"Mama benar-benar kecewa sama kamu, La. Nggak nyangka, sampai hati kamu membohongi kami semua. Jika Amran tak menemukan surat ini, kebohongan apalagi yang kamu rencanakan? Ya Allah, apa mama dan papamu tahu kebohonganmu ini?" Mama menitikkan air mata, sementara Lala masih berusaha mengelak. "Keterangan itu bohong, Ma. Palsu. Sengaja diberikan Gibran untukku agar aku tak kembali berharap pada Mas Amran yang memang mendambakan seorang anak. Gibran sengaja memalsukannya agar aku mau kembali sama dia yang tak pernah protes dengan kemandulan pasangannya. Percayalah, Ma. Gibran pelakunya. Dia yang merencanakan ini semua." Lala terus bercerita, meski mama tak membalas apapun yang dikatakannya. Mama hanya dan terus menangis lalu mengembalikan kertas itu pada Mas Amran kembali. Tak ada obrolan

