"Sudah cukup Zara, kau telah membunuh puluhan ekor srigala. Kau bisa memancing kedatangan para assasin jika terus membunuh peliharaan mereka." Zach berucap dengan begitu lembut agar Zara menghentikan aksinya.
"Satu lagi Zach, setelah ini kita pulang." belum sempat Zach menyela, Zara telah menghentakkan tangannya dan melesat dengan cepat mengejar srigala malang yang lainnya. Zach mengejarnya dengan kecepatan penuh, akan sangat berbahaya jika dia membiarkan istrinya sendirian ditengah hutan.
"Zara sudah cukup, ayo kita pulang !!" kali ini Zach sedikit membentak agar Zara menghentikan sikap haus darahnya. Zara menghela nafasnya.
"Baiklah .."
Baru saja beberapa langkah mereka mendengar suara ...
Kretak
Sontak Zach menatap kesekitar mereka dengan penuh waspada. Cuaca nampak berubah seketika menjadi dingin dan mencekam. Diikuti oleh kepulan kabut hitam mendekati mereka. Zach memegang erat pedangnya, untuk bersiap melawan siapapun yang menyerang mereka.
"Zara, tetaplah berada dibelakangku. Jika ada kesempatan untuk kabur maka lebih baik kau kabur, kau mengerti."
"Ck, aku tidak sepengecut itu meninggalkan suamiku sendirian."
Kepulan asap itu semakin tebal dan semakin mendekati mereka. Seiring dengan munculnya dua mahkluk bertubuh gempal dengan membawa gada berpaku ditangan mereka.
Assasin
"Mau apa kalian?" ucap Zach dengan tatapannya yang mematikan serta nada permusuhan yang kental.
Diluar dugaan mereka, kedua assasin ini menunduk hormat sebelum mengucapkan tujuan mereka.
"Hormat kami kepada Yang mulia Raja dan Ratu Flourenc."
"Kami datang kesini tidak untuk menyerang kalian. Melainkan untuk membawa kalian bersama kami."
"Untuk apa?" kali ini Zara yang bertanya penasaran dengan menatap curiga.
"Untuk bekerja sama dengan kami, jika kalian membantu kami. Maka pemimpin klan kami akan menyatakan perdamaian pada kaum kalian dan akan melindungi serta membantu kaum Flourenc dari para musuh." ujar salah satu assasin itu.
"Kalian para assasin, kenapa harus meminta bantuan kami?"
"Karena memang hanya kalianlah yang bisa."
"Tidak, aku tidak mau." Zach menatap benci kearah mereka, sementara Zara terdiam menimbang setiap ucapan mereka.
"Ayo kita pergi Zara ..."
"Tunggu dulu Zach," Zara menahan tangan Zach yang menariknya pergi dari sana. "Aku rasa penawaran mereka cukup menguntungkan bagi kita. Dengan cara itu, kaum kita akan bebas dari permusuhan sehingga tidak akan ada lagi pertumpahan darah."
"Tidak Zara. Kita tidak tahu bahaya apa yang akan kita hadapi jika bekerja sama dengan mereka. Lagi pula, kau sedang hamil saat ini. Aku tidak ingin mengambil resiko membahayakan calon anakku." ucap Zach tegas.
"Tapi ini akan membuat kaum kita aman Zach. Mereka tidak akan mengincar kaum kita lagi. Lagi pula, kita belum tahu bantuan seperti apa yang mereka butuhkan dari kita."
Zara membalikan tubuhnya menatap kedua assasin yang masih menunggu mereka disana. "Bantuan seperti apa yang kalian butuhkan?"
"Ikutlah dengan kami. Maka kalian akan tahu sendiri." saut mereka menunjukan wajah permohonan. Zach menatap Zara memberi isyarat padanya, agar mengurungkan niatnya. Namun Zara memberi anggukan seolah berkata. Semuanya akan baik-baik saja.
Mereka pun pergi menuju tempat para assasin. Memasuki sebuah klan mereka. Disana nampak mencekam dan aura dingin yang sampai ketulang. Disekeliling mereka terdapat mahkluk yang nampak menyedihkan dengan kondisi tubuh seakan habis terkena kutukan.
"Apa yang terjadi?" tanya Zara kebingungan melihat mahkluk disekitar mereka yang nampak carut marut.
"Kami terkena kutukan dari penyihir hitam yang pernah kami habisi hanya karena sebuah kesalahan pahaman. Dan inilah hasilnya. Klan kami mengami kecacatan baik dari segi fisik maupun mental. Mereka semua hanya bisa disembuhkan oleh darah keturunan peri suci sepertimu."
"Peri suci?" Zara membeo.
"Ya, kau adalah keturunan peri putih yang dipadukan dengan mahkluk penghisap darah. Kami sudah hampir menyerah karena mencari Cara untuk menghilangkan kutukan ini. Dan salah satu tabib mengatakan bahwa kami harus mencari darah perpaduan antara keturunan peri dan mahkluk penghisap darah. Dan kami mendengar kabar bahwa kaulah orangnya."
Ujar pemimpin klan mereka yang sudah berada dibelakang mereka.
"Maksud kalian, kalian menginginkan darah Zara sebagai penawar kutukan itu?" Mata Zach menajam dan emosinya mulai tersulut. Tidak akan dia biarkan istrinya menumpahkan darahnya demi kepentingan mereka.
"Yang mulia Raja. Tenanglah, dan duduklah terlebih dahulu." ujar pemimpin klan itu. Zara memberi anggukan pada Zach agar mengikuti mereka.
"Kami hanya ingin kalian berdua meneteskan sedikit darah pada acara ritual kami nanti malam disaat bulan berubah menjadi merah. Dan saat itu perpaduan elemen dan juga kekuatan kalian akan meningkat, dan akan menghasilkan cahaya. Dengan cahaya itulah kutukan itu akan hilang."
Zach menyipitkan matanya, jika mereka hanya butuh sedikit darah kenapa harus susah payah mengajak mereka kesini. Bukankah mereka lebih suka menyerang dan merebut darah itu, pikirnya.
"Aku tahu apa yang ada dipikirkanmu yang mulia Raja. Kami tidak bisa melakukannya dengan paksa. Hal ini harus dilakukan secara sukarela, agar sihirnya berhasil."
"Aku mengerti sekarang. Kalau begitu kami setuju untuk membantu kalian. Tapi aku punya syarat untuk itu." ujar Zara tegas.
"Apa itu Yang mulia Ratu?"
"Aku ingin kalian membantu kami saat menyerang mahkluk kegelapan yang bernama Erios. Kalian, dan semua klan kalian harus mau menjadi pasukan terdepan."
"Erios?" pemimpin klan itu ingat betapa berbahayanya Erios dan ilusinya. Wajahnya menampilkan sebuah ketakutan.
"Ya, Erios. Apa kau takut?"
"Siapa yang tidak takut dengan mahkluk mengerikan itu Yang mulia Ratu. Apa yang membuatmu yakin ingin mengadapinya?"
"Anakku, saat anakku lahir nanti, dia yang akan membunuh mahkluk itu." ucap Zara sembari mengusap perutnya yang mulai membengkak.
Pemimpin klan itu mengangguk pelan. Tentu anak mereka pasti memiliki kekuatan yang tidak kalah hebat. Karena perpaduan antara kedua orang tuanya. "Tapi Yang Mulia Ratu harus berhati-hati. Karena pastinya anak kalian akan menjadi incaran mereka, jika sampai mereka tahu. Karena itu sangat mengancam mereka."
"Tenang saja ! Kami sudah mengurus hal itu." saut Zara santai.
"Baiklah, kami setuju menunggu sampai anak Kalian lahir. Kalau begitu, mari ikut kami ketempat ritualnya. Kita akan melakukan ritual itu sebentar lagi."
Zara mengangguk setuju dan langsung mengikuti langkah kaki pemimpin assasin itu. Sementara Zach terpaksa mengikuti istrinya dengan langkah malas, namun tetap waspada. Bisa-bisa, para assasin ini hanya mengelabui mereka, demi mencapai kepentingan pribadi mereka. pikirnya.
****
Semua para assasin berkumpul ditempat yang telah disediakan. Zara dan Zach berada ditengah-tengan kerumunan mereka yang membentuk sebuah lingkaran. Mereka menengadah menatap bulan yang tak kunjung berubah menjadi merah.
Pemimpin Klan itu menghidupkan api yang membuat warnanya berkobar menjadi keunguan. Udara terasa begitu hangat, keringat menetes dikulit mereka menantikan detik-detik sang bulan mengubah wujudnya. Sementara sang Raja dan Ratu Flourenc bersiap untuk mengikuti ritual itu.
Mereka menatap kearah bulan yang mulai merubah warnanya. Dan disaat itulah api berkobar lebih besar dibawah sinar bulan itu.
"Silahkan Yang mulia Raja dan Ratu." ujar pemimpin itu mempersilahkan untuk meneteskan darahnya dikobaran api itu.
Raja dan Ratu Flourenc mengangguk dan langsung menyayat sedikit tangannya, membiarkan darah mereka menetes dikobaran api. Api itupun berubah warna menjadi merah gelap. Dalam waktu beberapa menit kobaran itu langsung mengeluarkan cahaya yang dipantulkan oleh sinar bulan. Kobaran itu menghasilkan aura panas yang membuat sekujur tubuh mengelurkan keringat yang begitu deras. Cahayanya menyilaukan pandangan semua mahkluk yang ada disana. Semua klan assasin yang terkena kutukan kini berubah kembali seperti semula. Seiring dengan redupnya kobaran api tersebut.
"Terimakasih Yang mulia Raja dan Ratu. Kalian telah berhasil membantu kami." pemimpin Klan assasin itu berlutut dihadapan Zara dan Zach. Mereka berdua tersenyum senang karena telah berhasil menyelamatkan Klan assasin dari kutukan. Selain itu juga mereka memberikan keamanan pada kaum Flourenc, tidak akan ada lagi assasin yang akan membunuh penduduk Flourenc. Mereka akhirnya berdamai dan menjalin kerjasama dalam peperangan.
*~*
Dentingan suara pedang seakan menjadi sebuah alunan indah diruangan itu. Alger dengan begitu lincah dan gesitnya menghadapi 3 orang sekaligus dalam pelatihannya. Tubuhnya yang bertelanjang d**a serta keringan yang mengucur dibagian tubuhnya membuat Lily berkali-kali menelan saliva nya melihat keindahan yang ada dihadapannya.
Ketiga orang itupun berhasil dikalahkan oleh Alger dengan begitu mudahnya. Lalu pedang yang tadinya dipegang oleh Alger melesat cepat kearah Lily. Untungnya pedang itu memancap didinding yang berada beberapa senti diatas kepalannya. Lily sempat kaget. Sampai memejamkan matanya, Sementara nafasnya naik turun karena begitu syok.
"Dasar penguntit !!" Lily segera membuka matanya saat mendengar makian dari mulut Alger.
"Apa kau bilang !!" Lily menatapnya geram sembari mengepalkan tangannya.
"Aku yakin kau mendengarnya tadi." sautnya santai.
"Aku bukan penguntit, aku hanya tidak sengaja lewat. Dan melihat suara dentingan pedang. Jangan terlalu percaya diri, dengan berfikir seperti itu." ucap Lily ketus. Lalu membalikan tubuhnya untuk melangkah pergi. Namun tangan Alger mencekalnya dan menariknya hingga tubuh Lily membentur d**a bidangnya yang kokoh.
"Mau kuajarkan bermain pedang!" Alger menatap Lily yang masih kesal karena dirinya. Dan menahan pinggang Lily agar tidak menghindarinya.
"Aku tidak mau. Lepaskan aku !!" sautnya sembari memberontak, sementara Alger malah semakin menekan pinggulnya dan sedikit meremasnya. Lily membelalak, dan memukul-mukul dadanya. "Lepaskan aku. Baik, Aku mau. Sekarang lepaskan aku."
Alger tersenyum miring dan langsung melepaskan tangannya. Lily menatapnya tajam dengan menampilkan wajah permusuhannya.
"Ambil pedangnya."
Lily mengambil pedang itu dan mengangkatnya. "Au, kenapa berat sekali. Bagaimana caraku menggunakannya jika seberat ini !!" protes Lily sembari masih berusaha mengangkat pedang itu dengan satu tangan.
