Pesan dari Mas Amran membuatku tak mampu berkata-kata. Rencana ingin beli ini dan itu mendadak buyar seketika. Aku ingin sampai rumah dengan segera. Arumi seolah memaklumi kegelisahanku. Tanpa meminta, dia mengajakku pulang. "Tenang, Va. Ada aku sebagai saksinya." Arumi kembali menenangkanku. Dia tahu jika saat ini diamku bukan karena lelah atau mengantuk seperti biasanya, tapi karena takut Mas Amran kembali curiga. Aku benar-benar nggak ingin hubungan Mas Amran dan Mas Zain memburuk karena masalah ini. Harusnya justru berterima kasih sebab dia yang dikirim Allah untuk menolongku dari tragedi itu, jika tidak, tentu keadaanku tak sebaik sekarang. "Masuk, Mi. Aku ambilkan minum dulu ya." Arumi mengangguk saat kuminta duduk di sofa ruang tengah. Minuman bersoda kesukaannya pun kuhidan

