Move On

2211 Kata
Heboh. Kata itu yang bisa menggambarkan kala April bertemu dengan Agatha. Seperti sekarang ini, tangan mereka masing-masing memegang mic, karaoke bersama mendendangkan aneka lagu menjadi hal wajib jika April berkunjung ke rumah Agatha atau sebaliknya. Sinta hanya jadi penonton melihat sahabat dan putrinya kini berjoget dan menyanyikan lagu dangdut. Andra bergabung dengan Arga dan Sigit yang bermain catur. Tidak ada yang sadar ada mobil datang dan masuk ke halaman rumah April. “Assalamualaikum.” Tidak ada yang menjawab salam. “Masuk, mana dengar, itu lagi karaoke.” Tangan Yoga yang tadi mengucap salam ditarik sang kakak. Mereka langsung menuju ruang keluarga di mana ada home theater dan perlengkapan karaoke lengkap. Namun, naas, tiba sampai di sana Agatha sedang duet goyang maut dengan April. Pinggulnya bergoyang patah-patah sembari menyanyikan lagu dangdut pantura yang sedang hits. “Masya Allah, calon istri goyangnya, mantap itu mas. Kalau goyang di atas bikin merem melek,” bisik Yoga dan hadiah jeweran dari Yongki membuat dia memekik kesakitan hingga Agatha pun berbalik menengok ke arah mereka. Glek. Tahu Yongki dan Yoga berdiri di belakangnya Agatha langsung nyungsep dan menyembunyikan wajahnya di sofa di mana Sinta duduk. “Mommy malu,” rengeknya. April meraih remote dan mematikan semuanya. “Kenapa tidak salam dulu,” tegur April pada kedua putranya. “Aku sudah salam, teriak-teriak sampai satu RT dengar juga mama diam saja,” seloroh Yoga menjawab dengan meraih tangan April, kemudian bergeser mendekat pada Sinta untuk melakukan hal yang sama. “Ih, malu-malu segala. Yang ada mas Yongki langsung sange lihat kamu goyang,” bisik Yoga menggoda Agatha. “Apaan sih, edan kamu,” balas Agatha mendorong jauh kepala Yoga dan masih menenggelamkan wajahnya di dudukan sofa. “Apa kabar Mom.” Suara Yongki tertangkap telinga Agatha. Sudah dipastikan dia sedang menyalami Sinta. Jantungnya berdetak tidak karuan, sungguh malu tidak bisa dia sembunyikan. Pertama kalinya dia bergoyang heboh disaksikan pria dan parahnya pria yang melihat adalah pria yang dicintainya. “Apa kabar, Ta,” sapa Yongki. Agatha menggeleng. “Eleh, jaga image segala. Katanya kangen sama mas Yongki. Disapa sok jual mahal,” goda Yoga yang tampak sangat menyebalkan di mata Agatha. “Aku malu, diam Ga,” rengeknya masih belum berani mengangkat wajah. Satu sudut bibir Yongki terangkat. Sikap kekanakan Agatha belum juga berubah. “Katanya kemarin ketemu sama Tata, Mas?” tanya Sinta membuka percakapan. “Iya.” “Kapan mas? Kok ketemu Agatha tidak ajak aku, wah, colong start ini. Jangan-jangan memang kalian sengaja ketemuan, ngedate berdua dan melupakan aku,” protes Yoga yang tidak tahu menahu pertemuan singkat Agatha dan Yongki di Kafe beberapa hari lalu. “Kami tidak sengaja ketemu, Ga. Itu juga mas Yongki datang sama Miss Nadia, aku sama Angie,” beber Agatha yang perlahan merambat naik ke sofa dan duduk di samping sang mommy tanpa berani mengangkat wajahnya menatap Yongki. “Nadia itu siapa Mas? Pacar kamu?” tanya April menyelidik. “Bukan.” “Terus siapa? Tumben kamu ketemu cewek berdua saja tidak ajak adikmu. Lagian mama mau kamu –” “Beib, kita sudah sepakat tadi ya,” potong Sinta yang tidak ingin April terus memaksa Yongki menikah dengan putrinya. “Teman kampus pas s2.” Yongki malas menjawab, tidak pernah berbicara panjang lebar seperti April dan sang adik. “Cantik?” tanya Yoga