BAGIAN 44

1617 Kata

"Itu Gibran kan, Mas?" tanyaku pada Mas Amran yang baru melepaskan seat belt. "Iya, Sayang. Itu Gibran. Apa mungkin yang nabrak kamu waktu itu Gibran atas perintah Lala?" Mas Amran menatapku lekat penuh dengan kecurigaan. Ingin kukatakan mungkin, bisa jadi atau bahkan iya, tapi aku hanya menjawab dengan mengedikkan bahu. Pikiranku benar-benar kalut. Apakah dugaan Mas Amran itu benar? Lala yang menyuruh Gibran untuk mencelakakanku saat itu? Entahlah. Gerbang rumah Lala terbuka sebagian. Laki-laki itu pun masuk ke dalam. Mas Amran buru-buru memarkirkan mobil di halaman masjid yang ada di seberang jalan. Perlahan dia mengajakku untuk ke rumah Lala. Meski aku menolak, tapi dia tetap memaksa. "Ini kesempatan langka, Sayang. Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika memang Lala b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN