Orang Ketiga

2284 Kata
Pertemuan pertama kesannya selalu menggoda, senyum tidak juga lepas dari bibir Bilal hingga dia tidak sadar kalau seseorang yang dia tunggu sudah duduk di depannya. “Ta, serius. Dari seribu sepertinya hanya ada satu cewek macam kamu,” gumamnya kembali mengembangkan senyum dan entah sudah berapa kali ponsel di genggaman terus dia bolak-balik, diputar, mengetik pesan, menghapusnya, diputar lagi, terus saja sampai setengah jam berlalu tidak ada satu pesan pun yang dikirim pada Agatha. Jangan tanya Bilal dapat dari mana nomor ponsel Agatha karena dia punya akses istimewa dari Arga yang langsung memberikan nomor ponsel sang putri meski Bilal tidak memintanya. “Jadi aku diminta ke sini hanya untuk menyaksikan kamu yang sedang kasmaran.” Suara sahabatnya menyentak Bilal dari lamunan yang sedari tadi membuat senyumnya terus terkembang. “Astaga, aku sampai tidak sadar kalau kamu sudah di sini. What’s up Bro?” Bilal mengerjap, jelas dia kaget karena ternya di depannya sudah duduk Yongki yang sedang dia tunggu sejak setengah jam yang lalu. “I am okay, tapi sepertinya ada yang sedang dimabuk kepayang,” sindir Yongki. Dia dan Bilal memang sudah bersahabat sejak awal menjadi mahasiswa baru strata satu hingga keduanya sama-sama menyelesaikan program magister di kampus yang sama. “Benar, gadis Indramayu itu memang sesuai dengan nama kotanya. Mereka ayu-ayu, aku sampai takjub melihat cewek polos, tanpa make up, rambut acak-acakan, tapi tetap terlihat manis dan cantik.” “Wow, amazing. Akhirnya, ada juga satu cewek yang bisa buat kamu berkata sepuitis itu.” Yongki bertepuk tangan hingga kekehan tawa Bilal pun terdengar. “Jadi, siap melepas masa lajang?” sambungnya bertanya dengan nada menggoda. “Why not, kalau dia yang jadi calon istriku. Aku pastikan hidupku akan berwarna dengan celoteh dan sikapnya yang luar biasa ajaib.” “Ajaib?” Satu sudut alis Yongki terangkat. “Jangan-jangan kamu jatuh hati sama wanita jadi-jadian lagi, atau titisannya Riana, pesulap misterius yang viral itu sampai-sampai membawa keajaiban segala.” “a***y, kamu pikir dia golongannya pak Tarno apa,” tepis Bilal. “Bisa jadi, bisa jadi,” tanggap Yongki membuat Bilal melempar sedotan dari tangannya. “Oke, aku serius.” Bilal berdehem sebelum mengatakannya. Kini rautnya berubah tegas tidak lagi cengengesan seperti barusan. “Tadi aku bertemu dengan rekan bisnis, dia menyuplai bahan batik ke rumah mode mama. Ternyata pertemuan tadi bukan membahas jalannya kerja sama kami, tapi malah mengenalkan putrinya yang baru lulus dan wisuda kemarin,” beber Bilal mengawali cerita. “Wait.” Yongki tampak berpikir sekejap. “Suplai batik, putrinya baru lulus dan wisuda. Setahuku rumah batik terbesar di sini milik keluarga Daddy, sorry maksudku milik Arga Ardinata,” ujar Yongki mulai menerka-nerka. “Kenal kamu?” Bilal terbelalak, tidak menyangka kalau Yongki juga mengenal Arga Ardinata padahal jalur usaha Yongki dan Arga tidak sama. “Banget, dari orok juga aku sudah kenal sama Daddy Arga dan istrinya. Jadi cewek yang bikin kamu macam ini itu Agatha Vernezza, si sulung dari keluarga Ardinata?” “Betul sekali.” Bilal menjentikan jari, sedangkan Yongki merasa lega dan berharap mulai hari ini dia tidak perlu dipusingkan persoalan Agatha lagi. “Tadi dia ke toko, dia bilang mau dijodohkan dengan bandot tua rekan bisnisnya si Daddy, ternyata bandot tua itu kamu,” kekeh Yongki teringat rengekan Agatha. “Bandot tua, mana ada, aku masih ganteng begini. Kita seumuran, Bro. Kalau aku bandot tua kamu apa? Bandot mesum.” “Sial, Agatha