‘Ta siap-siap ya. Lunch nanti kita ke Panorama temani Daddy bertemu Bilal di sana.’
Agatha terkesiap membaca satu pesan masuk dari sang mommy.
“OMG, ini serius mommy mau jodoh-jodohin aku sama Hilal, eh Bilal. Aduh, terserahlah nama dia siapa. Malas banget kayak jaman Siti Nurbaya ini mah, memangnya aku tidak bisa cari pacar sendiri apa. Pakai acara dikenalkan sama rekan bisnis papa segala.”
Agatha memijat pelipisnya. Ah, tidak rela rasanya mengubur cinta dan angan yang sudah tumbuh dan berkembang sejak masih kanak-kanak.
“Mas Yongki, please deh. Kali ini saja kamu tolong aku, masa iya aku harus terima dijodohkan sama rekan bisnis daddy. Tua banget dong dia, masa aku dijodohkan sama teman daddy. Tega banget,” ringik Agatha sambil mengadukan nasibnya di depan pigura foto Yongki yang terus dia bawa bolak balik Jakarta Indramayu, ke Paris hanya untuk liburan satu pekan di sana pun dia bawa.
“Mas, please. Aku mohon kali ini bantu aku ya, Mas,” mohon Agatha memamerkan wajah memelasnya di hadapan foto Yongki.
Bergegas Agatha menyambar tas slempang mini dan memasukkan ponselnya ke sana. Setengah berlari Agatha menuruni anak tangga. Tujuannya tidak lain toko milik Yongki yang konon katanya ada di sekitar jalan Haji Juanda.
“Neng, mau ke mana?” Mbok Jum berteriak melihat Agatha terburu-buru keluar rumah.
“Aku mau cari sesuatu Mbok.”
“Tapi kata Mommy nanti siang Neng Tata ada acara makan siang sama teman Daddy.” Mbok Jum menyampaikan pesan dari Sinta pagi tadi agar jangan membiarkan Agatha kabur dari rumah.
“Aku tahu, ini juga karena mommy tadi sms makanya aku pergi dulu. Sebentar kok Mbok, tidak lama.” Agatha mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V sebelum berlari ke bagasi dan mengambil motor matic 150cc yang sudah sangat jarang dia kendarai.
Berkendara motor selalu membuat perasaan Agatha jadi lebih baik. Semilir angin yang menerpa wajahnya, di mana dia bisa bersenandung pelan menyanyikan lagu kesukaannya selalu menjadi mood booster Agatha.
“Wah, ini kok sudah ramai ya, beda dari yang dulu,” gumam Agatha melihat deretan toko yang berjajar di jalan haji Juanda. Motornya sudah melewati jembatan di mana sebentar lagi universitas Wiralodra ada di depannya.
“Toko barang depan Unwir,” gumamnya terus melihat ke arah kiri dan saat netranya melihat tulisan besar Toko Grosir Serba tiga puluh lima ribu dengan lambang huruf doble Y yang artinya Yongki Yoga, Agatha pun berbelok dan mematikan mesin motornya dengan segera.
“Aku harus bicara sama mas Yongki. Pokoknya dia kali ini harus bantu aku,” teguhnya sebelum turun dari motor dan berjalan penuh percaya diri menuju meja kasir di mana ada beberapa pelayan yang sedang berdiri di sana.
“Selamat datang, Mbak. Ada yang bisa kami bantu,” sambut salah satu pelayan dengan ramah saat Agatha berhenti di dekat mereka.
“Ini benar toko milik mas Yongki?”
Pertanyaan Agatha membuat pekerja di sana saling bertatapan dan tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab iya atau tidak.
“Grafinki Yongki Nugroho, benar ini toko dia,” ulang Agatha membuat salah satu pelayan ber oh panjang.
“Pak Rafi ya, Mbak?”
“Rafi?” Agatha agak aneh mendengar nama panggilan yang sangat asing di telinganya.
Tidak ada cara lain, dia merogoh ponsel dalam tas dan mencari beberapa foto Yongki yang tersimpan di galeri ponselnya.
“Ini, Mas Yongki,” tunjuk Agatha memperlihatkan ponsel pada ketiga karyawan Yongki.
“Iya, Mbak ini pak Rafi. Maaf, bisa tahu ada urusan apa sama Pak Rafi, nanti saya sampaikan kalau mbak ada di sini.”
“Ribet banget sih Mas, masa iya aku mau ketemu calon suami saja seriweh ini. Bisa tolong tunjukan di mana ruangan Mas Yongki?” Agatha sedikit memaksa, jarum jam terus berputar dan dia tidak bisa terus berlama-lama ramah tamah dengan karyawan toko Yongki.
“Calon istri ya Mbak?” tanya karyawan wanita berjilbab yang tampak kecewa dengan pengakuan Agatha.
“Iya, calon istri, tolong antar aku ke ruangan mas Yongki,” pinta Agatha dengan penuh rasa percaya diri.
Akhirnya, dengan terpaksa wanita berjilbab tadi mengantar Agatha hingga ke depan ruangan kerja Yongki.
“Permisi, Pak. Ini Friska,” ujarnya mendekat ke speaker kecil yang ada di dekat pintu.
“Masuk, Fris.”
Friska menempelkan telapak tangannya di pintu dan tidak lama pintu ruang kerja Yongki pun terbuka.
“Ada apa Fris?” Yongki bertanya tanpa mengangkat wajahnya yang fokus membaca daftar harga dari barang-barang yang baru dia dapatkan kemarin saat hampir seminggu Yongki mengajak Yoga berdiam diri di Jakarta.
“Bapak, ini ada calon istrinya datang.”
‘Aduh.’ Agatha mengaduh dalam hati. Segera dia mendorong Friska ke luar dari ruangan dan menarik pintu agar tertutup kembali.
Yongki yang langsung mengangkat kepala sejak mendengar Friska menyebut kata calon istri kini sudah menebak siapa cewek sok kepedean yang mengaku sebagai calon istrinya.
“Ada apa, Ta?” suaranya yang berat dan selalu terdengar tegas membuat Agatha perlahan memutar badannya.
“Hai, Mas,” sapanya melambaikan tangan dengan senyum lebar. Setidaknya menurut Agatha tidak penting juga meminta maaf kenapa dia mengaku jadi calon istri Yongki di depan karyawannya.
“Hari ini kamu datang pertama ke toko mengaku sebagai calon istri, terus besok kamu aku kenalkan pada mereka sebagai mantan calon istri, begitu?” Tatapan Yongki mengunci netra Agatha yang kini masih berdiri mematung di hadapannya.
“Hmmm, mas, aku mau ajak mas Yongki damai nih,” ujar Agatha dengan melenggang santai mendekati meja Yongki dan duduk kursi yang ada di depannya meskipun belum dipersilakan si empunya ruangan.
“Damai?”
“Iya damai, aku mau mas Yongki temenan sama aku. Janji deh aku tidak bakal ganggu mas Yongki lagi, tapi kali ini aku beneran mau mas Yongki bantu aku. Please,” mohon Agatha dengan mengedipkan mata dengan gaya upin-upin.
“Apa?” tanya Yongki jengah melihat wajah sok polos dan manja Agatha kalau sedang meminta sesuatu untuk dikabulkan.
“Mas Yongki temani aku ke Panorama ya,” pinta Agatha ragu-ragu.
“Ngapain? Makan siang?”
Agatha mengangguk, “tapi makan siang sama bandot tua,” cicitnya membuat Yongki memicingkan matanya yang sipit dan tajam.
“Kamu mau makan sama kambing tua.” Tebakan Yongki membuat Agatha mengaduh dengan menepuk keningnya.
“Masa iya ke Panorama buat makan sama Kambing tua mas. Di sana adanya gombyang manyung, gurame bakar, cumi tepung, karedok juga atau kalau mas Yongki mau kita bisa pesan –”
“Agatha Vernezza, bisa tolong to the point maksud kamu ajak aku ke Panorama buat ketemu bandot tua itu apa?” Rahang Yongki mengeras saat Agatha malah menyebutkan aneka menu makanan yang ada di rumah makan Panorama.
“Eh, iya, aku lupa mas,” ringisnya memamerkan deretan gigi putih Agatha yang tersusun rapi.
“Mommy ajak aku ketemu sama kolega bisnis Daddy, tapi bukan cuma buat makan siang, Mas. Mommy mau jodohkan aku sama si Hilal Idul Fitri itu,” adu Agatha yang asal menyebutkan nama.
“Hilal Idul fitri itu siapa?”
“Itu nama bandot tua yang mau dikenalkan daddy, Mas.”
“Aneh, mana ada nama macam itu.”
“Ada, buktinya aku mau diajak ketemu sama dia dan sekarang aku ke sini buat minta tolong sama mas Yongki temani aku ke sana. Please mau ya mas,” mohon Agatha yang lagi-lagi mengedipkan mata dengan gaya memelas.
“Buat apa?”
“Buat ngaku jadi pacar aku biar itu bandot tua batal dijodohkan sama aku. Masa mas Yongki tega aku yang cantik, seksi, masih muda, masih dua puluh satu tahun loh, Mas. Mana sudi aku menikah dengan om-om tua yang seusia Daddy.
Mending kalau dia ganteng macam daddy. Macam mana kalau dia itu pria gendut, berkumis tebal, wajahnya garang dan m***m, hiy.” Agatha bergidik ngeri.
Padahal dia ingat kalau kemarin sang mommy mengatakan teman sang daddy itu tampan, putih dan tinggi. Namun, tetap saja Agatha menebaknya bandot tua. Lagian kapan lagi dia bisa modus mendekati Yongki seperti ini. Biasanya mana mau Yongki berbasa-basi lama dengannya.
“Kamu ketemu sama dia berdua apa sama mommy dan daddy?” tanya Yongki menimbang permintaan Agatha.
“Katanya sama mommy dan daddy juga.”
“Tidak ya, Ta. Aku mana bisa berpura-pura jadi pacar kamu di depan mereka. Kalau di depan pria itu aku masih mungkin. Hanya saja kalau di depan mommy dan daddy aku tidak bisa,” tolak Yongki dengan tegas.
Mata Agatha mulai berkaca-kaca, gaya andalan yang kerap dia keluarkan kala Yongki tidak menuruti keinginannya. Ah, Yongki memang cuek dan angkuh. Namun, kalau dia sudah melihat embun dan kabut di mata Agatha, tentu saja dia tidak akan diam saja.
“Aku minta maaf, Ta. Hanya saja aku benar-benar tidak bisa,” ulang Yongki memohon pengertian Agatha.
“Terus mas Yongki tega lihat aku menikah dengan om-om tua itu. Mas Yongki jahat. Aku tahu mas Yongki tidak pernah suka sama aku, tapi tidak begini juga, Mas.” Agatha mulai terisak, dua puluh satu tahun bukan bilangan usia yang membuatnya terlihat dewasa.
Tetap saja di mata Yongki Agatha masih sosok gadis manja yang semua keinginannya harus dituruti. Yongki menghela napas panjang, tidak mungkin dia menerima permintaan Agatha. Namun, membiarkan dia terus menangis juga bukan ide bagus.
Yongki mendekatkan kotak tisu, menariknya satu dan memberikannya pada Agatha. “Kamu pulang, ikuti saja mau mommy kamu buat bertemu dengan pria itu. Kalau memang kamu benar-benar tidak menyukainya, kita bisa atur sandiwara untuk menggagalkan rencana mommy. Deal?”
Yongki mengulurkan telunjuknya, tanda kalau dia sedang membuat kesepakatan dengan Agatha. Cinta memang dipastikan tidak ada, tapi persahabatan mereka yang sudah berlangsung dari Agatha masih bayi dan Yongki berusia empat tahun, membuat dia tidak tega melihat Agatha menampakkan rasa sedih dan kecewa di hadapannya.
“Deal.” Agatha menautkan kelingking mereka.
“Jangan nangis, nanti mereka kira aku menghamili kamu hingga kamu nangis seperti ini.” Mereka yang dimaksud Yongki tentulah para karyawannya yang mungkin saja sedang bisik-bisik membicarakan kedatangan Agatha siang ini.
“Aku rela kok mas Yongki hamili kalau itu membuat mas Yongki mau menjadi suamiku,” sahut Agatha cepat.
“Agatha.”
“Baiklah, tidak perlu juga mas Yongki nge-gas seperti itu. Santai mas, santai, nanti cepat tua, sudah mah jomblo abadi, tidak punya pacar, sukanya mara-marah. Nanti lama-lama wajah mas Yongki dipenuhi keriput yang banyak, terus jadi macam kakek Oh Il Nam di Squid game itu.”
“Halu!” Yongki menepuk kening Agatha yang langsung manyun tanpa bisa mengajukan protes.
Isaknya sudah berhenti, lelehan air mata juga sudah kering saat ponselnya berdering dan layarnya berkedip menampilkan foto Sinta bersama Arga.
“Halo, Mom.”
“Kamu di mana? Jangan kabur ya, Ta. Kita sudah bahas ini dari semalam. Pokoknya mommy tidak mau tahu, hari ini juga kamu harus ketemu sama Bilal.”
Agatha menjauhkan ponsel dari telinga begitu omelan Sinta terdengar membalas sapaan halo darinya.
“Iya, Mom. Aku mau pulang kok, tadi cuma pergi sebentar. Lagian ini masih jam sebelas. Memangnya mau berangkat jam berapa. Habis zuhur kan,” tebak Agatha yang memang biasanya selalu makan siang habis zuhur.
“Iya, tapi sekarang juga kamu balik.”
“Tapi, Mom.”
“Tidak ada tapi, Ta. Kamu balik sekarang juga, titik.” Sambungan telepon terputus. Agatha hanya bisa mendengkus kesal sebelum menyimpan kembali ponsel dalam tas dan berdiri dari kursi yang sudah sejak tadi dia duduki.
“Kenapa?”
“Mommy takut aku kabur, aku diminta pulang sekarang,” aku Agatha sembari mengulurkan tangannya pada Yongki.
“Hati-hati, jangan ngebut,” pesan Yongki membiarkan tangannya dicium Agatha.
“Mas, bisa balas ciuman tanganku dengan kecupan di kening ala drama-drama romantis begitu?” Agatha tersenyum jahil membuat Yongki menjitak pelan keningnya.
“Aduh, sakit, Mas,” ringisnya mengusap kening.
“Pulang sana,” usir Yongki mengibaskan tangannya.
“Antar dong, Mas. Masa calon istrinya pulang tidak diantar.”
Yongki mendelik dan itu cukup membuat Agatha segera menggeser pintu keluar. Terlebih dulu Agatha berkaca di kaca pintu untuk memastikan penampilannya. Agatha memonyongkan bibir tepat saat pintu bergeser dan Yongki berdiri di depannya.
“Ciye, bapak mau ciuman. Maaf ya aku ganggu,” ledek salah satu karyawan yang kebetulan lewat di depan ruangan Yongki.
“Iya dong Mbak, titip calon suamiku ya. Jangan digodain,” balas Agatha membuat Yongki menjentik keningnya lagi.
“Sakit, Mas. Kejam banget sama calon istri. Tiga tahun tidak ketemu aku, masih saja mas Yongki suka jentik kening. Diganti cium bibir ke, kecup kening atau cium pipi juga boleh mas. Atau jangan-jangan benar kata Yoga kalau mas Yongki gay, masa iya sama cewek seksi macam aku mas Yongki tidak tergoda. Aw, Mas,” pekik Agatha kaget saat Yongki menarik pinggangnya.
Badan mereka kini menempel begitu dekat dengan hidung keduanya yang hampir bersentuhan. Napas Yongki menyapu hangat wajah Agatha dengan tatapan mata yang tampak memperlihatkan rasa marah.
“Mas, aku minta maaf,” desis Agatha merasa ngeri melihat aura wajah Yongki yang berubah jadi menyeramkan.
Agatha mendorong d**a Yongki agar melepaskan pelukannya. Namun, Yongki malah mengeratkan pelukan mereka hingga Agatha sama sekali tidak bisa bergerak karena dadanya menekan d**a Yongki.
“Kamu mau aku cium?”
Agatha menggeleng, tapi wajah Yongki malah perlahan mendekat.