"Lily, apa kau yakin ingin pergi kesana? Tempat itu banyak penyihir jahat. Akan sangat berbahaya bagimu?" ucap Ratu Anna lembut dengan sedikit cemas.
"Tidak apa, Yang mulia Ratu. Aku sudah biasa pergi kesana. Dan aku tahu jalan cepat menuju tempat itu."
Ratu Anna tersenyum. "Baiklah Lily. Tapi kau harus berhati-hati. Jika sudah selesai, segeralah kembali. Aku akan memerintahkan beberapa pengawal untuk menjagamu."
"Baiklah Yang mulia Ratu. Aku pergi dulu." Lily menunduk hormat sebelum pergi ketempat tujuannya.
*~*
Alger merasa gelisah, karena seharian ini dia merasa kosong, seperti ada yang hilang. Tapi apa? Alger bahkan tidak menyadari kehadiran Ratu Anna disana yang berjalan mendekatinya.
"Ada apa Alger? Kau terlihat gelisah."
"Yang mulia Ratu. Tidak ada, aku hanya bosan."
"Bosan? Aku pikir kau pergi ke hutan untuk berburu."
"Aku sedang tidak ingin kesana,"
"Kalau aku tahu, kau tidak pergi. Aku tidak akan membiarkan Lily pergi."
Alger berkerut mendengar ucapan Ratu Anna.
"Lily pergi? Kemana? Untuk apa?" pertanyaan beruntun Alger membuat sang Ratu menatap heran.
"Kau mengkhawatirkan nya?" tuduhnya.
Alger bungkam. Otaknya bahkan tidak berfikir untuk menyela ucapan itu.
"Dia pergi keutara. Mencari bahan untuk persediaan racikan obat di istana. Sepertinya dia banyak mengetahui tentang tumbuhan obat-obatan. Jadi dia bersikeras ingin pergi."
"Aku akan menyusulnya. Saya permisi dulu Yang mulia Ratu." Alger menunduk hormat dan segera pergi. Sementara sang Ratu tersenyum menatap kepergian Alger yang nampak terburu-buru.
*~*
"Sepertinya ini sudah cukup !" ujar Lily sembari mengumpulkan bahan racikannya itu. Namun tiba-tiba dia terpeleset karena batu yang dia naiki cukup licin, untungnya sebuah tangan kekar menahan pinggangnya sehinga dia tidak jadi tergelincir.
Lily mengangkat wajahnya, saat melihat siapa yang menolongnya. Mulut Lily terbuka menatap sosok pria yang sangat tampan dihadapannya.
"Nona, kau baik-baik saja?" tanya pria itu.
"A-aku baik. Terimakasih telah menolongku."
Pria itu tersenyum. "Sama-sama. Namaku Julian. Siapa namamu?"
"Aku Lily."
"Apa kau elf?"
Lily mengangguk dan tersenyum lembut. Entah mengapa dihadapan pria ini membuatnya sedikit sekali berbicara. Mungkin karena begitu mengagumi, sosoknya yang sangat menawan.
"Apa yang kau lakukan disini?" ucap Jullian membantu Lily turun.
"Aku sedang mengumpulkan bahan untuk racikan obat diistana."
"Apa sudah kau dapatkan semua?"
Lily kembali mengangguk dan tersenyum. Sampai senyumannya luntur saat menyadari kedatangan Alger dengan wajah merah. ("Sepertinya Alger sedang marah? Tapi kenapa?") batin Lily. Jullian menoleh kearah pandangan Lily dan melihat sosok Alger yang menatapnya tajam.
Alger mendekati mereka dan langsung menarik Lily agar menjauh dari Jullian.
"Jangan dekati dia Lily, dia penyihir !!"
Lily menatapnya bingung. "Memangnya kenapa jika dia penyihir. Dia sepertinya tidak jahat. Dia sempat menolongku tadi."
"Kau tidak tahu apapun tentang penyihir. Mereka sangat jahat dan licik." Alger berucap sembari menatap tajam Julian.
"Jaga bicaramu ! Apa kau pikir kau lebih baik dariku?"
Lily menatap kearah mereka berdua secara bergantian, seolah ingin beradu tinju dan menunjukkan taring mereka masing-masing.
"Heii, jangan bertengkar. Alger, tidak semua penyihir itu jahat. Jangan langsung menghakimi, tanpa mengetahui yang sebenarnya." Lily kembali membela Jullian, sehingga Jullian tersenyum sinis menatap Alger yang semakin murka dan seolah ingin meledak saat itu juga.
"Ayo kita kembali ke istana, sekarang juga !!"
Alger menarik kasar tangan Lily dan membuka portal kerajaan secara langsung agar Jullian tidak mengejar mereka.
Hanya dalam hitungan menit, mereka telah sampai di istana. Alger masih menarik tangannya dengan paksa, hingga Lily meringis kesakitan.
"Alger. Lepaskan tanganku, aku bisa jalan sendiri."
Alger yang dikuasai emosi tidak memperdulikan rengekkan Lily.
"Alger, HENTIKAN, KAU MENYAKITIKU." teriak Lily yang membuat Alger menghentikan langkahnya dan menatap tajam kearah Lily.
"Aku tidak suka melihatmu berbicara dengan mahkluk seperti itu Lily, jangan pernah mendekatinya lagi." Rahang Alger nampak bergerak-gerak menahan marah.
"Memangnya kenapa? Dia baik padaku, sudah menjadi hal wajar jika dia ingin berteman denganku. Kenapa kau marah !!" ujar Lily mengangkat wajahnya, seolah menantang Alger.
Alger menggeram marah, dan menarik rambut Lily hingga wajah Lily menengadah keatas memaksa menatap matanya.
"Aku tidak suka dibantah. Kau harus mendengar kan ucapanku. Ingat, kau berada disini itu karena diriku." bisiknya didepan wajah Lily, sehingga Lily bisa merasakan hembusan nafasnya.
"Kau tidak bisa memperlakukan aku seenaknya Alger. Tubuhku adalah milikku." Lily melepaskan kasar tangan Alger dan menjauhinya.
"Benarkah? Sekarang tidak lagi," Alger tersenyum sinis menatapnya. Dan berjalan mendekatinya dengan aura mengerikan disekelilingnya.
Lily menelan ludah nya dan berjalan mundur beberapa langkah kebelakang. Pria itu sudah berdiri dihadapannya dengan tubuhnya yang tinggi menutupi tubuh Lily.
"Tubuhmu adalah milikku Lily ..." Alger tidak sempat melanjutkan ucapannya karena langsung mencium kasar bibir Lily dan mencecapnya, hingga Lily tersudut kedinding dengan tubuh Alger menghimpitnya dan menahan dengan kedua tangannya. Pria itu merenggut dan mencicipi manisnya benda kenyal yang menyenangkan itu dan memaksanya membuka menyelusuri setiap rongga didalam mulutnya menggunakan lidahnya. Lily tidak bisa menghindar, merasakan sensasi aneh yang menjalar diseluruh tubuhnya.
Tenaga Lily sangat jauh dibawah Alger, hingga dia tidak bisa menghindar dari serangan itu. Lily hanya memukul-mukul d**a Alger yang sekeras batu, berusaha menyadarkan pria itu agar menghentikan aksinya, hingga dia bisa mengambil udara untuk bernafas.
Alger menghentikan nya saat melihat Lily sudah merasa pengap dan membiarkannya menghirup udara dengan rakus. Lalu melanjutkan kembali aksinya. Kali ini Alger melakukannya lebih dalam dan sesekali menggigit bibir bawah Lily. Hingga Lily nyaris mengerang.
"HENTIKAN !!" Lily menendang area sensitif pria itu hingga dia meringis kesakitan. Lily mengambil kesempatan itu untuk segera kabur dari sana. Tidak memperdulikan Alger yang terus berteriak memanggil namanya.
Lily terus berlari sampai kekamarnya dan menutup pintu dengan keras lalu mengunci nya. Lily memegang dadanya yang berdegup kencang dan nafasnya yang tidak beraturan.
"Astaga ! Apa yang telah kulakukan? Alger terlihat kesakitan !" Lily bergumam merasa sedikit bersalah, namun perbuatan Alger tadi membuatnya merasa bahwa Alger pantas mendapatkannya.
Lily memegang bibirnya yang bengkak, akibat perbuatan Alger. Lily sangat yakin bahwa banyak pasang mata yang melihat mereka tadi. Hanya saja dia heran, Kenapa tidak ada satupun yang berniat untuk menolong nya tadi.