"Nanti kau akan terbiasa."
Lily berdecak sambil menahan pedang itu agar tidak goyah saat dipegangnya.
"Ayunkan pedang itu padaku." Lily mencoba sekuat tenaga mengayunkan pedang itu. Namun tidak sedikitpun mengenai tubuh Alger karena tenaga Lily yang begitu lemah.
"Ayunkan dengan benar !!" kali ini Alger meninggikan suaranya.
"Aku sudah berusaha. Tidak perlu berteriak seperti itu." sautnya kesal. Lily kembali mengayunkan pedang itu kearah Alger. Gerakan nya yang begitu pelan dan asal-asalan, membuat Alger menggeram tidak sabar.
"Begini caranya,"
Alger mengambil posisi berada dibelakang tubuh Lily sembari memegang tangan Lily yang digunakannya untuk memegang pedang itu. Lalu mengayunkannya dengan benar.
Sentuhan tubuh Alger malah membuat Lily gugup. Dan tidak fokus pada penjelasan Alger. Tubuhnya mengikuti gerakan Alger namun pikirannya melayang kemana-mana. Hingga dia tersentak saat Alger mengagetkannya. Dan menjauhkan tubuhnya dari Lily.
"Lily, apa kau mendengarku?
"I-ya, tentu saja." sautnya tergagap.
"Sekarang angkat pedangmu, dan lakukan seperti yang kuajarkan tadi."
Lily mengangguk dan mengayunkan pedangnya. Namun sama seperti sebelumnya, gerakan Lily terkesan asal-asalan. Tidak mengenai sasaran sedikitpun.
"Ck, Dasar bodoh !! Pantas saja kau lemah, apa otakmu itu sekecil kutu !"
Emosi Lily tersulut mendengar makian Alger padanya. Seakan memiliki kekuatan super. Lily mengayunkan pedangnya dengan amarah yang memuncak. Hingga membuat Alger kesulitan menghindarinya. Meski serangan Lily tidak beraturan, namun Alger cukup salut dengan cara yang ia gunakan.
"Dasar lemah !! Aku benci mahkluk lemah sepertimu." Alger sengaja menyulut emosi Lily, agar Lily kembali menyerang dengan kekuatan dan kecepatan penuh. Suara dentingan pedang itu menggema disana. Serangan Lily kali ini cukup brutal, bahkan wajahnya nampak bengis.
Keringat Lily mulai bercucuran dikulitnya yang putih dan nampak licin. Membuat nya semakin terlihat cantik dan sexy dimata Alger. Sejenak Alger terpana dengan kecantikan Lily yang semakin terpancar. Hingga Lily berhasil mengambil kesempatan itu dengan membuat pedang yang dipegang Alger terjatuh dan melenting.
Lalu Lily mendaratkan ujung pedangnya dileher Alger, sehingga membuat Alger membeku. Jika Alger bergerak sedikit saja maka ujung pedang itu akan melukai lehernya.
"Kau kalah !!" ucap Lily dengan nafas yang naik turun dan tatapan sinis. Alger bergeming dan menatap kedalam matanya yang sebiru lautan itu. Seakan terjebak didalam pesonanya. Namun Alger sendiri masih enggan untuk mengakuinya bahwa dia juga cukup tertarik dengan gadis kecil yang berada dihadapanya ini. Gadis ini memiliki aura tersendiri dalam memikat para pria, wajahnya yang kecil, hidung mancung lurus serta bibir merah yang agak tebal. Ditambah mata Lily yang berbentuk bulat dan memiliki manik sebiru lautan. Lily bagaikan seorang dewi dalam versi nyata.
Lily menurunkan pedangnya dan melemparnya asal. "Jangan pernah memanggilku lemah lagi. Aku tidak selemah kutu." ucapnya datar. Dan langsung melangkah pergi meninggalkan Alger yang masih bergeming disana.
Alger menatap punggung Lily yang perlahan menghilang dari balik pintu. Dia bahkan masih bisa mendengar Lily menggerutu kesal dengan nafas yang masih tersengal.
Alger menarik sudut bibirnya sebelum mengucapkan ....
***Wanita ini ...
Cukup menarik ....