penasaran. “Apa juga kamu tanya cantik tidak, memangnya di Jakarta kamu tidak ketemu sama Nina bahenol itu.” Mata April mendelik pada putra bungsunya. “Oh, mama kenal sama si lampir? Dia itu gila tahu Ma. Masa aku yang tidak tahu apa-apa dikira mau merebut Yoga dari dia,” adu Agatha mengingat si Nina yang menjambak-jambak rambutnya di mall hingga perkelahian mereka dijadikan tontonan para pengunjung mall. “Ada juga kamu yang salah, baru ketemu langsung peluk-peluk heboh. Cemburu lah dia, putus deh aku sama Nina gara-gara si Agatha.” Yoga membela diri dan tidak mau disalahkan April. “Aku ke kamar.” Seperti biasa Yongki tidak pernah tertarik duduk lama bersama para wanita yang selalu heboh membahas masalah yang tidak penting. “Kami juga mau pulang, Mas.” Sinta mengajak putrinya berdiri. “Terima kasih ya, Beib. Sudah menjamu kami.” Dia mengajak April bercipika-cipiki sembari berpelukan. “Maaf ya, Yongki selalu begitu. Kalau sikapnya bikin kamu tidak nyaman aku minta maaf ya,” bisik April meminta pengertian Sinta. “Santai saja, kami memang sudah waktunya pulang. Ayo, Ta, salim dulu sama mama terus kita pulang,” ajaknya langsung meninggalkan ruang keluarga rumah April untuk memanggil Andra dan suaminya. “Kamu sih, Mas. Kalau ada Mommy itu yang sopan lah. Mereka bertamu ke sini jauh-jauh kamu malah mau tinggal ke kamar. Mama itu malu kalau sikap kamu begitu terus,” tegur April. Yongki tidak menjawab. Dia memang selalu malas berdebat dengan sang mama. Membela diri pun percuma karena pasal pertama di rumah ini selalu berlaku. Mama tidak pernah salah. “Ma aku pulang, jangan marahi mas Yongki, kasihan Ma.” Agatha mendekat mengajak April berpelukan dengan bergantian mencium pipi kanan dan kiri April. “Ciye, dibelain pacarnya,” goda Yoga dan tidak lama dia mengaduh karena Yongki menginjak kencang telapak kakinya. “Terima kasih ya Sayang, maaf kalau mas Yongki masih saja cuek kaya bebek kampung,” decih April melirik Yongki. “Mama, mas Yongki ganteng. Masa disamakan sama bebek,” tepis Agatha. “Ih, kamu jangan belain dia, sudah pulang. Mama ke sana dulu cari mommy dan daddy kamu.” April menarik Yoga keluar terlebih dulu dari ruang keluarga seolah memberi kesempatan Agatha berdua dengan Yongki meskipun tidak akan pernah terjadi apa-apa di antara mereka sebanyak apa pun kesempatan yang diberikan April. “Mas, aku pulang.” Jemari Agatha saling bertaut dengan wajah menunduk. Ingin mengajak Yongki bersamalan, tapi tangannya berat untuk diangkat. Diam, tidak ada jawaban dari Yongki meski cukup lama Agatha menunggu suara Yongki terdengar. Perlahan wajahnya diangkat hingga netranya beradu tatap dengan mata elang Yongki yang tajam. “Mas aku pulang,” ulang Agatha dengan mata yang sialnya kini sedang mengagumi ketampanan makhluk adam yang sejak dulu mengisi hatinya. “Kamu lupa letak pintu keluar?” tanya Yongki. Secepat kilat Agatha menggeleng. “Ya sudah, sana pulang.” Agatha menghentakkan kaki, dengan bibir mengerucut ke depan. “Memangnya mas Yongki tidak bisa apa ngomong lembut sekali saja. Iya, Tata cantik mari aku antar pulang. Apa susahnya ngomong begitu,” keluh Agatha sambil berjalan menuju pintu keluar. “Ta.” Bibir Agatha terbuka lebar mendengar suara Yongki memanggil namanya. Dia berpikir kalau Yongki akan menuruti apa yang dia mau. “Iya, Mas,” sahut Agatha kembali memutar badan dengan memperlihatkan senyum termanis dan bersiap menerima permintaan maaf yang mungkin akan