yang bilang begitu.” “Eh, Bro. Berarti kamu kenal Agatha sejak orok juga,” tebak Bilal yang mulai tertarik dengan kedekatan sahabatnya dengan keluarga Ardinata. “Aku malah masih ingat pernah bukain celana dalam dia pas mau pipis.” “Gila, seporno itu otak kamu.” Bilal melempar kacang goreng tepat ke wajah Yongki. “Apaan sih, kamu tanya, aku jawab apa adanya. Aku kenal Agatha sejak dia masih pakai pampers. Terus pornonya di mana?” “Bukan bagian itunya kali yang mesti kamu ceritakan. Jangan bilang kalau dulu kalian juga suka mandi berdua.” “Memang iya, kalau berenang kan berdua, masih bocil woi. Belum berdada sintal macam sekarang. Masih rata dan otakku juga belum terkontaminasi virus otak gesrek kamu.” Yongki balas melempar kentang goreng ke wajah Bilal. “Oke, oke baiklah. Kalau begitu pas dan bagus, jadi sekali makan, kakap dan baby fish bisa aku embat sekaligus.” Bilal tampak manggut-manggut, sedangkan Yongki tidak terlalu tertarik dengan pembahasan ini. Bagi dia semua yang berkaitan dengan Agatha tidak ada yang menarik. Kalau pun Bilal nantinya akan menikah dengan gadis manja, lebay yang selalu heboh itu. Yongki justru merasa terbebas dan tidak perlu lagi selalu dipojok-pojokkan untuk menikah dengan Agatha. “Kamu bisa dong bantu aku buat dekati Agatha?” Yongki terbatuk-batuk mendengar permintaan sahabatnya. “Santai, Bro. Kamu tidak ada hubungan kan sama dia?” tatapan Bilal meneliksik takut-takut Yongki dan Agatha sudah terlebih dulu memadu kisah cinta sebelum pertemuan mereka. “Hubungan macam apa?” “Pacaranlah. Aku mana mau jadi orang ketiga di antara kalian.” Yongki langsung menggoyang tangan kiri dengan cepat saat tangan kanannya memegang gelas ice kopi latte. “No, tidak ada hubungan macam itu. Kalau dia suka sama aku dari dulu, tapi buat aku, lebih baik aku tidak menikah dari pada punya pasangan macam Agatha.” “Why?” Kedua alis Bilal mengerut dan saling bertautan. Apa mungkin wajah polos Agatha tadi hanya sebuah sandiwara sedang dia tidak jauh beda dengan gadis lainnya yang sudah bergonta-ganti banyak pasangan dengan melakukan hubungan yang terlalu dalam hingga bisa dikatakan di era modern seperti sekarang banyak gadis yang tidak lagi gadis. Gadis rasa janda karena status mereka belum pernah mereka. Namun, tubuh mereka sudah tidak lagi tersegel rapat karena sudah dicoba beberapa pria. “Aku tidak suka cewek manja, ganjennya kebangetan dan ribut macam Agatha. Kamu tahulah mama macam apa?” “Tante April? “Memang kamu pikir aku punya berapa mama kampret!” Yongki mendelik dan membiarkan Bilal sejenak puas menertawakannya. “Oke, apa hubungannya Agatha dan Tante April?” tanya Bilal memasang wajah serius dan siap menggali banyak informasi tentang Agatha dari Yongki. “Mama sama Agatha itu satu dua. Mereka sama-sama cerewet, berisik, suka ketawa ngakak, kalau nangis heboh, minta ini dan itu harus segera diturut. Satu hal lagi, mau sedih, mau bahagia, dalam kondisi apa pun kadang mereka suka menyanyikan lagu yang menurut mereka pas dengan perasaan yang dirasa. Pokoknya Agatha bukan tipeku. Aku lebih suka cewek yang elegan, berkelas, tidak cengengesan. Pendiam, tidak cerewet macam Agatha. Sikapnya mampu menghangatkan dan tidak banyak maunya,” tutup Yongki. “Aku tahu tipe yang kamu mau,” kata Bilal dengan senyum lebar. “Serius, kamu punya teman cewek macam itu?” Bilal mengangguk mantap. “Tidak cerewet, pendiam, menghangatkan, elegan, berkelas dan tidak banyak maunya? Seperti itu yang kamu mau kan?” tanya Bilal memastikan tipe cewek yang Yongki inginkan. “Yups, yang seperti itu. Bukan macam Agatha yang pecicilan dan suka heboh sendiri.” “Sebentar, aku cari dulu.” Bilal meraih ponsel dan terlihat mengotak-atiknya untuk beberapa saat. “Nah, ini.” Bilal menunjukkan layar ponsel pada Yongki. “Yong Ma SMC delapan kosong tujuh belas, elegan, terbaik di kelasnya, menghangatkan, pendiam dan tidak banyak maunya. Sesuai dengan tipe yang kamu mau.” Tawa Bilal menggema usai mengatakannya, tidak dia pedulikan Yongki yang mencebik dengan wajah kelas. “Edan! Aku pikir kamu serius.” “Lah, kamu yang edan. Memangnya kamu sesempurna apa jadi pria sampai cari tipe ribet begitu. jadi bujang lapuk, Bro. Semua cewek itu ditakdirkan punya dua mulut dan rata-rata mereka pasti bakal cerewet.” “Terserah, aku tidak peduli. Malas,” sungut Yongki membiarkan terus saja Bilal menertawakannya. “Santai Bro, jadi tidak tertarik dengan tipe Yong Ma ya ini.” “Kamu pikir aku segila itu mau menikah dengan magic jar!” bentak Yongki diserta telapak tangan yang menggebrak meja. “Lah, padahal pas, sesuai tipe kamu,” kekeh Bilal tidak peduli dengan dengkusan kesal Yongki. “Lagian sepertinya kamu salah menilai Agatha. Di mataku dia malah unik. Saat cewek lain sibuk bersandiwara biar tampak elegan, pendiam dan tidak banyak maunya. Dia malah mampu menunjukan seperti apa aslinya dia. Kamu tahu kenapa banyak pasangan muda yang rumah tangga mereka tidak berlangsung lama?” “Aku tidak peduli rumah tangga orang, Bray,” tegas Yongki sembari menusuk satu kentang goreng dan mengunyahnya dengan kasar. “Bukan begitu, setidaknya kita bisa belajar kasus mereka agar mencari pasangan yang pas. Kebanyakan sandiwara dan pura-pura baik itulah yang membuat pernikahan mereka mudah goncang. Contoh, waktu pacaran manis, tidak doyan jajan, nurut dan lainnya. Eh, pas nikah hobinya shopping gila-gilaan dan tidak memikirkan besar pasak dari pada tiang, pembangkang dan semacamnya, Itu bakal jadi masalah meskipun jelas kalau menikah kita harus siap menerima plus minus pasangan kita. Hanya kalau modelnya blak-blakan macam Agatha, kita bisa tahu seperti apa jenis wanita yang kita nikahi.” Yongki hanya manggut-manggut saja mendengar kalimat panjang Bilal. Semuanya bagi angin lalu. Sama halnya saat Eza, Yoga atau Mamanya membanggakan Agatha dengan semua prestasinya. Tetap itu tidak membuat dia tertarik sama sekali. Bagi Yongki, kalau masih ada wanita lain selain Agatha, dia tidak akan memilih untuk menikahinya. Kalau pun di dunia ini stok wanita tinggal Agatha satu-satunya, lebih baik dia tidak menikah dari pada harus terus meladeni rengekan manja Agatha. “Sudah selesai ceramahnya, ustaz Bilal?” tanya Yongki saat Bilal menyudahi omongannya. “Parah, kamu tidak bisa diajak damai kalau bahas wanita. Sampai kapan mau ngejomblo, Bray. Sudah dua puluh lima tahun, mau sampai kapan melajang?” “Halah, kayak sendirinya sudah laku saja. Baru juga kenal Agatha satu, sudah heboh kesengsem sama dia. Sudah ah, malas aku bahas dia terus. Bisa kita bahas lainnya?” “Belum bisa sebelum aku pastikan kalau di antara kalian tidak ada hubungan apa pun.” “Tenang, Bro. Kami tidak ada hubungan, aman.” Yongki memastikan dengan tegas tanpa perlu menceritakan bagaimana perasaan Agatha padanya. Takutnya itu malah membuat Bilal jadi canggung. Pembicaraan tentang Agatha pun disudahi meskipun masih banyak yang ingin Bilal tahu mengenai gadis yang baru dikenalnya. Namun, melihat Yongki yang tidak tertarik membahas Agatha, Bilal hanya bisa pasrah saja. Sore ini mereka berpisah, Bilal kembali pulang ke Subang sementara Yongki pulang ke rumahnya yang berada di belakang toko. Dia lebih sering menghabiskan waktu sendiri di sana karena Yoga memang masih menyisakan satu tahun lagi untuk menyelesaikan program strata satu di salah satu kampus elite di kawasan kota kembang. “Mas Yongki, tadi ada yang ke sini cari mas Yongki,” ujar Rani, asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya bersama sang suami, Rizky. “Siapa Mbak?” “Cewek sama cowok, masih SMA kayaknya. Bawa makanan buat mas Yongki, Mbak taruh di meja dapur.” “Kembar?” “Mirip begitu sih, tingginya juga hampir sama. Kembar tidak ya?” Rani tampak mengingat-ingat. “Sudah Mbak, paling juga Ghita sama Gilang. Nanti aku tanya Amih Diana saja.” Yongki menuju dapur untuk melihat apa yang dikirimkan si kembar. Camilan kesukaannya, rempeyek kacang hijau. Langsung dia merogoh ponsel untuk menghubungi Diana untuk mengucapkan terima kasih. “Halo, Amih.” “Selamat sore pebisnis muda yang tampan. Apa kabar? Tumben sore begini telepon Amih.” “Alhamdulillah baik, Amih. Amih sama Abi sehat?” “Alhamdulillah, jadi ada perlu apa ini? Sepertinya kalau tidak penting anak muda yang super sibuk macam kamu ini pasti tidak akan telepon Amih.” “Aku mau terima kasih buat peyek yang dikirim Amih.” “Peyek.” Diana yang tidak merasa mengirim apa pun ke rumah Bilal tampak kaget. “Iya, Mbak Rani bilang tadi ada anak cewek cowok ke sini antar peyek kacang hijau. Aku pikir itu Ghita sama Gilang yang disuruh Amih.” “Ah, masa sih? Mereka belum pulang. Dari tadi siang izin keluar. Nantilah kalau sudah pulang Amih tanya ya sayang.” “Oh, iya Amih. Terima kasih ya.” “Oke, bye Yongki.” Sambungan terputus, kini Yongki mulai menebak siapa yang kemungkinan datang ke rumahnya kalau bukan Ghita dan Gilang. Perlahan dia membuka bungkus rempeyek. “Bukan buatan Amih,” ujarnya yang memang sudah sering dikirim rempeyek sama Diana. Yongki masuk ke dalam kamar, berusaha melupakan kiriman makanan tadi. Hanya saja esok harinya dia juga mendapat kiriman makanan yang sama yang dikirim ke rumah bukan ke toko. Rani yang memang tidak pernah masak untuk makan siang, kecuali diminta Yongki, langsung mengantarkan makanan yang baru dia terima ke ruangan kerja Yongki. “Mas Yongki, ini mbak Rani,” ujarnya di speaker yang ada di samping pintu ruangan. Yongki yang tidak memberikan akses Rani untuk membuka ruangannya langsung beranjak dari kursi kerja dan membuka pintu untuk Rani. “Kenapa Mbak?” Mata Yongki langsung tertuju pada kotak makan yang dibawa Rani. “Ini ada kiriman lagi. Katanya buat makan siang mas Yongki.” Rani memberikan kotak makan dari plastik pada Yongki. “Mbak tanya ini dari siapa?” “Tanya, tapi jawabannya seperti kemarin. Nanti mas Yongki juga tahu, begitu.” “Terus yang ngirim orang yang sama?” tanya Yongki yang mulai penasaran siapa yang sebenarnya sudah dua kali mengirim dia makanan. “Beda, Mas. Yang ngirim malah mamang tukang becak.” Jawaban Rani membuat kening Yongki mengerut hingga kedua alisnya beradu. Yongki membuka tutup kotak, ajaibnya menu makan siang yang dikirim adalah menu kesukaannya. Sambal cumi, oseng kangkung, tempe goreng crispy. Menu sederhana, tapi memang itu kesukaannya. “Siapa ya mbak?” Rani menggeleng. “Ya sudah, terima kasih. Lain kali Mbak tidak usah terima kalau yang mengantar tidak kasih tahu siapa pengirimnya.” “Siap, Mas. Mbak balik ke rumah ya.” “Silakan.” Yongki menutup rapat pintu ruangannya. Terserah siapa yang mengirim, tapi seketika perutnya langsung lapar melihat merahnya sambal cumi dan gurihnya tempat yang sedang dia keluarkan dari plastik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN