[Sayang, pulangnya aku jemput ke cafe ya? Motor simpan di sana saja. Kita ke rumah mama. Bukti soal Lala kurasa sudah cukup dan mama harus tahu secepatnya. Lagipula sakit jantung itu hanya pura-pura kan? Buat apa ditunda-tunda. Sekalian Mbak Selly dan Prilly kuminta datang untuk jadi saksi] Pesan Mas Amran muncul di w******p. Aku membacanya sekilas sembari sesekali memejamkan mata karena pusing. Badan rasanya lesu dan tak bertenaga, padahal jelas aku sudah sarapan dan makan siang. Bahkan minum s**u segala. Sebelum jam satu siang aku diantar pulang oleh Fani dan Ida. Fani memakai motor maticku, pulangnya dia berboncengan dengan Ida. Mereka khawatir melihatku pucat dan lemas. Tadinya akan diantar ke klinik, hanya saja aku menolak. Kurasa ini hanya kecapekan biasa dan aku cuma butuh istir