"SIAL, BENAR-BENAR SIAL."
****
Lily berjalan menyusuri hutan yang selalu mendampinginya. Hanya ada sedikit cahaya matahari yang bisa masuk menerangi permukaan tanah, pohon yang begitu tinggi di tumbuhi dedaunan yang mulai mengering.
Matanya menatap kearah sungi yang memiliki air terjun yang mengalir deras disana. Lily tidak tahan untuk mendekatinya dan berendam disana. Pasti akan terasa sejuk, pikirnya.
Lily segera berjalan untuk masuk kedalam air. Segarnya angin yang berhembus, membuatnya merasa tenang dan damai. Lily menutup matanya, membiarkan air terjun mengujamnya hingga dia bisa merasakan kedamaian.
"Lily?"
Suara yang cukup familiar baginya, membuat Lily menatap kesumber suara itu.
"Jullian?"
Untung saja Lily masih memakai lengkap pakaiannya. Jika tidak, maka dia pasti akan sangat malu.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku hanya berjalan-jalan sebentar dan tidak sengaja melihatmu." Jullian memilih duduk diatas bebatuan. Dia tidak ingin membuat Lily malu untuk ikut mandi bersamanya.
"Apa kau sering datang kemari?" tanya Lily.
"Ya, aku suka tempat ini. Tenang dan damai." saut Jullian tersenyum menatap Lily.
"Apa aku boleh bertanya hal lain?" Lily menatap ragu, namun Jullian malah tersenyum.
"Boleh saja !"
"Bukankah kau seorang penyihir? Kenapa kau menolongku waktu itu? Dan tidak menculikku untuk mengambil jiwaku. Seperti penyihir lainnya. Bukankah itu akan membuat mereka bertambah kuat !"
"Aku tidak seperti mereka. Bisa dikatakan aku seorang Anomali. Dalam artian tidak tertarik dengan hal seperti itu. Aku hanya merasa bahwa aku tidak berhak merenggut nyawa mereka. Disisi lain, aku juga ingin hidup seperti biasa tidak tergantung pada sihir. Meski tanpa itu aku akan lemah."
Lily diam sejenak. "Kau hebat Jullian. Tidak ada yang seperti dirimu."
Jullian hanya terkekeh mendengar nya.
"Lily ... Aku pergi dulu, nanti aku akan kembali lagi. Ada sesuatu yang harus aku urus." Jullian berjalan cepat masuk kedalam hutan seakan mengincar sesuatu. Sementara Lily hanya menatap bingung akan sikapnya itu.
Lily menghela nafas dan kembali merasakan air terjun yang kembali menimpanya. Lily memejamkan matanya seakan menikmati percikan air terjun yang menyentuh tubuhnya. Kali ini Lily membuka pakaiannya karena merasa tidak akan ada siapapun lagi disana. Namun ternyata pikirannya itu salah. Seseorang menatapnya dari balik ranting seperti singa kelaparan.
Alger hanya memperhatikannya selama beberapa saat. Sampai matanya menatap kearah pakaian yang ditanggalkan diatas batu besar.
Alger menyingkap ranting itu dan berjalan mendekati Lily. Masuk kedalam air tanpa sepengetahuan Lily. Matanya menatap penuh minat kearah wanita itu.
Lily membuka matanya dan tersentak kaget melihat kehadiran Alger yang sudah berada dihadapannya saat itu. Lily yang tidak memakai apapun itu, hanya bersembunyi didalam air untuk menutupi tubuhnya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Lily menatapnya waspada.
Alger semakin mendekatinya dan menarik pinggang Lily hingga tubuh mereka saling bertabrakan. Derasnya air terjun bahkan tidak menghilangkan tatapan tajam Alger yang seakan menatap lapar pada mangsanya.
"Lepaskan," Lily memberontak dan memukul-mukul tubuhnya. Namun Alger justru semakin mengeratkan tangannya. Dan menyunggingkan senyumannya.
"Kau masih saja bertemu pria itu !!." ucap Alger menatapnya datar.
"Memangnya Kenapa?" Lily mengangkat wajahnya.
"Kau tidak mengindahkan ucapanku Lily. Aku sudah bilang dia berbahaya."
