Bandot Tua

2174 Kata
Hembusan napas Yongki terasa semakin hangat menerpa badan Agatha. ‘Sepertinya satu ciuman di depan ruang kantor mas Yongki bukan sesuatu yang buruk,’ pikir Agatha hingga dia memilih menutup mata untuk menerima ciuman yang mungkin benar-benar akan diberikan Yongki siang ini. “Aku tidak suka siapa pun menyebutku menyimpang, Ta. Aku pria normal dan bisa melakukan apa pun kalau aku mau. Sayangnya aku tidak berminat dengan gadis sepertimu.” Yongki melepaskan badan Agatha setelah mengucapkan kalimat tersebut tepat di depan wajah Agatha. Mata Agatha terbuka, bibirnya mengerucut saat tahu satu ciuman manis yang sedang dia bayangkan tidak akan jadi kenyataan. “Mas Yongki menyebalkan,” ujarnya sebelum menghentakan kaki dan berbalik meninggalkan Yongki. “Dasar cowok kaku. Kanebo berjalan, muka datar. Cowok menyebalkan!” umpat Agatha yang sudah dia layangkan berpuluh kali. Namun, mulutnya belum juga lelah menceracau dan mengomel untuk meluapkan rasa kesalnya pada Yongki. Rasa kesal yang hanya akan hadir sesaat karena nyatanya hal ini sudah berulang kali terjadi. Namun, tetap saja Agatha masih juga mengharapkan Yongki, bahkan setelah tiga tahun berpisah dan baru bertemu lagu. Semuanya tidak ada yang berbeda, tetap saja sama. “Siang, Mbok,” sapa Agatha melihat Mbok Jum sedang duduk di pintu samping dapur yang terlihat dari bagasi tempat dia menyimpan motor. “Alhamdulillah, Neng sudah balik. Mbok ya khawatir soalnya Mommy tadi telepon.” “Ah, pantas saja. Ada juga mbok Jum yang laporan ke mommy kalau aku pergi, ngaku deh,” terka Agatha dengan wajah cemberut. Mbok Jum terkekeh sembari mengangguk dan berujar maaf. “Ya sudah, Neng siap-siap sana. Mandi, salat, terus dandan yang cantik, kan mau ketemu calon suami.” “Ish, apaan sih, mau ketemu bandot tua saja suruh dandan. Mbok lebay.” Agatha melambaikan tangan berlalu keluar dari bagasi untuk masuk rumah lewat pintu depan. Sungguh demi apa pun juga dia ingin memberikan kesan paling buruk di pertemuan pertamanya siang ini. Usai salat Agatha menarik satu kenmeja putih lengan panjang oversize dan celana panjang. Dia mengikat rambutnya asal, bahkan sengaja dibuat sedikit acak-acakan. Ditambah pula Agatha tidak mengikuti perintah Agatha untuk berdandan karena yang ada dia tidak memoles sedikit pun wajahnya dengan bedak atau lip cream. “Non, Nyonya sudah menunggu di bawah.” Suara Iti terdengar setelah ketukan pintu dua kali di pintu kamar Agatha. “Iya, Bi.” Agatha menyambar ponsel dan memasukkannya ke saku celana gombrang yang dipakainya. Pintu terbuka, Iti terkesiap melihat sang nona muda keluar dari kamar dengan baju rumahan, ditambah rambut yang malah dibuat acak-acakan. “Non, kata mbok Jum mau makan siang ke Panorama. Kok malah begini penampilannya?” Decak Agatha terdengar sebelum memutar badannya di hadapan Iti. “Memangnya kalau pakai yang seperti ini dilarang masuk ke sana. Bi Iti ada-ada saja, sudah ah, aku turun. Bye.” “Bye,” balas Iti yang malah menggeleng takjub melihat kelakuan Agatha. Di depan gerbang rumah terlihat mobil Arga sudah menunggunya. Segera Agatha masuk dan duduk di bangku belakang penumpang. “Ta, kamu yakin tampilan begini mau ketemu Bilal?” Pertanyaan Arga membuat Sinta yang tadi fokus pada ponselnya melongok ke belakang. “Astaga, Tata. Mommy sudah suruh kamu dandan, tapi kenapa kamu malah begini?” “Apa sih, Mom. Lebay sekali aku harus berdandan hanya untuk bertemu dengan ....” Kalimat Agatha berhenti melihat sorot mata tajam Sinta. “Baiklah, aku tidak perlu ikut kalau mommy malu bawa aku dengan penampilan seperti ini,” putus Agatha dengan menunduk untuk menghindari tatapan Sinta. “Berangkat Dad, biar saja dia malu di depan Bilal, masa iya ketemu cowok cakep tampilannya malah semrawut seperti ini. Kamu mau bikin dia ilfeel supaya si Bilal tidak suka sama kamu dan kami batal menjodohkan kalian, begitu,” tebak Sinta. Agatha hanya mampu mengiyakan dalam benak saja sementara mulutnya dibiarkan terkunci rapat. Lagian setampan apa pun Bilal kalau usianya sama dengan sang Daddy, jelas itu tidak menarik untuk Agatha. Lagian Agatha tidak habis pikir, baru juga kemarin dia wisuda. Sinta malah sudah heboh ingin menjodohkannya. Masa iya mentang-mentang tinggal di Indramayu dia harus mengikuti tren nikah muda. Tidak bisakah dia seperti Nadia-dosen muda cantik yang masih santai berkarir di usianya yang sudah dua puluh lima tahun. Dua puluh satu tahun, masih panjang sekali mimpi dan angan yang ingin Agatha wujudkan. Setidaknya masih ada beberapa tahun lagi yang bisa dia gunakan untuk merebut hati Yongki. “Ta, turun.” Suara Sinta menyadarkan Agatha dari lamunan panjangnya. Dia terpaksa turun meskipun pertemuan ini sangat tidak dia inginkan. “Dasarnya anak Daddy ini cantik, tampil acak-acakan seperti ini saja masih terlihat cantik,” puji Arga meraih pinggang Agatha dan menariknya mendekat. “Jangan cemberut, nanti cantiknya hilang.” Arga menarik pucuk hidung Agatha sebelum berjalan mengekor langkah Sinta yang berhenti di salah satu saung yang sudah mereka pesan sebelumnya. Masih kosong, Agatha bernapas lega mendapati pria yang akan dipertemukan dengannya belum sampai ke sana. “Mom, sudah pesan ya? Aku mau jus alpukat,” pinta Agatha. “Sudah pesan, tapi Mommy tidak pesan jus.” “Aku ke sana ya Mom, sekalian ke toilet dulu.” Sinta mengangguk saja membiarkan Agatha berlalu. Kini Agatha memutar otak bagaimana caranya agar perkenalan kali ini tidak perlu berlanjut ke perjodohan seperti yang diharapkan Sinta. “Apa nanti aku makan ala orang mukbang saja ya, biar dia gelay sendiri dan mikir kalau aku ini maruk, banyak makan dan ... aduh.” Agatha mengusap lengannya yang beradu dengan lengan kokoh dari pria yang ditabraknya. “Maaf, Mas,” ujarnya lirih. “Tidak apa-apa Mbak, mari duluan,” pamit sang pria yang membuat sudut bibir Agatha tertarik. “Coba yang dijodohkan sama aku setampan itu, aku tidak nolak lah. Cinta bisa datang belakangan kalau memang dia tampan, enak dipandang dan banyak uang, aku pikirkan untuk nurut sama mommy melupakan Mas Yongki, tapi kalau dihodohkannya sama bandot tua. Ih, mana aku mau coba, mommy memang keterlaluan,” gumam Agatha dengan sedikit menggerutu kesal. Cukup lama Agatha meninggalkan saung, dia kembali dengan membawa serta gelas berisi jus alpukat yang nekat dia tunggu supaya cepat dilayani. Saat dia kembali ke saung, di sana Sinta dan Arga sudah duduk bertiga dengan pria yang duduk membelakangi Agatha. “Ta, lama sih. Sini Daddy kenalkan sama Bilal, duduk dulu.” Arga menepuk tempat kosong di sampingnya. Ragu-ragu Agatha mendekat, dari belakang pria bernama Bilal memang terlihat oke. Hanya saja belum tentu dari depan wajahnya seperti yang Agatha harapkan. “Ta, duduk,” ulang Arga melihat Agatha tidak juga bergerak dari tempatnya berdiri. “Permisi Om, lewat dulu,” ujarnya membuat