"Astaghfirullah, Ruri!" pekik nyaris semua orang yang menyaksikan tragedi itu. Aku tak menyangka jika Ruri justru berdiri dengan satu kakinya saat vas itu melayang ke arah kami. Dia berusaha melindungiku yang masih mengikat perban di kaki kirinya. Gadis kecil itu menatapku sembari meringis kesakitan sebelum akhirnya jatuh pingsan. Kakinya berdarah, begitu pula keningnya. Namun, aku yakin luka di hatinya jauh lebih parah. Mbak Selly mematung saat melihat anak semata wayangnya jatuh tepat di pangkuanku. Kakak iparku itu menutup mulutnya dengan telapak tangan dengan air mata yang bercucuran. "Stop, Mbak! Jangan sakiti dirimu sendiri dan Ruri. Lihatlah, dia sakit melihatmu seperti ini!" Dengan suara serak aku berteriak. Mbak Selly masih diam di tempat lalu menjatuhkan asbak dari tangann