"Aku tidak percaya padamu, dia baik padaku. Lagi pula, ini hidupku. Jadi terserah padaku. Dan aku bukan budakmu, jadi aku tidak perlu tunduk padamu." Lily meninggikan suaranya, membuat mata elang Alger menatapnya murka.
Alger membalik tubuhnya dan pergi dari sana. Lily yang berfikir bahwa Alger akan meledak marah justru meninggalkan nya begitu saja.
Lily menatapnya bingung sebelum berucap. "Dasar aneh !!"
*~*
Sementara itu dikerajaan Flourenc ....
"Zara, sepertinya kandunganmu semakin besar. Aku jadi Curiga. Jangan-jangan, isinya lebih dari satu."
Zara hanya terkekeh mendengar ucapan Rebecca yang asal.
Lalu tatapannya beralih pada Century yang berjalan cepat kearah mereka dengan raut wajah yang cemas.
"Century ada apa?"
"Gawatt ... Dinding sihir pada portal kerajaan kita telah terbuka. Sepertinya para mahkluk kegelapan terpancing dengan kehamilan Yang Mulia Ratu." ucap Century dengan nafas yang masih tersengal.
"Sial ... Apa yang harus kita lakukan sekarang !" Rebecca memaki kesal.
"Mereka pasti mengincar anak Zara saat ini. Ini bahaya ..."
"Tenanglah Becca, pasti ada cara untuk menghadapinya." ucap Zara menenangkannya.
"Ini akan membuat kita kewalahan Zara. Mereka akan datang secara silih berganti. Aku yakin tidak lama lagi, Erios juga pasti mengetahui hal ini."
"Dimana Zach?"
"Dia sedang mengadakan rapat para dewan kerajaan. Tentang masalah ini." saut Century.
"Kalau begitu, aku akan menemuinya disana." Rebecca segera pergi menemui Zach dengan langkah lebar. Sementara Zara, hanya mendesah letih. Dikehamilannya yang semakin besar, membuatnya mudah kehabisan tenaga. Dia tidak yakin bisa ikut andil, jika sewaktu-waktu ada penyerangan nanti.
"Kau akan baik-baik saja nak. Ibu berjanji, akan selalu melindungimu." Zara berucap sembari mengelus perutnya yang buncit. Seolah sedang berbicara dengan anaknya itu.
~
Zach melangkah, memasuki kamarnya dan mendekati wanita yang sedang tertidur dengan selimut menutupi separuh tubuhnya. Zach mengambil tempat, berbaring disebelah Zara dan membawa Zara kedalam pelukannya. Menyalurkan kehangatan yang akan membuatnya nyaman dan kekacauannya menjadi sedikit tenang.
Zara menggeliat. Merasakan ada yang menempel erat ditubuhnya. Dan melihat tangan kekar yang melingkar diperutnya. Zara tersenyum dan membalikkan tubuhnya. Menatap wajah suaminya yang nampak sendu.
"Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya Zara menatap kedalam matanya.
"Aku akan membuat semuanya baik-baik saja Zara. Jangan khawatir. Tidak akan aku biarkan mahkluk kegelapan menyakitimu dan juga calon anakku."
Zara mengangguk dan membalas pelukam suaminya. Menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya yang membuatnya merasakan kenyamanan.
"Anakmu tidak lama lagi akan segera lahir Zach. Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya." tanya Zara mengangkat wajahnya, kembali menatap suaminya.
"Sudah. Aku akan memberinya nama Khazayn. Khazayn Flourenc."
"Nama yang bagus."
"Kau tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak. Itu anakmu, kau berhak memberinya nama."
Zach tersenyum dan mengecup puncak kepala istrinya. Mendekapnya erat, seolah mereka akan segera terpisah. Zara kembali memejamkan matanya. Sementara Zach bahkan tidak merasakan kantuk sedikitpun. Memikirkan bahaya yang akan menimpa kerajaannya nanti. Zach sendiri bingung apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan keluarganya dari cengkraman mahkluk kegelapan yang haus akan darah dan kekuasaan.
"Sepertinya kali ini akan banyak terjadinya pertumpahan darah." batinya.
Zach memejamkan matanya sejenak. menjauhkan ketakutan untuk menghadapi hari esok.