kening Sinta mengernyit mendengar panggilan Om dari Agatha yang ditujukan pada Bilal. “Dia belum setua itu untuk dipanggil Om, Ta,” tegur Sinta. Namun, Agatha hanya meringis tanpa rasa berdosa duduk menghadap Bilal. Begitu dia mengangkat wajah, seketika Agatha melongo saat mengetahui Bilal adalah cowok yang ditabraknya saat hendak ke Toilet tadi. “Ganteng sih,” ujarnya tanpa sadar mengomentari wajah Bilal. “Ganteng dong, Ta. Pilihan Mommy mana meleset,” sahut Sinta membuat Agatha lekas menoleh pada sang mommy. “Memangnya tadi aku bilang apa, Mom?” “Astaga, masih muda sudah pikun, bukannya tadi kamu bilang Bilal ini ganteng.” Sinta menyentil pelan daun telinga putrinya. “Masa sih.” Agatha memasang wajah tidak percaya, Arga berdehem untuk menyita atensi keduanya. “Ta, kenalan dulu. Ini Bilal, rekan bisnis Daddy. Dia dari Subang dan kebetulan rumah batik juga menyuplai bahan ke usaha keluarga Bilal.” “Oh.” Agatha tidak tertarik akan bisnis apa yang digeluti Bilal. “Agatha,” ujarnya menyebut nama seraya mengulurkan tangan pada Bilal. “Akhtar Bilal Chairi, panggil Atar bisa, Bilal juga boleh.” “Atar, Atta Halilintar, lucu ya panggilannya,” kekeh Agatha membuat Sinta langsung mencubit gemas paha sang putri. “Ish, Mommy, sakit tahu. Lagian dia sendiri yang minta dipanggil Atar, pan seru. Kalau Atta Halilitar sama Aurel, kalau Atar sama Agatha. Ih, lucu juga ya Mom. Nama depan kita sama-sama A. Itu bagus loh nanti, di undangan hurufnya AA. Sama kaya lambang usaha Papa Sigit, YY,” cerocos Agatha yang tidak tampak kikuk sama sekali. Sementara Bilal malah sedang menekan degup jantungnya agar kembali normal. ‘Ah sial, kenapa secantik ini.’ Bilal merutuki dirinya yang langsung terpesona dengan gadis cantik yang sekarang bicara dengan begitu lancar di hadapannya, sedangkan Bilal malah tampak kikuk, gugup dan tidak mengendalikan diri untuk menghilangkan rasa grogi yang datang begitu saja. “Dad, ini usianya berapa sih. Aku panggil Om kata mommy terlalu tua. Hanya kalau aku panggil nama saja malah tidak sopan, akunya masih imut-imut banget kan, Om. Eh, apa ya?” Agatha tampak berpikir sampai akhirnya Bilal yang sejak tadi diam pun bersuara. “Abang saja,” ujarnya dengan suara bergetar. “Nah, iya, Ta. Panggil Abang kan romantis,” ujar Sinta setuju dengan Bilal. “Abang, kalau Abang ingat lagi Abang Roni Mom. Aduh Abang Roni pulanglah abang ....” Agatha malah mendendangkan lagu dangdut dengan gaya centilnya hingga Bilal hanya mampu mengulum senyum melihat tingkah ceria gadis yang sudah mengunci pandangannya, Makan siang sudah tersedia di depan mereka. Agatha tanpa canggung makan di depan Bilal. Sungguh kalau pun Bilal jadi ilang feeling dan ingin membatalkan niat Sinta untuk menjodohkan mereka. Agatha tidak mempermasalahkannya karena baginya Bilal yang tampan tetap tidak bisa menggantikan posisi Yongki dalam hatinya. “Ta, makannya pelan-pelan dong, kamu kemaruk banget,” tegur Sinta melihat putrinya makan dengan cepat dan lahap bak orang yang baru melihat makanan setelah seminggu berpuasa. “Sumpah, Mom, di Jakarta tidak ada gombyang manyung seenak ini. Aku baru ke sini lagi dan ini sangat-sangat membuat jiwa laparku meronta-ronta,” ujar Agatha dengan mulut penuh. Sinta hanya mampu mengaduh dalam hati sambil sekali melirik Bilal yang makan dalam diam. Tidak banyak kata yang keluar dari mulut Bilal hingga Sinta menyangka kalau pertemuan siang ini mungkin gagal. Bagaimana bisa seorang pria jatuh hati pada putrinya yang benar-benar ceroboh, banyak makan, banyak omong, keganjenan dan tidak tahu malu. “Pak Arga, terima kasih sudah mengundang aku makan siang bersama keluarga,” ujar Bilal saat makanan mereka sudah habis dan hanya piring dan mangkuk kosong saja yang tersisa. “Tidak apa-apa Bilal. Sekalian untuk mengakrabkan diri, syukur-syukur kalau Bilal ada niat untuk lebih dekat dengan Agatha.” “Uhuk, uhuk, uhuk.” Agatha langsung terbatuk-batuk hingga bebera[a bulir nasi meloncat dari mulutnya saat mendengar Arga mempromosikan dirinya di depan Bilal. “Minum, Ta.” Bilal mengulurkan botol air minum miliknya karena minuman milik Agatha sudah habis semua. Tanpa pikir panjang Agatha menyambar dan meneguk isi botol air mineral hingga batuknya berhenti. “Terima kasih, Bang. Aku kaget loh, Dad,” protesnya melirik Arga. “Memangnya aku benar-benar tidak laku sampai Daddy mempromosikan aku sama Bang Bilal. Lagian aku belum mau menikah, aku tidak mau dijodoh-jodohkan,” tolak Agatha membuat mata Sinta melebar sempurna. “Ta, kamu ngomong apa sih,” tegur sang mommy. “Mommy harusnya tanya sama Daddy, itu daddy ngomong begitu sama Bang Bilal maksudnya apa coba,” rajuk Agatha mulai memasang wajah kesal. “Ih, kamu itu kekanakan, maaf ya Bilal. Agatha ini memang manja sejak dulu. Kamu jangan ambil hati omongan dia ya.” “Iya, Ibu, tidak masalah. Aku mengerti kok kalau gadis seusia Agatha ini memang masih labil.” “Enak saja gadis labil, aku sudah dewasa lah, sudah selesai kuliah. Masa iya masih dianggap labil,” potong Agatha dengan nada merajuk lagi. “Ta, kamu jaga sikap dong,” tegur Sinta merasa malu dengan kelakuan sang putri. “Jaga sikap bagaimana sih, Mom. Masa aku mesti pura-pura alim layaknya ukhti, aku tidak bisa,” tolak Agatha yang langsung berdiri dan meninggalkan saung tanpa peduli dengan panggilan Sinta atau pun Arga. “Tidak apa-apa, Pak, Bu. Aku mengerti dengan sikap Agatha.” “Maaf ya Bilal, dia memang sudah manja seperti itu. Susah menghilangkan kemanjaannya,” ujar Sinta menyayangkan sikap Agatha. “Tidak apa-apa Bu. Boleh aku menyusul Agatha?” tanya Bilal Ragu sembari bergantian menatap Arga dan Sinta. “Silakan,” putus Arga. Bilal menyalami keduanya sebelum menyusul Agatha yang melangkah lebar menuju tempat parkir. Tidak sulit untuk mencarinya karena ternyata Agatha duduk di bangku panjang yang tidak jauh dari mobil Arga. “Ehm, boleh ikut duduk?” tanya Bilal dengan canggung. “Duduk saja, tempat umum kok. Feel free, Bang, tidak perlu izinku.” Tampang Agatha masih terlihat kesal, tapi itu tidak membuat Bilal hilang feeling, hilang rasa atau semacamnya. Yang ada gadis yang kini duduk di sampingnya malah terlihat lebih manis. “Maaf ya, Ta.” “Maaf,” desis Agatha dengan mengangkat satu alisnya. “Maaf buat apa?” “Maaf kalau makan siang ini sudah membuat kamu kesal.” “Tidak masalah, lagian aku kesal bukan sama Abang kok. Aku kesal karena mommy terus saja memaksa aku untuk menerima dijodohkan sama Abang,” akunya dengan jujur tanpa tedeng aling-aling. “Aku kurang ganteng ya, sampai kamu menolak dijodohkan denganku?” “Hah? Kok, bukan itu, tapi aku, anu. Aduh, sudahlah aku malah gugup begini.” Senyum Bilal semakin lebar membuat wajahnya tampak berkali lipat tampan, apa ini. Apa Bilal benar-benar akan mengalihkan dunianya? Seketika Agatha tampak kikuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN