Mas Amran memintaku dan mama untuk pulang dengan taksi sebab dia harus mengantar Om Galih ke rumah sakit. Ancaman Lala buatku tak ada artinya sebab kapan saja aku bisa menjebloskannya ke penjara. Aku dan Mas Amran sudah memegang kartu merahnya, jika dia kembali berbuat macam-macam mungkin memang ingin berlama-lama di penjara. "Ke rumah mama dulu, Va. Nanti biar dijemput Amran ke sana." Entah mengapa mama mulai melunak saat aku dan dia sudah duduk di bangku penumpang taksi online yang kupesan. Apa karena mama sudah muak dengan ulah Lala hingga dia mau menerimaku sebagai menantu? Aku pun tak tahu. Namun, aku cukup bersyukur jika mama benar-benar mau menerima kehadiranku dalam keluarga besarnya. Ingin kunikmati masa kehamilan ini dengan bahagia, tanpa tekanan batin dari pihak manapun j

