"Mau kemana, Mas?" tanyaku pada Mas Amran yang justru berbelok ke kanan, tak langsung menuju gerbang rumah Lala sepertiku dan mama. "Tunggu sebentar," ucapnya dengan senyum tipis. Aku pun terdiam sejenak, memperhatikan apa yang akan dilakukan suamiku yang kini berdiri di depan tong sampah itu. Mas Amran membuka kotak sampah di depannya lalu mengambil gumpalan kertas di sana. Aku memang penasaran apa sebenarnya isi kertas itu, hanya saja aku tak sepenasaran Mas Amran yang memungutnya dari tempat sampah. "Amran! Kamu ngapain malah ngorek-ngorek sampah begitu? Kurang kerjaan. Bau itu, mama mual." Mama mulai mengomel, tapi Mas Amran hanya mendongak lalu kembali tersenyum tipis. Robekan-robekan kertas lecek itu disatukannya hingga mulai membentuk lembaran. Perlahan Mas Amran mulai membac

