LILY

1916 Kata
Disepanjang perjalanan menuju Kenshington. Lily tidak hentinya mengembangkan senyuman. Dan hal itu selalu diperhatikan Alger. Saat kedua mata mereka bertemu, Lily langsung merasa tidak nyaman dengan tatapan Alger yang membuat nya gugup. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Lily memberanikan diri membalas tatapan tajamnya. "Aku hanya heran kenapa kau mau mengikutiku !! Apa ada sesuatu yang membuatmu tertarik disana nanti?" Lily mengangkat bahunya seolah tak perduli. Namun belum sempat Lily mengeluarkan suaranya. Alger merasakan aura yang mencekam disekeliling mereka. Lalu tiba-tiba kereta kuda Yang mereka naiki berhenti mendadak. Alger segera berdiri untuk melihat keadaan diluar, matanya melebar saat melihat prajurit yang tadinya mengawal mereka jatuh berserakan dengan kondisi tak bernyawa. Dan terdapat sebuah anak panah yang menancap didada mereka. "k*****t !! Sepertinya mahkluk waktu itu datang lagi." maki Alger. Lily mencoba mengeluarkan kepalanya untuk ikut mengintip, namun Alger menahan keras kepala Lily agar tidak melakukan hal itu. "Kenapa kau menahan kepalaku? Memangnya apa yang terjadi?" gerutu Lily menatapnya jengkel. "Kau diam saja disini. Jangan coba-coba untuk keluar." suara Alger terdengar berat dan tegas. Serta tatapan nya tajam kesekeliling dengan waspada. Lily hanya mendengus tanpa rasa takut sedikitpun melihatnya. Sementara itu .... WUUUUSSSHH .... Sebuah anak panah melesat dengan cepat mengenai kereta yang mereka tumpangi dan menembus sampai kedalam. Mata Lily melotot melihat anak panah itu yang hampir menembus kepalanya. "Lily ... Sepertinya disini tidak aman bagi kita. Sebaiknya kita segera lari." ujar Alger sembari memandang waspada kesetiap sudut hutan itu. "Bagaimana cara kita kabur Alger. Siapa yang akan menunggangi kudanya? Kau akan mati terbunuh sebelum sampai keistana seperti pengawal lainnya." saut Lily khawatir. Belum sempat Alger menjawab, serangan kembali datang. Kali ini lebih bertubi-tubi. Hinga Alger kesulitan untuk menghindarinya. Namun seiring dengan serangan itu, Alger merasakan adanya gelombang energi yang begitu memikat dan konstan. Gelombang itu terasa sangat asing baginya. Belum sempat Alger menebak siapa pemilik gelombang energi itu. Seorang mahkluk melesat cepat berlari kesetiap sudut hutan dan membunuh para mahkluk yang tadinya menyerang kami, suara lolongan mahkluk itu terdengar nyaring ditelinga, satu persatu mahkluk kegelapan itu lenyap dengan kecepatan yang luar biasa. Zara ... Gumam Lily melihat sosok pemilik gelombang energi itu. Algerpun menoleh kearah pandangan Lily dan menatap takjub pada Zara yang membunuh mahkluk kegelapan yang begitu banyaknya, Hanya seorang diri. "Apa dilakukan wanita itu? Bukankah dia sedang hamil !!" Alger menatap heran kearahnya. "Hey, kenapa kau diam saja. Ayo bantu dia !!" ujar Lily menyadarkan Alger dari keterkejutannya. "Ck, aku memang ingin membantunya. Kau diam saja disini, jangan coba-coba untuk keluar." tanpa menunggu tanggapan Lily, Alger membantu Zara melawan mahkluk kegelapan yang begitu banyak, datang dengan silih berganti, seolah tiada habisnya. Alger menerjang dan mencabik-cabik tubuh mahkluk itu dengan brutal. Sementara Zara mengambil kesempatan untuk menghisap habis darahnya sampai tak tersisa. Seperti biasanya kondisi Zara, selalu saja haus akan darah. Kebutuhannya terhadap darah semakin meningkat. Zara menghisap darah para korbanya dengan rakus seakan takut membagi makanan kesukaannya itu. Sejak kehamilannya kekuatan dan kecepatan Zara sangatlah mengagumkan. Bahkan saat ini Zara memiliki prediksi dalam perkelahiannya hingga dengan mudah ia menghabisi para musuh, baik dihadapannya maupun dibelakangnya. Semua mahkluk kegelapan itu mati secara tragis dan nampak mengerikan. Mata mereka masih terbelalak Sementara nyawa mereka telah tiada. Zara tersenyum puas melihay usahanya yang tidak sia-sia. Sementara Alger menatapnya penuh pertanyaan. "Zara, dari mana kau tahu kalau ada yang menyerang kami?" tanya Alger sembari menetralkan deru nafasnya yang masih naik turun karena kewalahan. "Entahlah, aku sendiri masih bingung! Tiba-tiba saja aku merasakan insting yang aneh, seakan ada sesuatu yang memberitahuku tentang mahkluk aneh disekitar kerajaanku, aku juga bisa merasakan gelombang energi secara tiba-tiba. Jadi aku mencari gelombang energi yang tiba-tiba muncul itu. Akhirnya aku Sampai disini dan telingaku seakan menangkap suara dengan begitu jelas, meski dalam kejauhan. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku bisa merasakan gelombang energi mahkluk lain. Aku rasa ini juga salah satu pengaruh dari janinku." ujarnya tersenyum bangga. Sementara Alger hanya tersenyum penuh ironi. "Sepertinya kau begitu senang dengan kehadiran janin itu." ujarnya sembari menatap perut Zara yang masih rata. "Tentu saja aku bahagia, kehadiran calon anakku membuatku seolah memiliki kekuatan super. mungkin ini karena gen ayahnya.!!" sautnya sumringah sembari mengusap perutnya. Zara menghela nafasnya melihat perubahan ekspresi Alger. "Buang semua kesedihan yang tak berujung pada dirimu Alger. Terimalah kenyataan takdirmu sendiri. Tidak ada gunanya mencintai seseorang yang telah memiliki pasangan." ujarnya datar. "Tetapi ...." Zara menggeleng, seakan memberi isyarat pada Alger agar membiarkannya bicara. "Carilah wanita lain untuk kau cintai," saat berbicara mata Zara menatap Lily yang berada dibelakang Alger. Tatapan itu penuh arti hingga membuat Lily merasakan kegugupannya. "Aku tidak bisa Zara," ujarnya menunduk lesu. Tanpa memikirkan perasaan Lily, yang dengam jelas mendengarnya. "Kau pasti bisa Alger, kau hanya perlu mencoba dan berdamai dengan dirimu untuk melepaskan seseorang yang tidak akan pernah bisa kau miliki." "Tapi ..." Lagi-lagi Zara memotong ucapan Alger. "Cintailah dia Alger, dia berhak mendapatkannya. Cintailah seorang wanita yang saat ini selalu bersamamu. Menemanimu dan menjadi tempat bersandar disaat kau terpuruk." Perkataan Zara begitu menohoknya. Bukan sesuatu yang rumit untuk dilakukan, Zara hanya meminta Alger untuk mencintai Lily. Gadis kecil yang cantik, dan baik. Sangat mudah untuk mencintai gadis Seperti Lily. Diluar sikap menyebalkan dan kekonyolannya, dan anehnya hal itu sangat cocok dengan segala sesuatu tentang Alger. Lily bahkan sanggup menghadapi kekeraskepalaan Alger, dia cukup sabar mendengar setiap kata-kata sinis yang terlontar dari mulut Alger. Walaupun kedengarannya aneh, tapi mereka nampak serasi. "Sudah cukup Zara ," suara Lily membuyarkan lamunan Alger. "Jangan mengemiskan cinta untukku. Sungguh ... Aku tidak butuh hal itu. Meskipun aku ini lemah, tapi banyak pria yang menyukaiku. Alger saja yang terlalu bodoh, menyianyiakan gadis sepertiku. Jika suatu hari nanti aku diambil pria lain. Barulah dia akan menangis meratapi kepergianku." ucapnya dengan senyuman superior. Sementara Zara hanya terkekeh mendengarnya. Entah kenapa hal itu membuat Alger kesal. "Zara ..." Mereka semua menatap kesumber suara yang berat. Zach menghampiri mereka dengan raut wajah khawatir nya. Tentu hal itu pada Zara. "Aku mencarimu kemana-mana ! Kenapa kau menghilang begitu saja. Pergi tanpa memberitahuku." Zach berucap dengan lembut namun juga tegas. "Maafkan aku Tuanku Zach, aku hanya bersenang-senang sebentar. Apa kau sudah begitu merindukanku?" Zara berucap dengan mengedipkan sebelah matanya. Bahkan suaranya ia buat semerdu mungkin. "Lebih tepatnya mengkhawatirkan calon anakku dan juga dirimu !" "Jadi kau tidak merindukanku." ujarnya memasang wajah kesal, entah mengapa sejak kehamilannya Zara lebih mudah terbawa perasaan. Wajah Zara merengut seakan kecewa dengan ucapan suaminya. Zach mendesah letih menghadapi sikap Zara yang semakin kekanak-kanakkan. "Bukan seperti itu Zara ..." Alger hanya menatap mereka dengan wajah datarnya, seakan itu adalah pandangan yang menyakitkan baginya. Namun hal itu tidak berlangsung lama saat tangan Lily menyentuh pundaknya. "Dasar pasangan yang tidak punya perasaan !! Ayo kita pergi, tidak ada gunanya menjadi penonton kemesraan sepasang suami istri yang sedang dimabuk asmara." ujarnya seakan jijik dengan ucapannya sendiri. "Bisa-bisanya mereka bermesraan dihadapan kita yang memiliki hati yang tak berpenghuni ini." gerutu Lily dalam perjalanannya. Alger kali ini tertarik dengan ucapan Lily sehingga menaikan sudut bibirnya melihat tingkah Lily yang sangat konyol. "Jika kau tidak suka melihat mereka, kenapa matamu fokus pada mereka tadi ..." Alger menyipitkan matanya seakan curiga. "Jangan-jangan, kau ingin segera menikah dan menjalani hidup seperti mereka ya?" Lily menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Alger. "Tentu saja. Memangnya siapa yang tidak ingin menikah, dan memiliki pasangan yang mencintai kita. Bahagia bersama dan memiliki anak yang banyak. Aku sangat menantikan hari itu ..." Lily menatap keatas saat mengucapkan hal itu. Seakan melihat mimpinya yang sudah begitu dekat sembari tersenyum senang. Sementara Alger hanya menggeleng kepala melihat tingkah nya. "Hentikan fantasi liarmu itu. Nanti kau akan terlihat tua sebelum waktunya." Alger berucap dengan wajah mengejek yang kental. "Aku tidak sedang melakukan hal itu ..." "Jadi kau sering memikirkan hal itu?" ujar Alger memotong ucapannya. Lily seakan terjebak oleh ucapannya sendiri. "Maksudku tidak seperti itu," Lily mencoba membantah sebisanya. Namun Alger semakin menuduhnya lebih jauh. Hingga Lily menggerutu kesal. "Jadi seperti apa fantasimu itu .." "CUKUP ... Sudah kukatakan aku tidak pernah memikirkan hal kotor seperti itu. Jadi berhentilah mengejekku." Lily semakin kesal Sampai mengepalkan tangannya. Nampaknya Alger semakin gencar untuk memprovokasinya. Namun Lily seakan sudah mengetahui gelagat Alger yang kembali ingin mengejeknya, langsung menempelkan bibirnya seakan membungkam mulut Alger untuk diam. Sontak saja Alger membeku dengan serangan tiba-tiba itu. Otak Alger seakan terlumpuhkan oleh kelembutan bibir Lily, hingga Alger sendiri tidak berniat untuk mengakhiri ciuman itu. Mata mereka bertemu seakan sedang berkomunikasi dalam kebisuan. Lily menarik kembali bibirnya dan menatap Alger dengan senyuman sinis. "Huh, jadi itu kelemahanmu ... Kau terlihat seperti seorang gadis perawan yang belum berpengalaman. Entah mengapa, aku merasa sedang merusak anak orang !!" Lily sengaja memperlihatkan wajahnya yang menyebalkan untuk membuat Alger kesal. Sesuai dugaannya, wajah Alger memerah, entah karena malu atau amarah. Hal itu membuat Lily terkikik geli melihat wajah Alger yang lagi-lagi seperti orang to**l. Sebenarnya Lily juga tidak berpengalaman dalam hal itu. Dan tidak pernah mencium pria manapun selain Alger. Entah mengapa sejak bertemu dengan Alger, ada gejolak tersendiri didalam dirinya, seolah merupakan sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Entah hanya karena suka membuat Alger kesal, atau memang dia menginginkannya. Yang jelas Lily bahagia. Alger memperhatikan Lily yang tertawa bahagia diatas penderitaannya. Namun bukan hal itu yang menarik perhatiannya. Tapi wajah Lily yang nampak semakin mempesona. Aura kecantikannya bertambah berkali-kali lipat saat dia sedang tertawa lepas saat ini. Alger menyunggingkan senyuman penuh arti menatapnya. ("Kau belum tahu siapa aku kelinci kecil. Aku yakin kau pasti menyesal karena memancing sisi agresifku terus menerus. Coba lagi saja lain kali, maka aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah.") kali ini Alger menyunggingkan senyuman liciknya. "Senyumanmu mengerikan." ujar Lily bergidik curiga. "Oh ya," Alger memajukan tubuhnya dan berada didekat telinga Lily. "Kau harus takut dengan senyumanku yang satu ini. Karena itu akan selalu membuatmu merindukanku." "Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak. Aku rasa jika kau menyukaiku, mungkin aku akan merindukanmu. Tapi jika sebaliknya maka ... aku rasa itu adalah hal yang tidak berguna. Maksudku, untuk apa merindukan orang yang tidak menyukai kita ! hanya sia-sia dan membuat kita sendiri terluka." Lily mengangkat bahunya seolah menganggap itu adalah hal yang enteng. Alger mengubah ekspresinya kembali datar, mendengar penuturan Lily yang menohok seolah menyinggungnya. Meskipun yang dikatakan Lily cukup masuk akal baginya, namun Alger tidak terima dengan ungkapan bahwa itu hanyalah sia-sia. ~***~ Sementara itu Zach mendesah frustasi melihat Zara yang sulit untuk dibujuk. Zara bahkan tidak ingin berbicara padanya. Mengurung diri dikamar sendirian. "Zara, jangan Seperti ini. Cepat buka pintunya, atau akan kuhancurkan pintu sialan ini." Zach nyaris histeris saat berbicara. Sebenarnya pintu itu sangat mudah bagi Zach untuk membukanya, hanya dengan sekali hentakan dari kekuatan sihirnya. Namun Zach tidak ingin melakukan hal itu, karena takut akan membuat keributan, dan pastinya Rebecca akan mengejeknya nanti. Zach menarik nafas dan menghembuskan nya, membuat dirinya setenang mungkin. "Zara ... Buka pintunya. Mari kita bicara baik-baik. Aku berjanji akan menuruti semua keinginanmu." Zach memelas kali ini, dengan penuh permohonan. Sontak saja pintu itu langsung terbuka lebar, mendengar ucapan Zach. Zara berdiri dengan tersenyum sumringah menatapnya. Zach sendiri merasa menyesal mengucapkan kata yang akan tambah mempersulit dirinya. SIAL "Zach ... Aku ingin meminum darah srigala." "Baiklah, aku akan menyuruh prajurit istana." Zara menggeleng cepat. "Tidak Zach, aku ingin berburu sendiri." "Tidak Zara, itu sangat berbahaya. Ingat ... Kau sedang mengandung saat ini !" "Justru karena aku sedang mengandunglah, aku ingin melakukannya sendiri Zach. Ini anakmu yang memintanya." Zara nyaris memelas mengatakannya. Huuuuuuhhhhhfff Lagi-lagi Zach menghela nafasnya. Kali ini semakin gusar Sesuai dugaannya. "Baiklah Ratuku, aku akan menemanimu." ujar Zach menyerah dan pasrah. Zara bersorak senang mendengarnya dan langsung melompat ketubuh Zach memeluknya erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN