"Nenek, cepet ke sini. Mama berdarah!" Teriakan Ruri membuat semua yang tengah makan siang berhamburan ke kamar. Kamu saling pandang satu sama lain, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi sebab tadi Mbak Selly masih istirahat saat kami tinggal makan makan siang. Sesampainya di kamar, benar ucapan Ruri jika mamanya memang berdarah. Mbak Selly menggores pergelangan tangannya dengan pisau. Darah menetes dan berceceran di lantai sementara dia terbaring lemah di atas ranjang dengan wajah kesakitan. "Ya Allah, Selly! Apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu bisa seperti ini, Shelly!" Mama berteriak cukup kencang dan histeris saat melihat keadaan Mbak Selly yang nyaris pingsan. Tanpa kata, Mas Amran segera membopong kakaknya lalu memintaku untuk membuka pintu mobil. Mama pun buru-buru mengambil