Yongki tunjukan padanya. “Tas kamu, aku tidak mau repot mengantarkannya,” tunjuk Yongki pada tas slempang kecil milik Agatha. “Ish, menyebalkan,” sungut Agatha segera menyambar tasnya dan berlari cepat meninggalkan Yongki. “Dasar es batu!” umpatnya kesal. Sepulang keluarga Agatha, April meminta Yoga untuk memanggil sang kakak. Kini mereka berempat duduk di ruang tamu. Sigit sudah mewanti-wanti tidak boleh ada perdebatan lagi mengenai Yongki yang dipaksa menikah dengan Agatha. “Mama hanya ingin bilang kalau mulai saat ini sampai ke depannya. Terserah kamu mau menikah dengan siapa pun. Kalau memang Agatha itu sangat tidak menarik di matamu. Mama bebaskan kamu cari calon istri sesuka hatimu.” “Serius?” tanya Yongki hampir tidak percaya karena selama ini dia terus didoktrin masalah perjodohan dengan Agatha. “Iya, serius. Hanya mama tidak ingin kamu terus bersikap acuh sama dia. Kalau memang kamu tidak bisa menyukainya. Maka anggap dia sebagai adikmu juga. Tidak ada lagi sikap acuh yang kamu tunjukan di depan Agatha. Mengerti, Mas?” “Sama saja kalau begitu,” desis Yongki hampir tak bersuara. “Minggu depan kita akan ada family gathering ke Subang. Kalau kamu masih saja bikin mama malu di hadapan Mommy dan Agatha. Maka sepulang dari sana mama malah bakal menikahkan kalian. Titik,” putus April sebelum berlalu meninggalkan anak dan suaminya. “Sabar ya Mas. Jangan ambil hati kata-kata mama. Dia memang selalu begitu kalau sudah menyangkut Agatha.” “Aku paham, Pa.” Yongki berdiri sebelum ikut meninggalkan ruang tamu untuk naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. “Agatha, Agatha, dari dulu sampai sekarang terus saja jadi bahan perdebatan mama dan Mas Yongki. Padahal dia cantik, seksi, pintar, kurang apa coba. Apa jangan-jangan dugaanku benar, Pa.” Yoga menjentikan jari membuat Sigit bingung dugaan apa yang dimaksud di bungsu. “Apa?” tanya Sigit melihat Yoga sejenak berpikir sebelum pindah duduk di sampingnya. “Jangan-jangan mas Yongki gay.” “Sembarangan!” Sigit menepuk kencang kening Yoga. “Atas dasar apa kamu menuduh kakakmu seperti itu?” “Coba saja papa bayangkan sudah dua puluh lima tahun, belum satu kali pun aku lihat Mas Yongki bawa gadis ke rumah ini. Papa tidak bisa tutup mata loh, tetangga kiri kanan kita yang anaknya seusia mas Yongki itu sudah nikah semua. Nah, mas Yongki sudah mapan, magister ekonomi bisnis yang punya usaha sendiri. Penghasilan dan omset per bulan sudah puluhan juta. Masa sampai sekarang dia belum bisa menggaet satu pun wanita. Kalau bukan gay, apa alasan yang lebih masuk akal dari itu?” Seketika Sigit bergidik membayangkan kalau benar anak sulung yang selama ini selalu dia andalkan terperosok ke dalam kehidupan kaum pelangi yang cukup meresahkan. “Kamu selama ini kalau liburan tinggal dengan kakakmu. Memangnya kamu pernah lihat dia bawa pria ke rumah?” “Ada, mas Bilal. Yang sering keluar masuk ke kamar mas Yongki cuma dia.” “Ah, sudahlah. Papa pusing, mana mungkin Yongki dan Bilal begitu. itu hanya kehaluan kamu saja. Pokoknya mulai sekarang kamu awasi kakakmu. Kalau ada tindakan yang melenceng, lapor segera sama papa.” “Siap, Bos.” Yoga mengangkat tangan kanan bersikap hormat. Kini dia ditinggal sendirian saat Sigit memutuskan menyusul April ke kamar mereka. Di perjalanan pulang, Agatha harus terima dengan berbagai nasihat yang Sinta tunjukkan buatnya. “Pokoknya lupakan Yongki, Ta. Mommy mau kamu lupakan dia. Banyak anak dari kolega Daddymu yang lebih tampan dan sama mapannya dengan Yongki. Jodoh itu tidak bisa dipaksa. Lebih baik kamu menikah dengan pria yang mencintai kamu dari pada memilih pria yang kamu cintai, tapi dia malah angkuh. Daddy, siapa itu yang kemarin ketemu mommy di rumah batik. Yang dari Subang, tampan, tinggi, putih dan yang paling penting tidak kalah dengan Yongki.” “Bilal.” “Nah, iya Bilal. Tolong daddy atur pertemuan Bilal dengan Agatha. Mommy sudah muak lihat Agatha bucin terus sama cowok cuek macam Yongki. Move on, Ta, move on. Hidup ini terus berjalan masa iya kamu sudah secantik ini masih saja mengemis cinta Yongki.” Agatha hanya bisa diam, menunduk dan tidak satu pun kata keluar menimpali omongan sang Mommy yang hampir semuanya benar. Ah, andaikan menghapus cinta itu semudah dengan menghapus jejak pensil yang salah membuat garis. Tentu saja tidak akan selama ini dia memendam rasa pada Yongki. “Kamu dengar mommy, Ta?” Sinta yang duduk di depan menemani Arga yang duduk di belakang kemudi seketika mengangkat wajahnya. “Dengar, Mom.” “Mommy sama daddy akan kenalkan kamu sama Bilal. Kali ini mommy mohon, Ta. Buka hati kamu, biarkan ada orang lain yang masuk menggantikan Yongki. Jangan terus mengusir setiap pria yang datang. Masa iya gara-gara Yongki kamu mau jadi perawan tua. Lagian kamu tunggu dia selama apa pun, kalau kalian memang tidak berjodoh ya susah, Ta. Susah,” pungkas Sinta yang sepertinya mulai lelah mengomel sepanjang jalan pantura dari Patrol hingga mobil mereka kini sudah mulai berbelok menuju kecamatan Lohbener sebelum sampai ke wilayah Indramayu Kota di mana rumah mereka berada. “Sabar ya, Kak,” bisik Andra mengusap lengan Agatha. Sabar, memang benar sabar itu tidak berbatas. Selalu menerima meski terus menerus dikecewakan, sesabar itu kah Agatha selalu mengalah di depan Yongki dan memosisikan dirinya sebagai pengemis cinta Yongki. Ah, mungkin Mommy-nya benar. Sekarang sudah saatnya Agatha move on dan membuka hatinya untuk pria lain. Entah itu Bilal, atau siapa pun orang baru yang mungkin akan dia temui nantinya. “Minggu depan ada family gathering di Subang, Ta. Seperti biasa kita semua menginap di sana. Nanti mommy minta kamu bersikap biasa saja ke Yongki atau bila perlu kamu ajak teman pria kamu untuk ikut supaya mommy tidak terus sakit mata melihat kamu grogi dan gelagapan di depan Yongki. Sementara dia hanya acuh saja.” “Mom, sudah. Kasihan Agatha, baru juga dia pulang. Kamu sudah mengomel panjang.” “Habis aku sebal sama dia, Dad. Masa iya tiga tahun sudah ndekem, sembunyi dari Yongki. Eh, giliran ketemu tetap saja masih cinta mati sama cowok model es batu yang kaku itu.” Sinta sepertinya belum juga puas mengomel. Hubungan dia dan April memang tidak pernah terpengaruh karena sikap Yongki, namun, sebagai seorang ibu dia juga tidak rela kalau putri sulungnya selalu saja diperlakukan acuh oleh Yongki. “Boleh aku tidak ikut,” cicit Agatha bertanya dengan suara yang begitu lemah. “Harus ikut. Kamu harus buktikan sama Yongki kalau kamu sudah move on dari dia. Buktikan kalau kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik dan jauh lebih sempurna dari Yongki, Ta. Gemes Mommy sama kamu.” Agatha mendesah pasrah, kalau sudah seperti ini dia hanya menginginkan cepat sampai rumah agar bisa mengunci diri di kamar dan meredam tangisnya dengan memeluk guling.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN