah Zach disela gelora yang bergejolak didalam dirinya. Udara yang tadinya lembab dan sejuk, berubah menjadi panas. Seiring dengan deru nafas yang kian menggebu. Kilatan nafsu dimata Zach mulai tersulut menginginkan lebih. Hingga Zach membalikan tubuh Zara, membuatnya mengendalikan permainan. Disisi lain Zach juga tidak ingin jika istrinya yang berada diatas karena takut akan menyakiti janin mereka.
Meski hasratnya kian membara, namun Zach melakukannya dengan sangat lembut, berusaha keras agar tidak menyakiti Zara dan bayinya. Zara sendiri merasakan hal yang serupa, bahkan kali ini dialah yang lebih berhasrat sehingga permainan Zach membuatnya menggelinjang seperti cacing kepanasan.
Nafas keduanya memburu sampai pada akhirnya mereka sama-sama mencapai puncak kenikmatan dengan suara erangan yang memenuhi kamar itu sebagai tambahan melody yang indah ditelinga mereka. Zach akhirnya ambruk disebelah tubuh Zara, dengan nafas yang masih naik turun.
Hanya selang beberapa menit Zara kembali memulai permainan yang menyenangkan itu hingga sampai beberapa kali. Staminanya luar biasa jauh diatas Zach. Zach sendiri sampai menggeleng kepala dibuatnya.
"Sudah cukup Zara, nanti kau kelelahan .." ujar Zach lembut, namun masih menerima sentuhan Zara. Menolak rayuan Zara sama saja membuatnya sedikit gila karena sangat sulit baginya untuk menghindar. Sampai akhirnya mereka terus melakukannya sampai .. Entahlah ... Berapa kali!
****
"Alger, kau yakin ingin kembali kekerajaanmu?" tanya Rebecca meyakinkannya.
"Tentu Becca. Sepertinya tidak ada lagi yang harus aku lakukan disini. Jika kalian butuh sesuatu, panggil saja aku."
"Baiklah, kalau begitu ajak saja Lily. Pasti Ratu Anna akan sangat senang karena kehadiran nya." Rebecca melirik kearah Lily yang menyeringai mendengar tawarannya. Entah mengapa Lily merasa sangat senang akan hal itu. Tapi tatapan Alger yang tidak menyenangkan membuat seringainya hilang begitu saja.
Alger menyipitkan matanya menatap Lily. "Aku setuju," ujarnya singkat. Lily mengangkat wajahnya menatap kearah Alger yang masih nampak datar. Lily melompat dan bersorak senang dengan keputusan Alger untuk mengajaknya.
"Alger, kau ingin kembali?" Suara Zara mengalihkan perhatian mereka.
"Zara, syukurlah kau sudah sehat. Ya, aku akan kembali."
"Kalau begitu sampaikan salam pada ibuku. Katakan padanyan bahwa aku baik-baik saja disini."
Alger mengangguk patuh. "Baiklah." lalu matanya mencari sosok yang sering membuatnya jengkel. "Dimana Yang Mulia Raja? Aku tidak melihatnya seharian ini?" tanya Alger sedikit malas menyebutkan namanya.
"Oh, Zach sedang Istirahat. Dia sangat kelelahan setelah bertempur habis-habisan semalam," jawabnya santai. Rebecca dan Alger terperangah mendengarnya. Bisa-bisanya Zara mengatakan hal itu dengan begitu santai. Setahu mereka Zara selalu menjaga sikapnya sebagai wanita terhormat. Tapi kali ini...
"Dasar janin sialan!!" maki Alger dalam hatinya. Merutuki kekesalan janin itu yang dia sendiri sadar bahwa mana mungkin dia bisa berseteru dengan janin yang bahkan belum melihat dunia luar. Alger hanya merasa konyol pada dirinya sendiri yang marah secara berlebihan. Padahal sudah sewajarnya seperti itu.
Berbeda dengan Lily yang malah terkikik geli mendengarnya. Sementara Rebecca menggeleng kepala, karena tentunya itu pasti ulah calon anak Zach yang berada didalam perutnya. pikirnya.